Tragedi Satu Malam

Tragedi Satu Malam
Kondisi Amilia


__ADS_3

Amilia mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina


"Euh....!" lenguhnya merasakan nyeri dan pegal-pegal di seluruh tubuhnya


" I..ini dimana?" Amilia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan yang nampak asing baginya


Amilia mengerutkan keningnya ketika menyadari ruangan yang didominasi oleh warna abu-abu dan putih itu bukanlah kamar tempat dimana ia disekap


" Ini bukan ruangan yang tadi, tempat apa lagi ini?" gumamnya dan saat gadis itu hendak bangun tiba-tiba ia merasakan sedikit nyeri di punggung tangannya


" Aahh...!" ringisnya dan seketika matanya membola saat menyadari punggung tangannya tertancap jarum infus


"A...apa gue berada di rumah sakit?" pikir Amilia


" Tapi sepertinya bukan,ini bukan seperti rumah sakit, lalu dimana gue sekarang?" Amilia menghela napas berat karena dirinya kini sudah berada di ruangan yang berbeda bahkan iapun terbelalak ketika menyadari pakaian yang ia gunakan sudah berganti


" Apa kak Denis? jadi dia benar-benar sudah_!" Amilia tidak kuasa membendung air matanya lagi ketika teringat dengan apa yang sudah Denis lakukan kepadanya beberapa waktu lalu


" Aaaa...Hiks.. Hiks..."


Gadis itupun terisak, merasakan sakit yang teramat sangat, dadanya begitu sesak ketika bayangan dimana Denis memperlakukannya dengan sangat kasar terlintas di dalam ingatannya


" Hiks...Hiks..., mommy... daddy... hidup Amilia sudah hancur... Hiks...Hiks... mommy.. daddy.. Amilia sudah kotor, Hiks.... Hiks..." Amilia Histeris bahkan Jarum infus yang tadi melekat di punggung tangannya pun sudah terlepas begitu saja dan darah pun seketika mengucur dari tangan Amilia karena ia menariknya dengan paksa


Amilia pun beranjak dari tempat tidur dan berjalan dengan cepat menuju pintu menghiraukan luka ditangannya namun saat hendak memegang gagang pintu tiba-tiba pintu sudah dibuka dari luar


Ceklek


Mata Amilia terbelalak ketika melihat sosok laki-laki yang tengah berdiri tegap di hadapannya dengan mulut yang menganga


Keduanya sama-sama terkejut dan saling menatap dengan lekat hingga detik berikutnya laki-laki itu tersadar


" Apa loe udah gila, udah bosan hidup loe hah?" sentak laki-laki itu yang terkejut melihat kondisi Amilia yang nampak sangat memperihatinkan bahkan ia pun sampai meninggikan suaranya


Rambut acak-acakan, wajah sembab dan darah menetes dari punggung tangannya


" Morgan!" Teriak laki-laki tersebut dengan suara yang sangat menggelegar


Mendengar suara dari bosnya, Morgan yang sedang berada di lantai bawah dengan tergesa langsung menghampirinya


" Iya, ada apa tuan muda?" tanya Morgan dengan badan sedikit membungkuk

__ADS_1


" Cepat panggil dokter Ronal kesini, dalam waktu 10 menit dia harus sudah sampai !" titahnya yang langsung membuat Morgan mendengus dan memutar bola matanya malas


Menyuruh dokter datang dalam waktu 10 menit apa itu tidak keterlaluan dengus Morgan


" Baik tuan muda" Morgan pun tidak bisa membantah dan bergegas melakukan panggilan ke dokter Ronal


Amilia yang masih bergeming saking syoknya dengan sosok laki-laki yang ada di hadapannya kini tersentak kaget ketika merasakan tubuhnya yang tiba-tiba sudah melayang di udara


Gadis itupun hanya bisa diam mematung, pikirannya berkelana kemana-mana ia tidak bisa berpikir dengan jernih, bagaimana bisa laki-laki itu tiba-tiba muncul di hadapannya


Tubuh Amilia perlahan dibaringkan di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati


" Dasar gadis bar-bar bodoh dan ceroboh!" umpatnya dengan suara sangat pelan


Meskipun laki-laki itu mengatakannya dengan suara yang sangat pelan tapi Amilia masih dapat mendengarnya dengan jelas dan hal itu mampu membuat Amilia terhenyak dan meratapi nasib dirinya yang kini sudah hancur pikirnya, dia memang bodoh dan ceroboh kenapa tidak berhati-hati dan berakhir seperti ini


Pemuda tersebut dengan cekatan mengambil kotak P3K yang berada di dalam lemari nakas lalu dengan sangat hati-hati membersihkan darah yang yang sudah sedikit mengering di tangan Amilia


Tidak ada pembicaraan pada keduanya hingga akhirnya terdengar suara ketukan pintu dari arah luar


Tok...Tok...Tok ...


" Masuklah!" Pemuda tersebut langsung beranjak dari tempat duduknya dan sedikit menjauh memberi ruang untuk dokter Ronal memeriksa keadaan Amilia


Untung saja setelah memeriksa kondisi Amilia setelah dibawa ke apartemen milik pemuda itu dokter Ronal sempat mampir ke mini market terlebih dahulu yang letaknya tidak jauh dari apartemen tempat Amilia sekarang berada, jadi ketika Morgan menghubunginya kembali ia langsung segera meluncur karena ia hanya diberi waktu 10 menit untuk segera datang


" Sabarlah sedikit, kau tidak lihat aku sedang memeriksanya!" kesal dokter Ronal karena sudah diburu-buru untuk segera datang kini malah disemprot tidak jelas, kalau bukan adik sepupunya mungkin pemuda itu sudah disuntik obat tidur oleh dokter Ronal


" Dari pada kau membuat konsentrasi ku terganggu sebaiknya kau pergi saja dari sini, menyebalkan sekali!" usir dokter Ronal


" Aku tidak akan pergi kemana-mana kau dengar itu, jadi cepat periksa dia !" ucap pemuda tersebut dengan tegas


Dokter Ronal pun hanya bisa menarik napas dalam-dalam, sama halnya seperti yang dilakukan oleh Morgan


Dengan teliti dokter Ronal pun memeriksa keadaan Amilia namun entah apa yang terjadi tiba-tiba saja dokter Ronal dibuat terkejut ketika hendak memeriksa punggung tangan Amilia yang sedikit robek, reaksi Amilia yang nampak ketakutan dan tiba-tiba histeris dan beranjak duduk


" Pergi .. jangan mendekatiku... pergi!" Teriak Amilia histeris mengibaskan tangannya dengan sembarang arah


Pemuda tersebut dan dokter Ronal dibuat terhenyak dengan kondisi Amilia.


Bahkan pemuda yang tahu bagaimana sosok seorang Amilia, gadis tomboi yang bar-bar dan sangat pemberani itu kini justru yang ada dihadapannya berubah 180 derajat, merasa begitu terpukul

__ADS_1


Keadaan Amilia nampak miris, sungguh memperihatinkan


Gadis itu terus merancau tidak jelas dengan tubuh yang bergetar ketakutan bahkan iapun memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya dengan kepalanya yang digelengkan terus menerus


"Aku mohon jangan, lepaskan aku.... tolong lepaskan aku.... hisk.... hiks...!" rancau Amilia


Dokter Ronal perlahan mendekat dan langsung menyuntikkan obat penenang, perlahan tubuh Amilia melemas dan dokter Ronal membantunya untuk berbaring


Pemuda tersebut mengusap wajahnya kasar


" Aaaa...!"


Bugh


Bugh


Dokter Ronal dibuat terkejut dengan respon adik sepupunya yang tiba-tiba menghantamkan tangannya ke tembok


" Hei bro... jangan bersikap seperti ini, jangan membuatnya semakin ketakutan dengan sikapmu yang seperti ini!" Dokter Ronal menepuk-nepuk bahunya mengingatkan


" Dasar baji**an, seharusnya aku habisi saja dia!" geram pemuda tersebut dengan rahang yang mengeras dan tangan yang terkepal kuat


" Itu tidak akan menyelesaikan masalah yang ada kau yang akan mendekam di penjara!"


" Sekarang yang harus kau lakukan adalah berusaha untuk menenangkannya dan dia juga sepertinya akan membutuhkan bantuan seorang psikiater!"saran dokter Ronal


" Aku akan merekomendasikan psikiater yang paling bagus untuknya, nanti aku akan menyuruhnya datang menemui mu!"


Pemuda tersebut mengangguk " Terimakasih!"


Ucapan itu sontak membuat dokter Ronal terperangah karena ia tahu dengan benar siapa adik sepupunya itu ucapan terimakasih yang baru kali ini ia ucapkan bisa dibilang sangatlah langka


" Sama-sama" sahut dokter Ronal seraya menepuk-nepuk bahunya


Dokter Ronal pun tersenyum tipis, ia menyadari gadis yang saat ini tengah berbaring tidak berdaya itu adalah gadis yang cukup berharga bagi adik sepupunya, karena baru kali ini adik sepupunya itu membawa seorang perempuan bahkan terlihat dengan jelas gurat kecemasan di wajahnya menatap gadisnya itu


" Aku pergi dulu kalau ada apa-apa hubungi saja aku" pamit dokter Ronal


" Aku akan menyuruh Morgan untuk menebus resep obatnya!"


Pemuda itu hanya mengangguk pelan dengan tatapan matanya mengarah pada Amilia

__ADS_1


Dokter Ronal pun keluar dari kamar tersebut dan segera menyuruh Morgan untuk menebus obat sedangkan adik sepupunya masih berada di dalam kamar itu duduk di tepi kasur menatap wajah Amilia yang nampak pucat


" Maaf!" lirihnya


__ADS_2