
Brakkk
Terdengar gebrakan meja yang cukup keras di dalam sebuah ruangan, seseorang nampak dengan rahang yang mengeras dan tangan yang terkepal kuat diatas meja menyorot tajam pada bawahannya
" Dasar tidak berguna, hal seperti ini pun kau tidak bisa atasi, apa saja kerja kalian selama ini hah!" marahnya dengan mata yang sudah memerah
" Ma...maaf tuan saya sudah mengerahkan beberapa orang untuk mencari tahu tentang kejadian itu tapi tetap saja tidak membuahkan hasil tuan, sepertinya memang ada yang sengaja ingin menjebak anda tuan karena hasil rekaman kamera cctv yang ada di sekitar kamar anda menginap sudah tidak ada tuan" terang seseorang yang tidak lain adalah asisten pribadinya sendiri
" Kurang ajar, rupanya ada yang berani bermain-main dengan ku!" geramnya dengan rahang yang mengeras
"Kerahkan kembali beberapa orang yang ahli, perintahkan mereka untuk mencari tahu siapa saja orang-orang yang terlibat dalam kejadian malam itu termasuk wanita pemilik kalung ini!" titah Amar kepada asistennya Roy dan memperlihatkan kalung yang ada di tangannya dengan liontin huruf CF
" Baik tuan!" sahut Roy
"Sekarang pergilah!" ucap Amar seraya mengibaskan tangannya ke udara
Roy sedikit membungkuk lalu pergi keluar dari ruangan atasannya itu
Amar memijat pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut lalu detik berikutnya ia pun kembali memperhatikan kalung yang berada ditangannya kalung dengan liontin berinisial huruf CF
" Kenapa aku masih saja kepikiran tentang wanita itu?"
" Untuk apa aku memikirkan wanita yang telah menjebak ku itu aku yakin beberapa hari lagi pasti wanita itu akan muncul lalu meminta pertanggungjawaban ku!"
" Akhh... dasar licik!"
Amar meremas kalung yang ada di tangannya dengan kuat merasa begitu membenci wanita yang dia pikir sengaja menghabiskan satu malam dengannya
" Jika mom and Daddy tahu soal ini ahh .... pasti tamat riwayat ku!"
Amar tiba-tiba jadi teringat dengan mommy and daddy-nya, mereka selalu mengingatkan Amar banyak hal meskipun pemuda itu lama tinggal di luar negeri dan jauh dari orang tua pemuda itu tetap tidak berani melanggar apa yang sudah dipesan oleh kedua orangtuanya, mereka selalu mengingatkan kedua anaknya untuk menjaga etika baik terhadap siapapun dan yang lebih penting mereka jangan pernah mencoba-coba mendekati yang namanya pergaulan bebas
" Semoga saja masalah ini tidak berbuntut panjang apalagi jika sampai wanita itu tiba-tiba muncul lalu meminta tanggung jawab, bisa-bisa mommy murka padaku, ahk.. sial kenapa aku bisa sebodoh itu!" geramnya
Tokk
Tokk
Tokk
Amar dikejutkan dengan suara pintu ruangannya yang diketuk dari luar, cepat-cepat iapun memasukkan kembali kalung yang berada di tangannya ke saku jasnya
" Masuk!" teriaknya
Ceklek
__ADS_1
" Surprise......!"
Teriak seorang wanita cantik yang masuk ke dalam ruangan Amar dengan senyum yang mengembang di wajahnya
" Oh ya ampun kau ini mengejutkan ku saja!" Amar pun langsung berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri wanita tersebut dan memeluknya dengan penuh rasa kasih sayang dan juga kerinduan yang mendalam
" Berarti kejutan ku berhasil dong!" ucap gadis cantik setelah mengurai pelukannya
" Ya... kau berhasil, puas sekarang hem!" Amar mencubit hidung gadis manis yang tidak lepas mengembangkan senyumnya sejak masuk ke dalam ruangan Amar
" Kau semakin cantik saja" puji Amar
" Oh sayang sekali aku tidak punya uang receh"
selorohnya
Amar tergelak mendengarnya " Akupun tidak membutuhkan uang receh mu itu, simpan saja untuk mu membeli cilok pak Cendil!" ucapnya yang langsung memancing gelak tawa wanita yang begitu mencintai dan menyayangi pria yang kini berada di hadapannya
Keduanya kini tengah duduk di sofa sedikit berbincang hangat meluapkan kerinduan yang sudah lama terpendam
" Kenapa tidak pulang ke rumah? apa Kakak tidak merindukan ku?" tanya Amilia gadis yang kini duduk di samping Amar sang kakak tercinta
" Belum sempat, kakak masih banyak pekerjaan yang mesti diurus , nanti kalau sudah beres semuanya juga kakak pasti akan pulang" jawabnya
" Apa kakak tidak merindukan adik mu yang cantik ini?" tanya Amilia dengan senyum yang menggemaskan
" Ah bohong!" sanggah Amilia
" Kau ini, untuk apa kakak berbohong" gemas Amar
Amar tiba-tiba terdiam dan memicingkan matanya
" Emmm.... tunggu dulu, tidak biasanya kau datang mencari kakak mu ini, apalagi sampai datang ke kantor segala, ini pasti ada udang di balik bakwan, benarkan?"
Amilia mencibikkan bibirnya " Ishh... batu kak sejak kapan menjadi bakwan" protes Amilia
Amar tertawa " Ha...ha... sudah ganti ya kakak kira udangnya sudah dibikin bakwan oleh bi Suroh"
" Ishh... kakak ini ada-ada saja" Amilia mendengus kesal
Amar berhenti tertawa dan raut wajahnya seketika berubah serius
" Ada apa, katakan saja apa yang membuat mu datang mencari kakakmu ini?" tanya Amar
" Ah sungguh menyebalkan ternyata kau ini bisa membaca pikiran ku" Amilia mengerucutkan bibirnya membuat Amar seketika tertawa
__ADS_1
" Aku ini kakakmu jelas aku tahu apa yang ada di dalam isi otakmu ini!" ucap Amar seraya mengetuk pelan kepala sang adik
" Aishhh.... sakit kak!" keluh Amilia dan lagi-lagi Amar dibuat gemas dengan tingkah sang adik
Amar memang akan bersikap hangat jika bersama keluarganya terutama pada sang adik tapi diluar itu dia adalah sosok yang disegani dan juga ditakuti. Sikapnya yang arogan, dingin dan tak terbantahkan membuat orang-orang yang berada di sekitarnya merasa takut dan juga segan
" Sudahlah cepat katakan sebelum kakak berubah pikiran !" ucap Amar agar sang adik mengatakan tujuannya datang mencarinya
Amilia menarik napas dalam-dalam setelah itu membuangnya dengan kasar
" Aku... aku butuh bantuan kakak!" ucapnya takut-takut
" Bantuan? bantuan apa?" tanya Amar seraya menautkan kedua alisnya
Amilia pun akhirnya menceritakan tujuannya datang mencari kakaknya itu, dia ingin kakaknya yang memiliki kekuasaan besar itu mau membantu mencari tahu orang-orang yang sudah membuat sahabat baiknya itu dijebak dan kini hidupnya dibayangi oleh malam kelam itu
Amar yang mendengar cerita Amilia berkali-kali menelan salivanya dengan susah payah entah kenapa dia jadi teringat dengan gadis pemilik kalung yang ada padanya saat ini, hal yang menimpa sahabat adiknya itu sama persis dengan yang terjadi padanya
" Kak...kakak kenapa kok malah bengong sih?" kesal Amilia karena melihat Amar yang malah melamun
Plakkk
Amilia menepuk bahu Amar " Kakak!" panggilnya lagi hingga membuat Amar terkesiap dan tersadar dari lamunannya
" Eh, iya ada apa Amilia?" tanya Amar yang nampak seperti orang bodoh di mata Amilia
"Ishh... kakak ini sungguh menyebalkan" kesal Amilia melipat kedua tangannya di dada
Amar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
" Maaf kakak tadi sedang banyak pikiran, yaudah sekarang mau mu bagaimana? ingin kakak bantu apa hem?" tanya Amar yang merasa ada sesuatu yang harus ia pastikan setelah mendengar cerita dari sang adik
" Kalau kakak boleh tahu, apa temanmu itu seumuran dengan mu?" tanya Amar yang tentu saja hal itu malah membuat Amilia tertawa mengejek
" Tentu saja kak, dia itukan teman sekolah ku bahkan kami itu sekelas dan duduk bersama" jawab Amilia
" Semoga bukan wanita yang sama!" batin Amar
Di dalam hati pria itu ada rasa cemas dia sungguh takut kalau gadis yang bersamanya malam itu adalah sahabat dari adiknya sendiri
Sebisa mungkin Amar menepis segala pikiran buruknya
" Kak bagaimana? apa kakak bisa membantu sahabat ku Chessy?" tanya Amilia yang kembali membuyarkan lamunan kakaknya itu
" Ah iya, kakak pikir-pikir dulu " sahut Amar yang nampak salah tingkah
__ADS_1
" Kenapa harus dipikir-pikir dulu sih kak, tinggal iya in aja apa susahnya sih, bukannya kakak itu punya orang-orang yang hebat dalam mencari tahu tentang seseorang ya?" protes Amilia dengan wajah memberengut
" Aku saja belum bisa memecahkan masalah ku sendiri!" gumam Amar dalam hati