
Pagi harinya Chessy bangun seperti biasa, karena tidak ada Amar di sampingnya saat terbangun dari tidurnya Chessy pun kembali mengalami morning sicknees
" Uwekk....Uwekk...!"
Amilia terkejut bukan main ketika mendengar suara orang muntah-muntah di dalam kamar mandi, ia pun langsung terlonjat turun dari tempat tidur
Tok
Tok
Tok
" Chess.. Cheesy... loe kenapa Chess? loe enggak apa-apa kan Chess?" tanya Amilia dari balik pintu kamar mandi
" Iya, gue enggak apa-apa" sahut Chessy dengan suara sangat pelan
Amilia jelas khawatir dengan keadaan Chessy yang masih berada di dalam kamar mandi apalagi terdengar suaranya sangat lemah
" Chessy buka dong pintunya, gue khawatir loe kenapa-kenapa" ucap Amilia sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi yang dikunci dari dalam
Ceklek
Pintu kamar terbuka menyembul Amar dari balik pintu dan langsung masuk ke dalam kamar ketika mendengar suara Amilia yang sejak tadi memanggil nama Chessy
" Apa Chessy muntah-muntah lagi?" tanya Amar pada Amilia yang berdiri di depan pintu kamar mandi
" Iya kak, apa dia sering mengalami hal seperti ini sebelumnya?" tanya Amilia
" Iya, jika bangun tidur tidak ada kakak di sampingnya dia pasti mengalami muntah-muntah" jawab Amar
Amilia terkejut mendengarnya " kalau benar seperti itu lalu waktu itu di Jogja?"
" Kamu pasti sudah tahu jawabannya dek, karena waktu itu kakak sengaja menyuruh kalian tinggal di kamar yang terpisah"
Amilia geleng-geleng kepala, tidak habis pikir ternyata mereka begitu pandai merahasiakan hubungan mereka sebegitu rapihnya sampai ia tidak pernah terpikir ke arah sana
" Jadi waktu itu kalian tidur sekamar?" tanya Amilia
" Bukan waktu yang tepat membahas hal itu sekarang yang lebih penting bagaimana keadaan Chessy di dalam" sahut Amar yang langsung mengambil kunci cadangan yang ada di dalam laci meja rias Chessy
Amilia terkejut karena Amar dengan cepat langsung mendapat kunci kamar mandi tersebut
Namun belum sempat memasukkan anak kunci tersebut pintu sudah lebih dulu dibuka dari dalam kamar mandi
Ceklek
Chessy menyembul dari balik pintu dengan kondisi wajah yang sudah sedikit pucat
Amar langsung mendekati Chessy dan menggendongnya
Amilia tercengang dengan apa yang dilakukan kakaknya terhadap Chessy
Dengan hati-hati Amar menurunkan Chessy di atas tempat tidur
" Mual lagi?" tanya Amar dan Chessy hanya menjawab dengan anggukan kepala
Amar lalu menyelimuti Chessy sebatas pinggang
" Istirahat aja dulu, kakak buatin air jahe!" ucapnya dan Chessy kembali mengangguk pelan
__ADS_1
Amar keluar dari dalam kamar menuju dapur sedangkan Amilia nampak bengong karena bingung harus berbuat apa
Tidak berapa lama Amar sudah kembali masuk dengan membawa secangkir air jahe
" Ini diminum dulu!" ucap Amar setelah membantu Chessy duduk
Chessy meminum air jahe yang dibuat sendiri oleh Amar
Amilia tersenyum melihat sikap kakaknya yang begitu perhatian terhadap Chessy
Setelah istirahat sebentar kondisi Chessy pun sudah jauh lebih baik apalagi ada Amar yang tidak beranjak dari sisinya sambil mengelus perut Chessy yang sudah sedikit membuncit
" Kak aku mau mandi" ucap Chessy
" Memangnya sudah tidak mual lagi?" tanya Amar dan Chessy menjawab dengan menggelengkan kepalanya
" Kakak bantu ya!" Chessy menggelengkan kepalanya kembali
" Tidak kak aku bisa sendiri" sahutnya
" Tapi kakak khawatir kamu kenapa-kenapa di dalam sendirian" ucap Amar khawatir
" Aku baik-baik saja kak, kakak tidak perlu khawatir"ucap Chessy meyakinkan Amar
Chessy pun langsung turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi
Sementara Amilia pergi ke kamar tamu untuk mandi dan bersiap-siap kesekolah
Amilia menggunakan baju seragam sekolah Chessy yang kebetulan ada beberapa yang masih baru pemberian mommy Naura untuk sang menantu
Selesai mandi Amilia sudah bergabung dengan bunda dan ayah Chandra
Sedangkan Chessy masih di dalam kamarnya bersama Amar
" Iya kak, aku udah banyak ketinggalan pelajaran karena sering izin" jawab Chessy
" Yaudah kalau gitu, tapi ingat kalau ada apa-apa hubungi kakak" pesan Amar
" Iya kak" sahut Chessy
Setelah keduanya sudah rapih mereka pun turun untuk sarapan bersama
Mereka kini sudah bergabung di meja makan, seperti hari-hari sebelumnya bukan Chessy yang melayani Amar melainkan sebaliknya
Chessy sebenarnya merasa tidak enak dengan kedua orangtuanya tapi itu semua atas kemauan Amar sendiri
" Kak Amar sweet banget sih, bikin iri!" celetuk Amilia yang memperhatikan sikap Amar yang begitu perhatian kepada Chessy
" Kamu mau emangnya dek?" tanya Amar saat meletakkan sepotong ayam goreng ke piring Chessy
" Mau tapi bukan dari kakak" sahut Amar
" Terus?"
" Ya dari suami aku sendiri lah" sahut Amilia
" Huss.... masih bau kencur udah ngomongin suami, belajar aja yang benar" ucap Amar memperingati adiknya
" Yeee... enggak apa-apa, kayaknya menyenangkan nikah muda" Amilia menaik turunkan alisnya
__ADS_1
" Iya enggak Chess?" Amilia beralih pada Chessy
" Apa?" Chessy yang sedang menikmati sarapannya tidak tahu apa yang Amilia bicarakan dengan Amar
" Nikah muda enak enggak?" Amilia kembali mengulang pertanyaannya
" Ya?" Chessy tercengang mendapat pertanyaan macam itu dari Amilia
" Dek, udah deh jangan yang aneh-aneh!" tegur Amar
Ayah dan bunda hanya geleng-geleng kepala menyimak percakapan kedua kakak beradik itu
" Sebaiknya habiskan sarapan kamu jangan banyak bicara lagi" ucap Amar lagi
" Iya" Amilia pun mengerucutkan bibirnya dan kembali melanjutkan sarapannya
" Saran bunda, sebaiknya nak Amilia fokus aja dengan sekolahnya jangan memikirkan tentang nikah muda dulu. gapai lah cita-cita nak Amilia jangan samakan dengan kondisi Chessy yang terpaksa harus menikah muda!" tutur bunda Tia
Chessy terhenyak mendengar penuturan sang bunda sampai menghentikan kegiatan makannya
Amar yang tahu bagaimana perasaan sang isteri langsung menggenggam tangannya
Chessy menoleh dan Amar tersenyum " Semua akan baik-baik saja, kamu masih bisa meraih apa pun cita-cita mu kakak tidak akan menghalanginya!" ucap Amar
Bunda tersenyum melihat anak dan menantunya " Apapun yang kamu cita-citakan, kamu masih bisa meraihnya dengan dukungan dari suami kamu tapi satu hal yang tetap harus kamu ingat dimana pun dan kapanpun yaitu kodrat mu yang sudah menjadi seorang isteri dan juga ibu!"
Chessy mengangguk pelan dengan mata yang sudah berkaca-kaca
" Ini adalah takdir kamu menikah muda, jadi jangan pernah kamu menyesalinya ataupun merasa ini tidak adil buat kamu, ambillah hikmah dari kejadian ini dan buang semua sisi buruknya dan gantikan dengan hal-hal yang positif saja" tambahnya lagi
" Hal positifnya apa bun?" tanya Chessy dengan polosnya
Bunda menepuk jidatnya sendiri " Kamu ini hal seperti itu saja pakai ditanya, coba aja kamu pikir sendiri kan kamu yang menjalaninya?" Bunda balik bertanya
" Apa ya bun?" Chessy nampak berpikir
" Hal positifnya kamu bisa menikah dengan kakak pria tampan, baik dan sangat mencintai kamu!" celetuk Amar
" Dihh?" ucap Amilia dan Chessy berbarengan
" Kompak banget ngomongnya?" ayah pun ikut nimbrung juga
" Kak Amar narsis!" ucap Amilia
" Anda terlalu percaya diri tuan muda!" ucap Chessy menimpali dan Amar pun tergelak mendengar ucapan keduanya
" Tapi itu ada benarnya juga loh Chess!" ucap bunda membuat Chessy mengerutkan Keningnya mendengar ucapan bunda
" Maksud bunda Chessy beruntung gitu bisa menikah dengan kak Amar?"
Bunda Tia menganggukkan kepalanya membuat Amar senyum-senyum enggak jelas menurut Chessy
"Sudah-sudah cepat habiskan sarapannya ini sudah siang loh!" Interupsi ayah setelah melihat jam tangan sudah menunjukkan pukul 6:30
Usai sarapan mereka pun berpamitan dengan ayah dan bunda
Amilia duduk di jok belakang sedangkan Chessy bersama Amar di depan
Sesampainya di sekolah mereka langsung turun tapi sebelumnya keduanya pun sudah berpamitan pada Amar
__ADS_1
Dan sebelum turun dari mobil seperti biasa Amar mencium perut Chessy sebentar lalu baru setelah mencium keningnya
Amilia hanya bisa mendengus kesal melihat keromantisan keduanya, dia pun menunggu Chessy di luar mobil daripada matanya terkontaminasi oleh kelakuan sang kakak dan sahabatnya