
" Loe kenapa sih Ches?"
Tanya Amilia saat keduanya tengah duduk di atas kasur yang ada di kamar Chessy
" Kenapa apanya?" tanya Chessy yang berusaha untuk menghindari bertatap mata dengan Amilia
" Loe marah sama gue?" tanya Amilia lagi
" Marah?" Chessy tertawa renyah
" Kenapa gue mesti marah, memangnya loe punya salah apa sama gue sampai gue marah sama loe?" Chessy malah balik bertanya sambil terkekeh
" Ya mana gue tahu, kali aja gue punya salah sama elo sampai bikin loe ngejauhin gue kayak gini!" ungkap Amilia sendu merasa sangat sedih kala sahabatnya itu selalu menghindar darinya
Chessy menarik napas dalam-dalam lalu dibuangnya kasar
" Loe enggak ada salah apa-apa dan gue juga enggak ngehindari loe kok, itu perasaan Loe aja kali!"
Chessy berusaha untuk tersenyum dan bersikap seperti biasa walaupun sebenarnya hatinya terasa nyeri setiap kali melihat Amilia yang merupakan adik dari orang yang ingin dia jauhi sejauh-jauhnya
" Tapi sikap loe akhir-akhir ini aneh tau enggak? ya tepatnya setelah Loe pulang waktu itu dari rumah gue"
Chessy memijat pelipisnya sendiri yang terasa berdenyut
" Aneh bagaimana? perasaan biasa aja!" elak Chessy
Amilia menelisik raut wajah Chessy " Loe enggak lagi nutupin sesuatu kan dari gue?"
Deg
Degup jantung Chessy berdetak kencang rasanya dia sudah tidak kuat untuk berbohong dari Amilia tapi mengatakan hal yang sebenarnya pun dia masih belum sanggup
" Eh? emm... nutupin apa? enggak ada kok " sahut Chessy sedikit gugup
" Terus kenapa waktu itu loe pulang lagi padahal kita belum sempat ketemu dan loe juga batalin acara jalan-jalannya?" todong Amilia dengan pertanyaan
Chessy lagi-lagi menarik napas dalam-dalam dan membuangnya kasar, rasanya begitu sulit menghadapi sahabatnya yang satu ini
" Gue enggak kenapa-kenapa, waktu itu tiba-tiba aja kepala gue pusing dan lemes banget ya udah gue mutusin pulang aja, kalau gue ngomong sama loe gue yakin loe pasti khawatir nantinya dan gue enggak mau ngerepotin loe mulu" jawab Chessy mengatakan apa yang sebenarnya,dia tidak berbohong kali ini karena saat itu dia memang merasa sangat pusing dan tubuhnya lemas bak tak bertulang setelah bertemu dengan kakaknya Amilia
" Kok bisa tiba-tiba gitu?" cecar Amilia seperti menangkap ada sesuatu yang sebenarnya Chessy sembunyikan dari dirinya
" Ya mana gue tahu, mungkin karena waktu itu gue belum sarapan kali" jawab Chessy asal
" Apa waktu itu loe sempat bertemu dengan kakak gue?" Selidik Amilia
Jlep
Chessy tercekat, lidahnya terasa kelu setelah mendengar pertanyaan Amilia mengenai kakaknya Amar
__ADS_1
Chessy mengangguk pelan " Iya sempat ketemu sekilas " jawab Chessy
" Apa kak Amar mengatakan sesuatu, ya kali aja dia menyinggung perasaan loe?"
Chessy menggeleng " Kakak loe enggak ngomong apa-apa, gue juga cuma liat dia sekilas karena saat itu kepala gue pusing banget jadi gue mutusin buat pulang aja!" jawab Chessy dengan degup jantung yang sudah jedag jedug
" Jadi kalian belum sempat mengobrol gitu?"
" Bagaimana mau ngobrol, melihat wajahnya aja gue udah muak dan pingin gue cakar-cakar aja tuh muka datarnya yang seakan tidak punya dosa!" sayang kata-kata itu hanya berani di ucapkan Chessy di dalam hatinya saja
" Belum, memangnya kenapa?" tanya Chessy balik
" Ya enggak kenapa-napa juga sih" Amilia cengengesan
" Emm .. bagaimana kakak gue ganteng kan? ganteng mana yang di foto apa aslinya?" tanya Amilia seraya menaik turunkan alisnya
" Percuma punya wajah ganteng juga kalau hatinya seperti iblis" lagi-lagi Chessy hanya mampu menjawab dalam hati
" Biasa aja, buat gue ganteng itu relatif yang terpenting adalah kepribadiannya" sahut Chessy
" Seganteng apapun laki-laki tapi jika perilaku dan kepribadiannya buruk maka tetap aja nilainya minus" Chessy menjadi sedikit emosi saat membayangkan wajah tampan Amar
" Loh kok loe kayak enggak suka gitu sama kakak gue, kenapa?" tanya Amilia yang sedikit menangkap lain dari ucapan Chessy
" Hah?" Chessy malah melongo
" Enggak suka gimana, ya gue kan cuma jawab kalau soal ganteng itu relatif yang penting mah kebaikannya" sanggah Chessy
Uhuk... uhuk... Chessy tersedak salivanya sendiri
" Baik dari Hongkong, kakak loe adalah orang yang paling gue benci Mil, seandainya bisa gue ingin jauh dari kalian Mil" batin Chessy
" Ches... Chessy kok bengong, apa jangan-jangan loe udah naksir ya sama kakak gue?" ledek Amilia
Chessy tersenyum getir " Gue enggak berani untuk naksir ataupun di taksir laki-laki Mil, mana ada laki-laki yang mau sama cewek yang udah enggak virgin lagi, apalagi loe bilang kakak loe itu orang baik bukan jadi mana mungkin orang baik mau sama cewek yang udah kotor" Chessy menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan
" Laki-laki bejat sekalipun pasti akan mencari wanita baik-baik Mil untuk jadi pendamping hidupnya apa lagi pria baik-baik" tambahnya lagi
Amilia tercenung mendengar penuturan sahabatnya itu ada seonggok daging yang tergores saat Chessy mengatakan hal itu
" Chess!" lirihnya
" Gue enggak apa-apa" Chessy menepuk bahu Amilia meyakinkan gadis itu kalau dirinya dalam keadaan baik-baik saja
" Loe itu hanya korban Chess, gue yakin kok suatu hari nanti loe pasti akan mendapatkan kebahagiaan loe, akan ada laki-laki yang mau menerima loe apa adanya" ucap Amilia
" Amin, Terima kasih Mil. Tapi untuk saat ini gue belum kepikiran ke arah sana. maaf ya Mil gue merasa untuk saat ini laki-laki itu semua sama, baik di luar saja tapi hatinya seperti iblis" sungut Chessy
" Loe kok bicaranya kayak gitu Chess?" tanya Amilia
__ADS_1
" Enggak ada laki-laki yang baik Mil, kecuali Ayah... hiks....hiks...!"
" Gue benci laki-laki, gue benci Mil!"
Amilia seketika terhenyak mendengar tangisan pilu sahabatnya itu, hatinya teriris menyaksikan kesedihan Chessy yang begitu dalam dan menyakitkan
Chessy mengalami trauma yang cukup besar hingga dia begitu membenci laki-laki, apa karena hal itu yang membuat Chessy waktu itu memilih pulang setelah bertemu dengan kakaknya pikir Amilia
" Apa karena traumanya yang membuat Chessy waktu itu memilih untuk pulang?" batin Amilia
" Chessy tidak sanggup bertemu dengan kak Amar karena rasa traumanya pada laki-laki"
" Gue yakin pasti karena itu?"
" Kenapa loe enggak cerita sama gue kalau loe mengalami trauma pada laki-laki Chess?" selidik Amalia
" Maaf Mil, mungkin gue belum sanggup"
Amilia mengangguk mengerti, ini memang ujian yang cukup berat untuk Chessy seandainya dia yang berada di posisi Chessy belum tentu juga dia bisa melewati hari-harinya sebaik dan setegar Chessy
" Maafin gue ya Chess, gue enggak bisa bantu loe apa-apa, gue tau ini berat banget buat loe lewati sendirian tapi gue akan selalu berdoa semoga kelak pahit yang loe terima saat ini akan berbuah manis kedepannya" ucap Amilia
seraya menarik Chessy ke dalam pelukannya
" Amin, semoga aja" jawab Chessy
" Tapi gue yakin kok Chess, Loe itu kan gadis baik kelak Loe pasti akan hidup bahagia" Amilia mengurai pelukannya
Chessy hanya menanggapi ucapan Amilia dengan senyuman
" Terima kasih Mil"
" Untuk apa berterima kasih, kita itu sahabat sudah sepantasnya kita saling mendukung dan mendoakan satu sama lain!" sahutnya
" Andai loe tahu yang sebenarnya Mil, gue enggak tahu bagaimana hubungan kita kedepannya!" batin Chessy
" Loe akan menjadi sahabat gue selamanya Chess, apapun yang akan terjadi. gue sayang sama loe Ches loe udah gue anggap seperti saudara gue sendiri" ucap Amalia yang seketika membuat Chessy terkejut dengan ucapannya
" Mil!" lirih Chessy dengan mata yang sudah berkaca-kaca
" Jangan memikul beban loe sendirian Chess, setidaknya berbagi sama gue ya, kita hadapi setiap masalah yang ada bersama-sama !"
" Mil!"
"Udah jangan nangis lagi, nanti kalau loe main ke rumah gue pastiin deh loe enggak bakal ketemu sama kakak gue" ucap Amilia
" Daddy kangen sama loe kayaknya nagih janji loe tuh minta dimasakin" lanjutnya yang kini sudah mengalihkan obrolan mereka
" Iya ya gue udah janji sama bokap loe buat masakin beliau" ucap Chessy
__ADS_1
Mereka pun akhirnya mengganti bahasan obrolan mereka dan setelah itu memutuskan untuk jalan-jalan keluar