Tragedi Satu Malam

Tragedi Satu Malam
Cerita Amilia


__ADS_3

Sepulang sekolah Amilia nampak pendiam dan hal itu membuat ketiga sahabatnya merasa aneh dengan perubahan yang terjadi pada Amilia terutama Chessy


Calon ibu muda itu dibuat cemas dengan sikap Amilia yang tidak seperti biasanya apalagi perubahan itupun terjadi setelah ia bertemu dengan Denis kakak kelasnya yang kini sudah kuliah disalah satu universitas yang cukup terkenal di kota itu


Kini kedua gadis itu sudah berada di dalam mobil Amar, namun hari ini Amar tidak dapat menjemput mereka karena ada rapat penting yang tidak dapat ia tinggalkan jadi pria itu mengutus orang suruhannya untuk menjemput isteri dan adiknya itu


" Loh kok kita enggak melewati jalan kayak biasanya sih pak?" tanya Chessy ketika memperhatikan jalan yang nampak asing dan tidak seperti jalan yang biasa mereka lewati saat pulang ke rumah


"Maaf nona, tuan Amar menyuruh saya untuk mengantarkan kalian langsung ke kantornya!" sahut sang sopir


Chessy pun mengangguk mengerti lalu menoleh ke arah Amilia yang masih diam saja menatap ke arah jendela


" Mili!" panggil Chessy namun nampaknya gadis itu masih bergeming dan asik dengan dunianya sendiri


Chessy pun memberanikan diri untuk menepuk bahu Amilia karena panggilannya masih tidak digubrisnya


" Amilia!"panggil Chessy sambil menepuk bahu Amilia


Amilia yang merasakan tepukan dibahunya langsung terkesiap dari lamunannya dan langsung menoleh ke arah Chessy yang nampak sedang menatapnya


" Iya, ada apa?" tanya Amilia


Chessy menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Amilia " Yang harusnya bertanya ada apa itu gue, loe itu kenapa sih dari tadi tuh aneh banget ?" tanya Chessy sambil meletakkan punggung tangannya di kening Amilia


" Loe apa-apaan sih, gue enggak sakit gue sehat" Amilia menepis pelan tangan Chessy yang masih menempel di keningnya


" Kalau loe emang dalam keadaan baik-baik aja loe enggak mungkin kayak gini" sahut Chessy


" Kayak gini bagaimana maksud loe?" tanya Amilia seraya mengerutkan keningnya


" Ya kayak gini, nyadar enggak sih kalau loe itu dari tadi diam terus dan enggak banyak omong jadi rasanya aneh aja loe yang biasanya cerewet tiba-tiba jadi pendiam gini" sahut Chessy dengan jujur


Amilia terkekeh " Gue baru diam sebentar aja loe udah mikir yang aneh-aneh apalagi kalau gue berubah jadi pendiam beneran ya" ucap Amilia sambil terkekeh


" Ya pasti aneh lah, malah bikin orang cemas yang ada" sahut Chessy


" Aneh kenapa? bukankah orang itu bisa berubah kapan saja!"tutur Amilia


Chessy tersenyum tipis membenarkan ucapan Amilia " Loe benar orang bisa berubah kapan aja tapi pasti ada alasan tersendiri kenapa orang itu berubah" timpal Chessy


" Kalau loe secara tiba-tiba berubah yang ada orang-orang jadi bertanya-tanya!" lanjutnya lagi


Amilia kembali terkekeh " Iya... iya... sorry, tapi gue emang enggak kenapa-napa loe enggak usah khawatir gitu"


Chessy mencibik " Kalau enggak kenapa-napa mana mungkin loe dari tadi diam terus tepatnya setelah loe ketemu kak Denis " tutur Chessy yang sontak hal itu membuat Amilia terbelalak


" Loe liat?"


" Bukan cuma gue yang liat, Dea dan Nila juga"


Amilia menjatuhkan punggungnya ke belakang " Jadi kalian lihat ya?" Amilia tersenyum getir dan Chessy mengangguk kepalanya sebagai jawaban


" Apa loe ada masalah dengan kak Denis?" tanya Chessy


Amilia menatap Chessy dengan tatapan yang sulit diartikan lalu beralih pada sang sopir


" Maaf pak, tolong berhenti sebentar di taman itu!" titah Amilia menyuruh pak sopir berhenti sebentar di sebuah taman yang kebetulan mereka lewati


" Baik non!" sahut pak sopir lalu menepikan mobilnya


Amilia turun dari mobil dan diikuti oleh Chessy kedua gadis itu lalu mencari tempat untuk duduk


Amilia duduk di bangku taman dan Chessy pun ikut duduk di sampingnya


Keduanya diam sejenak dengan pikiran masing-masing


" Maaf!" Amilia mengatakan maaf dengan wajah sendu dan hal itu tentu saja membuat Chessy terhenyak karena tiba-tiba Amilia mengatakan maaf kepadanya


" Maaf? maaf untuk apa?" tanya Chessy dengan dahi yang mengkerut menoleh ke arah Amilia yang sedang menatap lurus ke depan


Amilia lalu menoleh ke arah Chessy dan tangannya terulur meraih kedua tangan Chessy lalu menggenggamnya


" Gue minta maaf karena malam itu gue malah meninggalkan loe sendirian dan memilih pergi bersama kak Denis" jawab Amilia merasa sangat bersalah kepada sahabatnya


Chessy menggelengkan kepalanya pelan " Loe enggak bersalah kenapa harus minta maaf? lagi pula semua sudah berlalu dan gue sudah ikhlas menerima semuanya" tutur Chessy

__ADS_1


" Jangan diingat lagi, semua mungkin sudah takdir dan gue kini jadi kakak ipar loe jadi jangan diungkit lagi masalah itu " pinta Chessy lalu tersenyum


Amilia menundukkan kepalanya lalu berkata


" Tapi tetap aja gue merasa bersalah, karena kebodohan gue dan kesombongan gue loe yang malah jadi korbannya"


" Kenapa loe ngomong kayak gitu Mil?" Tanya Chessy dibuat bingung


Amilia menghela napasnya berat " Karena gue yang udah memaksa loe untuk ikut ke acara itu bahkan dengan sombongnya gue pun berjanji pada kedua orang tua loe untuk menjaga loe tapi_" Amilia terdiam sejenak lalu menoleh ke arah Chessy


" Tapi gue malah membuat loe kehilangan sesuatu yang sangat berharga" Amilia menitikkan air matanya


Chessy yang sedari tadi sudah berusaha untuk tidak menangis akhirnya tumpah juga air matanya dihadapan Amilia


" Kenapa loe ungkit masalah itu kembali Mil, sebenarnya ada apa sama loe?" tanya Chessy dengan nada suara yang sudah meninggi karena ia tidak suka masalah itu diungkit kembali setelah sekian lama ia berusaha untuk berdamai dengan keadaan


" Karena.... karena malam itu pun gue juga hampir mengalami hal yang sama kayak loe" jawab Amilia membuat Chessy terhenyak dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya karena saking syoknya


" Apa?" Chessy sangat terkejut dengan ucapan Amilia


" Waktu itu usai berdansa kak Denis tiba-tiba mengajak gue pergi dan dia membawa gue ke sebuah ruangan" ungkap Amilia lalu menceritakan semuanya kepada Chessy tanpa ada yang ia tutup-tutupi sedikit pun


Chessy terbelalak mendengar cerita Amilia, sungguh dia tidak menyangka malam itu sahabatnya pun hampir mengalami kejadian yang serupa dan beruntungnya Amilia cukup cerdas dan bisa membaca situasi sehingga kejadian naas itu pun bisa ia hindari


" Malam itu gue terus kepikiran sama loe sampai-sampai gue kayak orang gila mencari keberadaan loe, gue juga mencari loe kesetiap kamar dan kesetiap tempat tapi loe enggak ada, sampai pagi harinya baru gue menemukan loe dalam keadaan yang cukup memperihatinkan"


Chessy terisak karena kejadian malam itu kembali teringiang dalam memory nya


" Maafin gue Chessy karena gue udah membuat loe kembali bersedih tapi _" Amilia menjeda ucapannya


" Tapi tiba-tiba gue jadi kepikiran dengan kejadian yang kita alami Chessy" ucap Amilia yang seketika membuat Chessy terdiam lalu menghapus air matanya dengan kasar


" Maksud loe apa Mil?" tanya Chessy nampak begitu penasaran


Amilia pun menceritakan kejanggalan yang dia rasakan pada malam itu dan dia pun mencurigai Denis kakak kelas yang selama ini ia kagumi ada hubungannya dengan kejadian yang nenimpa Chessy


" Apa loe yakin?" tanya Chessy


Amilia mengangguk " Gue yakin karena malam itu kak Denis seperti menghalang-halangi gue buat kembali ketempat loe" sahut Amilia


" Tapi kita enggak ada bukti"


" Caranya?" tanya Chessy


" Kita minta kak Amar untuk membantu kita" jawab Amilia


" Apa mungkin bisa berhasil?"


Amilia nampak berpikir " Entahlah"


" Apa gue coba dekati dia aja ya?" usul Amilia tiba-tiba


" Maksud loe?"


Amilia pun menjelaskan maksud dari rencananya pada Chessy, awalnya Chessy merasa keberatan tapi Amilia terus memaksa dan meyakinkan Chessy kalau semua pasti akan baik-baik saja


" Tapi Mil, itu cukup beresiko"


" Loe tenang aja, gue pasti bisa jaga diri gue dengan baik"


" Tapi bagaimana kalau loe ternyata jatuh cinta beneran karena gue tahu loe sebenarnya suka kan sama kak Denis?" tanya Chessy yang membuat Amilia seketika terdiam sejenak


" Gue enggak mungkin jatuh cinta pada orang yang hampir mencelakai gue, jujur dulu gue memang suka sama dia, kagum dengan sosoknya yang terlihat pendiam dan begitu berwibawa tapi semenjak kejadian malam itu semua rasa itu telah hilang dan berubah menjadi rasa kecewa " jawabnya dengan sorot mata yang sulit diartikan


Chessy dapat menangkap dengan jelas ada kekecewaan, amarah dan benci di mata Amilia yang begitu besar terhadap Denis dan diapun berharap rencana Amilia berjalan lancar dan tidak menjadi bumerang untuk dirinya sendiri


" Yaudah, gue sih terserah loe aja deh tapi gue berharap loe hati-hati dalam bertindak dan kalau ada apa-apa loe harus segera memberitahu gue !"


Amilia mengangguk " Iya, loe tenang aja gue akan hati-hati kok!" ucap Amilia lalu keduanya pun tersenyum


Ketika keduanya tengah asik mengobrol tiba-tiba supir mereka datang menghampiri


" Maaf non Amilia... non Chessy, tuan Amar menyuruh saya segera mengantarkan kalian ke kantornya, baru saja tuan menghubungi saya dan menanyakan keberadaan kalian" ucap pak supir


" Eh iya pak Rudy maaf sudah membuat bapak menunggu lama" ucap Amilia yang merasa sedikit tidak enak

__ADS_1


Amilia pun beranjak dari tempat duduknya begitu juga dengan Chessy mereka berdua pun berjalan menuju mobil


Brukk


Ketika sedang berjalan menuju mobil tiba-tiba tanpa sengaja Amilia bertubrukan dengan seseorang


" Awww... sial, Woyyy " Pekik Amilia memegang bahunya seraya berteriak menegur seorang laki-laki yang menabraknya namun laki-laki itu terus saja berjalan tanpa menghiraukan teriakan Amilia


" Loe enggak apa-apa?" tanya Chessy khawatir


" Gue enggak apa-apa" sahut Chessy lalu menatap ke arah sosok laki-laki yang pergi begitu saja


" Bukannya itu si cowok belagu ya?" gumam Amilia masih menatap ke arah laki-laki yang tadi menabraknya


" Siapa? Alex maksud loe" tanya Chessy yang tadi sekilas sempat melihat wajah Alex


" Iya, tapi tumben tuh anak rada aneh"


" Aneh bagaimana?" tanya Chessy dengan dahi yang mengkerut


" Aneh aja karena tuh anak udah enggak lagi mencoba ngedeketin loe, apa jangan-jangan udah dapet mangsa baru mungkin ya"


Chessy menggeleng " itu bukan urusan kita, malah bagus dia udah enggak ganggu gue lagi dan loe juga enggak perlu kan bertengkar lagi sama dia"


Amilia mengangguk membenarkan ucapan Chessy " Iya loe benar, itu bagus malah ya"


Chessy dan Amilia pun kembali melanjutkan langkahnya


Setelah keduanya sudah duduk manis di dalam mobil pak Rudy pun langsung melajukan mobilnya menuju perusahaan Amar


Sementara di sekolah tepatnya di parkiran mobil ada seorang gadis tengah berbicara serius dengan seorang laki-laki


" Kenapa harus kesini sih ?" kesal seorang gadis


" Ya karena loe akhir-akhir ini sulit banget buat ditemui bahkan di telpon juga loe enggak pernah angkat" sahut si laki-laki


Gadis itu terdiam lalu melipat kedua tangannya " Memangnya ada urusan apalagi sih loe mencari gue ?" tanya gadis tersebut yang tidak lain adalah Claudia


"Jero sudah kembali dari Jepang!" sahutnya yang seketika membuat Claudia mematung


" Kita bicara ditempat lain saja!" Claudia langsung masuk ke dalam mobilnya dan Laki-laki yang tidak lain adalah saudara sepupunya Denis mengangguk lalu masuk ke dalam mobilnya sendiri


Claudia mencari tempat yang aman untuk berbicara dengan Denis kakak sepupunya itu dan mereka pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke sebuah cafe yang sering mereka kunjungi


Sedangkan di sebuah gedung yang tinggi tepatnya di lantai 25 seorang pria nampak begitu geram dengan keputusan sang Opa yang tiba-tiba saja datang ke perusahaan dan menunjuk Selena sebagai sekretaris pribadinya


" Opa ini apa-apaan sih, bukankah Selena sendiri sudah mempunyai pekerjaan yang bagus bahkan dia ini seorang wakil direktur di perusahaan keluarganya!" tekan Amar yang tidak setuju dengan keputusan Opa Bara


" Justru Selena sendiri yang meminta untuk bisa bekerja di perusahaan mu, dia berharap bisa membantu mu dalam mengembangkan perusahaan dan yang lebih utama lagi agar kalian bisa dekat dan lebih mengenal satu sama lain" tutur Opa Bara membuat Amar mengusap wajahnya kasar


" Cukup Opa, jangan campur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan aku tidak suka hal seperti itu!" tegas Amar


" Lagi pula aku sudah memiliki sekretaris sendiri yang sudah sangat cocok dengan ku" lanjutnya lagi


" Sekretaris mu biarkan dia bekerja seperti biasanya, Selena hanya membantunya saja agar pekerjaan mu dan juga pekerjaan sekretaris mu itu menjadi lebih ringan"


Amar mencibik, sungguh ia tidak suka dengan keputusan konyol Opanya


" Tapi aku tidak butuh Opa, aku sudah ada Roy yang membantu semua pekerjaan ku" Amar tetap kekeh menolak permintaan Opanya


" Sudahlah Opa jika mas Amar menolak tidak usah dipaksakan, niatku baik hanya ingin membantunya tapi jika mas Amar merasa terganggu dengan kehadiran ku sebaiknya aku pergi saja Opa" ucap Selena dengan memasang wajah sedih


" Opa tahu Selena niatmu sangat baik hanya saja cucuku ini saja yang tidak tahu diri tidak dapat melihat kebaikan mu " ucap tegas Opa Bara melirik tajam pada Amar


" Sudahlah Opa, aku masih banyak pekerjaan jangan bahas ini lagi jika dia memang mau bekerja dan membantu perusahaan keluarga kita kenapa dia tidak bekerja sebagai sekretaris pribadi Opa saja, bukankah Opa yang lebih membutuhkan dia dalam mengelola perusahaan kakek!" tutur Amar yang seketika membuat Opa Bara geram


" Lancang kamu Amar!" sentaknya


Amar memicingkan matanya " Lancang? maksud Opa apa bicara seperti itu?" tanya Amar


" Kau menyuruh Selena bekerja di perusahaan Opa sebagai sekretaris pribadi Opa, bagaimana tanggapan Oma kamu kalau tahu hal itu!"


Amar tersenyum miring " Itupun yang Amar rasakan Opa, kenapa Opa juga begitu lancangnya menyuruh wanita ini bekerja sebagai sekretaris ku? aku tidak ingin ada yang bekerja di perusahaan ku dengan tidak profesional karena melibatkan hati dan perasaan" terang Amar


" Jadi Opa maaf dengan berat hati aku tidak bisa menerima keputusan Opa" lanjutnya lagi

__ADS_1


Opa Bara tidak dapat berkata apa-apa lagi setelah Amar dengan tegas memutuskan menolak Selena sebagai sekretarisnya


Selena sendiri tidak berhenti mengumpat dalam hati, wanita itu merasa sangat kecewa dengan keputusan Amar yang sama sekali memberinya kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh dan dia pun harus mencari cara agar Amar mau menerimanya


__ADS_2