
Jlep
Mata Chessy hampir melompat saat netranya menangkap sosok pria yang tidak asing di matanya tengah duduk di antara tamu yang ada
" Bunda...Ayah... bukankah itu kepala sekolah SMA Tunas Bangsa?" bisik Chessy kepada kedua orangtuanya seraya menunjuk dengan ekor matanya
" Kenapa ada di sini yah, Chessy pasti akan dikeluarkan dari sekolah kalau tahu Chessy yang akan menikah hari ini!" sendunya
" Iya sayang, kamu tenang saja tuan Mahendra sendiri yang memang sengaja mendatangkan kepala sekolah mu itu untuk ikut serta menyaksikan pernikahan kalian nantinya" terang Ayah Chandra seraya melangkahkan kakinya menuju meja dimana acara ijab qobul akan diselenggarakan
Chessy langsung diam setelah mendapat penjelasan dari ayahnya
Kini Chessy sudah duduk di samping Amar, laki-laki itu bahkan sampai tak berkedip menatap lekat wajah cantik calon isterinya
" Ngeliatinnya nanti aja kalau sudah sah,kamu bisa liatin sepuasnya !" Goda dad Mahendra seraya menyenggol bahu sang putra
Amar seketika jadi salah tingkah kepergok mengangumi calon isterinya
Chessy sendiri sudah gugup setengah mati diperhatikan intens oleh laki-laki yang beberapa menit kedepan akan berubah statusnya menjadi suami
Jantung Chessy semakin jedag-jedug saat tangan ayah Chandra sudah berjabat tangan dengan tangan Amar
Suasana seketika berubah hening saat acara sakral itu akan segera dimulai
Semua tatapan mata mengarah ke arah meja di mana Chessy dan Amar hendak melangsungkan ijab qobul
Sampai akhirnya kata sah pun terucap dari para saksi yang menyaksikan berlangsungnya acara akad nikah tersebut
Suasana haru dan bahagia pun menyelimuti hati para orang tua yang menyaksikan anak-anak mereka kini telah resmi menyandang pasangan suami isteri, doa kebaikan pun dipanjatkan untuk keduanya semoga pernikahan mereka akan langgeng selamanya hingga maut yang memisahkan
Amar sendiri akhirnya bisa bernapas lega setelah mendengar kata Sah yang menggema di tempat berlangsungnya acara tersebut, pria dewasa itu pun merasa bersyukur karena pernikahannya bisa berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun
Setelah melakukan sungkeman kepada kedua orang tua kedua mempelai pun mendapatkan ucapan selamat dari para tamu undangan yang hadir
Setelah mengucapkan selamat kepada Chessy dan Amar para tamu undangan pun di persilahkan untuk menikmati jamuan makanan yang sudah di sediakan
Chessy yang masih merasa tidak percaya kalau statusnya saat ini sudah berubah menjadi seorang isteri nampak termenung dan memilih duduk di kursi pojok
" Kamu kenapa menyendiri disini?" tanya Amar yang seketika membuat Chessy terperanjat dari lamunannya
Chessy tidak menjawab hanya melirik laki-laki yang kini sudah berstatus suaminya itu sekilas
__ADS_1
Amar mendaratkan bokongnya di kursi yang sama dengan yang diduduki oleh Chessy
" Apa kamu merasa menyesal menikah dengan ku?" tanya Amar masih menatap wanita yang ada di hadapannya dengan perasaan yang sulit di artikan
Chessy menggeleng pelan dengan tatapan mata yang masih menatap lurus ke depan
" Menyesal? aku rasa hal itu sudah tidak ada gunanya lagi" Sahut Chessy tanpa menatap lawan bicaranya
" Lalu apa yang kamu inginkan sekarang? " tanya Amar
Chessy tersenyum miris dengan perasaan yang sudah tidak menentu " Yang aku inginkan? entahlah aku tidak tahu apa sebenarnya yang aku inginkan saat ini!" sahut Chessy hampa
" Apa ada hal lain yang kau pikirkan?" Amar kembali bertanya, laki-laki itu tidak ingin membebani pikiran gadis yang kini sudah sah menjadi isterinya apalagi dalam kondisi hamil yang cukup beresiko jika terlalu banyak pikiran
" Banyak!" jawabnya asal namun mampu membuat Amar membulatkan matanya sempurna
" Apa yang kau pikirkan saat ini?" Amar sungguh ingin tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Chessy
" Pendidikan ku, cita-cita ku dan juga impianku" jawab Chessy setelah itu menarik napas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan
" Apakah semua itu masih bisa aku capai dengan statusku ku yang kini sudah berbeda?" Chessy menundukkan wajahnya, rasanya dada gadis berusia 17 tahun itu begitu sesak membayangkan hari-harinya setelah ini dan impiannya yang selama ini dicita-citakan akan pudar begitu saja
Chessy tidak kuasa lagi menahan kesedihannya, semakin ditahan dadanya semakin sesak
Amar yang melihat tubuh Chessy bergetar langsung saja menariknya masuk ke dalam dekapannya
" Maafkan aku!" ucap Amar merasa bersalah
" Aku tahu ini berat untuk kamu lalui dengan status barumu sebagai isteri dan juga sebagai seorang pelajar apa lagi dalam kondisi tengah hamil, aku tahu itu tidak lah mudah tapi aku mohon jangan jadikan semua ini sebagai bebanmu seorang diri, mari kita hadapi semuanya bersama-sama, pahit dan manisnya kita jalani bersama" ucap Amar lalu mengurai pelukannya menarik bahu Chessy hingga keduanya kini saling berhadap-hadapan
" Walaupun kita belum lama saling mengenal tapi dengan ikatan suci pernikahan yang sudah terikat diantara kita berdua semoga kita bisa saling mengerti dan memahami satu sama lain, saling melengkapi, saling berbagi baik dalam keadaan suka maupun duka" Amar menggenggam erat jari jemari Chessy lalu menatapnya dalam-dalam
Chessy sendiri sedikit merasa tidak nyaman saat tangannya digenggam oleh Amar, pikirannya jadi semakin tidak karuan.
" Kamu sekarang sudah sah menjadi isteriku, jadi apapun masalah yang sedang kau hadapi jangan pernah sungkan untuk berbagi cerita dengan ku, jangan memikulnya sendirian dan jangan lagi diam-diam menangis sendiri seperti saat ini, kamu sekarang sudah menjadi tanggung jawab ku, kebahagiaan mu adalah hal utama yang harus menjadi prioritas ku jadi jangan merasa sungkan dengan ku, katakan saja apa yang menjadi beban pikiran mu jika aku bisa aku akan usahakan yang terbaik untuk mu dan juga calon anak kita" Tangan Amar terulur untuk mengusap perut Chessy namun seketika tangannya menggantung di udara saat pria itu sadar takut apa yang dia lakukan malah mendapat penolakan dari Chessy
Benar saja belum sempat menyentuhnya saja Chessy sudah sedikit bergeser duduknya
" Maaf kak aku ingin menghampiri bunda dan ayahku dulu" ucap Chessy seraya beranjak dari tempat duduknya
Chessy sendiri pun bingung bagaimana menanggapi sikap Amar, walaupun sikap pria itu sangat baik tapi perasaan Chessy saat ini terhadap Amar masih sedikit menyisakan rasa takut dan trauma apalagi jika bersentuhan
__ADS_1
Amar hanya mengangguk pelan lalu menatap punggung Chessy yang melangkah menuju kedua orang tuanya yang tengah berbincang dengan dad Mahendra dan mom Naura
" Ayah... bunda...!" Panggil Chessy langsung berhambur kepelukan sang bunda
Bunda Tia mengerutkan keningnya saat putri semata wayangnya memeluk dirinya lalu merasakan tubuhnya sedikit bergetar
" Kamu kenapa sayang, kok nangis?" Bunda langsung mengurai pelukannya saat merasakan tubuh sang putri bergetar
" Kamu kenapa menangis sayang, apa Amar menyakitimu?" kali ini bukan bunda yang bertanya melainkan mom Naura
Melihat Chessy menangis dengan cepat wanita paruh baya itu langsung bergeser berdirinya dan mengusap lembut punggung Chessy
" Tidak tante" Chessy menggeleng pelan
" Panggil mommy sayang jangan tante, sekarang kamu kan sudah menjadi putri mommy juga" tutur mom Naura dengan lembut
" Sudah jangan menangis lagi sayang, jika suami kamu macam-macam dan sampai membuatmu bersedih kamu bilang aja sama mommy ya jangan pernah sungkan anggap mommy ini orang tua kamu juga ya sayang!"
Chessy seketika merasa sangat terharu dengan kebaikan mom Naura yang begitu lembut sikapnya terhadap dirinya
" Iya mom, terima kasih" ucap Chessy
" Memangnya apa yang membuat putri kesayangan ayah menangis seperti itu? apa kamu merasa tidak bahagia sayang?"
Chessy dengan cepat menggeleng " Bukan seperti itu ayah, Chessy hanya merasa belum begitu percaya aja kalau saat ini Chessy sudah berstatus sebagai seorang isteri padahal lulus sekolah pun belum" tutur Chessy
Mom Naura dan dad Mahendra tersenyum mendengar penuturan menantunya itu
" Enggak apa-apa sayang, selama kehamilan kamu belum ketara kamu masih bisa sekolah seperti biasa, makanya tadi daddy sengaja mengundang kepala sekolah kamu" Ucap dad Mahendra yang mengerti kegelisahan hati sang menantu
" Yang dikatakan daddy benar dek, kamu masih bisa sekolah seperti biasa dan kalau kamu mau meneruskan kuliah pun enggak apa-apa, aku pasti dukung. Jangan jadikan pernikahan ini sebagai beban ya!" ucap Amar yang baru saja bergabung dengan mereka
Chessy mendongak lalu menatap manik mata suaminya, ada ketulusan dari sorot matanya dan Chessy pun mengangguk pelan
" Iya kak"
Amar tersenyum dan dad Mahendra menepuk bahu putranya memberinya semangat untuk menjalani biduk rumah tangganya bersama gadis yang masih di bawah umur
" Jadilah suami yang bijak dan bimbinglah isteri mu dengan baik jangan pernah meninggikan suara mu apalagi bermain tangan ketikan menegur isterimu!" pesan dad Mahendra pada putranya
" Bicarakan secara baik-baik jika ada masalah, sekarang Chessy sudah menjadi tanggung jawab kamu sepenuhnya. bahagiakan dia dan jangan membuatnya menangis nak, Chessy masih gadis dibawah umur jiwanya masih labil jadi peranmu adalah membimbingnya bukan menggurui ataupun memaksanya menjadi apa yang kamu inginkan, sabarlah menghadapinya sayang apalagi saat ini dia tengah mengandung anakmu diusia mudanya" Kali ini mom Naura yang berpesan
__ADS_1