Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Alcenna Diam Eddyson Marah


__ADS_3

Sinta pulang setelah dengan tajamnya Alcenna membeberkan siapa dirinya dimata Eddyson.


"Bi, nanti diam saja ya tidak usah kasih tahu bapak. Saya kasihan melihat dia andai bapak tahu," ucap Alcenna ramah. Hilang sudah wajah sinis dan nada tajamnya.


"Iya Bu," ucap Bi Asih yang sedang membersihkan ruang keluarga. Bi Rasmi sedang sibuk membuat untuk makan siang.


"Bi, apa Bibi tidak ingin tanya sesuatu?" pancing Alcenna pada bi Asih.


"Tidak Bu, bagi saya apapun itu masalahnya saya hanya tahu Ibu baik pada kami. Bapak juga, dan bapak terlihat sangat mencintai Ibu."


"Okelah kalau Bibi tidak ada yang ingin ditanya. Saya hanya tak ingin Bibi penasaran lalu nantinya berpikir aneh-aneh pada saya," ucap Alcenna.


"Tidak Bu."


"Kalau gitu saya pamit kekamar ya Bi. Saya rasanya agak letih."


"Ibu mau dibuatkan sesuatu? Segelas susu hangat misalnya?"


"Tidak Bi, nanti siang saja tunggu Bapak. Calon bayinya bibikan tahu gimana perangainya. Kalau gak papanya terpaksa neneknya. Dari pada mubazir juga di muntahinya," ucap Alcenna tersenyum.


Alcenna merebahkan badannya ke ranjangnya. Bohong jika hati kecilnya terima dia dituduh selingkuh dulu sama suaminya. Namun Alcenna bertindak kuat hanya tak ingin ditindas Shinta. Pikirannya yang sedikit gelisah membuat badannya lelah.


Alcenna ingin jujur pada suaminya namun hati kecilnya sedikit tidak terima jika suaminya bertindak diluar kendali. Dia sudah mengenal suaminya dari masih zaman jadi bosnya.


Tak akan segan dia membalas jika dia diusik. Alcenna mencoba membiarkan saja. Ponselnya berdering. Dia melihat suaminya melakukan panggilan video call.


Alcenna mengangkat, "Halo Mas, ada apa?" katanya heran melihat suaminya menelfon jam segini, hari menunjukan pukul 11.10. Biasanya dia telfon dijam akan pulang makan siang. Itupun jika dia pulang. Jika tidak paling siap shalat dzuhur suaminya mengeceknya. Alcenna tidak tahu jika Eddyson sedikit merasa gelisah.


"Kamu kemana sayang, gak angkat telfon mas?" tanya Eddyson.


Alcenna bingung, dia tak tahu kalau suaminya sudah menelfon tadi. Alcenna memang tak ada mengecek ponselnya.


"Gak jawab sayang?" desak Eddyson heran melihat wajah bingung istrinya.


"Tadi ... kedapur Mas, ngelihat bi Asih," bohong Alcenn. Dalam hatinya dia berucap, "Duhh Mas, maafi Alcenn bohong."


"Ohhh," jawab Eddyson tanpa ada niat memperpanjangnya. Alcenna merasa lega. Terukir diwajahnya. Namun Alcenna salah jika suaminya tidak tahu dia sedang berbohong. Wajah lega yang ditampilkan istrinya sudah merupakan jawaban pasti istrinya sedang mengelak ditanya. Namun bukan sifat Eddyson membahas yang penting dengan istrinya melalui telfon. Eddyson diam.


"Napa Mas?"

__ADS_1


"Kamu tak ada masalah kan?" Alcenna menggeleng.


"Mas tak pulang siang ini ya sayang, mas ada rapat, setelah makan siang. Takutnya macet jadi terlambat," terang Eddyson.


"Oke Mas, gak apa," jawab Alcenna.


"Yakin gak ada masalah?" pancing Eddyson lagi.


"Gak ...." jawaban singkat Alcenna terlihat resah oleh Eddyson.


Eddyson jadi penasaran. Namun percuma mendesak istrinya ditelfon. Bisa-bisa Alcenna malah matikan sepihak ponselnya. Sejak hamil moodnya sedikit jelek. Walau tidak parah seperti di novel-novel. Ngidamnya juga tidak aneh-aneh yang sampai ingin makan diluar provinsi.


"Ya sudah tunggu mas pulang ya sayang, i love u," ucap Eddyson mesra. Robby yang didepannya sampai bergidik melihat sikap bosnya jika bersama Alcenna. Bukannya berkurang setelah menikah malah tambah bucin macam anak remaja puber.


"Love u too Mas, love u too Pa," ucap Alcenna menyampaikan cinta anaknya juga. Perasaan Eddyson sangat berbunga-bunga. Dia begitu merasa dihargai oleh Alcenna. Dicintai.


Setelah telfon ditutup. Eddyson bertanya pada Robby, "Rob, saya merasa Alcenna berbohong suatu hal. Tumben dia bersikap begitu."


"Bersikap bagaimana Pak?"


"Dia resah," kata Eddyson singkat.


"Tanya para bibi saja ntar Pak," saran Robby.


Eddyson telah pulang. Bibi membukakan pintu.


"Mana Alcenn Bi?"


"Ibu di kamarnya Pak."


"Ada yang datang tadi Bi?" Tembak Eddyson langsung.


Bibi yang gelagapan cukup membuat Eddyson ada sesuatu yang terjadi. "Bibi masih mau kerja disinikan!" Eddyson langsung mengancam. Wajah dinginnya sudah tak bisa dibantah. Bi Asih lupa pada janjinya sama Alcenna.


"Iya Pak," aku bi Asih.


"Ceritakan padaku," kata Eddyson menuju sofa tamu. Dia duduk menyilangkan satu kakinya kepahanya. Gaya bos arrogantnya keluar. Tangannya terentang di sandaran sofa.


Bi Asih menceritakan semuanya. Eddyson merasa tubuhnya seakan terbakar. Mukanya terasa panas. Alcenna diam kini Eddyson marah. Dia tidak terima Alceena menutupi hal yang menurut dia sangat bisa menjadi fatal. Eddyson sangat paham sikap mantan istrinya.

__ADS_1


Eddyson tanpa pamit pada bi Asih menyusul Alcenna ke kamar mereka. Alcenna yang baru terjaga karena bunyi pintu di buka terkejut melihat raut dingin suaminya. Raut yang pernah dia lihat waktu dia gadis saat memakai baju seksi bermain game. Namun bukan saja mukanya yang dingin, kata-katanya juga dingin.


"Apa yang kamu tutupi dari Mas!" tanya Eddyson dengan tegak kokoh di samping ranjang mereka. Kedua tangannya dimasukan kedalam saku celana panjangnya.


Alcenna yang baru tersentak bangun merasa linglung dengan apa yang terjadi.


"Tutupi apa Mas?" katanya memang belum mengerti.


"Kamu memang tidak menganggap mas suami kamu!" bentaknya menumpahkan amarahnya.


Alcenna tersentak, seumur hidup dia ini baru pertama suaminya membentak dia dan berkeras padanya. Sewaktu jadi bospun tidak pernah suaminya semarah ini.


"Ada apa Mas?" tanya Alcenna pelan. Hatinya sakit, tiba-tiba seakan di tembakkan timah panas tepat didadanya dan menembus jantungnya. Dia belum paham apa yang dimarahkan suaminya. Dia juga terkejut dengan sikap suaminya.


"Kamu masih bisa tanya ada apa!"


"Kamu ini kenapa Maaaaas!! Kamu marah kenapa!" teriak Alcenna histeris ketika sudah penuh kesadarannya. Namun dia tetap tidak tahu apa yang membuat suaminya marah. Tangisnya mulai pecah. Ketika air matanya keluar dia baru mereka-reka suaminya marah perihal Shinta.


Eddyson tersadar dari kalapnya. Tak seharusnya dia melampiaskan marahnya pada istrinya. Jika harus marah, Shintalah yang harus dia marah. Bukan istrinya yang punya sifat tidak ingin menyakiti orang lain.


Eddyson langsung menjatuhkan badannya dan duduk disamping Alcenna. "Maafi mas sayang, mas kalap menahan emosi kamu menutupinya dari mas," ucap Eddyson penuh sesal dan ingin memeluk Alcenna.


"Jangan sentuh kami!" kini Alcenna yang sangat marah pada Eddyson. Dia kecewa ketika menunggu suaminya pulang justru kemarahan yang diterimanya.


"Mas__"


"Pergi sana dengan dia! bukankah dia lebih berarti dari aku! aku ini memang pantas kamu marah bukan dia! Padahal dia yang menyakitkan hatiku. Dia yang menuduh aku selingkuh denganmu!" Alcenna meraung sakit hati.


Eddyson benar-benar menyesal telah lepas kendali.


"Sayang, maafi mas!" dia berusaha kembali meraih Alcenna.


"Tidaaaak ... jangan sentuh akuuu! Akuuu benciii sama kamu! Aku benciiii. Pergiii sanaaa,pergi susul mantan istrimu itu... pergi kembali samaaa diaaa!" Alcenn berteriak-teriak dengan tangisan yang menyayat hati Eddyson.


"Apa yang terjadi Son!!!" tiba-tiba mamanya sudah didalam kamar.


Mama dan Papa Alcenna niatnya ingin memberikan kejutan untuk Alcenna. Mereka sengaja datang mendadak dan membawa kue dan susu hamil Alcenna yang memang mau habis. Mamanya sangat tahu apa yang kurang untuk Alcenna. Namun nyatanya dia yang terkejut mendengar teriakan Alcenna.


Tanpa pikir panjang dan pikir etika, mama dan papanya menerobos masuk kekamar anaknya.

__ADS_1


"Mamaaaa ... suruh saja dia kembali pada mantan istrinya!" tangis Alcenna semakin pilu mengucapkan kata-kata yang berlawanan dengan hatinya. Mama Ningrum terkejut.


**//**


__ADS_2