
Chessy menangis sesenggukan setelah hasil pemeriksaan menyatakan kalau dirinya dinyatakan benar-benar telah berbadan dua
Usia kandungan Chessy masih sangat muda baru berjalan 2 Minggu, kondisinya cukup sehat hanya saja butuh perhatian khusus mengingat kondisi Chessy sendiri yang terkadang sering lepas kontrol
" Bunda, Chessy enggak mau hamil hiks... hiks.... Chessy mau sekolah bun, Chessy enggak mau hamil, bagaimana dengan sekolah Chessy bun kalau Chessy hamil hiks... hiks..!" ucap Chessy yang kini tengah menangis di dalam pelukan bundanya
Suara tangisnya terdengar begitu memilukan, gadis itu merasa hidupnya semakin hancur setelah mengetahui kalau didalam tubuhnya ada kehidupan yang lain
" Chesssy tidak menginginkan anak ini bun, hiks.... hiks..." Chessy mengurai pelukannya dari sang bunda lalu dengan brutal memukuli perutnya sendiri
Bunda sontak terkejut dengan reaksi putrinya yang secara tiba-tiba itu.
" Jangan lakukan itu sayang, kamu bisa menyakitinya!" dengan gerakan cepat bunda pun menarik Chessy ke dalam dekapannya
" Anak yang berada di dalam kandunganmu itu tidak tahu apa-apa sayang, jangan buat dia bersedih dan melampiaskan kemarahan mu pada dia yang tidak berdosa, bukan salah dia jika saat ini tumbuh dan berkembang di dalam rahim mu, jangan karena sebuah kesalahan yang sudah orang tuanya lakukan lalu dia yang harus memikul bebannya sendiri, dibenci dan tidak diinginkan kehadirannya oleh orang yang pastinya sangat ia sayangi dan jika boleh memilih pun dia juga pasti tidak akan mau nak berada di situasi seperti ini" tutur bunda Tia dengan bijak
" Terima kehadirannya dengan ikhlas sayang, Allah pasti punya rencana lain di balik peristiwa ini, jangan menyalahkan kehadirannya apalagi menyangkal keberadaannya mungkin ini adalah sebagai bentuk jawaban dari penolakan mu terhadap nak Amar yang ingin bertanggungjawab sepenuhnya pada dirimu" tambahnya lagi
Chessy masih sesenggukan dia mencerna sedikit demi sedikit setiap ucapan bundanya
" Apa yang dikatakan bunda mu itu ada benarnya Chessy, kamu tidak bisa menolak Amar lagi yang ingin bertanggung jawab atas kesalahannya kepadamu, mungkin ini memang sudah jadi jalan takdir kalian, jadi ayah harap kau jalani saja dulu jika memang setelah anak itu lahir dan kamu tidak merasa bahagia hidup bersama suami mu kelak maka kamu bisa pulang kepada kami orang tuamu yang sampai kapanpun, pintu rumah kami akan selalu terbuka untukmu" tutur Ayah Chandra
Chessy sudah merasa sedikit tenang dan berusaha untuk mencerna setiap kata-kata ayah dan bunda bundanya
" Demi bayi yang berada di dalam kandungan kamu, yang membutuhkan figur sosok seorang ayah jadi saran bunda terimalah lamaran nak Amar sayang" ucap Bunda sedikit meyakinkan hati putrinya
" Sayangilah dia nak, terimalah kehadirannya jadikanlah dia sebagai pemersatu kedua orang tuanya" ucap bunda lagi
" Chessy enggak tahu bun, pernikahan macam apa nantinya yang harus Chessy jalani bersama laki-laki itu bun" ucap Chessy dengan sendu
__ADS_1
" Amar, namanya Amar sayang" ucap bunda mengingatkan
" Bunda yakin nak Amar itu sebenarnya orang yang baik tapi keadaan lah yang membuat kalian sampai terjerumus dalam kejadian laknat itu" ucap bunda
" Kenapa bunda begitu yakin kalau dia itu orang yang baik, padahal bunda mengenalnya saja tidak" ucap Chessy tidak habis pikir dengan bundanya yang begitu mudah percaya pada Amar
" Kamu sudah sangat mengenal keluarganya dibandingkan bunda, jadi bunda rasa sedikitnya kamu juga tahu tentang Amar bukan?"
Chessy menggelengkan kepalanya pelan " Bun, orang tuanya memang sangat baik terlebih adiknya Amilia tapi belum tentu juga kan bun kalau kakaknya memiliki sikap dan sifat yang sama!" tutur Chessy
" Kamu memang benar sayang, tapi alangkah baiknya kamu berbaik sangka lah dulu terhadapnya, apalagi selama ini dia juga selalu berusaha mencarimu!" ucap bunda memberitahu Chessy kalau sebenarnya Amar sudah mencari keberadaannya selama ini
" Mencari Chessy? itu tidak mungkin bun" sanggah Chessy
Bunda lalu menceritakan semua yang pernah Amar ceritakan padanya, kalau selama ini Amar sudah mencari tahu tentang keberadaan Chessy namun hasilnya selalu nihil barulah setelah adiknya Amilia menceritakan kejadian yang menimpa sahabatnya dan meminta tolong kepadanya untuk mencari tahu dalang yang sudah menjebak sahabatnya itu serta mencari tahu siapa laki-laki yang sudah merenggut kehormatannya disitulah Amar mendapatkan titik terang yang membuat sempat sangat syok, Dan setelah dirinya yakin kalau Chessy adalah gadis yang dia cari selama ini dan yang dicari adiknya adalah dirinya sendiri barulah ia memberanikan diri untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepada kedua orang tuanya dan setelahnya mendatangi Chessy dan kedua orangtuanya
Chessy menggelengkan kepalanya membantah apa yang diceritakan bundanya, gadis itu tidak mau percaya begitu saja dengan apa yang Amar sudah ceritakan kepada kedua orangtuanya
Bunda beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah laci yang ada di samping tempat tidur Chessy, meraih sesuatu yang ada di dalam laci tersebut
" Ini" Bunda meletakkan sebuah kalung di atas telapak tangan Chessy
Mata Chessy membulat saat melihat kalung yang ada di atas telapak tangannya
" Kalaung ini, bunda dapat dari mana kalung ini bun, sudah lama chessy mencari kalung ini bun" Chessy menciumi kalung yang ada di tangannya itu berkali-kali lalu mendekapnya erat di dadanya, ia merasa sangat bersyukur karena kalung itu bisa ketemu lagi
" Kalung itu dari nak Amar dia yang menemukannya" jawab bunda
Chessy membulatkan matanya sempurna saat nama laki-laki masuk kembali ke indra pendengarannya
__ADS_1
" Bagaimana bisa bun?" Chessy nampak tak percaya
" Kalung itu terjatuh di depan pintu kamar saat kau pergi meninggalkanku begitu saja!" Ucap seseorang yang sontak saja membuat ketiganya menoleh ke arah sumber suara
" Ka...kau!" Chessy meremas selimutnya berusaha untuk melawan rasa takutnya melihat pria yang tengah mengayunkan langkahnya berjalan semakin mendekat ke arahnya
" Aku minta maaf karena tidak bisa mengendalikan diri ku malam itu, aku dipengaruhi oleh obat laknat yang entah siapa yang sudah menaruhnya ke dalam minuman ku" Amar menghela nafasnya berat rasa bersalahnya terhadap Chessy sungguh membuatnya sesak
" Jujur saja selama ini aku pun selalu dihantui oleh perasaan bersalah" tutur Amar
Chessy yang awalnya masih merasa takut berusaha untuk memberanikan diri menatap wajah laki-laki yang sudah merusak masa depannya itu
" Ya dia adalah laki-laki yang sama, aku masih ingat betul wajahnya walaupun saat ini wajahnya nampak banyak luka lebam, tapi benar dia adalah laki-laki be**ngsek yang sudah menghancurkan masa depanku" batin Chessy menatap tajam pada Amar
" Dia sudah seperti berandalan, wajahnya aja banyak luka memar gitu pasti dia habis tauran!"
Entah apa yang dipikirkan oleh gadis remaja itu, melihat wajah Amar lebam-lebam malah mengira Amar seperti teman-teman sekolahnya yang kebanyakan mendapatkan luka seperti itu karena habis tauran
" Bun, apa bunda sama ayah yakin mau menikahkan Chessy dengan laki-laki brandal macam dia?" bisik Chessy pada bundanya
" Maksud kamu?" bunda mengerutkan keningnya merasa bingung dengan pertanyaan putrinya itu
" Bunda bisa lihat kan wajah nya saja banyak luka lebam begitu, kalau di sekolah Chessy teman Chessy yang laki-laki wajahnya seperti itu pasti mereka habis tauran jadi Chessy yakin kalau dia juga pasti habis tauran dengan para preman" jawab Chessy yang seketika membuat ketiga orang yang berada di dalam ruangan tersebut tercengang dibuatnya
" Tauran?" beo bunda, Amar dan ayah Chandra bersamaan
" Putriku terlalu polos rupanya!" gumam ayah Chandra
" Iya, anda benar sekali pak" sahut Amar yang masih dapat mendengar gumaman ayah Chandra
__ADS_1
Sementara bunda nampak mengulum senyumnya, entah apa yang ada di benak putrinya saat ini kenapa bisa-bisanya putrinya mengatakan kalau calon suaminya itu habis tauran padahal luka lebam itu di akibatkan oleh ulah tangan-tangan pria paruh baya yang telah memberinya hukuman tanpa adanya perlawanan