
" Kamu ini kenapa? apa terjadi sesuatu di sekolah" tanya Amar saat melihat Chessy yang sedang duduk termenung seraya pandangannya menatap ke arah jendela mobil
Chessy menoleh ke arah Amar " Kak" panggil Chessy
Amar yang sedang menyetir pun menoleh sekilas " Iya ada apa dek" jawab Amar lalu menunggu Chessy kembali berbicara
Dengan perasaan takut-takut gadis itu pun memberanikan diri untuk bertanya pada Amar, pertanyaan yang sebenarnya cukup mengusik hatinya sendiri
" Emmm... apa kakak sudah menyelidiki tentang orang yang sudah melakukan penjebakan itu?" tanya Chessy tiba-tiba membuat Amar secara spontan mengerem mobilnya dadakan untung saja jalanan yang mereka lalui sedikit sepi
Chessy memegang keningnya yang terbentur dasboard mobil
" Aww.." pekik Chessy
" Maaf dek, sakit ya? maaf kakak tidak sengaja" Amar mengulur tangannya memegang kening Chessy lalu menatapnya intens
" Enggak apa-apa kak" Chessy menggeser mundur merasa risih ditatap oleh Amar
" Maaf ya, kakak tadi kaget aja kamu tiba-tiba menanyakan hal itu" ucap Amar berkata jujur
" Iya kak enggak apa-apa" sahut Chessy seraya tersenyum
" Kalau kakak boleh tahu kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanya Amar
Chessy terdiam sejenak lalu menarik napas panjang dan dihempaskan dengan perlahan
" Aku hanya khawatir kak, takut orang yang sudah melakukan hal sejahat itu masih berkeliaran dan mengganggu hidupku lagi kak, bagaimana jika tiba-tiba orang itu muncul" ucap Chessy
Amar mencerna ucapan Chessy dan diapun merasakan ada ketakutan yang cukup besar dalam diri isterinya
" Apalagi tadi Amilia juga bilang dia merasa seperti ada yang sedang memperhatikan kami, dan aku juga merasakan hal yang sama kak rasanya kayak ada orang yang ngikutin tapi enggak tahu siapa, entah itu cuma perasaan kami berdua atau memang benar-benar ada yang sedang memperhatikan kami" tutur Chessy mengutarakan kecemasannya
Amar mendengarkan cerita Chessy dengan seksama dia pun jadi ikut cemas takut isterinya yang sedang mengandung anaknya diganggu lagi dan diusik kembali ketenangannya yang baru saja ia dapatkan kembali setelah menjalani beberapa Minggu terapi
" Dan Amilia juga curiga pada Claudia kak, mungkin aja katanya Claudia turut andil dengan penjebakan itu" lanjutnya lagi
" Claudia?" Amar mengingat-ingat nama yang baru saja disebut oleh Chessy
" Claudia adiknya Malika?" tanya Amar dan Chessy mengangguk mengiyakan
__ADS_1
" Iya kak, kakak kenalkan baik kan dengan kakaknya Claudia?" tanya Chessy walaupun sebenarnya hati merasa tidak nyaman saat menayangkan hal itu
" Iya, dia dulu itu satu sekolah dengan kakak" jawab Amar lalu termenung sejenak guna memikirkan segala kemungkinan yang terjadi
" Apa dia kekasih kakak?" tanya Chessy yang seketika membuat Amar tertawa mendengarnya
" Kenapa bertanya seperti itu apa saat ini isteriku sedang cemburu?" Amar sengaja menggoda Chessy karena dia tidak ingin isterinya terlalu banyak pikiran
" Ihh... ge'er banget sih , siapa juga yang cemburu orang cuma nanya aja kok" sahut Chessy mengelak
Amar semakin tergelak mendengar jawaban Chessy
" Ihh.... kok malah ketawa sih" Chessy mengerucutkan bibirnya
" Udah enggak usah dipikirkan lagi, kamu fokus aja sekarang dengan sekolah dan juga kehamilan kamu, kakak janji akan mencari tahu semuanya, kakak juga sebenarnya sudah curiga dengan Malika hanya sayangnya kakak tidak memiliki bukti karena cctv di tempat itu semuanya dimatikan dan kakak yakin ini memang ada unsur kesengajaan". tutur Amar
" Kalau memang Amilia curiga dengan teman kalian yang bernama Claudia, sebaiknya kamu berhati-hati ya dek" Amar mengingatkan
" Iya kak"
" Dan ingat kalau ada apa-apa jangan pernah sungkan untuk bercerita sama kakak, kita hadapi sama-sama ya!" Chessy mengangguk
"Oiya kak, kapan kakak akan berbicara dengan Amilia?" tanya Chessy
Amar menoleh sekilas " Memangnya kamu sudah siap jika kakak berbicara sama Amilia?" Amar balik bertanya
Chessy mengerutkan keningnya " Siap apa kak?" Chessy mengerutkan keningnya
" Siap kalau kamu ikut tinggal bersama kakak, terserah mau tinggal di mansion papa atau di apartemen kakak setelah Amilia tahu tentang kita!" terang Amar yang langsung membuat Chessy melotot
Untuk tinggal satu kamar bersama suaminya di rumah orangtuanya aja Chessy masih belum siap apalagi ikut tinggal berdua di apartemen miliknya
Chessy pasang wajah cemberut " Kakak curang" Ucap Chessy
" Loh kok curang?"
" Iya, kenapa harus ada syarat itu, aku kan masih ingin tinggal bersama bunda dan ayah kak" sahut Chessy
" Iya.. iya... kakak enggak keberatan jika memang kamu masih ingin tinggal bersama bunda dan ayah tapi_!"
__ADS_1
" Tapi apa kak?"
" Kakak boleh ya ikut tinggal di rumah bunda sama ayah?"
Deg
Ada perasaan ragu dihatinya, ia takut Amar meminta haknya jika tinggal bersamanya
" Tapi kak_" Chessy menundukkan wajahnya
Amar tahu Chessy pasti masih takut dengannya " Kamu enggak usah takut ya dek, kakak enggak akan macam-macam kok dek kakak cuma mau dekat dengan anak kita aja dan semoga aja kamu juga enggak akan merasakan morning sickness lagi kalau kita tinggal bersama" tutur Amar berharap Chessy bisa percaya padanya dan mengizinkannya untuk tinggal bersama
" Iya kak, tapi kakak janji ya buat memberitahu Amilia"
" Iya kakak janji tapi kamu juga harus ikut bersama kakak untuk berbicara dengan Amilia" ucap Amar
" Besok pulang sekolah kakak jemput kalian berdua dan kita menginap ya di rumah mommy !" ucap Amar
" Menginap?"
" Iya, mommy juga udah kangen loh sama kamu dari kemarin meminta kakak untuk mengajak kamu menginap di rumah" sahut Amar
" Yaudah iya, tapi kakak janji loh mau cerita sama Amilia!"
" Iya, semoga aja besok suasana hati Amilia sedang baik ya dan tidak marah sama kakak" ucap Amar yang merasa sedikit khawatir dengan reaksi Amilia nantinya setelah tahu fakta yang sebenarnya
Tidak terasa mobil mereka pun kini sudah sampai di tempat biasa, Amar dan Chessy pun turun dari mobil tersebut dan menukar mobilnya dengan angkot yang tadi dibawanya
Setelah berada di mobilnya sendiri Amar pun langsung mengantarkan Chessy pulang ke rumah
Setibanya di rumah keduanya pun langsung masuk ke dalam rumah seraya mengucapkan salam
Keduanya menyalami tangan bunda dengan takzim, setelah itu Chessy pamit masuk ke dalam kamar sedangkan Amar memilih mengobrol dengan bunda
Amar banyak bertanya tentang Chessy pada bunda, baik tentang makanan kesukaan Chessy, makanan yang tidak disukai, hal apa saja yang tidak disukainya dan juga tentang kebiasaan Chessy sehari-hari
Sebagai suami dia ingin mengenal lebih jauh tentang wanita yang kini sudah berstatus isterinya itu, dia berharap kelak bisa menjadi kepala rumah tangga yang baik dan bertanggung jawab kepada isteri dan juga anak-anaknya kelak
Bunda merasa senang karena Amar mau berusaha mengenal tentang Chessy dan dengan obrolan ringan mereka membuat menantu dan mertua itu pun menjadi lebih dekat
__ADS_1