
"Kenapa kalian masih disini dan tidak langsung ke ruangan ku ?"
Suara yang tidak asing didengar membuat Raisa bergetar dan dengan perlahan ia menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya Raisa setelah melihat sosok yang kini berdiri di hadapannya
Deg
Mata Raisa terbelalak saat melihat sosok laki-laki yang berdiri tegap dihadapannya apalagi dengan raut wajah datar dan terkesan dingin
" Maaf kak itu karena_" ucapan Amilia terpotong
" Maafkan saya pak karena saya hanya melakukan tugas saya sesuai prosedur, tidak berani mengizinkan sembarang orang menemui anda tanpa izin dari anda pak" ucap Raisa dengan sopan bahkan wanita itu sampai sedikit membungkukkan badannya, sungguh berbanding terbalik dengan sikapnya tadi yang begitu angkuh dan meremehkan
Amilia berdecak melihat sikap penjilat seperti Raisa, ia ingin menimpali ucapan Raisa yang sok profesional itu tapi dicegah oleh Chessy
" Maaf kak sudah membuat kakak menunggu!" ucap Chessy mengabaikan ucapan Raisa
Amar melirik ke Chessy sekilas lalu beralih menatap Raisa dengan tajam
" Apa dia mengganggu mu?" tanya Amar tanpa menoleh pada Cheesy karena tatapan matanya masih tertuju pada Raisa
" Dia_!" ucapan Chessy terpotong
" Aku sudah menjelaskan padanya kalau aku ini adikmu kak tapi karyawan baru ini tidak juga percaya padahal bisa saja kan dia bertanya pada rekannya yang lain bukannya malah mengusir kami!"
Glek
Raisa dengan kasar menelan salivanya, dia semakin menunduk tidak berani menatap atasannya yang terkenal dingin dan kejam
" Sekarang apa yang ingin kamu lakukan padanya ?" tanya Amar kepada Amilia tanpa menoleh pandangan tertuju pada karyawannya yang masih menundukkan kepalanya
Amar percaya pada adiknya dilihat dari raut kekesalannya pada karyawannya itu pasti sudah terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan pada mereka atas perbuatan karyawannya yang masih menunduk
" Aku ingin kakak memecatnya karena dia sudah berani bersikap tidak sopan pada kami" Ucap Amilia membuat Raisa seketika menegang dan menoleh ke arahnya lalu kembali menunduk
" Bukankah kamu tadi bersikap begitu berani kenapa sekarang kau berubah menjadi seorang pengecut?" sindir Amilia
Raisa tidak terima dikatakan pengecut tapi untuk membela diri rasanya itu tidak mungkin apalagi saat ini ia sedang berhadapan dengan atasannya yang terkenal tidak mengenal kata ampun jika sudah melakukan suatu kesalahan
Wanita itu mengepalkan tangannya kuat dan berusaha untuk mencari peruntungan dengan berusaha membuat alasan kepada sang atasan
" Maafkan saya pak, sungguh saya tidak tahu jika nona ini adalah adik anda saya hanya menjalankan tugas sesuai prosedur perusahaan yang tidak mengizinkan sembarang orang menemui bapak" ucap Raisa dibuat sendu seolah merasa bersalah
Amilia memutar bola matanya malas " Sungguh munafik, wanita rubah bermuka dua" gumam Amilia pelan namun masih bisa ditangkap oleh Indra pendengaran sang kakak
Amar sebenarnya malas menimpali orang seperti Raisa, pria itupun lalu merogoh saku celananya dan meraih ponselnya untuk menelpon seseorang
Tidak berapa lama orang yang tadi ditelpon oleh Amar pun datang
" Tuan muda!" ucap seseorang yang kini sudah berdiri di hadapan Amar
" Urus wanita ini, cek cctv dan lihat dengan detail apa kesalahannya dan beri hukuman sesuai dengan apa yang sudah dia lakukan kepada adik dan isteri ku!" ucap Amar tegas membuat Raisa seketika membeku mendengar ucapan Amar
Glek
Raisa kesulitan menelan salivanya bahkan dadanya terasa sesak dan napasnya bergemuruh hebat
" I... isteri!" lirih Raisa menatap ke arah Chessy yang sedang menatap Amar
Sungguh dadanya terasa sesak saat mendengar Amar mengatakan isteri pada gadis yang masih memakai seragam abu-abu dihadapannya
Bukan Raisa saja yang terkejut rupanya Chessy pun juga dibuat syok dengan ucapan Amar yang mengakui dirinya sebagai istri di hadapan orang lain
" Kak!" lirih Chessy
" Ayo sayang kita keruangan ku!" Tangan Amar terulur merangkul pinggang Chessy dan membawanya pergi mengabaikan ketegangan yang ada di wajah isteri kecilnya itu
Amilia tersenyum sinis pada Raisa yang masih terlihat begitu syok dengan apa yang baru saja ia dengar
" Makanya kalau bekerja itu yang benar, jangan sok cantik dan jangan suka merendahkan orang lain tanpa tahu apa-apa !" sindir Amilia
" Kak Roy beri hukuman yang berat padanya kalau perlu pecat saja dan buat dia tidak bisa bekerja di mana pun!" tambahnya lagi
Orang yang tadi dihubungi oleh Amar adalah asistennya sendiri yaitu Roy dan pria itu hanya diam saja mendengarkan ucapan adik dari atasannya itu
Sementara Raisa terbelalak mendengar ucapan pedas Amilia, sungguh dia tidak menyangka kalau hari ini menjadi hari terburuk untuknya menyesal pun rasanya sudah tidak ada gunanya lagi
" Ma... maafkan saya nona, tolong jangan pecat saya!" mohon Raisa pada Amilia namun tidak digubrisnya
" Urus dia dengan benar!" ucap Amilia melenggang pergi menyusul Chessy yang sudah berjalan lebih dulu
Beruntung suasana di lobi cukup sepi hanya ada beberapa karyawan saja yang berlalu lalang dan mereka pun tidak terlalu memperhatikan karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing
Amar pun membawa Chessy dan Amilia melalui lift khusus dan setibanya di ruangannya Amar menyuruh keduanya duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut
"Apa yang akan kakak lakukan dengan karyawan tadi?" tiba-tiba Chessy bertanya pada Amar yang baru saja mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya
__ADS_1
Amar menoleh pada Chessy " kakak akan memecatnya jika memang dia terbukti melakukan kesalahan!" jawab Amar
" Ya memang sebaiknya seperti itu!" timpal Amilia
Chessy menggeleng pelan " Beri dia kesempatan kak, bukankah setiap manusia pernah melakukan kesalahan!" Amilia dan Amar seketika langsung menoleh ke arah Chessy
" Loe bilang apa Chess, memberinya kesempatan, apa gue enggak salah dengar?" tanya Amilia dan Chessy menjawab dengan gelengan kepala
" Gue tahu Mil dia sudah berbuat salah tapi apa salahnya kita beri dia kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya apalagi dia itu karyawan baru ya mungkin aja belum banyak pengalaman" jawab Chessy menatap pada Amilia
" Kita kan enggak tahu Mil bagaimana kehidupan dia yang sebenarnya, siapa tahu dia itu tulang punggung keluarganya" tutur Chessy lagi
Amar dibuat terkesima dengan pola pikir isterinya ini yang begitu memikirkan orang lain, tanpa ragu dia pun langsung menghubungi asisten pribadinya untuk menyelidiki tentang Raisa
" Tapi Chess, apa orang seperti mbak Raisa itu pantas di beri kesempatan? bagaimana kalau dia mengulang kesalahannya lagi?" tanya Amilia
Chessy tersenyum " Jika dia mengulang kesalahannya kembali baru ambil tindakan tegas tanpa ampun!"
Amar hanya geleng-geleng kepala seraya mendengarkan perdebatan antara isteri dan adiknya
Dan ternyata tidak butuh waktu lama ponselnya berdering dan informasi pun langsung didapatkannya dan benar saja Raisa merupakan anak pertama dari keluarga sederhana dan harus membantu keuangan keluarganya membiayai adiknya sekolah karena ayahnya yang sedang sakit, ia memiliki ibu tiri yang selalu meminta uang kepadanya membuat wanita itu merasa tertekan dan mudah marah
Amar lalu menyuruh Roy untuk memanggil Raisa ke ruangannya
Tok Tok Tok
Ceklek
Roy sedikit membungkukkan badannya seraya memberi hormat kepada atasannya
" Tuan saya sudah membawa Raisa kesini!" ucap Roy setelah masuk ke ruangan Amar
Chessy dan Amilia pun langsung menoleh ke arah pintu
" Suruh masuk!" sahut Amar
Roy pun segera menyuruh Raisa masuk ke dalam ruangan atasannya itu
Tubuh Raisa bergetar melihat atasannya yang menatapnya begitu tajam seolah ingin mengulitinya hidup-hidup apalagi saat di ruang cctv Raisa tidak dapat mengelak lagi atas kesalahannya yang sudah diperbuat dan sudah dipastikan atasannya itu pasti akan marah besar kepadanya
" Apa kau tahu apa tujuan ku memanggil mu?" Terdengar suara Amar yang tegas dan dingin di indra pendengaran Raisa
" I...iya pak, ma.. maafkan saya karena sudah melakukan kesalahan!" sahut Raisa terbata-bata
" Bagus jika kau sudah menyadari kesalahan mu" tegas Amar
" Kau tidak perlu meminta maaf padaku, tapi minta maaflah pada adik dan juga isteriku!" sentak Amar membuat Raisa terjungkit dan spontan memejamkan mata saking kagetnya
" Karena jika bukan karena permintaan isteriku yang memintaku untuk memberimu kesempatan sudah dipastikan detik ini juga kau sudah jadi gelandangan" tambahnya lagi
Raisa seketika mendongak dan menoleh ke arah Chessy yang terlihat sedang tersenyum padanya
" Gunakan kesempatan ini sebaik mungkin karena jika kau melakukan kesalahan lagi sudah dipastikan kau akan di pecat dan tidak akan diterima bekerja dimana pun, camkan itu baik-baik!" ucap Amar memperingatkan
" Ba... baik pak, terima kasih banyak" ucap Raisa tergagap
Raisa lalu kembali menoleh ke arah Chessy yang masih tw senyum kepadanya berbeda dengan Amilia yang terlihat datar
" Ma... maafkan saya nona_!" Raisa bingung harus memanggil siapa karena tidak mengetahui nama kedua gadis yang ada di hadapannya saat ini
" Namaku Chessy dan ini sahabat baikku yang paling cantik Amilia" ucap Chessy memperkenalkan dirinya dan Amilia karena dia melihat kebingungan di wajah Raisa
" I..iya, maafkan aku nona Chessy dan nona Amilia, maaf atas sikap saya yang sudah tidak sopan pada kalian berdua dan saya ucapkan terima kasih banyak karena sudah memberi saya kesempatan untuk tetap bisa bekerja di perusahaan ini!" Raisa menundukkan wajahnya merasa malu dihadapan Chessy dan Amilia
" Sudahlah tidak apa-apa, semoga mba Raisa bisa bekerja dengan baik di perusahaan ini jangan mengecewakan keluarga mba di rumah yang selalu menunggu mba pulang kerja!" ucap Chessy
Raisa terhenyak mendengar ucapan Chessy matanya pun langsung berkaca-kaca apalagi saat teringat dengan ayahnya yang sedang sakit keras
Amilia tersenyum miring " Mencari kerja itu susah apalagi sampai bisa masuk bekerja di perusahaan ini sungguh suatu keberuntungan jadi gunakan kesempatan ini dengan benar jangan sampai kau menyesal seumur hidup atas perbuatan yang bodoh dan merugikan diri sendiri!" tutur Amilia terdengar pedas namun penuh makna
Raisa semakin menunduk, rasanya begitu malu di ceramahi oleh anak yang masih memakai seragam sekolah
" Sudahlah, sekarang kamu boleh pergi dan gunakan kesempatan ini sebaik mungkin" ucap Amar
" Baik pak!"
Raisa pun pamit undur diri tapi sebelum ia keluar dari ruangan itu Amar kembali memperingatinya
" Dan tentang status isteriku, cukup tutup rapat-rapat mulutmu jika sampai terbuka maka siap-siaplah angkat kaki dari perusahaan ini!"
Raisa mengangguk " Iya pak, saya akan tutup mulut saya tidak akan berani bicara pada siapa-siapa!" ucap Raisa
" Bagus, aku pegang kata-katamu!"
Amar pun menyuruhnya untuk keluar dari ruangannya
__ADS_1
Setelah Raisa pergi bersama Roy kembali ketempat kerja masing-masing kini didalam ruangan tersebut hanya tinggal Amar, Chessy dan juga Amilia
Amar menghampiri Chessy dan duduk di sampingnya
" Bagaimana keadaan baby hari ini?" tanya Amar seraya mengelus lembut perut Chessy
Chessy tersenyum " Alhamdulillah, baik papa!" jawab Chessy dengan menirukan suara anak kecil
" Syukurlah kalau anak papa tidak rewel dan tidak menyusahkan mamanya!" Amar menundukkan kepalanya lalu mendaratkan kecupan di perut Chessy
Amilia memutar bola matanya malas dan mendengus kesal melihat kemesraan mereka yang seakan tidak melihat keberadaannya
" Ekhem...!" Amilia berdehem melihat Amar yang sedang mengecup perut Chessy dan disambut hangat oleh sang isteri dengan membelai rambutnya
Amar langsung menegakkan badannya memperbaiki posisi duduknya lalu menoleh ke arah Amilia yang sedang memasang wajah ditekuk
" Kenapa?" tanya Amar tanpa dosa
Amilia mencibik " Ada apa katanya? udah bermesraan tidak lihat kondisi masih nanya kenapa?"
Amar terkekeh sedangkan Chessy menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal
" Maaf ya Mil!" ucap Chessy merasa sedikit tidak enak pada Amilia
"Iya enggak apa-apa udah nasib gue kali jadi jomblo ngenes banget!" jawab Amilia yang malah mengundang gelak tawa Amar
" Makanya cepat cari pacar sana biar enggak jomblo lagi!" ledek Amar
" Ihh... apaan sih, pacar...pacar enggak lah, punya pacar mah ribet !" sahut Amilia
" Kok ribet?" Chessy mengerutkan keningnya menatap Amilia
" Iya ribet lah apalagi kalau cowoknya itu punya banyak penggemar yang ada nanti gue jadi bulian para fensnya lagi" sahut Amilia
" Yaudah kalau gitu kamu cari aja pacar yang jelek dan tua sekalian biar aman dan enggak ada yang naksir" ledek Amar
" Idih mulutnya tajem banget, ya kali aku pacaran sama kakek-kakek, emangnya kak Amar sendiri mau gitu dipanggil kakak ipar sama orang yang sudah lanjut usia?"
Amar semakin tergelak mendengar ucapan Amilia sampai-sampai Chessy memukul lengannya agar suaminya itu berhenti tertawa dan tidak lagi menggoda adiknya
Chessy mengerti mungkin kejadian malam itu membuat Amilia merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri karena sudah melabuhkan hatinya pada laki-laki yang salah dan hal itu menyisakan sedikit trauma pada Amilia yang enggan untuk berpacaran
" Sudah kak jangan diledek terus ih!" ucap Chessy
" Habis lucu aja dek, enggak kebayang aja Lia jalan bareng sama kakek-kakek" sahut Amar yang kembali tergelak membuat Amilia mendengus kesal seraya menghentak kakinya
" Kak Amar mah jahat ih, dulu juga kak Amar sama tuh jomblo akut sampai-sampai dijodohin terus sama Daddy dan juga Opa" Ucap Amilia membalas ucapan Amar
" Itukan dulu, sekarang lain cerita kak Amar udah punya bidadari surga yang cantik dan menggemaskan ini!" Amar merangkul bahu Chessy dan menariknya kedalam pelukannya
" Oweekk!" Amilia muntah udara mengejek sang kakak
" Gombalan receh!" ledeknya
" Yee... iri aja ratu jomblo" goda Amar lagi membuat Amilia memasang wajah cemberut
" Udah ah, mending aku pergi aja daripada disini melihat kemesraan kalian yang lebay dan enggak tahu tempat" Ucap Amilia lalu beranjak dari tempat duduknya
" Loh mau kemana Mil?" tanya Chessy yang melihat Amilia sudah beranjak dari tempat duduknya
" Keluar sebentar cari udara segar" jawab Amilia
" Gue ikut!"
" Jangan sayang, kamu disini aja!" cegah Amar ketika Chessy hendak beranjak dari tempat duduknya dan ingin ikut dengan Amilia
" Iya Chess loe disini aja, gue cuma sebentar kok mau cari siomay yang ada di dekat taman kantor ini, udah lama enggak makan kangen gue!" tutur Amilia
" Loe mau nitip enggak, disana makanannya enak-enak loh?" lanjutnya
" Boleh dek, kakak titip Bakso rudal ya satu, kamu apa sayang?" bukan Chessy yang menjawab malah Amar yang menyahutinya lalu menoleh pada Chessy dan bertanya keinginan sang isteri
" Dih yang ditanya siapa yang jawab siapa, tumben banget juga kak Amar pesan Bakso biasanya paling anti!" cibir Amilia
Chessy mengerutkan keningnya " Kak Amar enggak suka bakso?"
" Iya, dia itu paling anti banget sama yang namanya bakso tapi hari ini tumben banget pingin bakso" sahut Amilia
" Mungkin bawaan bayi dek" timpal Amar dan Chessy mengangguk mengerti
" Iya juga sih, bisa jadi itu" Amilia pun mengangguk mengiyakan kemungkinan itu bisa terjadi
" Yaudah, nanti aku cariin Kak, kalau loe mau makan apa Chess?" kini Amilia beralih pada Chessy
" Gue lagi kepingin makan rujak !" jawab Chessy
__ADS_1
Amilia pun mengangguk mengerti keinginan calon ibu muda itu lalu pamit pergi
Tapi sebelum pergi Amilia berbisik pada Amar yang seketika membuat Amar terdiam lalu menatap ke arah Chessy dengan tatapan sendu