
Amar mulai merasa terusik ketika mendengar suara Opanya yang berteriak memanggil namanya
" Amar, kemarilah! " Panggil Opa sedikit berteriak
Amar menoleh dan memasang wajah datar terkesan dingin
" Amar ini ada teman Opa, kamu jangan sibuk terus dengan pekerjaan mu itu Mar" ucap Opa membuat Amar memejamkan mata menahan kekesalannya saat mendengar kata teman Opa
" Kemarilah nak, Opa mau memperkenalkan mu pada teman baik Opa!" titah sang Opa seraya melambaikan tangannya
Amar berdiri lalu berjalan dengan perlahan menghampiri brankar Opanya masih dengan tampang wajah datarnya
" Hermawan kenalkan ini cucuku Amar, dia ini belum lama pulang dari Jerman, cucuku ini pengusaha muda yang cukup sukses dan aku yakin dia kelak pasti bisa mengikuti jejak Mahendra putraku" ucap Opa Bara memperkenalkan Amar pada teman baiknya itu dengan bangga
Amar menjabat tangan Hermawan begitu juga sebaliknya, Amar hanya tersenyum tipis sekilas lalu kembali memasang wajah datarnya
" Wah cucumu sangat tampan Bara, prestasinya juga luar biasa aku yakin jika didampingi oleh pendamping yang tepat cucu mu ini akan semakin sukses nantinya" ucap Hermawan dengan tujuan tertentu disetiap kata-katanya
" Kau bisa saja Hermawan, karena itulah aku ingin cucuku yang dingin ini segera menikah, setidaknya sebelum aku tutup usia aku sudah menimang cicit" ucap Opa Bara
Amar memutar bola matanya jengah mendengar pembicaraan kedua pria tua itu membuatnya muak terlebih saat netranya menangkap wanita yang berada di samping tuan Hermawan jelas Amar rasanya ingin meninggalkan ruangan itu saja
" Jangan bicara seperti itu mas, pernikahan itu tidak bisa dipaksakan begitu saja, jika memang Amar belum siap menikah biarkan saja mas dia menentukannya sendiri!" tutur Oma membuat Opa Bara mendengus kesal dengan sang isteri yang selalu saja membela cucunya yang satu itu
Amar merasa senang karena Omanya selalu berpihak kepadanya
" Oiya, Hermawan apa kau tidak ingin memperkenalkan cucumu yang cantik itu!" ucap Opa Bara melirik sekilas kepada wanita yang berada di samping temannya itu
" Oh iya Bara aku sampai lupa, perkenalkan ini cucuku namanya Selena!"
Selena menghampiri Opa Bara lalu menyalami punggung tangannya
" Selena Opa!" ucap Selena dengan nada bicara yang begitu sangat lembut memperkenalkan diri
" Kamu cantik sekali Selena" puji Opa Bara pada Selena membuat gadis itu tersenyum malu-malu
" Opa terlalu memuji" Selena tersipu malu
" Opa juga masih terlihat tampan walaupun sudah berumur" puji Selena membuat Opa tergelak mendengarnya
" Kau bisa saja Selena" ucap Opa Bara dengan senyum yang mengembang
Amar dan Oma memutar bola matanya malas mendengar pembicaraan mereka
" Selena ini adalah cucuku yang paling penurut dan baik hati Bara, aku sangat menyayangi cucuku Selena, karirnya juga sangat bagus dia itu pekerja keras makanya sampai sekarang belum menikah katanya menunggu yang pas" tutur Hermawan memuji cucunya
" Kalau begitu cocok sekali dengan cucuku Amar, dia pun gila kerja sampai-sampai di usianya sekarang pun masih saja melajang dan tidak pernah sekalipun memperkenalkan seorang gadis pada keluarganya" tutur Opa Bara
__ADS_1
" Memangnya cucumu kerja di mana Hermawan?" tanya Opa Bara
" Selena bekerja di perusahaan ku menjadi wakil direktur, tapi kelak dia yang mewarisi perusahaan ku karena cucu-cucu ku yang lain tidak ada yang becus dalam mengelola perusahaan" sahut Hermawan membanggakan cucunya sendiri
" Jadi jika kau menjodohkan cucuku dengan cucumu, kurasa kelak mereka akan menjadi pasangan yang sangat serasi, bagaimana menurutmu Bara?"
Tuan Hermawan begitu antusias ingin sekali menikahkan cucunya dengan Amar, karena dia yakin kelak perusahaannya pasti akan semakin berkembang pesat jika Amar dan Selena menikah
Amar menangkap hal lain dari pembicaraan kakek tua itu, rasanya dia muak dengan setiap ucapan yang dilontarkan dari teman Opanya
" Ya kau benar Hermawan, aku pun setuju dengan mu" sahut Opa Bara
" Amar apa kau tidak ingin berkenalan dengan gadis secantik Selena, kau itu jangan sibuk terus dengan pekerjaan mu beri waktu mu untuk mengenal Selena!" ucap Opa Bara beralih bicara pada Amar
Amar mendengus kesal rasanya ingin kembali saja ke ibu kota jika berujung dengan pembicaraan yang tidak ada gunanya
Inilah alasannya kenapa Amar malas bertemu dengan Opanya karena setiap kali bertemu Opanya selalu membahas tentang pernikahan
" Selena ayok perkenalkan dirimu pada Amar!" Ucap Herman menyenggol bahu Selena, pria tua itu sangat antusias ingin memperkenalkan cucunya pada Amar
Selena pun dengan malu-malu mengulurkan tangannya kepada Amar
" Selena" ucapnya dengan lembut
Melihat Selena mengulurkan tangannya mau tidak mau Amar yang tidak ingin membuat Opa Bara kecewa padanya pun terpaksa menyambut uluran tangan Selena
Opa Bara nampak kesal melihat sikap dingin Amar pada Selena
" Kau ini berkenalan dengan wanita memasang wajah datar seperti itu, tersenyumlah sedikit Amar" Tegur Opa Bara yang merasa tidak enak dengan Hermawan
" Sudahlah Opa, aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan!" ucap Amar yang sudah merasa jenuh dengan pembicaraan yang tidak penting menurutnya
" Amar, tidak sopan sekali kamu ini disaat seperti ini masih saja pekerjaan yang kamu pikirkan, apa kamu tidak memikirkan keadaan Opa mu ini?" Ucap Opa Bara memasang wajah kecewa
" Apa kau ingin Opa mu ini mati penasaran karena tidak bisa melihat cucu Opa menikah dan memiliki cicit" ucap Opa Bara memasang wajah sendu
" Bara kau jangan bicara seperti itu, kau itu masih kuat dan gagah aku yakin kau itu masih panjang umur dan kau bisa melihat cucumu menikah dan kau juga bisa menggendong cicit mu nanti!" ucap Hermawan berusaha untuk menghibur sahabatnya
Opa Bara menghela napas berat " Aku tidak tahu apa itu bisa terwujud, kau lihat sendiri cucuku Amar lebih mementingkan pekerjaannya dari pada Opanya sendiri" tutur Opa Bara menampakan wajah sedih
Amar hanya bisa memejamkan matanya menahan kekesalannya karena Opanya lagi-lagi memaksakan kehendaknya
Padahal tanpa Opa ketahui sebentar lagi pun dia akan segera memiliki cicit
" Opa sudahlah jangan bicara seperti itu lagi, Opa tenang saja aku pasti akan mewujudkan keinginan Opa dan segera memberikan Opa cicit sekarang yang terpenting adalah pikirkan saja kesembuhan dan kesehatan Opa" ucap Amar
Opa jelas merasa senang mendengar ucapan Amar " Apa kau serius Amar!" tanya Opa memastikan
__ADS_1
" Iya Opa aku serius" sahutnya
" Sekarang biarkan aku menyelesaikan pekerjaan ku dulu Opa " ucapnya lagi
" Baiklah!"
Amar lalu kembali ke sofa dan melanjutkan pekerjaannya
Selena diam-diam mencuri pandang ke arah Amar, gadis itu mengukir senyum di wajah cantiknya menatap Amar dengan tatapan memuja
Opa Bara dan Hendrawan saling melirik dan tersenyum melihat Selena yang sepertinya sudah menaruh hati pada Amar
" Sepertinya cucuku menyukai cucumu Bara!" ucap Hermawan
" Ya sepertinya seperti itu, semoga cucuku Amar pun menyukai cucu mu Hermawan" ucap Opa Bara penuh harap
" Ya aku rasa sebentar lagi cucumu pasti akan menyukai cucu ku Selena, karena tidak ada pria yang bisa lepas dari pesona cucuku yang cantik ini!" puji Hermawan membanggakan cucunya Selena
" Kau benar Hermawan, cucumu memang sangat cantik dan lemah lembut aku yakin jika mereka sering bertemu pasti keduanya nanti akan sama-sama saling menyukai satu sama lain" ucap Opa Bara
Oma yang mendengar ucapan suami dan temannya itu hanya bisa menghela napas panjang, suaminya begitu semangat ingin menjodohkan cucunya padahal Oma sendiri bisa melihat dengan jelas kalau Amar sama sekali tidak tertarik dengan gadis yang bernama Selena itu
" Sayang, kenapa kau diam saja kau setuju kan kalau Amar menikah dengan Selena?" tanya Opa Bara pada Oma
" Aku setuju saja kalau memang Amar sendiri yang menginginkan pernikahan itu terjadi" jawab Oma
Opa Bara dan Hermawan lalu keduanya berbincang-bincang membicarakan apa saja tentang kedekatan mereka dulu sedangkan Oma hanya menjadi pendengar setia saja, sementara Selena sendiri gadis itu memberanikan diri untuk menghampiri Amar yang sedang fokus dengan layar laptopnya
Selena duduk di sofa kosong sebelah Amar, senyumnya terus mengembang gadis itu membayangkan kebersamaannya setelah mereka menikah nanti
Oh Selena belum apa-apa pikirannya sudah melalang buana kemana-mana padahal Amar sendiri melirik sedikit pun tidak kepadanya
Dalam diam-diam Selena menatap wajah Amar yang nampak begitu fokus dengan layar laptop yang ada di hadapannya, pria itu hanya merasakan pergerakan seseorang yang berada di sampingnya tanpa berniat sedikit pun untuk menoleh apalagi berbicara
" Ehemm!" Selena sengaja berdehem mencari perhatian pria yang telah mencuri hatinya tapi sayangnya Amar sama sekali tidak menggubrisnya, pria itu memilih tetap fokus dengan layar laptopnya
Merasa di cuekin Selena pun tak putus arang, dia mencoba untuk berbicara dengan Amar
" Emmm... mas Amar!" panggilnya dengan suara yang terdengar cukup manja
Amar bergeming dan masih fokus dengan pekerjaannya
" Apa sangat sibuk mas?" tanyanya lagi berusaha untuk mencairkan suasana
Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering, Selena yang melihat ponsel Amar yang tergeletak di atas meja berdering berdecak kesal karena merasa terganggu dengan panggilan tersebut
Amar langsung menyambar ponselnya dan berlalu pergi begitu saja sambil menerima panggilan
__ADS_1