Tragedi Satu Malam

Tragedi Satu Malam
Kedatangan Amilia


__ADS_3

" Amilia?"


Amar dibuat terkejut dengan kedatangan adiknya yang tanpa memberinya kabar terlebih dahulu kini sudah berdiri di depan pintu apartemennya


" Kak Amar dari mana aja sih?" tanya Amilia dengan tangan yang bertolak pinggang


" Kenapa datang kesini?" tanya Amar tidak menghiraukan pertanyaan Amilia, lalu membuka pintu apartemennya


" Kak Amar juga kenapa mengganti kodenya?" tanya Amilia dengan bersungut-sungut


" Ini apartemen kakak, hal pribadi kakak jadi terserah kakak mau menggantinya atau tidak" jawan Amar


" Dasar nyebelin" kesal Amilia


Ceklek


Pintu sudah terbuka, keduanya pun kini sudah berada di dalam apartemen


" Kak, apa benar beberapa hari yang lalu kakak bertengkar dengan daddy?" tanya Amilia yang masih sangat penasaran dengan apa yang dikatakan art di rumahnya


Amar tidak menjawab lagi-lagi pria itu mengabaikan pertanyaan sang adik


Amar masuk ke dalam kamarnya begitu saja membuat Amilia mendengus kesal menatap punggung sang kakak yang hilang di balik pintu


Setelah hampir 30 menit berada di dalam kamar dan setelah selesai dengan ritual mandinya Amar pun yang sudah rapih dan berganti pakaian keluar dari kamarnya karena perutnya sudah terasa lapar


Ceklek


Amilia yang memilih menunggu sang kakak sambil memasak langsung menoleh ke arah sumber suara saat melihat pintu kamar yang terbuka


" Kak makan dulu, Mili sudah menyiapkan makan malam " ucap gadis itu yang sedang menata masakannya di atas meja makan


Amar menarik kursi lalu mendudukkan dirinya sambil memperhatikan menu makanan yang disajikan oleh sang adik


" Apa ini caramu untuk menyogok kakak?" Tanya Amar seraya memicingkan matanya


" Ha .. Ha... kakakku memang pintar" sahut Amilia

__ADS_1


" Cih, kalau memang seperti itu, lupakan saja kakak tidak tertarik untuk bercerita sekarang " jawab Amar datar


" Ish, kakakku ternyata sombong sekali" Amilia mencibikkan bibirnya


" Sudahlah, ini urusan orang dewasa kau tidak perlu tahu, tapi yang jelas hubungan kakak dan daddy baik-baik saja" Ucap Amar yang tahu kegelisahan sang adik


" Apa bekas luka memar di wajah kakak benar-benar bekas pukulan daddy?" tanya Amilia yang melihat wajah Amar yang masih terlihat membiru


" Daddy tidak pernah semarah itu sebelumnya apalagi sampai bermain tangan" tuturnya


" Kakak memang pantas mendapatkannya" jawab Amar datar


" Memang kesalahan apa yang sudah kakak perbuat sampai daddy bisa semarah itu?" tanya Amilia yang merasa sangat penasaran


" Nanti saja kakak ceritakan, untuk saat ini kakak belum bisa bercerita, luka di wajah kakak masih terasa sakit jadi tunggu sampai kakak merasa benar-benar sehat" ucap Amar


Amilia memutar bola matanya malas " Lemah banget jadi cowok, luka segitu aja manja!" ledek Amilia


" Kau ini sungguh tidak perhatian jadi orang tapi malah meremehkan, dasar adik enggak ada akhlak" Amar memasang wajah cemberut


Amilia tertawa melihat wajah sang kakak yang menurutnya menggelikan


Amar mendelik seraya memutar bola matanya malas


**


Sementara di tempat yang berbeda Chessy sedang berbicara dengan bunda di dalam kamarnya


" Apa kak Amar sudah pergi bun?" tanya Chessy


Bunda mengangguk mengiyakan " Apa kamu masih belum bisa menerima kehadirannya nak?" tanya bunda dengan lembut


Chessy menundukkan pandangannya " Maafin Chessy bun, Chessy juga bingung harus bersikap bagaimana rasanya masih canggung dan risih aja bun" jawab Chessy apa adanya


" Perlahan kamu juga pasti bisa nak menerima kehadiran nak Amar, asal kamu tidak membatasi diri kamu" tutur bunda


Chessy menarik napas dalam-dalam dan dihembuskan secara perlahan

__ADS_1


" Chessy masih enggak nyangka aja bun kalau saat ini status Chessy sudah berubah menjadi seorang isteri apalagi yang menjadi suami Chessy kakaknya Amilia sahabat Chessy sendiri" ungkap Chessy merasa bingung sendiri menyikapi statusnya yang kini menjadi kakak ipar dari sahabatnya apalagi sampai saat ini sahabatnya itu belum mengetahui statusnya itu


" Apa Amilia belum tahu tentang pernikahan mu dengan nak Amar?" tanya bunda yang memang merasa penasaran karena sejak tadi tidak melihat keberadaan Amilia diacara pernikahan Chessy dan Amar


Chessy menggelengkan kepalanya pelan


" Belum bun, kak Amar takut diamuk Amilia katanya" jawab Chessy dengan jujur membuat bunda mengernyitkan alisnya


" Diamuk bagaimana maksudnya, bunda enggak ngerti?" tanya bunda yang masih bingung dengan jawaban Chessy


Amilia itu orangnya gampang emosian bunda terlebih kalau dia merasa dikecewakan, dan kak Amar takut di hajar katanya bun lukanya yang masih belum sembuh takut kena amukan Amilia lagi" jawab Chessy yang langsung membuat bunda tertawa


" Kamu ini ada-ada saja, mana mungkin Amar takut dengan adiknya yang lemah lembut seperti Amilia" Bunda geleng-geleng kepala merasa konyol dengan alasan yang dikatakan Chessy


" Bunda jangan salah menilai, Amilia memang kelihatannya gadis polos yang lemah lembut tapi asal bunda tau aja dia itu pemegang sabuk hitam loh bun dalam ilmu bela diri karate" tutur Chessy


Bunda merasa terkejut dengan penuturan sang putri mengenai Amilia yang memiliki ilmu bela diri, sungguh mengejutkan dari penampilan Amilia yang terlihat anggun dan lemah lembut namun dibalik itu ada sisi ketangguhannya sebagai sosok seorang wanita


" Memangnya apa alasan Amilia ingin memberi kakaknya pelajaran dan kenapa juga Amar segitu takutnya dengan adiknya sendiri?" tanya bunda yang merasa heran dengan kakak beradik itu


Chessy pun menceritakan apa yang menjadi alasan kenapa Amar tidak ingin memberitahu perihal pernikahannya dengan Amilia pada bunda


" Apa benar nak Amilia akan bersikap seperti itu?" tanya bunda yang masih tidak percaya dengan ucapan Chessy


" Bisa jadi sih bun, soalnya kemarin waktu Chessy tanya ke Amilia, bagaimana reaksinya kalau dia tahu dan bertemu dengan orang yang sudah melecehkan Chessy, kata Amilia dia pasti akan melaporkannya pada polisi tapi sebelum itu dia pasti akan menghajarnya terlebih dahulu" cerita Chessy


" Ah mungkin itu hanya pengandaian aja, kalau kenyataan enggak mungkinlah Amilia setega itu" ucap bunda


Chessy menggeleng pelan " Enggak tahu juga bun tapi Chessy juga pernah nanya bagaimana kalau seandainya orang tersebut adalah orang terdekatnya dan Amilia bilang hukum tetaplah hukum, walaupun kakaknya sendiri sekalipun Amilia pasti akan memberinya pelajaran, karena yang salah tetaplah salah" ungkap Chessy


" Lalu menurut kamu sendiri bagaimana? apa kamu tidak takut Amilia marah sama kamu kalau dia tahu kamu tidak jujur padanya?" tanya bunda membuat Chessy nampak berubah raut wajahnya


Chessy termenung, pertanyaan yang bunda tanyakan benar-benar membuat hatinya gelisah


" Iya juga sih bun, tapi Chessy sungguh bingung bun harus bilang apa sama Amilia" ucap Chessy sendu


" Yaudah, biar itu menjadi urusan suami kamu aja untuk menjelaskannya pada Amilia!" Bunda mengelus punggung tangan putrinya

__ADS_1


Chessy pun mengangguk mengiyakan ucapan bundanya dan gadis itu pun berharap sahabatnya akan memaafkannya dan tidak marah dengannya


__ADS_2