
Karena kondisi kesehatan Chessy sudah membaik dan dokter pun sudah mengizinkannya untuk pulang, maka setelah selesai acara Chessy pun langsung pamit pulang bersama ayah dan bundanya
Gadis yang kini sudah berstatus isteri dari kakak sahabatnya itu sendiri pun meminta izin terlebih dahulu kepada sang suami dan juga kedua mertuanya untuk pulang ke rumah orangtuanya, karena gadis itu masih merasa belum siap
Awalnya mom dan Daddy merasa keberatan tapi setelah mereka berpikir ulang memang ada baiknya untuk sementara gadis itu tinggal dulu bersama ayah dan bundanya sampai kondisi kesehatannya benar-benar pulih dan Chessy sendiri benar-benar merasa sudah siap untuk tinggal berdua dengan Amar di apartemennya
" Yaudah, enggak apa-apa dek senyamannya kamu aja mau tinggal dimana, sekali lagi aku hanya ingin mengingatkan apapun yang kamu rasakan dan kamu inginkan bilang aja ya dek jangan disimpan sendiri di dalam hati karena kakak bukan cenayang yang bisa membaca isi hati dan juga isi pikiran kamu, jadi buatlah diri kamu senyaman mungkin jangan jadikan pernikahan ini sebagai beban ya" tutur Amar memberi pengertian kepada Chessy
Entah perasaan apa yang kini tengah Chessy rasakan tapi dia merasa bersyukur karena Amar begitu pengertian dan tidak menuntutnya banyak hal
Amar pun ikut pulang ke rumah Chessy dan kedua orangtuanya , sementara mom dan dad Mahendra pulang ke mension nya sendiri
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit mereka pun akhirnya sampai di rumah kedua orang tua Chessy
" Silahkan masuk nak Amar!" Ucap ayah Chandra pada Amar setelah bunda membuka pintu rumahnya
" Terima kasih!" ucap Amar lalu mengekor sang mertua masuk ke dalam rumah yang ukurannya 5 kali lipat dari mansion milik keluarga Mahendra
Sementara Chessy sendiri sudah melesat lebih dulu masuk ke dalam kamarnya untuk memenuhi panggilan alam yang sejak tadi di tahannya selain itu dia pun merasa sedikit mual dan ingin segera memuntahkan isi perutnya
" Maaf jika rumah ini kurang nyaman untuk nak Amar" ucap ayah Chandra setelah mempersilahkan Amar duduk dengannya di bangku ruang tamu
" Ayah ini bicara apa, jika isteri ku merasa nyaman berada di rumah ini tentu saja aku pun harus bisa merasakan hal yang sama, lagi pula selama ini aku pun juga jarang tinggal di mansion milik orang tuaku lebih banyak tinggal di apartemen yang luasnya pun tidak berbeda jauh dari ini" ucap Amar tidak ingin mertuanya merasa tidak enak terhadapnya hanya karena soal tempat tinggal
" Oh begitu ya, syukurlah kalau nak Amar merasa tidak keberatan dengan keadaan gubuk kami ini" Kali ini bukan ayah yang bicara tapi bunda yang baru saja datang dari arah dapur seraya membuatkan minuman untuk keduanya
" Bunda jangan bicara seperti itu, lagi pula untuk apa rumah besar jika kita tidak merasa nyaman berada di dalamnya, walaupun rumah kecil dan sederhana tapi jika didalamnya dipenuhi dengan kehangatan dan juga cinta kasih dalam sebuah keluarga maka rumah itu akan terasa hangat dan lebih indah dari istana, bukan begitu bunda?" tutur Amar berbicara panjang lebar
Bunda tersenyum membenarkan ucapan sang menantu " Iya nak Amar, kata-kata nak Amar benar sekali"
Chessy yang baru saja ikut bergabung setelah tadi buru-buru masuk ke dalam rumah karena merasa sedikit mual dan ingin segera menuju ke toilet merasa terharu dengan ucapan Amar
" Kamu kenapa dek, muka kamu kok pucat gitu, apa merasa mual lagi?" tanya Amar yang langsung terfokus perhatiannya pada gadis yang baru saja mendudukkan dirinya di bangku single yang ada di sisi kanannya
__ADS_1
Bunda dan ayah Chandra pun langsung menoleh ke arah Chessy memperhatikan putri mereka yang baru saja bergabung
Sementara Chessy mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Amar kepadanya
" Kalau begitu sebaiknya kamu istirahat aja Chess dikamar, jangan banyak beraktivitas apa-apa dulu, kalau ada yang kamu inginkan sebaiknya kamu bilang aja sama ayah, sama bunda dan juga sama suami kamu !" Ucap ayah Chandra
" Iya Chess, kamu kan baru mendingan jadi lebih baik kamu istirahat aja gih sekalian ajak suami kamu untuk beristirahat!" ujar bunda
Chessy menurut, dia pun mengajak Amar masuk ke dalam kamarnya.
Setelah berada di dalam kamar, Chessy merasa sangat canggung dan salah tingkah apalagi ini kali pertama gadis itu dekat dengan seorang laki-laki selain ayah
" Istirahatlah!" ucap Amar memecahkan ketegangan yang terjadi di antara keduanya
Chessy hanya mengangguk pelan lalu merangkak naik ke atas tempat tidur
Amar tersenyum melihat tingkah Chessy yang terlihat tegang jika berhadapan dengannya apalagi tubuh gadis itu sudah tertutup selimut sampai ke leher
" Maaf !" kata itu yang hanya keluar dari bibir gadis yang berstatus isteri itu
Amar tersenyum " Enggak apa-apa dek, enggak perlu minta maaf. kamu sudah mau menikah dengan kakak aja, membuat kakak merasa sangat bersyukur" ucapnya
" Sudahlah jangan terlalu banyak pikiran, buat dirimu bahagia dek dan insyaallah kakak juga akan berusaha untuk membahagiakan kamu dan juga anak kita" ucap Amar yang lagi-lagi membuat hati Chessy tersentuh
Begitu banyak kata-kata manis yang Amar ucapkan dan berkali-kali juga Chessy dibuat terbuai, tapi entah kenapa di dalam hati gadis itu berusaha untuk membentengi dirinya untuk tidak mudah luluh dengan ucapan-ucapan manis yang terlontar dari mulut suaminya, ia takut itu hanyalah manis diawal saja dan setelah mendapatkan apa yang diinginkannya akan dicampakkan begitu saja
Chessy belum pernah jatuh cinta, bahkan dekat dengan laki-laki pun tidak pernah dan kini ia malah berstatus isteri dari pria yang hanya beberapa hari dikenalnya tanpa tahu bagaimana pribadi pria itu yang sebenarnya
Melihat Chessy yang hanya terdiam dan bahkan kini sudah berposisi memunggunginya, Amar memilih untuk beranjak dari kamar itu dan mencari keberadaan mertuanya
" Bunda!" panggil Amar yang melihat bunda sedang berada di dapur dan langsung menghampirinya
" Ya ampun nak Amar kok malah masuk ke dapur, disini kotor loh nak" ucap bunda
__ADS_1
" Enggak apa-apa bun, oiya Bun dimana ayah?" tanya Amar
" Ayah lagi di kamar, apa nak Amar ada perlu dengan ayah?" tanya bunda
" Mau pamit pulang bun" jawab Amar jujur
" Pulang?" Kening bunda mengkerut
" Iya, bun untuk sementara biarlah Chessy berada di sini dulu, dia butuh waktu bun. aku tahu ini tidaklah mudah apalagi aku sudah membuatnya trauma dengan kejadian itu jadi biarlah Chessy merasa tenang dulu bun" ucap Amar menjelaskan
" Lagi pula aku juga masih banyak pekerjaan bun, jadi untuk beberapa hari mungkin agak sibuk" terangnya lagi
" Tapi nak Amar bukan berencana untuk mencampakkan Chessy kan?" tanya bunda dengan perasaan cemas
" Astaghfirullah, enggak ada niat sampai sejauh itu bun" ucap Amar yang tidak menyangka kalau ibu mertuanya sampai ke pikiran sampai ke arah sana
" Sudah beberapa hari aku tidak masuk kantor bun, dan pekerjaan di kantor juga sudah sangat menumpuk, jadi sama sekali enggak ada pikiran ke arah sana bun, aku hanya ingin membuat Chessy nyaman dulu bun ya walaupun tidak tinggal bersama tapi insyaallah aku akan berusaha untuk meluangkan waktu untuk melihat keadaan Chessy bun "
Amar sungguh tidak menyangka kalau ibu mertuanya sampai kepikiran sampai sejauh itu
" Syukurlah kalau nak Amar tidak memiliki niat untuk meninggalkan putri bunda" ucapnya merasa lega
" Bun, bagaimana mungkin aku meninggalkan isteriku yang sedang hamil anakku, aku juga masih takut dengan dosa bun" ucapnya sambil terkekeh
Bunda ikut terkekeh " Nak Amar bisa saja"
" Aku juga punya adik perempuan bun, aku juga takut apa yang aku lakukan berimbas pada adikku sendiri" Tutur Amar dan bunda mengangguk mengerti
Setelah berpamitan kepada bunda dan juga ayah Chandra yang tiba-tiba tadi datang ke dapur kini Amar sudah berada di apartemennya
" Amilia?"
Amar dibuat terkejut dengan kedatangan sang adik yang tanpa memberitahunya terlebih dahulu gadis itu kini sudah berdiri di depan pintu apartemennya
__ADS_1