Tragedi Satu Malam

Tragedi Satu Malam
Ulah Denis


__ADS_3

Chessy tidak henti-hentinya menangis sambil menggenggam jam tangan milik Amilia yang mungkin terjatuh saat seseorang menarik tangannya dengan kasar


" Sudahlah sayang Amilia pasti akan baik-baik saja, kamu jangan nangis terus kayak gini dong sayang kasihan dengan anak kita" ucap Amar membujuk isteri kecilnya yang sedang menangis sesenggukan di dalam kamar


" Tapi bagaimana keadaan Amilia kak, aku sangat mengkhawatirkannya" sahut Chessy disela isak tangisnya yang pecah


" Mungkin saat ini Amilia sedang pergi bersama temannya yang lain, kita tunggu saja ya informasi dari Roy" ucap Amar lalu menarik Chessy ke dalam pelukannya


" Kalau Amilia mau pergi dengan temannya dia pasti akan memberitahu ku kak, karena selain aku, Dea dan juga Nila, Amilia enggak pernah dekat dengan yang lain"terang Chessy


" Kak apa kita harus memberitahu mommy dan daddy kak tentang Amilia?" tanya Chessy seraya mengurai pelukannya mendongak menatap Amar


" Kakak rasa jangan dulu sayang, kita tunggu saja kabar dari Roy" sahut Amar


Sementara di tempat yang berbeda


" Aaakhhh...!" Amilia yang baru tersadar dari pingsannya karena pengaruh dari obat bius, meringis merasakan nyeri di pergelangan tangannya yang ternyata diikat dengan sangat kencang oleh seseorang yang menculiknya


Brak


Amilia terkejut ketika tiba-tiba pintu dibuka dengan kasar dari luar dan detik berikutnya muncullah sosok pria bertubuh tinggi besar menghampirinya dengan membawa sepiring nasi ditangannya


" Makanlah!" Titah orang tersebut menatap Amilia dengan tatapan garang


Amilia menelan salivanya kasar sedikit takut melihat wajah garang laki-laki yang ada di hadapannya saat ini


" Bagaimana aku bisa makan dengan keadaan tangan terikat seperti ini!" sahut Amilia dengan berani


" Kau jangan berharap aku akan melepaskan ikatan itu, makanlah sebisamu!" tegas pria itu tanpa ada belas kasih


" Sebenarnya siapa kau ini, kenapa menculikku?" tanya Amilia berusaha untuk memberanikan diri bertanya kepada laki-laki bertubuh besar itu yang hendak melangkah keluar


Pria tersebut menghentikan langkahnya


" Kau tidak perlu tahu siapa aku, cukup diam dan patuh karena aku bisa saja berbuat kasar bahkan menghabisi nyawamu !"


Glek


Amilia menatap geram laki-laki yang ada dihadapannya, beruntung laki-laki itu memunggunginya jadi dia tidak melihat wajah Kesal Amilia terhadapnya


Amilia pun tidak berani menyahuti lagi karena dia tidak mau mati konyol


"Makan makanan mu dan jangan banyak bertanya, jika tidak maka jangan salahkan aku kalau aku berbuat kasar" Ucap pria itu sebelum pergi

__ADS_1


Pria itupun tidak lupa mengunci ruangan dimana Amilia disekap


" Apa yang harus gue lakukan, melawannya pun rasanya tidak mungkin" Amilia menghela nafasnya berat


" Gue lapar tapi gue takut untuk makan makanan ini, bagaimana kalau nanti tuh orang ngasih sesuatu di makanan ini" gumam Amilia menatap makanan yang ada di hadapannya


" Tapi kalau tidak di makan orang itu pasti akan marah" Amilia jadi frustasi sendiri


Di bangunan yang sama namun di ruangan yang berbeda seorang pemuda sedang duduk berhadapan dengan para anak buahnya


" Bagaimana?" tanya pemuda tersebut pada salah satu anak buahnya


" Beres bos, sepertinya gadis itu sangat penurut" sahut pria yang berbadan besar


" Kau jangan mudah tertipu dengan penampilannya, dia itu gadis yang licik dan pintar" ucapnya


Pemuda yang tidak lain adalah Denis itu cukup tahu bagaimana seorang Amilia bahkan wanita itu bisa mengalahkannya


" Beri dia obat penenang dan jangan biarkan dia lepas, satu lagi jangan berbuat macam-macam dengannya kalau kau berani menyentuhnya maka kau akan tahu akibatnya!" titah Denis


" Siap bos"


Pria yang menjadi pesuruh Denis pun langsung keluar dari ruangan tersebut dan langsung berjalan menuju ke ruangan dimana Amilia di sekap


Pintu ruangan tersebut dibuka dan pria tersebut menyunggingkan senyumnya ketika melihat Amilia yang meringkuk di atas lantai dengan piring yang sudah kosong di sampingnya


" Bagus, gadis ini ternyata tidak membuat ku sulit, dengan mudahnya ia memakan makanan yang sudah aku campur obat penenang didalamnya!" gumam pria tersebut


Pria itupun mengangkat tubuh Amilia dan membaringkannya di atas kasur yang ada di ruangan tersebut


" Sebaiknya kau menurut saja dan hal itu akan membuatmu aman " ucap pria tersebut sebelum pergi meninggalkan Amilia


Pria tersebut kini sudah kembali ke ruangan Denis dan melaporkan apa yang sudah terjadi dengan Amilia


Denis menyeringai jahat, ia merasa rencananya kini sudah hampir berhasil, tinggal satu langkah lagi maka rencananya akan benar-benar menjadi kenyataan


" Siapkan segalanya dan aku tidak mau ada kata gagal" seru Denis kepada anak buahnya


" Baik bos!"


" Berikan pelayanan yang paling bagus dan buat dia menjadi wanita yang paling cantik!"


" Baik bos akan kami lakukan" sahut salah satu anak buahnya

__ADS_1


Denis menelpon seseorang dan senyum pun langsung terbit di wajah seseorang yang berada di seberang telepon


" Aku akan menjadikannya sebagai wanita ku seutuhnya dan aku tidak akan melepaskannya begitu saja"


" *Terserah kau saja, aku hanya ingin melihat dia menderita!" ucap seseorang diseberang telpon


" Jaga dirimu dengan baik, ingat kau tidak boleh jatuh cinta padanya*!"


" Apa urusanmu, kau tidak bisa mengaturku!" geram Denis


" *Kau harus ingat rencana kita Denis, tujuan kita adalah menghancurkan gadis sombong itu"


Tuttt*....


Denis menutup sambungan telponnya, ia paling tidak suka diatur dan saat ini tujuannya adalah mendapatkan Amilia seutuhnya, persetan dengan rencana yang sudah mereka susun baginya saat ini adalah bisa mendapatkan Amilia dan memilikinya seutuhnya


°°°


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam Amilia pun akhirnya tersadar dari tidurnya


Awalnya ia hanya berpura-pura tidur tapi karena merasa lelah sekaligus lapar tubuh Amilia menjadi lemah bahkan ia pun tertidur begitu saja


" Si... siapa kalian?" tanya Amilia yang sangat terkejut ketika melihat ada dua orang wanita sedang berdiri di hadapannya


" Nona izinkan kami untuk merias anda!" izin salah satu dari wanita tersebut


Amilia mengerutkan keningnya " Apa maksudmu, meriasku? siapa yang memerintahkan kalian katakan padanya aku tidak mau di rias "


" Maaf nona, kami mohon menurutlah nona ini demi keselamatan kita semua terutama keluarga kami nona"


" Apa kalian ada yang mengancam?"


Kedua pelayan tersebut pun saling melempar pandangannya


"Tapi aku tidak mau di rias" tolak Amilia


" Tolonglah nona keselamatan kami ada di tangan mu nona!"


Amilia memutar bola matanya malas dan ingin sekali ia mengabaikan kedua wanita tersebut


" Untuk apa aku pakai di rias segala sih!" kesal Amilia yang akhirnya pasrah dan tidak ingin menyusahkan kedua pelayan tersebut


" Kami tidak tahu nona, kami hanya di minta untuk datang dan merias anda"

__ADS_1


Amilia mengerutkan keningnya " Siapa sebenarnya dalang dari penculikan ini?" gumam Amilia di dalam hati lalu mengizinkan kedua wanita tersebut untuk menghias wajahnya


__ADS_2