
" Kak!" panggil Amilia saat Amar hendak masuk ke dalam kamarnya
Amar berbalik badan dan melihat adiknya yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan
" Mili mau bicara kak!"
Amar membuka pintu kamarnya lalu menyuruh Amilia untuk masuk
" Masuklah!" serunya
Amilia pun melenggang masuk ke dalam kamar Amar mengekor di belakangnya
Amilia lalu mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur sedangkan Amar menggeser kursi yang ada di depan meja rias yang ada di kamar tersebut ke dekat ranjang , meskipun itu kamar laki-laki tetap saja Oma meletakkan meja rias di setiap kamar dengan alasan untuk cucu menantu jika menginap di rumah itu
" Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Amar
Amilia menarik napas dalam-dalam setelah itu ia buang dengan perlahan
" Apa kakak serius tetap menolak perjodohan itu?" tanya Amilia menatap kakaknya dengan tatapan serius
Amar tersenyum lalu mengacak-acak rambut Amilia gemas membuat gadis itu mendengus karena sebal rambutnya diacak-acak
" Menurut kamu sendiri bagaimana?" Bukan memberi jawaban Amar malah balik bertanya kepada Amilia
" Ya ampun kak, ini Mili loh ya yang bertanya tapi malah kakak yang balik bertanya!" kesal Mili dengan memasang wajah yang ditekuk
Amar lagi-lagi menampakkan senyumannya
" Ya kakak kak juga ingin tau pendapat kamu"
Amilia memutar bola matanya malas " Ya masa pendapat Mili sih, kan kak Amar yang mau dijodohin, Opa sampai ngebela-belain pulang gitu loh dari rumah sakit cuma buat ngejodohin kakak dengan kak Selena"
Amar menghela napas kasar " Opa terlalu memaksakan kehendaknya tanpa pikir panjang!" tutur Amar
" Apa kak Amar tetap akan menolaknya? padahal kak Selena cantik loh kak, berpendidikan, wanita karir pula apa kak Amar tetap tidak tertarik dengannya?" tanya Amilia
Amar kembali mengacak-acak gemas rambut Amilia membuat gadis itu akhirnya marah-marah
" Kak rambutku ihh... jadi berantakan gini kan!" kesal Amilia
" Ha..ha .. habisnya kamu tuh gemesin!" Kali ini Amar bukan mengacak -acak rambut Amilia tapi mencubit kedua pipinya
" Kakak!" Amilia cemberut dan Amar malah tertawa
" Secantik apapun wanita yang akan di jodohkan oleh Opa tetap tidak akan mengubah pendirian kakak, sampai kapan pun kakak tidak akan mau dijodohin" ucap Amar
" Apa karena kakak sudah memiliki kekasih?" tanya Amilia sedikit memicingkan matanya
Amar tersenyum " Kakak tidak punya kekasih" jawabnya dengan santai
__ADS_1
Amilia mengerutkan keningnya mendengar jawaban Amar dan menatapnya dengan tatapan penuh selidik
" Tapi kakak mempunyai wanita yang sangat kakak cintai!"
Jlep
Amilia tertegun mendengar jawaban sang kakak ada perasaan lega tersendiri setelah mendengar jawaban sang kakak
" Wanita yang sangat kakak cintai?" tanya Amilia nampak begitu penasaran
Amar mengangguk pelan " Iya, karena itu kakak tidak suka dengan cara Opa yang dengan seenaknya main jodoh-jodohin aja!" sahut Amar
" Apa kakak akan memperjuangkan wanita kakak meskipun Opa menentang hubungan kalian dan tetap memaksa kakak untuk menikah dengan kak Selena?"
Amar beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah balkon kamarnya, Amilia pun mengikuti Amar yang kini sudah berdiri di pagar balkon
" Tentu saja kakak akan memperjuangkannya, apalagi jika kakak sudah mengantongi restu dari mommy dan Daddy maka buat kakak permintaan Opa tidaklah berarti apa-apa" sahut Amar dengan penuh keyakinan di hatinya
" Bagaimana jika mommy dan daddy setuju dengan rencana Opa, apalagi melihat kondisi kesehatan Opa yang terkadang suka tiba-tiba memburuk Mili yakin mereka pun ingin yang terbaik untuk Opa?"
Deg
Amar tidak pernah terpikir kearah sana tapi tidak mungkin juga dia mengorbankan Chessy gadis yang sudah mengisi penuh seluruh ruang hatinya
" Kak akan berusaha untuk memperjuangkan wanita yang kakak cintai" jawab Amar meskipun sedikit ragu namun mengingat hal buruk yang sudah ia torehkan pada Chessy pria itu pun akan berusaha untuk memperjuangkannya
" Meskipun terancam di benci oleh keluarga kita?" tanya Amilia
" Mungkin!" Amilia mengangkat kedua bahunya
Amar mendengus lalu mengehela napas panjang " Tidak apa-apa jika memang semua akan menentang hubungan kakak dengannya, kakak tetap tidak akan pernah meninggalkannya meskipun kakak harus kehilangan semuanya" tutur Amar
" Bagaimana jika wanita yang kakak cintai tidak menerima keputusan kakak, aku yakin wanita yang kakak cintai pasti berhati baik jadi Mili rasa dia tidak akan menerima keputusan kakak dan pastinya dia akan memilih lebih baik pergi"
Deg
Amar bergeming, ucapan Amilia seakan mencekik lehernya, apa yang dikatakan adiknya itu bisa saja diambil oleh Chessy mengingat Amilia sahabat baiknya dan apa yang Amilia katakan bisa saja ada di benak isterinya
" Kak!" panggil Amilia seraya menepuk bahu sang kakak yang tiba-tiba menjadi diam
" Dia tidak boleh meninggalkan kakak Milia, jika dia pergi meninggalkan kakak sudah pasti kakak pasti akan gila hidup tanpa dia" ucap Amar yang sontak membuat Amilia terhenyak mendengarnya
" Apa kakak benar-benar mencintainya?" tanya Amilia kembali memastikan
Amar yang tadinya membelakangi Amilia kini menoleh ke arahnya
" Tentu saja, kakak sangat mencintainya dan kakak tidak akan bisa hidup tanpa dia Amilia" jawab Amar
Amilia tersenyum sungguh dia tidak menyangka jika kakaknya bisa sebucin itu
__ADS_1
" Kalau begitu tetaplah berjuang kak, dan yakinkan Opa kalau pilihan kakak adalah yang terbaik, Amilia pasti akan mendukung kakak asal_!" Amilia menjeda ucapannya
" Asal apa?" tanya Amar yang nampak bingung dengan sikap sang adik
" Asal kakak berjanji tidak akan menyakiti wanita yang kakak cintai itu dan terus memperjuangkan untuk tetap hidup bersamanya Amilia pasti akan selalu mendukung kakak dan teruslah berjuang untuk meyakinkan Opa kak!" sahut Amilia
" Tentu saja, kakak tidak akan pernah menyakitinya, lebih baik kakak yang menanggung sakit dari pada kakak menorehkan luka kembali dalam hidupnya" sahut Amar
" Kakak tidak akan berani menyakitinya Mili, karena sudah begitu banyak luka yang kakak torehkan padanya, kakak ingin membahagiakan dia dan anak kakak selamanya" batin Amar
" Maksud kakak ?" tanya Amilia yang merasa aneh dengan jawaban sang kakak
" Sudahlah, sebaiknya kamu kembali ke kamar mu untuk beristirahat, besok pagi-pagi setelah subuh kita akan pulang ke kota" Ucap Amar mengalihkan pembicaraannya
" Besok? kita beneran akan pulang besok pagi?" Amar mengangguk dengan pasti
" Lalu bagaimana kalau Opa marah?"
" Biarkan saja, apa pedulinya!" jawab Amar dengan santai
" Apa kamu mau terlalu lama bolos sekolah?" tanya Amar
" Ya enggak juga sih, tapi jika kita pulang dadakan seperti itu apa tidak akan membuat penyakit Opa kembali kambuh?" Amilia sedikit mencemaskan kesehatan Opanya
" Perasaan sahabatmu jauh lebih penting, jika terlalu lama berada di rumah ini kakak khawatir dia akan merasa tertekan dengan perlakuan Opa terhadapnya" Sahut Amar
" Bukankah Chessy masih suka trauma dengan masa lalunya, jika dia berlama-lama berada di rumah ini dan merasa tertekan dengan ketidaksukaan yang Opa tunjukkan secara terang-terangan kepada dirinya kakak khawatir jiwanya akan kembali terguncang dan itu bisa membahayakan kesehatannya" tutur Amar panjang lebar
" Terutama kesehatan kandungannya" batin Amar
Amilia mengangguk mengerti, apa yang dikatakan kakaknya ada benarnya dan tentu saja dia pun tidak ingin hal itu terjadi pada sahabatnya itu
" Baiklah kalau begitu kita pulang besok, Mili pamit ke kamar dulu kak, mau beristirahat" sahut Amilia
" Iya" sahut Amar
Setelah masuk ke dalam kamarnya , Amilia merebahkan tubuhnya di atas kasur seraya menatap ke atas langit-langit kamar
Pikirannya menerawang jauh tentang sahabatnya yang sangat ia sayangi, ada perasaan yang bercampur aduk menjadi satu yang sulit untuk ia ungkapkan tapi tetap doa kebaikan yang selalu ia panjatkan untuk sahabat baiknya itu
Terlalu banyak ujian yang menghampiri gadis itu, Amilia sebagai seorang sahabat hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Chessy
Perjuangannya menuju bahagia gadis itu sedang diuji dan Amilia pun berharap Chessy dapat melewatinya segera meraih kebahagiaannya dan tidak ada lagi air mata kesedihan
" Semoga loe segera mendapatkan kebahagiaan loe Chess dan tidak akan ada lagi orang yang memandang loe sebelah mata, maafkan Opa ya Chessy yang sudah menyakiti hati loe tapi gue yakin setelah mengenal loe Opa pasti akan menyukai loe seperti, gue, mommy dan daddy yang sangat menyayangi loe terutama_!" Amilia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan dengan kasar
" Kak Amar, dia terlihat begitu peduli sama loe dan gue berharap wanita yang dia cintai itu adalah loe Chessy!" monolog Amilia dengan dirinya sendiri
Lama kelamaan gadis itupun menguap, pertanda kalau rasa ngantuk sudah menyerangnya
__ADS_1
Perlahan tapi pasti gadis itu pun langsung terlelap menyambut mimpi