Tragedi Satu Malam

Tragedi Satu Malam
Kejujuran Amar


__ADS_3

Selama pemulihan Amar membawa Chessy dan Amilia tinggal di sebuah rumah yang sudah di sewanya, rumahnya tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil, rumah itu milik sahabatnya yang kini berada di Jerman


Sebelum pulang ke rumah yang di sewa, Amar sudah terlebih dahulu menyuruh orang untuk merapihkan rumah tersebut dan juga mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal di rumah Opa Bara


Setibanya di rumah tersebut Chessy merasa sangat nyaman begitu juga dengan Amilia karena tidak berhadapan lagi dengan Opa Bara


" Loe tidur satu kamar aja ya Chess sama gue!" ucap Amilia sambil melihat-lihat rumah tersebut


" I..!"


" Di sini masih banyak kamar carilah kamar yang kamu suka!" Ucap Amar memotong ucapan Chessy


" Iya Kak" sahut Chessy yang mengerti maksud dari ucapan suaminya itu


" Nanti ada art yang bantu-bantu jadi kamu cukup istirahat aja agar kamu cepat pulih" tutur Amar sebelum beranjak pergi ke kamarnya


" Iya kak"


Amilia hanya mengernyitkan keningnya melihat interaksi keduanya


" Chess apa Loe mau tidur sendiri?" tanya Amilia


" Gue sih terserah aja" jawab Chessy yang merasa tidak enak dengan Amilia jika selalu menolak untuk sekamar dengannya


" Yasudah mending satu kamar aja yuk secara ini juga kan rumah asing gak baik juga kalau kita tidur sendiri-sendiri" tutur Amilia


Chessy tertawa menimpali ucapan Amilia," Bilang aja kalau Loe itu sebenarnya takut, iya kan?" ledek Chessy


Amilia tertawa " Itu loe tau, gue takut aja tidur sendirian di rumah yang masih asing apalagi kalau tiba-tiba mati lampu, duh enggak kebayang bisa pingsan gue nanti"


" Dasar penakut !"


" Udah yuk ah kita ke kamar!" Ajak Amilia


Setelah berada di dalam kamar, Amilia dan Chessy nampak berbincang-bincang


Amilia sebenarnya ingin menanyakan tentang perihal kehamilan Chessy tapi gadis itu ragu-ragu, ia takut kalau pertanyaannya nanti bisa menyakiti perasaan Chessy


" Ada apa? dari tadi gue perhatiin loe gelisah banget Mil?" tanya Chessy yang kini sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur


Amilia menaikkan kedua kakinya ke atas kasur lalu duduk bersila menghadap ke arah Chessy


" Sebenarnya gue mau nanya sama loe tapi gue takut loe tersinggung" ucap Amilia takut-takut


Chessy tersenyum seraya menatap Amilia " Tersinggung soal apa nih? santai aja kali Mili, kayak sama siapa aja loe" tutur Chessy


"Tapi pertanyaan gue sangat sensitif dan gue harap Loe enggak akan salah paham sama gue dan enggak akan marah" sahut Amilia


Chessy mendudukkan dirinya dan bersandar di kepala tempat tidur


" Mau nanya apaan sih, serius banget kayaknya?" Tanya Chessy yang jadi penasaran dengan apa yang ingin Amilia tanyakan padanya


Amilia diam sejenak sebelum mengutarakan semua rasa yang mengganjal di hatinya dari kemarin


" Gue mau tanya soal perasaan loe saat ini Chess?"


Chessy mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Amilia


" Perasaan gue saat ini? Maksud loe perasaan yang bagaimana nih Mil, gue enggak ngerti?"


Amilia menghela napas kasar sebelum kembali bertanya pada Chessy


" Maksud gue perasaan loe yang sekarang, apa Loe udah bisa menerima masa lalu Loe yang kelam itu ? Loe udah enggak apa-apa kan kalau kita membahas kejadian itu?" tanya Amilia sedikit takut Chessy sedih setelah mendengar pertanyaannya


Chessy tersenyum sekilas lalu menatap lurus ke depan


" Kalau boleh jujur semua itu enggak mudah untuk gue lupain Mil, tapi gue selalu berusaha untuk berdamai dengan keadaan toh hidup akan terus berjalan kan?"


Amilia mengangguk pelan dan kembali mendengarkan curahan hati sahabatnya


" Keadaan tidak bisa di kembalikan seperti semula, kita hanya bisa terus menjalaninya kedepan tanpa harus menoleh lagi kebelakang"


" Apa yang loe katakan memang benar Chess, tapi_" Amilia menggantungkan kata-katanya


" Tapi apa?" tanya Chessy dengan kening yang mengkerut


" Tapi bagaimana jika dari kejadian malam itu ternyata menghasilkan sesuatu yang sama sekali tidak loe inginkan?" tanya Amilia dengan jantung yang berdegup sangat kencang takut Chessy marah atas pertanyaannya


" Maksud loe menghasilkan sesuatu bagaimana Mil?" tanya Chessy


" Yaaa... itu..." Amilia menggigit bibir bawahnya karena merasa gugup sendiri


" Itu apa?"


" Emmm...... sorry ya Chess, bagaimana jika dari kejadian itu ternyata loe hamil?"


Jlep

__ADS_1


Mata Chessy membelalak dan langsung menatap wajah Amilia yang nampak tegang menunggu reaksi Chessy selanjutnya


" Sorry Chess, udah deh enggak usah di jawab, lupain aja !" Ucap Amilia dengan cepat karena melihat reaksi Chessy yang ekspresi wajahnya berubah sendu


" Gue enggak tahu perasaan gue harus senang atau justru sebaliknya, karena dia hadir di waktu yang tidak tepat!" tutur Chessy


" Tapi jika gue membencinya bukankah itu sangat tidak adil untuknya Mil, karena dia juga pasti tidak mau terlahir disaat seperti ini, dia enggak salah apa-apa dan betapa kejamnya gue kalau membenci kehadirannya, iya kan? mau tidak mau, siap tidak siap gue harus bisa menerimanya dengan ikhlas!"


" Apa loe udah tau kalau saat ini loe sedang hamil?" tanya Amilia


Chessy mengangguk pelan lalu menarik napas dalam-dalam


" Iya gue udah tahu, awalnya gue juga syok banget dan tidak bisa terima saat tahu kalau ternyata gue hamil tapi berkat dukungan dari keluarga, gue sudah bisa menerimanya apalagi ayah dan bunda juga selalu mengingatkan gue akan takdir yang sudah Allah tentukan"


" Syukurlah kalau begitu, tapi bagaimana dengan ayah dari calon bayi Loe itu?"


" Di_!"


Tok


Tok


Tok


" Amilia.... Amilia..!" terdengar suara Amar memanggil Amilia dari balik pintu kamar


" Kak Amar manggil tuh!" ucap Chessy menoleh ke arah pintu begitu juga dengan Amilia yang kini sudah beranjak turun dari tempat tidur dan hendak membuka pintu kamarnya


" Iya kak sebentar!" teriak Amilia dari dalam kamar


Ceklek


Pintu pun terbuka dan Amilia menyembul dari balik pintu


" Ada apa kak?" tanya Amilia


" Apa Chessy berada di kamar kamu?" tanya Amar karena setelah ia mencari kamar yang berada di sebelah kamarnya ternyata kosong sudah di cari ke dapur dan ruang tamu tetap tidak melihat keberadaan sang isteri


" Iya kak, Chessy ada di dalam kamar Mili, memangnya ada apa kak Amar mencari Chessy?" tanya Amilia dengan memicingkan matanya


" Kakak udah menyiapkan makan malam sebaiknya ajak Chessy, kita makan bersama!" ucap Amar


" Iya kak"


" Ada apa kak?" Cheesy menyembul dari belakang Amilia


" Iya kak"


Amar pun pergi meninggalkan Chessy dan Amilia turun lebih dulu menuju meja makan dan tidak berselang lama keduanya pun menyusul Amar ke meja makan


Amar menyiapkan makanan sehat untuk Chessy selain itu ada juga buah-buahan yang sempat ia beli di mini market yang tidak jauh dari rumah tersebut


" Kak, ini kakak yang masak semua?" tanya Amilia sambil geleng-geleng kepala melihat menu masakan yang ada di atas meja


" Memangnya kenapa dek?' tanya Amar


" Banyak banget kak terus menunya juga tumben enggak kayak biasanya, ini terbilang makanan sehat ya kak karena lebih banyak sayurannya" ucap Amilia


" Iya, ini kakak khusus masakin untuk Chessy yang dalam proses pemulihan!" ucap Amar melirik ke arah Chessy


" Apa? jadi kakak masak sebanyak ini buat Chessy?" Amilia merasa heran dengan perhatian Amar terhadap Chessy


" Iya, memangnya kenapa? kamu keberatan?" Amar balik bertanya


" Bukan begitu kak, rasanya aneh aja kakak bisa seperhatian ini dengan Chessy!" jawab Amilia


" Kakak tidak sedang modus buat deketin Chessy kan kak?" Amilia kembali mengajukan pertanyaannya kepada Amar


" Uhuk...Uhuk...!" Chessy langsung tersedak setelah mendengar pertanyaan Amilia


Dengan cepat Amar langsung memberikan Chessy air minum yang langsung di teguk oleh Chessy hingga tersisa setengahnya


" Hati-hati makannya!" ujar Amar


" Iya kak maaf!" ucap Chessy


Amar menoleh ke arah Amilia yang masih menunggu jawaban atas pertanyaannya


" Bukannya kakak pernah membahasnya" sahut Amar membuat Amilia mengerutkan keningnya


" Bahas apa?"


" Kakak paling tidak suka modusin seorang wanita, jika kakak suka yaudah kakak akan berusaha untuk mendapatkannya tapi jika tidak ya buat apa memberi harapan palsu" tuturnya


" Lalu bagaimana dengan Chessy? apa kakak serius dengan Chessy?" tanya Amilia yang langsung membuat Amar dan Chessy saling melirik


" Amilia loe ngomong apaan sih, udah deh jangan bahas itu lagi!" ucap Cheesy yang menjadi risih sendiri

__ADS_1


Amilia tergelak melihat wajah Chessy yang nampak merah merona


" Chees, kenapa muka loe merah gitu?"


Mendengar pertanyaan dari Amilia Chessy sepontan langsung memegang wajahnya sendiri


" Apaan sih ah!" Chessy memasang wajah cemberut sedangkan Amilia malah tertawa


" Sudahlah dek jangan godain Chessy terus!" ucap Amar lalu beralih pada Chessy


" Ini makan yang banyak, jangan sampai baby nya kelaparan!" Amar menyendokkan sayur dan ayam ke piring Chessy


" Kak udah ih, ini kebanyakan!" ucap Chessy menolak saat Amar ingin mengambilkannya ikan goreng


" Tapi kamu harus makan yang banyak loh say_!" Amar hampir saja keceplosan tapi buru-buru ia mengalihkan ucapannya


" Say_yang kan kalau enggak dihabiskan!" lanjutnya


" Kalian ini manis banget sih, udah kayak sepasang suami isteri aja!" celetuk Amilia yang seketika membuat Amar dan Chessy tersedak bersamaan


" Uhuk... Uhuk...!"


Amar langsung mengambilkan minum untuk Chessy padahal dirinya pun mengalami hal yang sama


Setelah Chessy mengambil gelas dari tangan Amar dan meneguk air minumnya hingga tersisa setengahnya, Amar meraih gelas milik Chessy lalu meminumnya hingga habis


Amilia tercengang melihat interaksi keduanya, sungguh dia tidak menyangka kalau kakaknya dan sahabat baiknya nampak begitu akrab bahkan sudah seperti pasangan saja


" Kalian benar-benar membuat aku iri saja!" ucap Amilia yang lagi-lagi membuat keduanya langsung menoleh ke arah Amilia dengan jantung yang berdegup cukup kencang


" Aku sudah selesai makannya kak, jika kalian ingin melanjutkannya silahkan saja tapi ingat ya kak Chessy saat ini sedang dalam keadaan berbadan dua jika kakak serius ingin bersama Chessy banyak hal yang perlu kalian pertimbangkan lagi sebelum mengambil keputusan itu, terutama Opa!" ucap Amilia yang terdengar cukup pedas ditelinga


Amar menoleh ke arah Amilia dan tidak menyangka sebelumnya kalau semuanya akan serumit ini apalagi jika berhubungan dengan Opanya


" Apa kamu tidak mendukung kebersamaan kakak dengan Chessy dek?" tanya Amar langsung pada intinya


Deg


Amilia yang sudah beranjak berdiri dan hendak pergi langsung menghentikan langkahnya, gadis itu tidak tahu apakah Amar serius atau hanya main-main belaka


Setahu Amilia kakaknya Amar memang tidak pernah dekat dengan seorang wanita dan jika tiba-tiba kakaknya menjalin hubungan dengan seorang wanita yang sedang hamil bahkan tanpa tau siapa ayah dari yang tengah dikandungnya, apakah hal itu tidak akan membuat keluarganya menanggung malu


" Kak, sebaiknya kakak pikirkan dulu matang-matang, apakah kakak itu serius atau hanya karena merasa kasihan semata kak dengan Chessy !" Ucap Amilia mengingatkan kakaknya


" Kalau kakak serius, apa kamu setuju dek?" tanya Amar yang ingin tahu pendapat adiknya tentang hubungannya dengan Chessy


Amilia kembali mendudukkan dirinya lalu menatap Amar lekat


" Apa kakak serius?" Amar langsung mengangguk yakin


" Kakak sudah tahu kan apa yang sudah menimpa Chessy?" Amar kembali mengangguk


" Kakak juga tahu kan kondisi Chessy saat ini?" tanya Amilia mengingatkan kakaknya dengan kondisi Chessy yang sebenarnya


" Iya kakak sudah tahu!"sahut Amar


" Apakah kakak benar-benar mampu menerima semua keadaannya dan juga segala kekurangannya?" Amilia kembali bertanya


" Iya, insyaallah kakak yakin dan kakak berjanji akan menyayangi Chessy dan juga baby boy dengan sepenuh hati!" ucap Amar berusaha meyakinkan sang adik


" Apa kakak berani menghadapi kemarahan kakek nantinya jika kakak memilih Chessy dibandingkan wanita yang bernama Selena itu?" tanya Amilia membuat Amar menghela napas panjang dan dihembuskannya secara perlahan


" Tentu saja, kakak pasti akan tetap memperjuangkan apa yang sudah menjadi tanggung jawab kakak, kakak tidak akan membiarkan orang lain menyakiti Chessy lagi apalagi saat ini dalam keadaan hamil!" tutur Amar


" Tapi kak?"


" Sudahlah, jangan bahas ini lagi, sebaiknya kamu istirahat sekarang karena besok kita harus kembali ke ibu kota!" tegasnya


" Tapi kak bagaimana dengan kondisi Chessy?" tanya Amilia melihat wajah pucat Chessy


" Apakah kamu masih merasa ada keluhan lain?" tanya Amar yang beralih pada Chessy


" jika iya terpaksa kita masih harus tetap tinggal di rumah ini untuk beberapa hari kedepan?" lanjutnya


" Aku baik-baik aja kok kak, kita sudah bisa pulang besok!" ucap Chessy


" Apa kamu serius?" Chessy mengangguk


" Kakak tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan calon bayi kita sayang!" ucap Amar yang spontan membuat Amilia langsung tersedak setelah mendengar ucapan Amar yang memanggil Chessy sayang


" Uhuk.... Uhuk...!"


Chessy langsung menyodorkan air minumnya kepada Amilia


" Oh astaga baru bicara sebentar tentang perasaan kakak dengan Chessy, kenapa sudah langsung nampak sebucin ini kak!" ucap Amilia yang nampak heran dengan kedekatan keduanya


" Kak ini tidak mudah loh kak apalagi banyak yang harus kakak hadapi termasuk daddy!" lanjutnya lagi

__ADS_1


Amar mengulas senyumnya " Kamu tenang aja dek, seberat apapun rintangannya kakak pasti akan memperjuangkan Chessy dan juga bayi yang ada di dalam kandungannya termasuk menghadapi kemarahan mu dek!" tutur Amar yang membuat Amilia mengerutkan keningnya menatap Amar dengan penuh tanda tanya


__ADS_2