Tragedi Satu Malam

Tragedi Satu Malam
Kepulangan Opa Bara


__ADS_3

Chessy dan mommy Naura sudah selesai dengan kegiatan masak memasaknya di dapur,


mereka juga sudah menatanya diatas meja makan untuk mereka makan malam bersama sebelum nantinya berangkat kembali ke rumah sakit untuk bergantian dengan dad Mahendra yang tadi bergantian dengan Oma menemani Opa Bara di rumah sakit


Disaat mereka sudah berkumpul di meja makan dan baru saja hendak menikmati makan malam mereka, tiba-tiba saja terdengar suara deru mobil yang datang membuat mereka bertanya-tanya siapa gerangan yang datang


" Bi tolong lihat siapa yang datang!" seru Oma pada salah satu art nya


" Baik nyonya!" Art tersebut pun dengan tergesa berjalan menuju pintu keluar dan tidak berapa lama ia sudah kembali lagi


" Siapa bi yang datang?" tanya mommy Naura yang juga penasaran sama seperti yang lainnya


apalagi deru mobil tersebut sepertinya lebih dari satu


" Emm... itu nyonya tuan besar sudah pulang"jawab art tersebut memberitahu


" Tuan besar maksud kamu Opa Bara?" tanya mommy yang terkejut mendengar jawaban art tersebut begitu juga dengan yang lainnya


" Iya nyonya" jawab art tersebut lalu pamit kembali ke belakang


" Opa sudah pulang? kok enggak kasih kabar!" ucap Oma dan juga Amilia yang juga ikut terkejut dengan kepulangan sang Opa dari rumah sakit


" Daddy juga tidak memberi kabar" tutur mommy


Amar bersikap cuek karena di dalam hatinya ia tahu betul bagaimana Opanya sedangkan Chessy sudah cemas setengah mati


Melihat raut kegelisahan di wajah sang isteri Amar yang duduk bersebelahan dengannya meraih tangan Chessy yang berada di pangkuannya lalu menggenggamnya


Amar mengedipkan matanya memberi isyarat kalau semua akan baik-baik saja dan Chessy pun mengangguk pelan


Disaat Oma dan Mommy hendak beranjak berdiri ingin menyambut kepulangan Opa Bara yang secara dadakan itu berbarengan dengan kemunculan Opa Bara yang berada di kursi roda


Mata mereka semua membelalak saat melihat wanita cantik yang sedang mendorong kursi roda Opa dan dibelakangnya ada dua pria paruh baya yang mengikutinya


" Opa!" Pekik Oma yang sedikit jengkel dengan kelakuan suaminya, pulang secara mendadak tanpa memberi kabar sebelumnya


" Apa kalian semua terkejut?" ucap Opa sambil terkekeh sendiri


" Tentu saja, kenapa Opa pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu kepada kami, memangnya Opa sudah di perbolehkan pulang?" tanya Mommy Naura


" Oma yakin Opa pasti yang memaksa untuk pulang, benarkan?" tebak Oma


" Kau tahu saja sayang" sahut Opa Bara


Dad Mahendra pun angkat bicara tentang kepulangan Opa yang dadakan itu, ia pun menceritakan kalau Opa sangat memaksa dokter untuk memperolehkan pulang padahal kondisi Opa belum stabil benar


" Kenapa Opa memaksa untuk pulang?" tanya Amilia sedangkan Amar sama sekali tidak peduli dengan kepulangan Opa yang dadakan itu karena dia yakin pasti dibalik kepulangannya itu ada maksud dan tujuan yang terselubung


Amar bahkan dengan santainya menikmati makan malamnya membuat Opa yang menatap ke arahnya mendengus kesal


" Opa sengaja memaksa untuk pulang karena Opa sudah tidak sabar ingin memperkenalkan kalian semua dengan Selena" Opa menarik tangan Selena agar sejajar berdiri di sampingnya


" Dia gadis yang sudah Opa ceritakan, Selena adalah gadis yang akan menjadi calon isteri Amar" tutur Opa Bara


" Uhuk.... Uhuk..." Chessy tiba-tiba tersedak salivanya sendiri saat Opa memperkenalkan seorang gadis sebagai calon isteri suaminya


" Loe enggak apa-apa Chess?" Amilia menyodorkan segelas air putih kepada Chessy


" Enggak apa-apa, maaf ya!" ucap Chessy setelah meneguk air minum yang diberikan oleh Amilia


" Kenapa kamu, mengganggu saja?" cecar Opa dengan tatapan tajam pada Chessy


" Ma.... maaf!" ucap Chessy terbata


Mommy memejamkan matanya sejenak menetralkan rasa kesalnya dan menatap iba kepada menantunya


" Tidak perlu meminta maaf!" ucap Amar datar dan tetap menikmati makan malamnya


Opa lalu menyuruh Selena dan papanya duduk untuk bergabung di meja makan


" Kau orang asing sebaiknya pergilah ke kamarmu!" ucap pedas Opa pada Chessy


Glek


Chessy tercekat kata-kata Opa Bara sungguh membuatnya terhempas ke dasar jurang


" Opa!" Amilia protes " Chessy bukan orang asing dia sahabat baik Mili!" ucap Amilia yang tidak terima dengan sikap Opanya


" Ti... tidak apa-apa Mil, a..aku sebaiknya memang tidak berada disisi, maaf jika sudah mengganggu kalian!" ucap Chessy seraya beranjak berdiri dari kursinya


" Baguslah kalau kau sadar diri" ketus Opa


" Opa, apa yang Opa katakan itu sungguh tidak pantas!" protes Oma


" Aku hanya berbicara apa adanya" sahut Opa

__ADS_1


" Pergilah!" usir Opa


" Pah!" tegur Dad Mahendra dan Mommy Naura yang tidak terima dengan sikap Opa yang sudah sangat keterlaluan menurut mereka terhadap Chessy yang tanpa Opa ketahui adalah menantu di keluarga Mahendra


" Permisi!" ucap Chessy yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap Opa yang tidak menyukai keberadaannya


Chessy pun beranjak pergi meninggalkan meja makan


Selena yang sudah duduk tepat di samping Opa mengusap-usap lengan Opa Bara


" Opa tahan emosi Opa, jangan marah-marah ya ingat dengan kondisi kesehatan Opa" ucap Selena dengan suara yang lembut


Opa menoleh ke Selena lalu tersenyum " Iya nak, terima kasih sudah mengingatkan"


Amilia memutar bola matanya jengah melihat gadis yang ada di samping Opanya


" Perkenalkan Selena, itu Amilia adiknya Amar!"


" Hai, aku Selena senang berkenalan dengan mu!" ucap Selena dengan senyum yang tidak lepas dari wajah cantiknya


" Hai!" jawab Amilia dengan malas


" Dan yang itu mommy nya Amar!"


"Selamat malam tante, aku Selena!" ucap Selena memperkenalkan diri kepada Mommy Naura


" Selamat datang di rumah ini Selena, semoga kau menikmati makan malam yang terkesan dadakan ini!" ucap Mommy Naura


" Terima kasih tante, maaf jika jadi merepotkan dan juga mengganggu suasana makan kalian!" tutur Selena


" Tidak menggangu sama sekali Selena!" bukan mommy yang menjawab tapi Opa Bara


Disaat Opa dan Selena nampak sedang asik mengobrol yang terkadang di timpali oleh Hermawan papanya Selena tiba-tiba pandangan mereka langsung beralih saat mendengar suara kursi yang bergeser


" Mau kemana kamu Amar?" tanya Opa


" Aku sudah selesai Opa, masih ada urusan yang harus aku selesaikan!" jawab Amar datar lalu beranjak pergi begitu saja


" Amar, bersikaplah sopan disini masih ada Selena dan papanya!" sentak Opa Bara membuat langkah kaki Amar terhenti


" Opa mengatakan tentang kesopanan, lalu apa yang sudah Opa perbuat tadi?" Amar menjeda kalimatnya lalu berbalik badan menatap pria tua itu


" Opa mengusir Chessy begitu saja bahkan makan malamnya pun belum tersentuh sama sekali dan Opa dengan teganya mengusirnya dengan mengatakan kalau dia adalah orang asing, apakah itu yang dinamakan bersikap sopan?" tuturnya lagi


" Kau?" Opa menggeram tidak terima dengan ucapan Amar


" Amar!" teriak Opa Bara yang berang dengan sikap Amar yang tidak mau mendengarkan ucapannya


" Sudahlah pah, papa juga yang salah pakai berkata yang tidak mengenakkan pada Chessy, bagaimana pun juga kami yang mengajak Chessy ke sini dan Opa sudah bersikap keterlaluan!" ucap Mahendra yang tidak pernah sebelumnya pria paruh baya itu protes dengan apa yang papanya lakukan


" Mahendra apa aku tidak salah, kau bahkan ikut membela gadis itu?" tanya Opa Bara yang merasa heran dengan putra satu-satunya itu sampai ikut membela gadis yang bukan siapa-siapa


" Sudah cukup Opa jangan ribut lagi, jika kedatangan kami ke sini malah merusak rencana Opa dan membuat Opa merasa tidak nyaman besok pagi-pagi Mili akan mengajak Chessy pergi dari rumah ini jika perlu malam ini juga Mili akan pergi Opa!" ucap Amilia membuat semua yang ada di meja makan dibuat terkejut dengan ucapan Amilia terutama Opa


" Chessy adalah sahabat Mili, karena itu Mili mengajaknya untuk menjenguk Opa kesini, Mili juga sudah menganggap Chessy seperti saudari sendiri karena susah senang kami melalui hari-hari bersama, dengan Opa yang menyakiti hati Chessy sama aja Opa sudah menyakiti hati Mili!" tutur Amilia yang kini sudah berdiri beranjak dari tempat duduknya


" Amilia apa yang kamu ucapkan, demi gadis kampungan itu kalian sampai menentang Opa?"


geram Opa sambil memegang dadanya yang terasa sedikit sesak


" Opa, sudahlah Opa tenangkan dulu diri Opa jangan marah lagi Opa!" tutur Selena yang dengan perhatiannya mengusap-usap dada Opa berusaha untuk menenangkannya


" Tarik napas opa!" Selena mengintruksi Opa untuk menarik napas dalam-dalam lalu hempaskan


Melihat Opanya yang sudah terlihat baik-baik saja Amilia pun pamit pergi meninggalkan meja makan hendak menyusul Chessy


Sementara di dalam kamar Chessy tengah terisak duduk di tepi kasur sambil merapihkan barang-barangnya


Ceklek


Netra Amar langsung tertuju pada isterinya yang sedang mengemasi barang-barangnya yang tersisa beberapa saja karena sebelumnya gadis itu sudah mengemasnya


" Maaf atas ucapan Opa tadi!" ucap Amar merasa sangat bersalah lalu duduk di samping Chessy


" Kakak tidak perlu minta maaf, apa yang dikatakan Opa memang benarkan? aku ini bukan siapa-siapa dan gadis itu sangat cocok dengan kakak cantik dan sepadan dengan kakak!" tutur Chessy lalu membelakanginya


Amar tersenyum tipis lalu mendekati Chessy dan memeluk gadis itu dari belakang


" Kak!"


" Sudah diamlah!" Ucap Amar tidak terima dengan protesan Chessy


" Dengarkan kakak, detik ini dan sampai kita menua nanti hanya kamu yang akan menjadi isteri dari Amar Alzena Mahendra jadi jangan mikir yang macam-macam cukup percaya sama kakak, walaupun harus bertaruh nyawa sekalipun kakak tidak akan pernah meninggalkan kamu dan juga anak kita, biarkan saja Opa dengan rencananya itu toh aku tidak akan pedulikan tentang hal itu" tutur Amar untuk meyakinkan Chessy


Amar melepaskan pelukannya dan membalik badan Chessy hingga kini keduanya saling berhadap-hadapan

__ADS_1


" Tapi kak_!"


Amar meletakkan jari telunjuknya di bibir Chessy


" Cukup percaya pada suami mu ini sayang, kakak tidak akan menerima perjodohan itu meskipun Opa mengusir kakak sekalipun dari keluarga ini!" Potongnya menyela ucapan Chessy


Amar lalu meraih kedua tangan Chessy di bawa dalam genggamannya


" Lihat kakak!" titah Amar dan Chessy mendongak hingga kedua mata mereka saling bersirobok


" Demi anak kita, apapun masalah yang kelak akan muncul dihadapan kita kakak harap kamu bisa kuat dan bersabar menghadapinya, jangan merasa lemah ataupun berkecil hati karena satu yang harus kamu ingat kakak akan selalu ada untuk kamu dan akan selalu mencintaimu... dan hanya kamu Chessy Fazila isteri dari Amar Alzena Mahendra!" lanjutnya lagi


Chessy termangu mendengar penuturan Amar yang begitu menyentuh hatinya


Apakah ia mampu bertahan dan bisa bersaing dengan wanita yang akan dijodohkan pada Amar, Chessy sungguh merasa tidak percaya diri setelah melihat sendiri penampilan wanita yang akan dijodohkan dengan suaminya itu


" Tapi kak wanita itu terlalu cantik dan sempurna tidak sepadan bila bersaing dengan ku yang hanya seorang gadis SMA tapi sudah hamil diluar nikah" ucap Chessy sendu membuat Amar tertampar keras oleh ucapan Chessy yang sungguh menyakitkan batinnya


Amar langsung menarik tubuh Chessy ke dalam pelukannya


" Maafkan kakak sayang semua itu karena kakak lah penyebabnya, kakak yang sudah merusak hidup kamu, kakak lah orang yang jahat sudah merusak seorang siswi SMA yang seharusnya belajar dengan tenang dan sibuk memikirkan masa depannya tapi dengan kejamnya kakak justru sudah merampas kebahagiaan dan mimpi-mimpi mu itu!" tutur Amar dengan suara bergetar


Chessy yang merasakan bahunya basah langsung mengurai pelukan Amar dan menatap wajah Amar yang berusaha untuk berpaling agar Chessy tidak melihat kalau saat ini pria gagah dan terkena dingin itu sedang menangis


" Kak!" Chessy meraih dagu Amar hingga menghadap ke arahnya


Dengan perlahan tangan Chessy terulur mengusap sudut mata Amar yang masih basah


" Kak maafkan aku bukan maksud aku memojokkan kakak dengan situasi ini aku hanya_"


" Tidak apa-apa sayang kakak mengerti bagaimana perasaan mu saat ini, oleh karena izinkan kakak si pria bereng**k ini menebus semua dosa yang sudah kakak perbuat sama kamu, cukup hanya ada kakak dihati kamu dan ada kamu dihati kakak tidak ada tempat untuk orang ke tiga dan kita berjuang sama-sama untuk meraih restu dari Opa "


" Tapi seandainya Opa tetap tidak merestui kita kak?"


" Tidak masalah sayang yang terpenting kita sudah mengantongi restu dari kedua orang tua kita masing-masing" ucap Amar dan Chessy mengangguk lalu tersenyum


" Tapi_!"


" Tapi apa kak?" Chessy mengerutkan keningnya


" Tapi seandainya kakak jatuh miskin dan semua fasilitas yang kakak punya dicabut oleh Opa apa kamu masih mau menerima kakak sebagai suami kamu?" tanya Amar sedikit takut-takut


Chessy tersenyum lalu mencubit gemas pipi Amar yang kanan dan kiri


" Bukankah kakak tadi yang bilang apapun yang terjadi kita akan menghadapinya sama-sama jadi kenapa kakak masih menanyakan hal itu?" Chessy mencibikkan bibirnya


" Kakak hanya takut kalau kamu meninggalkan kakak" ucap Amar nampak sendu


" Mana mungkin aku meninggalkan ayah dari anakku, meskipun kita harus memulainya dari nol insyaallah aku akan selalu setia mendampingi kakak asal _!" Chessy menggantung kata-katanya


" Asal apa?" tanya Amar yang seketika dibuat penasaran oleh Chessy


" Asalkan kakak tidak macam-macam dan tebar pesona kesana sini!" sahut Chessy yang seketika membuat Amar tertawa


" Ya enggak mungkinlah sayang, mana berani aku menyakiti hati kamu lagi setelah aku menorehkan luka yang sangat dalam di hidupmu" sahut Amar


" Kak"


" Kakak lebih baik mati daripada harus mengkhianati kamu sayang "


" Kak!"


" Sudahlah sebaiknya kamu istirahat sekarang besok pagi-pagi kita tinggalkan rumah ini!" ucap Amar


" Tapi kak bagaimana kalau Opa marah nanti?"


" Semua itu menjadi urusan kakak, nanti sebelum pergi kakak akan pamit pada mommy dan daddy jadi kamu tidak usah khawatir mereka pasti mendukung keputusan kita" sahut Amar


" Lalu bagaimana dengan Amilia?"


" Kita akan pulang bersama nanti kakak yang bicara dengannya" jawab Amar


" Sudah istirahatlah ingat jangan pikirkan hal yang macam-macam cukup fokus dengan kesehatan anak kita sayang" Amar merebahkan tubuh Chessy di atas tempat tidur lalu menyelimutinya


Tangan Amar terulur mengusap lembut perut Chessy sambil mengajak bicara


" Baik-baik didalam ya sayang, ingatkan mama kalau mama nakal diam-diam nangis lagi!" ucap Amar


Cup


Amar mengecup perut Chessy sebelum beranjak keluar dari kamar itu


" Tidur ya!" ucap Amar


" Iya kak!"

__ADS_1


Tanpa mereka sadari pintu kamar yang tidak tertutup rapat itu bisa membuat seseorang yang tengah berdiri di balik pintu tersebut dapat mendengar apa yang sedang mereka bicarakan dan sepasang mata itupun ikut menitikkan air mata merasa terharu, sedih dan juga kecewa menjadi satu.


__ADS_2