
Selena membawa kekesalannya meninggalkan perusahaan Amar, mau tidak mau ia harus menelan kekecewaan karena penolakan Amar terhadapnya
" Kamu tidak usah khawatir, Opa yakin suatu hari nanti Amar pasti akan luluh. Kamu jangan menyerah ya!" ucap Opa Bara ketika mereka sudah berada di lobi perusahaan Amar
" Iya Opa" jawab Selena
Dan disaat mereka hendak keluar dari gedung tersebut tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan kedatangan Amilia dan Chessy yang baru saja menapakkan kaki mereka di gedung yang menjulang tinggi itu
" Kalian?" Opa membulatkan matanya melihat kedatangan Amilia dan Chessy apalagi keduanya masih menggunakan seragam sekolah
" Opa!" Beo Amilia dan Chessy bersamaan ketika melihat Opa Bara dan Selena yang ternyata berada di perusahaan itu juga
" Untuk apa kalian datang kesini?" tanya Opa Bara kepada Amilia lalu beralih menatap tajam ke arah Chessy
" Maaf Opa aku datang ke sini karena kak Amar sendiri yang memintanya" jawab Amilia datar
" Kalau memang seperti itu, apa kau harus membawa gadis ini terus di samping mu kemanapun kau pergi?" cecar Opa Bara menatap tak suka pada Chessy
" Apa kamu tidak takut jika gadis ini malah memanfaatkan kebaikan mu dan bersikap mengelunjak!" ucapnya lagi
Amilia memutar bola matanya malas sedangkan Chessy hanya bisa menahan rasa sakit hatinya atas tuduhan Opa Bara kepadanya yang begitu tajam dan menusuk
" Benar apa yang dikatakan Opa kamu Amilia, jangan terlalu dekat dan bergaul dengan gadis rendahan yang tidak sederajat dengan mu!" ucap Selena membuat Chessy seketika menegakkan tubuhnya dan menatap tajam pada wanita dewasa yang berdiri dihadapannya itu
Bukan hanya Chessy, Amilia pun melakukan hal yang sama gadis itu bahkan sudah mengepalkan tangannya kuat dengan tatapan mata yang menghunus tajam
Raut wajah marah Amilia tiba-tiba berubah, ia tersenyum tipis dan menatap Selena dari ujung kepala sampai ujung kaki.
" Cantik!" puji Amilia tersenyum miring
Mendengar pujian Amilia sontak membuat Selena tersanjung dan berbangga hati
" Selain cantik kau juga pasti wanita yang berpendidikan tinggi bukan? wanita berkelas dan juga anak seorang pengusaha hebat?" tutur Amilia dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dada sambil terus memperhatikan penampilan seorang Selena
" Tentu saja!" sahut Selena sedikit salah tingkah karena ditatap begitu intens oleh Amilia
" Apa kau begitu menyukai kakakku Amar?" tanya Amilia tiba-tiba
Chessy membulatkan matanya mendengar pertanyaan Amilia
" Aku rasa tanpa aku menjawabnya pun kau pasti sudah tahu jawabannya" sahut Selena
dan Amilia mengangguk saja
__ADS_1
" Sebaiknya kau bujuk kakakmu karena hanya Selena wanita yang pantas menjadi pendamping hidupnya" ucap Opa Bara melirik sekilas kearah Chessy
Amilia kembali tersenyum " Membujuk kak Amar untuk menerima kak Selena sebagai calon isterinya maksud Opa?" tanya Amilia terang-terangan
"Ya, bujuklah kakakmu agar dia mau menikah dengan Selena karena hanya Selena wanita yang cocok menjadi menantu di keluarga Mehendra" sahut Opa Bara
Chessy yang mendengar ucapan Opa Bara berusaha untuk tidak menangis walaupun sebenarnya dadanya terasa begitu sesak
" Baiklah Opa nanti Mili bicarakan dengan kak Amar tapi tidak janji dengan hasilnya" sahut Amilia lalu menatap ke arah Selena dengan tersenyum dan dibalas senyuman oleh Selena
" Karena Mili tau kak Amar paling tidak suka dengan tipe wanita yang sombong dan suka membanggakan dirinya sendiri jadi walaupun wanita itu cantik dan memiliki pendidikan yang tinggi sekalipun tetap saja pasti akan sulit menaklukkan hatinya kak Amar" ucap Amilia lagi
Selena terhenyak mendengar ucapan Amilia, wanita itu mengepalkan tangannya merasa tersindir oleh ucapan gadis yang masih berseragam abu-abu di hadapannya
Dengan berat hati wanita itu berusaha untuk tetap tersenyum walaupun sebenarnya didalam hati terus mengumpatnya
" Kalau begitu cocok sekali bukan dengan Selena?" ucap Opa Bara dengan tersenyum bangga
" Selena adalah wanita cantik yang tidak pernah membanggakan dirinya sendiri bahkan meskipun dia seorang putri dari seorang pengusaha hebat dia masih mau bekerja sebagai bawahan jadi sangat cocok bukan dengan Amar kakakmu?" Tambahnya lagi
Amilia mengangkat kedua bahunya " Amilia tidak tahu Opa, hanya kak Amar yang bisa menilai mana yang terbaik untuknya" sahut Amilia tersenyum miring pada Selena
" Sudah ya Opa, takut kak Amar terlalu lama menunggu !" pamit Amilia
Opa Bara yang memang tidak menyukai Chessy berlalu begitu saja membuat Chessy terhenyak dengan perlakuan Opa Bara yang telah mengabaikan dirinya
Selena tersenyum sinis pada Chessy lalu berjalan menyusul Opa Bara seraya menyenggol bahu Chessy dengan kasar membuat gadis itu sedikit bergeser kebelakang akibat perlakuan Selena
" Loe enggak apa-apa Chess?" tanya Amilia khawatir
Chessy tersenyum, senyum yang sedikit dipaksakan " Gue enggak apa-apa " jawabnya
" Udah yuk kita ke ruangannya kak Amar !" Chessy melingkarkan tangannya di lengan Amilia
Keduanya berjalan menuju lift namun baru saja beberapa langkah ada suara yang menghentikan langkah mereka berdua
" Hei gadis kecil, kalian mau kemana?" tanya wanita yang merupakan seorang resepsionis
Amilia dan Chessy berbalik badan dan menatap resepsionis itu dengan memicingkan matanya
" Kau pegawai baru ya?" tanya Amilia menatap tajam wanita yang ada di depannya
" Maaf, kalian ini siapa? dan untuk apa datang ke perusahaan ini dengan memakai seragam sekolah? ini bukan mall yang bisa kalian kunjungi sesuka hati!" bukan menjawab pertanyaan Amilia wanita yang tertera nama Raisa di dadanya malah balik bertanya pada Amilia
__ADS_1
Amilia tersenyum kecil mendengar pertanyaan Raisa lalu menatapnya dari ujung kepala sampai ujung rambut
" Jangan coba-coba menghalangi jalan ku jika kamu tidak ingin di pecat!" ucap Amilia
Raisa bukannya takut tapi malah tersenyum mengejek " Memangnya kamu itu siapa sok mengancam segala, hah? isterinya CEO di perusahaan ini?" Sarkasnya tanpa takut
Amilia tersenyum lebar dan hendak menimpali ucapan Raisa namun dengan cepat Chessy mencegahnya, gadis itu tidak mau membuat keributan di perusahaan suaminya yang nantinya malah akan membuat malu Amar
" Amilia sudahlah!" ucap Chessy
Chessy lalu beralih pada Raisa " Maaf mba sebaiknya mba jaga sikap pada teman saya ini, dia memang bukan isteri CEO di perusahaan ini tapi dia ini adiknya pemilik perusahaan tempat mbaknya bekerja loh, jadi sebelum mbak Raisa_" Chessy memperhatikan nama yang tertera di dada wanita tersebut
" Di pecat alangkah baiknya mbak Raisa cari tahu dulu deh siapa teman saya ini!" lanjutnya lagi
Raisa yang memang sedikit angkuh pun tidak menggubris ucapan Chessy dia malah tersenyum mengejek " Kalian mau menipuku?" ketusnya
Amilia yang kembali tersulut emosi oleh ucapan Raisa pun dengan cepat dicegah kembali oleh Chessy
Chessy tersenyum tipis pada Raisa " Saya sudah memperingati mbaknya loh ya jadi jangan salahkan kami jika sampai mbak nya dipecat " ucap Chessy
" Udah enggak usah banyak omong sebaiknya kalian pergi aja dari sini, ganggu pekerjaan ku aja sih!" usirnya membuat Amilia tidak sabar lagi menahan emosinya
" Baik kami akan pergi sekarang"
"Chessy!" pekik Amilia yang tidak setuju dengan ucapan Chessy
Chessy meletakkan telunjuknya di bibir menyuruh Amilia diam dulu
" Tapi jangan nyesal ya kalau hari ini juga mbaknya mendapat surat pemecatan!" ucap Chessy seraya tersenyum
Amilia menoleh ke Chessy yang nampak lain dari biasanya, kali ini Chessy terlihat lebih berani dan lebih tenang
Sementara Raisa bukannya takut wanita itu malah tertawa
" Memangnya kamu siapa pakai mengancam segala?" ejeknya
"Tadi kamu bilang dia adiknya pak CEO" menunjuk ke arah Amilia " lalu kamu ini siapanya anak kecil, isterinya gitu? sok berani mengancam segala lagi" ketusnya lagi
Chessy tersenyum lalu menatap seseorang yang tengah melangkah ke arahnya
Sementara Raisa sendiri yang tidak menyadari kedatangan seseorang yang berada di balik punggungnya dengan berani masih menjelek-jelekan Amilia dan Chessy bahkan dengan sengaja Amilia malah memancing Raisa agar semakin berani terhadapnya
" Kenapa kalian masih disini dan tidak langsung ke ruangan ku ?"
__ADS_1
Suara yang tidak asing didengar membuat Raisa bergetar dan dengan perlahan ia menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya Raisa setelah melihat sosok yang kini berdiri di hadapannya