
Eddyson sampai di kantor. Dengan langkah tenang dan tegap dia berjalan menuju ruangannya dan diikuti Robby.
"Pagi Pak ... selamat Pagi Pak...." sapa beberapa karyawan Eddyson.
"Pagi ...." ucapnya datar. Sikapnya sudah dimaklumi oleh para bawahannya. Walau sikapnya datar, Eddyson sangat dihormati dan disayangi oleh para bawahannya. Itu karena empatinya yang tinggi. Walau dalam bekerja Eddyson suka menekan bawahannya.
Eddyson masuk keruangannya diikuti Robby. Entah apa jabatan yang cocok untuknya. "Rob, saya meeting, kamu yang cari tahu ya. Saya benar tak ingin berlama-lama. Banyak urusan lain yang lebih penting.
"Oke, Pak."
Siang saat jam istirahat Eddyson telah beada diruangannya, setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan, Robby masuk.
"Gimana Rob"
"Iya Pak, dia di sana sampai jam 9 malam!"
"Gila dia Rob!"
Eddyson yang biasanya sabar terlihat mulai naik darah. Dia menelfon Shinta.
"Apa lagi!" ucap Shinta seperti terganggu.
"Kamu jangan besar kepala karena aku menghubungimu! peringatkan ayahmu jika tidak ingin menyesal. Jangan memata-matai langkahku. Aku yang sekarang tak akan segan menghancurkan siapa saja yang menghalangi langkahku! Camkan itu!" Eddyson memperingatkan Shinta dengan tegas.
Eddyson tidak menunggu jawaban apapun. Eddyson terlihat tidak seperti biasanya. Pikirannya sedang kalut. Robby hanya diam, memberi waktu pada bosnya.
Eddyson meluruskan badannya bersandar pada kursi eksekutifnya. Robby tak bisa menebak, apa yang sedang dipikirkan bosnya. Lalu bosnya berkata, "Laporkan ke pihak berwajib, kalau aku merasa tidak aman karena dimata-matai Rob!" Putusnya dengan tegas.
"Baik Pak, saya akan ke kantor polisi sekarang." ucap Robby sambil berdiri dan permisi. Robby menyokong rencana bosnya. Dia lebih memikirkan kebaikan untuk Alcenna. Entah kenapa, Robby kini sangat menyayangi gadis yang pernah dia rasa menyebalkan dulu. Sayang seperti pada adik perempuan.
***
"Hallo Pi, aku sudah peringati Papi. Jangan ikut campur urusanku lagi. Eddyson memperingatkan aku dengan keras. Jika Papi masih memata-matai, dia akan mengancurkan Papi. Jangan menyesal!" Shinta pun terlihat sangat marah. Selama ini papinya yang begitu tamak dan mengorbankan rumah tangganya.
"Sombong sekali dia, aku yang akan menghancurkannya!" tantang Papinya.
"Terserah, aku sudah memperingatkan!" Klik.
"Hallo, Mi," Shinta menelfon maminya.
"Ada apa?" jawab maminya tetap lembut.
"Mami dekat Papi?"
"Tidak, Papimu sudah keluar sebelum makan siang."
"Mi, kalau Mami sayang sama Papi, tolong Mami kerasi Papi. Selama ini Mami terlalu bersikap lembut pada Papi. Jangan menyesal kalau nanti Papi berakhir di penjara!" tekan Shinta pada Maminya.
"Maksud kamu apa ya Nak?"
"Papi masih ikut campuran urusan Eddyson, tadi Eddyson memperingatkan aku dengan keras. Dia akan mengancurkan siapa saja yang menghalangi langkahnya. Aku tidak pernah mendengar nadanya yang begitu kejam dan dingin Mi."
__ADS_1
"Coba Mami telfon Papimu."
"Telfonlah Mi, dia suami Mami. Aku tidak akan menyesal jika Eddyson benar menghancurkannya. Aku sudah memperingatkan juga tadi."
"Kamu jangan tidak sopan begitu. Dia, papimu."
"Aku tahu Mi, tapi Papi tidak bisa dikasih tahu."
"Ya, Nak."
"Kamu di mana? Kamu tak ada lihat mami sejak memutuskan bercerai kemarin," ucap Maminya penuh rindu.
"Aku sibuk Mi, aku sedang dalam proses sidang juga. Nantilah. Urus saja suami Mami. Aku tutup telfon." Klik.
"Ufffhhh ...." Shinta membuang napasnya dengan keras.
"Ada apa sayang?" ujar lembut suara bas seorang pria. Dari awal Shinta menerima telfon dan menelfon balik ke orang tuanya. Sang pria hanya memperhatikan.
"Mantan suamiku memperingatkan aku soal Papi."
"Apa mantanmu sekejam itu?"
"Dia tidak akan merugikan orang lain Mas, jika dia tidak diganggu."
"Ohhh, kamu masih mencintainya?" pancing si pria.
"Jangan bahas yang tidak perlu. Aku sudah cerita semuanya. Aku hanya dilema dengan Papi yang tidak bisa dikasih tahu."
"Kita fokus saja dengan masa depan kita, setelah sidangku selesai."
"Baik sayang." Sang pria memeluk sayang wanitanya yang tak lain Shinta di sebuah apartemennya.
***
Sore hari saat Eddyson dan Robby akan keluar kantor. Terdengar kerusuhan didekat Robby memarkirkan mobilnya.
Mereka berdua mendekati beberapa orang polisi yang sedang menangkap pria tua. "Atas dasar apa kalian menangkapku! Mana surat tugas kalian!!" bentaknya.
Polisi menyebutkan dan memperlihatkan surat perintah penangkapannya. Eddyson dan Robby tiba.
"Eddyson!! Menantu brengsek kamu!!"
Eddyson dan Robby tak menggubris. Robby memberi kode untuk membawa segera. Sebelum orang menjadi ramai. Eddyson telah masuk ke mobil dengan ekspresi dingin.
Ponselnya bergetar, dilihatnya Shinta menelfon. Dia mengabaikannya. Lalu tak lama terlihat panggilan dari maminya Shinta. Eddyson juga mengabaikan. Robby melihat dari kaca spion, wajah bosnya semakin tak bersahabat. Apalagi bunyi ponsel yang terus bergetar. Dia tidak memperdulikannya.
Getar ponsel bosnya telah berhenti. Robby sedikit terkejut ketika ponselnya yang bergetar. Dia melihat dari Alcenna. Dia mengangkat dengan ragu-ragu. Namun dia tidak bisa mengabaikan telfon Alcenna. Robby juga enggan menyapa bosnya yang seakan ingin menelan orang hidup-hidup.
"Ada apa Cenn?" putusnya untuk menjawab, sambil melihat ke kaca spion tengah. Terlihat bosnya bereaksi dan memandang Robby penasaran. Raut mukanya mulai sedikit tenang.
"Kak, aku nelfon mas berkali-kali namun tak diangkat, apa mas sama kakak?"
__ADS_1
"Ada sama Kakak, mungkin ponselnya silent mode," ucap Robby sambil mengkode bosnya. Bosnya langsung meminta ponsel Robby dari tangannya.
"Hallo sayang, ada apa? Maaf, mas tadi mengira klien mas juga yang nelfon. Maka mas abaikan saja. Mas lelah sayang," ucapnya memelas.
Robby hanya bisa mengusap tengkuknya dengan tangan satu, karena dia masih sibuk menyetir. Dia tak menyangka Eddyson yang sedang menahan marah malah mengeluarkan jurus memelasnya untuk menghindari amukan Alcenna.
"Iya tak apa Mas, Mas benaran lelah?" tanya Alcenn lembut.
"Iya, tapi kalau untuk Alcenn mas gak lelah, ada apa hmm sayang?" ucapnya juga tidak kalah lembut. Alcenna tertawa. Tawa yang bisa memadamkan amarah Eddyson. Eddyson mengkode untuk ke arah rumah Alcenna pada Robby.
"Alcenna masak ikan gurami pedas manis Mas, juga buat puding coklat. Katanya kalau makan coklat, bisa buat stres kita hilang Mas,"ucap Alcenna yang terdengar manja di telinga Eddyson. Entah memang terdengar manja atau memang bawaan Alcenna yang sudah manja dari dulu.
"Coklat apa puding coklat yang bisa ngilangi stres sayang?" goda Eddyson. Dia benar-benar lupa dengan wajahnya yang angker tadi. Robby mengelus dada.
"Sama sajalah Mas, penting ada coklat-coklatnya," kekeh Alcenna tak mau ngalah.
"Beda ya ...."
"Sama yaaa ...."
"Ya Mas ngalah sajalah, gak menang lawan kamu, mas ke sana sekarang ya."
"Ok Mas," ucap Alcenn terdengar semangat.
"Tapi Mas belum mandi sayang."
"Ya gak apalah, Alcenn gak berniat peluk atau cium Mas juga. Lagian boskan mana berkeringat kalau gak olahraga. Duduk hampir dalam ruangan AC saja.
"Apa kita perlu berolahraga malam sayang?" goda Eddyson lagi yang membuat otak Robby jadi mengembara.
"Olahraga apa sekarang yang dimaksud bos ni," batin Robby.
"Boleh juga Mas, kita berenang malam. Seperti film-film orang kaya yang Alcenn tonton, tapi di mana kolam renangnya yang buka malam-malam Mas," jawabnya sok polos. Alcenna tahu kemana arah gurauan Eddyson. Namun dia pura-pura tidak paham.
"Hahahaha ...." Eddyson tergelak.
"Ketawa ....,"
"Jadi kalau Alcenn punya rumah seperti orang kaya-kaya gitu, mau buat kolam renang?
"Pinginnya dari dulu gitu Mas, nanti kalau lelah bisa berenang 20 menitan gitu. Tanpa perlu susah-susah ganti baju seperti di kolam renang umum," Alcenna jadi serius menyampaikan hayalannya dulu.
"Doakanlah mas ada reseki lebih ya, nanti kita rancang seperti keinginan Alcenn." Alcenna hanya terdiam mendengar kata kita. Jantungnya kembali terdengar berdebar lebih cepat. Ada rasa yang hangat mengaliri relung hatinya. Alcenna ingin menggapai mimpinya.
"Sayang, kenapa kamu diam. Kamu menghayalkan yaaa, ayoo hayal apa kira-kira tu?" ucap Eddyson lagi. Dia benar-benar asyik mengganggu gadisnya.
"Udah ya Mas, Alcenn tunggu. Putri juga sudah arah sini." Klik
"Hmmm, hahaaha dasar. Sudah dewasa masih kelakuan seperti anak-anak," ucapnya bahagia. Robby juga ketularan bahagianya.
**//**
__ADS_1