Tolong Aku SuamiKu

Tolong Aku SuamiKu
Memutuskan.


__ADS_3

Alcenna dan Ardhan kembali dari Jakarta dan berpisah di bandara kota Alcenna tinggali. Tak ada perjanjian apa pun pada Ardhan, selain janji berteman seperti awal jumpa.


Alcenna memberi oleh-oleh pada adik-adiknya. Dia juga membeli ayah-ibunya sepasang baju. Pada akhirnya Ardhan yang membayarkan semuanya. Katanya anggap hadiah dari sahabat. Tahu enak punya sahabat macam begini, pemikiran Alcenna dari dulu banyak-banyak cari sahabat.


Alcenna cerita aktivitas pada Azarine selama seminggu di Jakarta. Alcenna juga tak lupa membelikan Putri sebuah jam tangan yang tidak terlalu mahal namun tidak murahan.


Selama ini Putri sering mentraktir gadis itu. Jadi Alcenna ingin memberi dia hadiah yang sedikit bermerk. Apalagi membelinya dari duit bonus cinta, bukan duit gaji. Begitu istilah gadis muda tersebut.


Alcenna kembali kerutinitas kerja yang akan sering diganggu oleh bosnya, namun tak pernah dia anggap gangguan serius dan menyusahkan. Dia jadikan sebagai motivasi penyemangat kerjanya.


"Nih oleh-oleh buat konsultanku," kata Alcenna ketika pergi kerja bersama dengan Putri.


"Apa ini??"


"Bukalah, kan punya tangan punya mata??" kata Alcenna membuat Putri mendelik.


"Cepat buka pada melotot begitu." Perintah Alcenna lagi.


Putri tersenyum senang. "Wow ... makasih ya sayangku. Walau aku sanggup beli yang lebih mahal dari ini, tapi aku senang dapat hadiah darimu," katanya sombong namun tidak membuat Alcenna sakit hati. Benar yang Putri bilang, dia bisa beli lebih mahal. Diapun mengatakan hanya bercanda. Putri Andinni, bukan sahabat tinggi hati.


"Iya sekali-kali aku beri, biar ada kenangan aku memberikan sesuatu padamu. Lagian duitnya bonus cinta dari si bos." Alcenna terpingkal-pingkal.


"Dasaaar .... aku sudah yakin kalau bukan uang gajimu, mana kamu mau buang duit segini banyak." Putri bersungut-sungut. Alcenna masih tertawa senang.


"Iyaaaa laaa ... ngiriiit beb ... ngiriiit. Dahlaah ya ayo kerja," ajak Alcenna. Dua sahabat itu tertawa seakan tak ada masalah dalam hidup mereka.


***


Alcenna tidak ingin kekanakan mengenai permasalahannya dengan Arzon. Dia berniat memutuskan menelfon duluan, selepas magrib setelah hampir tiga minggu saling diam.


"Halo ...." Terdengar suara lembutnya seperti biasa.


"Hallo Bang," kata Alcenna pelan.


"Sudah makan?" tanya Arzon perhatian, seakan antara mereka tidak terjadi sesuatu.


"Sudah, lagi di mana Bang? Sibuk?" tanya Alcenna lagi.


"Lagi di rumah teman, gak sibuk kok?"


"Aku ingin bicara Bang, bisa?"


"Bicaralah, bisa."

__ADS_1


"Aku minta maaf, mungkin berbicara kasar sama Abang. Aku kesal seperti digantung. Namun mungkin, ada hal yang tidak aku pahami dan mengerti. Jadi untuk sementara, aku memutuskan kita tidak usah ada hubungan lagi Bang. Kita selesai dulu sampai di sini." Alcenna berkata tenang, menguatkan hati setelah menimbang dan berpikir panjang dalam dua hari lalu.


"Kenapa tiba-tiba menyerah?"tanya Arzon pelan.


"Karena sudah tidak ada lagi yang harus diperjuangkan Bang." Alcenna menjawab dengan menyembunyikan perasaan sebenarnya. Alcenna terluka memutuskan diri Arzon seperti ini. Gadis tersebut telah memikirkan masak-masak sebelum mengambil keputusan.


"Bukan karena sudah ada yang lain?" tanya Arzon seperti mencurigai Alcenna.


"Maksud Abang apa?" Alcenna berusaha meredam emosi dengan nadanya yang menjadi datar. Alcenna yang terluka, malah mendapat tuduhan seperti ini.


"Bukannya abang tak tahu kalau kamu ke Jakarta selama seminggu."


"Ya aku ikut pelatihan." Alcenna tak merasa salah.


"Lalu kamu anggap apa abang, kamu pergi tanpa memberi tahu pada abang. Tidak bisakah kamu mengirim sekedar pesan agak sedikit?"


"Oke aku akui mungkin aku salah? Tapi coba Abang koreksi diri lagi, siapa yang mendiamkan aku?"


"Abang kesal dengan sikapmu dan keputusan terakhirmu saat itu." Tak ada nada keras dalam nadanya.


"Ohhh yaa?? lalu apa abang kira, aku tidak kesal dengan cara Abang bertanya apa mauku? Aku hanya manusia biasa Bang, perempuan biasa. Aku hanya bertanya, mau sampai kapan seperti ini." Alcenna juga tak ada nada keras karena Arzon bersikap lembut.


"Abangkan minta waktu, abang sudah minta surat nikah itu padanya. Tapi dia tak kasih. Abang sudah cari di rumahnya, tapi tak menemukan." Arzon menjelaskan. Andai dia mau lebih terbuka, tidak akan terjadi keributan diantara mereka. Alcenna mau mengerti.


"Kamu kenapa Cen? Kenapa ingin begitu lepas sekarang dari abang?"


"Aku lelah Bang, seakan aku wanita tidak benar, jalan sama suami orang. Abang selesaikan dulu dan setelah benar selesai, baru kita meneruskan hubungan ini dan melanjutkan ke depannya untuk kejenjang berikutnya. Namun Arzon salah tanggap.


"Kamu lelah atau ada yang lain?" Nada menuduhnya tidak membuat Alcenna emosi.


"Lelah, jangan tuduh aku seperti Abang yang suka berbohong. Ingat tidak, awal kita jumpa aku jujur pada Abang, kalau aku punya kekasih. Aku bukan Abang yang sukanya berbohong."


"Terus, kenapa harus selesai dengan hubungan kita?"


"Supaya kita bisa saling memikirkan, apakah kita masih saling membutuhkan, masih saling mempercayai dan masih ingin hidup bersama," kata Alcenna yakin.


"Abang tidak bisa tanpamu. Jangan lakukan ini Cen." Nadanya malah terdengar putus asa. Entah itu sekedar rayuan agar hati Alcenna luluh.


"Nyatanya, Abang bisakan tiga minggu tanpa kehadiranku, tanpa kabar berita dariku bahkan tanpa mau tahu ngapain saja aku di Jakarta?" Nada Alcenna tetap santai.


"Itu menurut sudut pandangmu Cen, tapi apa Alcen tahu, abang selalu bergadang sama kawan-kawan, lalu paginya abang sering telat ke kantor. Bahkan abang kadang tak datang sama sekali. Pikiran abang buntu dengan masalah kita ini, ditambah lagi dengan Alcen diam dan pergi tanpa pamit. Abang merasa tak dihargai Cen." Akhirnya secara tidak langsung lelaki itu memberi tahu ke mana dia tiga minggu ini.


Namun apa yang disampaikannya membuat Alcenna terbakar emosi. Seolah dirinya yang jadi akar masalah. "Jadi Abang menyalahkan aku penyebab semua ini?"

__ADS_1


"Bukan begitu maksud abang, susah ngomong ditelepon, apa boleh abang ke rumah sekarang?"


"Tak usah, kalau tak mau bahas ya sudah!" Alcenna berkeras cukup bicara di telepon saja.


"Cen ... abang mohon melunaklah sedikit, jangan seperti ini. Abang juga butuh teman bicara. Jangan berpikir abang tak tersiksa tanpamu beberapa minggu ini. Hati abang kosong. Hari-hari abang terasa hampa Cen. Mohon abang Cen. Abang akui abang egois, waktu Alcen pergi terakhir kali ego abang tidak bisa terima."


Alcenna diam mendengarkannya, tanpa Arzon tahu matanya sudah mulai berkaca-kaca. Hatinya bukan tak terasa pedih. Alcenna seolah memahami perasaan hati lelaki itu. Cinta memang selalu mengalahkan logika. Dia diam saja.


"Abang berusaha bertahan, berharap Alcen yang menyapa abang duluan. Kekanakan memang cara abang. Lalu abang telfon karena dapat kabar Alcen sudah di Jakarta. Namun, lagi-lagi sikap Alcen tidak ramah, dan putuskan sambungan telfon. Abang diam hanya berharap Alcen sudah tidak marah bukan malah mau meninggalkan abang."


Benar mungkin yang dikatakan orang di sekeliling gadis itu. Cinta buta itu tak bisa membuat logika sejalan dengan hati. Logika Alcenna mengatakan tidak masuk akal dengan apa yang didengarnya, tapi hati kecilnya merasakan itu semua benar. Alcenna memilih menurutkan kata hati.


"Jadi mau abang bagaimana?" Alcenna melunak. Menyerahkan keputusan akhir pada lelaki itu.


"Abang tak ingin berpisah, jika Alcen ingin sementara abang menjauh, abang terima. Namun coba pikir lagi, jika kita tidak ada komunikasi, apa Alcen yakin perasaan kitakan tetap sama?" Inilah uniknya dia di mata Alcenna, dia tidak memaksakan namun Alcenna mengikuti kata-katanya dengan suka rela.


"Tidak yakin," kata Alcenna jujur. Tepatnya Alcenna yakin hatinya bisa berubah. Bukan karena tidak setia, namun lebih memilih mengabaikan apa yang dia rasa.


"Itu yang abang takuti, abang yakin dengan hati abang. Namun abang takut dengan hati Alcen. Bukan abang bilang Alcen tak setia, Alcen yang tahu hati sendiri bagaimana?" Dia tetap tidak mendesak.


Alcenna menyadari benar yang lelaki itu katakan. Bukan tak setia, tapi hatinya mudah ditenangkan jika tidak bertemu dengan orang-orang yang ingin dia lupakan.


"Abang benarkan Cen?" katanya kemudian karena Alcenna diam. Diam membenarkan yang Arzon utarakan.


"Iya," katanya tak ada sanggahan.


"Abang boleh ke rumah? Abang sungguh rindu padamu." Tak ada nada menggombal dari lelaki tersebut. Hati keras Alcenna langsung mencair.


"Boleh, tapi belikan nasi goreng ya Bang?" Lupa sudah rasa kesal yang bersemayam di dadanya, bahkan niat hendak menyelesaikan sepihak hubungan mereka.


"Gitu donk. Ini baru gadis abang namanya," katanya dengan bersemangat karena mendengar nada manja Alcenna seperti dulu.


"Iya ... ditunggu."


"Sammy dan Azarine belum makan juga?"


"Belum Bang, tapi belum makan nasi. Tadi sore sudah beli sate sih," kata Alcenna jujur.


"Ya sudah, abang juga belum, kita makan sama-sama ya. Paling lama setengah jam abang sudah sampai di rumah. Buatkan kopi hitam ya sayang." Alcenna akhirnya selalu luluh.


"Oke Bang. Hati-hati," katanya juga dengan nada sayang. Cinta oh cinta, membuat anak adam dan hawa lupa dunia.


**//**

__ADS_1


__ADS_2