
" Maafkan aku !" ucap Amar sekali lagi pada Chessy yang kini tengah duduk memunggunginya
Gadis itu masih belum berani menatap wajah laki-laki yang menjadi calon suaminya itu
Saat ini di dalam ruangan yang di dominasi dengan warna putih itu hanya ada Amar dan Chessy saja karena kedua orang tua Chessy memilih keluar dan ingin memberi mereka kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati sebelum acara ijab qobul mereka esok hari dilaksanakan
" Kenapa kakak lakukan itu pada ku?" tanya Chessy dengan air mata yang sudah kembali berlinang tanpa melihat lawan bicaranya
Amar menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskan secara kasar
" Aku akui aku salah tapi sumpah demi apapun aku tidak bermaksud melakukan hal itu padamu, aku pun berada di posisi yang sama dengan mu" tutur Amar berusaha untuk menjelaskan
" Mereka memberi ku minuman yang sudah di campur dengan obat laknat itu dan saat aku menyadari ada yang tidak beres dengan tubuhku akupun memutuskan untuk kembali ke kamarku tapi setelah aku masuk ke dalam kamar aku dikejutkan dengan keberadaan mu di dalam kamar itu dalam keadaan tidak sadarkan diri, awalnya aku hanya ingin memastikan keadaan mu namun karena pengaruh obat laknat itu aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk tidak menyentuh mu sampailah aku dikuasai oleh hawa nafsu bejat ku" lanjutnya
Chessy berbalik badan lalu menoleh ke arahnya " Jadi maksud kakak itu salah ku karena sudah lancang berada di dalam kamar kakak, begitu?"
Dengan cepat Amar menggelengkan kepalanya, ia tahu gadis yang ada di hadapannya saat ini masih sangat polos butuh penjelasan yang lebih detail untuk menerangkan kepadanya
" Tidak, bukan begitu maksudku. aku tidak mengatakan hal seperti itu aku tahu kau juga telah di jebak, namun sayangnya sampai detik ini akupun belum bisa mendapatkan bukti-bukti siapa yang sudah melakukan trik kotor seperti itu" terang Amar menjelaskan dengan cepat agar Chessy tidak salah paham lagi
" Aku tahu kau tidak mengenalku begitu juga aku yang baru mengenal mu beberapa hari ini saja dan hanya tau tentang mu dari adikku Amilia" ungkap Amar
" Tapi kita tidak punya pilihan lain selain menikah apalagi saat ini kau tengah mengandung anak ku!" Ucap Amar yang seketika membuat Chessy menatap ke arah pria dewasa yang ada di hadapannya saat ini
" Kakak tahu kalau aku_?" ucap Chessy menggantung
__ADS_1
" Ya aku sudah tahu, dokter Dinda sudah memberitahu ku!" sahut Amar
" Oh dokter Dinda yang sudah memberitahu mu" Chessy mengangguk pelan
" Iya, dokter Dinda itu masih ada ikatan keluarga dengan mommy ku jadi hal sepenting ini pun pasti dia bicarakan pada keluarga kami" ucap Amar menjelaskan
" Lalu bagaimana dengan Amilia, apa diajuga sudah tahu?" tanya Chessy ragu-ragu
Amar menggelengkan kepalanya petanda pria itu belum mengatakan apa-apa pada adiknya
" Maaf kalau soal Amilia aku belum memberitahunya" sahut Amar
Kening Chessy mengkerut menatap Amar dengan memincingkan matanya
" Kenapa, bukankah dia itu adik kakak yang sudah seharusnya tahu soal ini?" tanya Chessy
Chessy memutar bola matanya jengah entah kenapa penilaian Chessy pada laki-laki yang ada di hadapannya saat ini masih terbilang meragukan
" Apa alasan kakak tidak memberitahunya dan kenapa kakak sampai setakut itu pada Amilia?" tanya Chessy
Amar menyunggingkan senyumnya sebelum menjawab pertanyaan Chessy
" Amilia itu sahabat baikmu kan?" Chessy langsung mengangguk " Jika dia tahu akulah orang yang sudah menghancurkan masa depan sahabatnya anak itu sudah pasti akan sangat marah padaku. kamu tahu sendirikan kalau dia yang minta ku untuk menyelidiki kasus mu? lalu bagaimana reaksi jika dia tahu ternyata aku sendiri lah orang yang dia cari, bisa-bisa luka di wajahku ini semakin parah dan bisa dipastikan besok aku tidak akan bisa berjalan" jawab Amar dengan lesu
" Maksudnya?" Chessy semakin bingung dengan ucapan Amar
__ADS_1
" Amilia itu orang yang tidak bisa mengontrol emosinya jika dia merasa sakit hati dan juga kecewa, dia itu sangat menyangi kamu sebagai sahabat baiknya jadi seandainya dia tahu sudah aku pastikan aku tidak akan bisa lepas dari cengkeramannya ya walaupun aku ini kakak kandungnya sendiri, apalagi kau tahu sendiri kan dia itu pemegang sabuk hitam, jadi biarlah dia tahu setelah kita menikah setidaknya biarkan acara pernikahan kita berjalan lancar jika setelahnya dia ingin menghajar ku sampai babak belur pun aku akan terima tapi tidak untuk sekarang ini karena luka bekas pukulan daddy ku dan ayahmu saja masih terasa sakitnya" Tutur Amar panjang lebar menjelaskan kepada Chessy alasan kenapa ia tidak memberitahu adiknya dulu
Chessy menganga dan langsung membekap mulutnya sendiri saking terkejutnya dengan apa yang dikatakan oleh Amar
" Jadi luka diwajah kakak itu karena ayahku juga?" Amar mengangguk pelan
" Iya, dan pukulan ayahmu ternyata cukup kuat juga ya" Amar memegang wajahnya yang masih biru ke ungu-unguan
" Tapi tidak masalah, aku memang pantas mendapatkan ini, luka di wajah ku ini tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang kau rasakan, benar kan?"
Chessy tidak menjawab gadis itu hanya menundukkan wajahnya
Entah apa yang dirasakan gadis itu saat ini, keputusannya menerima Amar apakah sebuah keputusan yang tepat, gadis itu masih bertanya-tanya dalam hati.
" Kenapa?" tanya Amar melihat Chessy menundukkan wajahnya
" Pernikahan macam apa yang akan kita jalani nantinya sedangkan kita hanyalah dua orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain?" tanya Chessy dengan wajah yang masih menunduk
Amar mencoba menyelami perasaan gadis yang besok akan ia nikahi
" Kita memang orang asing yang tidak saling mengenal tapi dengan keberadaan dia yang ada di dalam rahimmu lambat laun dengan seiring berjalannya waktu kita pasti bisa saling mengenal dan memahami satu sama lain" tutur Amar berusaha untuk meyakinkan Chessy
" Kita jalani saja dulu, dan soal sekolah mu aku rasa itu tidak akan jadi masalah apalagi sebentar lagi kau juga akan segera lulus. jika kamu ingin melanjutkan kuliah pun tidak akan jadi masalah kita bisa membagi waktu untuk menjaga anak kita nanti" ucap Amar menyusun masa depannya bersama chessy setelah menikah nanti
Wajah Chessy sudah semerah tomat entah mengapa ucapan Amar membuatnya merasa begitu malu, diusia sekolahnya dia sudah menikah bahkan saat ini dalam keadaan mengandung pula
__ADS_1
Chessy tidak tahu harus berkomentar apa, pikiran gadis itu belum sampai sejauh itu. menjalani hari esok pun masih begitu gamang ia belum berani menetapkan hatinya dan juga cita-citanya dalam keadaan yang masih putih abu-abu