
Sesampainya di sekolah Amilia dan Chessy langsung turun dari mobil dan tidak lupa keduanya pun berpamitan terlebih dahulu kepada Amar sebelum keluar
Chessy beriringan berjalan masuk ke dalam gedung sekolah bersama Chessy dan sesampainya di depan gerbang tiba-tiba Dea dan Nila muncul dan mengejutkan keduanya
"Dwarrr....!" Teriak Dea dan Nila seraya menepuk bahu Amilia dan Chessy bersamaan
"Astaghfirullah hal adzim!" Chessy yang terkejut refleks memegang dadanya begitu juga dengan Amilia
" Dasar Ogeb loe berdua, ngagetin keponakan gue aja tau enggak loe, awas loe ya pada kalau keponakan gue kenapa-kenapa!" omel Amilia nyerocos panjang membuat Dea dan Nila menjadi merasa bersalah dan saling melempar pandangan
" Sorry...sorry Chess kita tadi replek aja buat bercyanda, sumpah enggak ada maksud apa-apa kok!" ucap Dea
" Iya Chess, kita minta maaf ya loe dan juga bayi dalam perut loe itu enggak kenapa-napa kan Chess?" kali ini Nila yang bertanya sambil mengulurkan tangannya untuk memegang perut Chessy
" Iya gue enggak kenapa-napa kok, tapi lain kali jangan ngegetin kayak gitu ah lucu enggak tapi bikin spot jantung iya!" sahut Chessy seraya menyingkirkan tangan Nila yang masih bertengger di perutnya selain merasa risih karena dilihat siswa lainnya yang berseliweran hendak masuk ke dalam gedung sekolah Chessy juga merasa geli
"Iya Chessy sayang, janji deh enggak akan ulangi lagi!" ucap Nila lalu merangkul bahu sahabatnya itu dan mereka pun beriringan berjalan bersama-sama menuju kelas mereka
" Eh lihat deh itu bukannya Jihan ya?" tanya Nila menghentikan langkah kakinya lalu menunjuk ke arah ruang kepala sekolah
Jihan nampak sedang berdiri di depan pintu ruang kepala sekolah bersama kedua orangtuanya
" Iya kayaknya deh itu si Jihan,tapi dia sama siapa itu ya?" sahut Dea
" Bukannya itu anak ya Chess yang udah bikin loe hampir celaka kemarin?" tanya Dea beralih menoleh ke arah Chessy
" Yang gue denger sih begitu" Jawab Chessy sambil mengangkat kedua bahunya
" Terus kok dia masih ada di sini sih, kenapa enggak sekalian aja tuh anak kumpul dengan si Claudia" Ungkap Dea yang merasa kesal setelah melihat keberadaan Jihan gadis yang sudah berani mencelakai Cheesy
" Dua Minggu lagi kan ujian sekolah jadi bokap gue kasihan kalau tuh anak sampai enggak bisa ikut ujian" terang Amilia
" Kasihan? lah tuh anak aja enggak ada rasa kasihannya sama Chessy dengan sadisnya dia hampir aja mencelakai calon keponakan kita!" geram Nila menatap tajam ke arah Jihan yang baru saja masuk ke ruang kepala sekolah bersama kedua orangtuanya
" Sudahlah gaes, yang penting kan sekarang gue udah enggak kenapa-napa dan bayi yang ada di dalam kandungan gue juga Alhamdulillah sehat, biarin aja dia ikut ujian siapa tahu setelah ini dia sadar dan insyaf" tutur Chessy
" Amin, semoga aja dah!" ucap Dea mengaminkan ucapan Chessy dan diangguki oleh Nila
" Udah yuk ah kita ke kelas!" seru Amilia lalu menggandeng lengan Chessy dan menariknya agar pergi dari tempat mereka berdiri
" Cuss lah kuy!" timpal Dea ikut menggandeng lengan Nila mengekor Amilia dan Chessy yang sudah berjalan di depan mereka
Ke empat remaja itu pun lalu melanjutkan langkah kaki mereka berjalan menuju kelas
" Amilia!" Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang berteriak memanggil nama Amilia dan sontak saja hal itupun langsung membuat langkah Amilia yang namanya dipanggil terhenti saat sudah berada di depan pintu kelasnya
" Wahhh ... kayaknya ada yang masih berlanjut nih!" Bisik Chessy seraya menyenggol bahu Amilia pelan saat tahu siapa yang sudah memanggil sahabatnya itu
" Apaan sih loe Chess, males banget tau gue berurusan dengan tuh anak!" sahut Amilia sedikit berbisik
" Udah ah masuk yuk!" Amilia tidak menggubris panggilan seseorang yang masih saja menyerukan namanya
" Li itu loe di panggil !" seru Dea memberitahu Amilia padahal dia tidak tahu saja kalau Amilia sedang menghindari orang tersebut
Karena Dea dan Nila masih bergeming di depan pintu kelas akhirnya Amilia langsung menerobos begitu saja melewati keduanya untuk masuk ke dalam kelas
" Eh tuh anak kenapa sih?" Dea menggaruk-garuk kepalanya sendiri yang tidak gatal
" Udah kalau enggak tahu mending cari aman aja deh kalian berdua tuh, cukup diam jangan banyak bertanya oke!" ucap Chessy lalu melewati keduanya membuat Nila dan Dea jadi saling tukar pandangan
" Yahhhh.... kok masuk sih!" Keluh seseorang yang sejak tadi memanggil Amilia
" Emangnya ada urusan apaan sih loe tumben banget nyariin Amilia?" tanya Dea sedikit kepo
" Iya, enggak biasa banget loe datang ke kelas kita!" timpal Nila seraya melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan penuh selidik
" Bukan urusan kalian" jawabnya ketus sambil berlalu pergi meninggalkan Nila dan Dea yang tersungut emosi karena sikap siswa tersebut yang angkuh
Nila dan Dea masuk ke dalam kelas dan langsung menempati tempat duduknya yang bersampingan dengan kursi milik Chessy dan Amilia
" Kalian kenapa?" tanya Chessy setelah melihat raut wajah Nila dan Dea yang terlihat sedang kesal
Nila meletakkan tasnya di atas meja sedikit kasar lalu menghempaskan bobot tubuhnya diatas kursi dengan lesu
" Lagi kesel gue sama tuh anak" sahut Nila
" Iya nyebelin banget sok kecakepan" timpal Dea
" Siapa sih yang kalian berdua omongin?" tanya Chessy
Amilia hanya menyimak tanpa minat ikut nimbrung dengan obrolan ketiga sahabatnya itu
" Siapa lagi kalau bukan tuh anak yang tadi teriak-teriak manggilin Amilia" sahut Nila
Chessy seketika tergelak mendengar jawaban Nila sedangkan Amilia hanya geleng-geleng kepala sambil tepuk jidat
" Kan tadi udah gue bilang, buat cari aman sebaiknya kalian diam aja. kepo sih jadi anak!" ledek Chessy lalu kembali tergelak
" Ya kita tuh penasaran aja, ngapain tuh anak tumben banget tiba-tiba kesini nyariin Amilia" tutur Nila
" Jangan-jangan ada yang kita lewatkan ya beberapa hari ini?" tanya Dea memicingkan matanya menatap Chessy dan Amilia penuh selidik
" Udah jangan pada berisik, mendingan belajar aja yang bener deh, enggak usah pada kepo kayak gitu" Sahut Amilia datar sambil membuka buku pelajarannya
" Yeee si Lia enggak tahu apa kita ini udah kepo sejak lahir" Sahut Dea
" Iya betul itu" Nila menimpali
__ADS_1
" Dihhh... Kepo aja bangga" ucap Amilia
" Ya bangga lah apalagi yang kita kepoin anak sultan" Sahut Dea lalu tergelak
" Anak raja aja sana sekalian loe kepoin, biar viral" Seloroh Amilia
" Anak raja, raja siapa?" tanya Dea sedikit serius
" Anak raja kong" sahut Amilia
" Anak Raja kong siapa sih ?" Dea masih pasang wajah bingungnya membuat Amilia berusaha menahan tawanya
" Yaelah loe Dea ogeb banget sih, itu anak raja Kong alias anak kingkong" terang Nila membuat Amilia langsung tertawa apalagi setelah melihat wajah Dea yang nampak lucu
" Amilia kanVret, gue udah serius juga" Dea melempar Amilia dengan kertas yang telah dikepal-kepalnya membuat Amilia semakin tergelak dibuatnya
Sementara Chessy hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuanku ketiga sahabatnya yang malah jadi lempar-lemparan kertas
Gerakan ketiganya pun terhenti ketika pintu di buka dari luar dan muncullah seorang guru yang bertugas mengajar di kelas mereka
Setelah mengucapkan salam mereka pun memulai kegiatan belajar mengajar di kelas mereka dengan serius
Jam istirahat tiba, Chessy dan ketiga sahabatnya memutuskan untuk pergi ke kantin
Sesampainya di kantin seperti biasa mereka pun menempati bangku yang biasa mereka tempati setiap harinya
" Kalian pada mau pesan apa ?" tanya Nila yang sudah beranjak dari tempat duduknya ingin memesan makanan
" Gue soto aja deh, kayaknya seger!" jawab Amilia
" Oke, kalau loe Chess mau makan apa?" tanya Nila beralih pada Chessy
" Emmmm..... apa ya?" Chessy berpikir sejenak
" Kayaknya samain aja deh sama Amilia, soto " jawab Chessy
" Oke, tunggu ya!" ucap Nila
" Eh kok gue enggak ditanya sih?" protes Dea saat Nila hendak pergi
" Ya kan loe ikut gue ogeb, loe yang pesan minumnya" seru Nila
" Iya gue tahu itu sih tapi emang loe tahu gue mau makan apa?"
" Yaelah Dea loe emangnya mau makan apa lagi sih selain bakso, menu loe setiap hari kan itu-itu juga udah hatam gue" sahut Nila
Dea cengar-cengir " Iya sih, he..he... loe emang sohib gue yang top markotop" ucap Dea lalu merangkul Nila
" Udah jangan kebanyakan cingcong, cepatlah kuy!" Nila menyingkirkan tangan Dea yang bertengger di bahunya
" Iya bawel!" keluh Dea
" Gue jus jeruk " sahut Amilia
" Kalau gue jus alpukat ya!" jawab Chessy
" Oke siap!" Sahut Dea lalu menyusul Nila yang ternyata sudah pergi lebih dulu
Setelah selesai menikmati makanan mereka masing-masing Chessy dan ketiga sahabatnya pun memutuskan segera kembali ke kelas mereka namun saat di perjalanan menuju kelas, langkah mereka tiba-tiba di hadang oleh seorang siswa
" Amilia gue mau bicara sama loe empat mata!" ucapnya tanpa basa-basi
Dea dan Nila yang sedikit kepo langsung menoleh ke arah Amilia yang nampak cuek dan datar
" Enggak ada yang perlu kita bicarain" ucap Amilia datar
" Sebaiknya kalian bertiga pergi dulu deh, gue butuh waktu berdua dengan Amilia!" seru siswa tersebut kepada Chessy, Nila dan Dea
Amilia mendengus kesal, dari awal dia sudah menolak untuk ikut keluarganya yang ingin datang ke rumah Herry pemuda yang saat ini tengah berdiri di hadapannya, karena gadis itu sudah filling kalau pemuda tersebut pasti akan merasa besar kepala
" Kalau loe mau bicara yaudah ngomong aja sekarang enggak perlu ngusir-ngusir sahabat gue segala!" protes Amilia
" Tapi Amilia gue_!"
" Udah ya, enggak ada yang penting kan gue mau ke kelas sekarang, udah mau bel masuk!" Amilia langsung memotong ucapan Herry dan melewati pemuda itu begitu saja
Melihat Amilia yang sudah melangkah pergi Chessy, Nila dan Dea pun langsung menyusulnya
" Ahhh... sial, susah banget sih buat ngedeketin Amilia!" kesal Herry seraya menatap punggung Amilia yang semakin menjauh
" Loe kenapa bro?" Herry tersentak ketika seseorang menepuk bahunya dan membuatnya terkejut
" Sialan loe, ngagetin gue aja!" kesal Herry
" Yee... elonya aja yang ngelamun!" sahut Dodo teman sekelas Herry
" Lagian ngapain sih loe sendirian di sini, enggak jelas gitu lagi tuh muka!" ledek Dodo
" Loe yang enggak jelas, tiba-tiba muncul ngagetin orang" sungut Herry
" Enggak jelas dari mana gue Bambang, gue mah dari kantin ngisi perut, lah loe ngapain pelengo kayak ayam telo disini sendirian?" ledek Dodo
" Bukan urusan loe, udah ah yuk cus ke kelas udah mau masuk!" Herry tidak menggubris perkataan Dodo
" Uhh dasar enggak jelas!"
" Nanti gue jelasin, sekarang belum waktunya" sahut Herry
__ADS_1
" Pasti ini mah dari bau-baunya sih masalah cewek" Tebak Dodo
" Sok tau loe!" Herry menoyor kepala Dodo
" Gue mah udah hatam sama orang yang terkena virus cinta" tawa Dodo
" Berisik loe!" Herry membekap mulut Dodo dengan telapak tangannya
" Ogeb, tangan loe habis pegang apaan sih bau banget, uwekk!" Dodot memukul lengan Herry dengan kesal
" Ha...ha... ha... sorry gue tadi habis dari toilet!" Herry langsung mengambil langkah seribu sedangkan Dodo melotot setelah mendengar jawaban Herry
" Eh dasar teman enggak ada akhlak loe ya, tunggu loe kamvret!" Dodo langsung berlari mengejar Herry
Terjadilah kejar-kejaran antara dua siswa tersebut
Brukk
" Oopps.... sorry bro, gue enggak sengaja!" ucap Dodo ketika tanpa sengaja menabrak tubuh seseorang
Beruntung mereka tidak jatuh karena Dodo yang langsung mengerem langkah kakinya cukup kuat walaupun sempat menabrak seorang siswa
" Iya enggak apa-apa" jawab siswa tersebut dengan datar
" Loe ngapain sih pakai lari-larian kayak gitu segala, udah kayak anak kecil aja!" ucap teman siswa yang ditabrak Dodo
" Bukan urusan loe!" jawab Dodo lalu melenggang pergi begitu saja membuat Martin memggeram dan ingin menghalaunya namun dengan cepat dicegah oleh Alex siswa yang sempat ditabrak oleh Dodo
"Udah ngapain sih loe ngurusin orang yang enggak penting, udah yuk pergi!" seru Alex
Martin dan Alex pun lalu melanjutkan langkah mereka menuju ruang kepala sekolah
Sesampainya di depan ruang kepala sekolah Alex tidak lupa untuk mengetuk pintu ruangan tersebut terlebih dahulu
Tok Tok Tok
" Masuk!" seru seseorang dari dalam ruangan tersebut
Ceklek
Pintu pun terbuka, Alex masuk ke dalam ruangan kepala sekolah bersama Martin
" Selamat siang pak!" ucap Alex setelah menghadap kepala sekolah
" Kau_!" papanya Jihan membulatkan matanya ketika melihat Alex yang datang
" Om, tante!" sapa Alex pada kedua pasangan suami isteri yang tengah duduk berhadapan dengan bapak kepala sekolah
" Sungguh keterlaluan kamu Alex!" Ucap papanya Jihan nampak marah terhadap Alex
" Kau dan papamu ternyata sama saja!" geramnya lagi menatap sinis pada Alex
" Sabar pak, kita bicarakan ini baik-baik!" ucap bapak kepala sekolah ketika menangkap situasi yang sedikit mulai tegang
" Maaf om saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan!" ucap Alex membela diri
" Duduk dulu nak Alex!" titah kepala sekolah kepada Alex
" Terima kasih pak" sahut Alex lalu mendudukkan dirinya di sopa yang berada di sebelah kanan Jihan dan kedua orangtuanya
" Kamu_!" Bapak kepala sekolah menoleh ke arah Martin yang berdiri di belakang Alex
" Sedang apa kamu disini?" tanyanya lagi membuat Martin jadi salah tingkah sendiri
" Maaf pak kepala sekolah, tadi tuan Mahendra yang meminta Martin untuk menemani saya sebagai saksi!" sahut Alex mewakili Martin untuk menjawab pertanyaan dari kepala sekolah karena Martin tiba-tiba saja berubah tegang
" Cih, masalah seperti ini saja pakai melibatkan tuan Mahendra segala" gumam papanya Jihan
" Begini pak kalau hanya saya yang bicara takutnya saya nanti dibilang fitnah jadi saya datang bersama Martin karena selain saya yang melihat perbuatan Jihan beberapa hari lalu sampai membuat salah satu siswi dilarikan ke RS, Martin juga pada waktu itu melihat dengan jelas jika Jihanlah yang dengan sengaja menyengkat kaki Chessy hingga terjatuh beruntung saat itu ada salah satu siswa yang menolong Chessy jika tidak saya tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada Jihan sekarang" tutur Alex tanpa rasa takut sedikitpun
Bapak kepala sekolah menarik napas panjang lalu menatap papanya Jihan dan Alex bergantian
" Soal masalah itu saya sudah mendapatkan bukti yang kongkrit yang bisa dijadikan bukti dan kemarin juga putra tuan Mahendra sudah datang ke sekolah dan membicarakan banyak hal, dan karena hal itulah hari ini saya meminta bapak dan ibu selaku orang tua dari Jihan Pratiwi untuk datang ke sekolah untuk membicarakan kesalahan yang sudah diperbuat oleh putri kalian" tutur bapak kepala sekolah dengan lugas dan jelas
" Sudahlah pak kepala sekolah masalah ini tidak usahlah di besar-besarkan, lagi pula siswi tersebut juga tidak kenapa-napa kan?" tutur papanya Jihan dengan sikap congkaknya
" Untuk apa pula tuan Mahendra selaku pemilik yayasan sekolah ini di libatkan dengan masalah sepele seperti ini" tambahnya lagi
Alex mengepalkan tangannya kuat merasa geram dengan sikap papanya Jihan yang terlalu meremehkan kesalahan yang diperbuat oleh putrinya padahal dia tidak tahu saja kalau orang yang hampir dicelakai putrinya itu adalah menantu kesayangan tuan Mahendra
Bapak kepala sekolah geleng-geleng kepala melihat sikap sombong papanya Jihan
" Maaf pak Rudi sebaiknya tenangkan dulu diri anda, permasalahan ini tidak semudah yang bapak pikirkan" ucap pak kepala sekolah
Pak Rudi papanya Jihan mengerutkan keningnya menatap pak kepala sekolah dengan tatapan penuh tanda tanya
" Maksud bapak apa ya?" tanya Pak Rudi
" Jihan pasti sudah tahu kan, siapa Chessy?" bukannya menjawab pertanyaan pak Rudi bapak kepala sekolah malah bertanya kepada Jihan yang sejak tadi hanya menundukkan kepalanya
Jihan mengangguk pelan sebagai jawabannya yang nampak ketakutan
" I...iya pak" Jihan
" Beruntung tuan Mahendra dan juga putranya tuan muda Amar masih mentolerir perbuatan kamu dan masih memberi kamu kesempatan untuk mengikuti ujian nanti, jika saja perbuatan kamu kemarin itu sampai membuat Chessy kenapa-napa saya juga tidak bisa membayangkan nasib kamu kedepannya seperti apa begitu juga dengan keluarga kamu" tutur pak kepala sekolah yang tentu saja hal itu langsung membuat papa dan mamanya Jihan semakin bingung
Agar tidak membuat kedua orang tua Jihan semakin bingung akhirnya bapak kepala sekolah menjelaskan semuanya tentang siapa sosok Chessy yang hampir saja dibuat celaka oleh Jihan
__ADS_1
Pak Rudi dan istrinya nampak syok dan kesombongan serta keangkuhannya seketika menguap begitu saja
" Tidak mungkin?" lirihnya