Tragedi Satu Malam

Tragedi Satu Malam
Menginap


__ADS_3

Hari-hari berlalu, hampir setiap hari Amar datang menemui Chessy tapi tidak untuk menginap


Amar datang selepas pulang bekerja pada sore hari dan akan kembali ke apartemennya ketika Chessy beranjak tidur


Meskipun tinggal di tempat yang berbeda Amar tetap memberikan perhatiannya kepada Chessy , seperti sore ini ia datang dengan membawa beberapa kantong besar ditangannya


Dan di dalam kantong-kantong tersebut berisi beberapa dus susu untuk ibu hamil dengan varian rasa yang berbeda, cemilan-cemilan sehat, buah-buahan segar dan ada juga baju untuk ibu hamil


" Loh kamu bawa apa itu Mar, banyak bangat bawaannya?" tanya bunda saat Amar baru saja masuk ke dalam rumah dengan kedua tangan yang penuh dengan barang belanjaan


" Oh ini beberapa keperluan sehari-hari untuk Chessy bun" jawab Amar seraya meletakkan barang bawaannya di atas meja


" Tapi kok banyak banget Mar" bunda mengamati barang-barang tersebut


" Ini mah belum seberapa bun, mungkin masih banyak lagi keperluan lainnya yang dibutuhkan Chessy" jawab Amar


" Memangnya itu apa aja isinya Mar?" tanya bunda sedikit kepo


Amar menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal seraya cengar-cengir


" Emm... itu bun, ada beberapa dus susu untuk ibu hamil, cemilan, buah-buahan dan juga_ " jawab Amar malu-malu


" Dan juga apa?" tanya bunda mengernyitkan keningnya


" Dan ada juga baju untuk ibu hamil bun, tapi enggak tau bun Chessy suka apa enggak, tadi pas lewat toko baju tiba-tiba ke ingat Chessy yang sedang hamil jadi tertarik aja untuk membelikan Chessy baju untuk ibu hamil tanpa pikir Chessy akan menyukainya atau tidak" akunya


" Yaudah enggak apa-apa, suami ingat isteri itu bagus, dan sekarang sebaiknya kamu bawa saja baju-bajunya ke kamar lalu berikan pada Chessy, kalau susu dan buah-buahannya biar bunda yang simpan di dapur" seru bunda


" Iya bun" Amar pun langsung beranjak pergi ke kamar Chessy yang terletak di lantai atas


Setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar Chessy dan tidak mendapat jawaban dari penghuninya, Amar pun langsung membuka pintu kamar tersebut


Ceklek


Amar tidak mendapati Chessy di dalam kamarnya namun saat ia semakin masuk ke dalam ternyata gadis itu sedang berdiri di balkon kamar tersebut


" Assalamualaikum!" ucap Amar setelah berada tepat di belakang Chessy


Sontak Chessy tersentak kaget saat mendengar suara bariton dari arah belakangnya


" Wa'alaikum salam!" jawab Chessy dengan pandangan yang tertunduk lalu meraih tangan pria yang kini berstatus suaminya itu untuk menyalaminya dengan takzim


" Bagaimana kondisi mu hari ini?" tanya Amar perhatian


" Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik kak" jawab Chessy dengan perasaan yang masih canggung bila berdekatan pria yang berstatus suaminya itu


" Ayo kita masuk, disini banyak angin tidak baik untuk kesehatan kamu!" ajak Amar


Chessy menurut dan mengekor Amar masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu balkonnya


" Ini!" Amar menyodorkan paper bag yang tadi dibawanya kepada Chessy


Chessy menatap paper bag dan Amar secara bergantian


" Ini Apa kak?" tanyanya seraya menelisik isi paper bag yang sudah berpindah ke tangannya


" Bukalah, kakak enggak tahu kamu suka atau tidak, kalau tidak suka simpan aja ya, pakai jika mungkin nanti dibutuhkan!" jawabnya


Chessy membuka paper bag yang ada di tangannya lalu mengambil isi dari dalamnya


" Ini ?" Chessy tercengang melihat isi dari paper bag tersebut


" Maaf kalau kamu tidak menyukainya" kata Amar yang melihat wajah bingung Chessy


" Sudahlah, simpan saja tidak usah di lihat lagi"


Amar mengambil kembali baju yang ada di tangan Chessy lalu memasukkannya kembali ke dalam paper bag tapi dengan gerakan cepat Chessy merebutnya kembali


" Bukannya ini untuk ku jadi kakak tidak berhak untuk mengambilnya kembali!" Chessy membawa paper bag tersebut lalu memasukkannya ke dalam lemari

__ADS_1


Amar mengulum senyumnya, menatap punggung Chessy yang tengah berdiri di depan pintu lemari


" Apa kakak sudah makan?" tanya Chessy setelah berbalik badan dan menatap Amar yang sedang memainkan gawai nya


Amar menoleh lalu meletakkan ponselnya ke atas nakas


" Belum" Jawab Amar jujur


" Kalau begitu ayok turun, bunda sama ayah pasti sudah menunggu di meja makan" ajak Chessy


Amar mengangguk lalu beranjak dari duduknya dan mengekor di belakang Chessy keluar dari kamar menuju meja makan


Dan benar saja setelah menuruni anak tangga dan menoleh ke meja makan yang letaknya tidak jauh dari tangga terlihat sudah ada bunda dan ayah Chandra duduk di meja makan menunggu kedatangan anak dan menantunya


" Ayo nak Amar silahkan duduk kita makan !" Ucap bunda mempersilahkan Amar duduk


" Iya bun!" jawab Amar lalu menarik kursi untuk Chessy setelah itu menarik satu kursi lagi untuk dirinya sendiri


Selesai makan malam Bunda dan ayah Chandra memilih pergi ke kamar sedangkan Chessy dan Amar duduk di ruang TV


" Apa dia rewel hari ini?" tanya Amar dengan mata yang tertuju ke arah perut Chessy


" Sedikit, kalau pas bangun tidur!" Jawabnya dan Amar mengangguk mengerti


Setiap pagi Chessy memang sering merasa mual lebih tepatnya pada saat baru bangun tidur


" Kak!" panggil Chessy


" Iya ada apa?" Amar menatap Chessy yang tengah menundukkan pandangannya


" Emmm .. besok aku izin ya masuk sekolah!" ucap Chessy


" Besok kamu sudah mau masuk sekolah?" Chessy mengangguk


" Apa sudah tidak ada keluhan?" Chessy menggeleng


" Ya sudah, besok kakak jemput dan kalau ada apa-apa atau butuh apa-apa bilang aja sama kakak!"


Amar menatap tidak suka dengan ucapan Chessy yang menolak untuk diantar ke sekolah


" Kakak antar, besok pagi-pagi kakak akan usahakan jemput kamu" tegasnya


" Lalu bagaimana dengan Amilia? apa kakak sudah memberitahu tentang pernikahan kita pada Amilia, kalau belum bagaimana jika dia melihat kakak mengantarku ke sekolah?" Tanya Chessy yang sudah beberapa hari ini dihantui oleh perasaan bersalah kepada sahabatnya itu


" Maaf, kakak belum sempat mengatakan pada Amilia" Jawab Amar jujur


"Kenapa kak? kenapa kakak tidak jujur saja pada Amilia? aku takut kak jika dia tahu hal ini dari orang lain bukankah hal itu justru akan semakin membuat Amilia semakin merasa kecewa nantinya dan dia pasti akan sangat marah kak!" Tutur Chessy


Amar bergeming, apa yang dikatakan Chessy memang benar tapi dia juga butuh waktu dan keberanian untuk menghadapi adik bar-barnya itu


" Begini saja, setelah kamu benar-benar sudah siap tinggal bersama kakak, nanti kakak akan mengatur waktu untuk berbicara dengan Amilia dan semoga anak itu bisa memahaminya" usul Amar


Kini gantian Chessy yang bergeming dan memikirkan kata-kata yang baru saja Amar ucapkan


Tinggal berdua dengan laki-laki asing yang belum lama dikenalnya, apakah ia sanggup apalagi ia belum mengenal bagaimana karakter asli laki-laki yang berstatus suaminya itu, Chessy jadi gamang sendiri


"Bagaimana?" tanya Amar melihat Chessy yang nampak termenung setelah mendengar ucapannya tentang tinggal bersama


" Maaf kak, tapi aku_!" Chessy bingung harus mengatakan apa


Amar tersenyum lalu mengacak-acak rambut Chessy dengan gemas


" Tidak usah di pikirkan, buatlah dirimu senyaman mungkin, kakak akan menunggu sampai kamu siap!" ucap Amar yang tahu akan kegelisahan Chessy


" Dan kalau kamu butuh sesuatu atau menginginkan sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakannya pada kakak, insyaallah jika kakak sanggup kakak usahakan untuk kamu dan juga calon anak kita" tutur Amar


" Iya kak!" jawab Chessy


Chessy merasa bersalah, selama ini Amar sudah membuktikan rasa tanggung jawabnya terhadap dirinya dan juga selalu berusaha untuk memahaminya tapi dirinya sendiri masih saja diam ditempat dan masih belum bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang istri

__ADS_1


"Sekarang kamu sudah menjadi tanggung jawab kakak jadi jangan bergantung lagi pada ayah dan bunda ya, tapi bergantung lah pada kakak, suami kamu ini" Ucapnya lagi mengingatkan


" Iya kak" Entah apa yang kini Chessy rasakan, sikap Amar lagi-lagi membuatnya tersentuh dan menghangat


" Maafkan aku ya kak jika aku terlalu egois" ucapnya lirih


Amar meraih tangan Chessy lalu di genggamnya" Tidak apa-apa kakak mengerti dan juga kakak mohon sama kamu apapun itu jangan dijadikan beban, kakak akan menunggu kesiapan kamu jadi jangan dipaksakan jika memang belum siap dan juga jangan merasa bersalah karena kakak ikhlas menjalaninya" Tutur Amar


" Buat hari-hari kamu bahagia, dan jalani kehamilan ini dengan nyaman jangan jadikan ini sebagai beban, kita jalani semua ini sama-sama jangan memendam apapun itu sendiri, jika ada masalah sekecil apapun itu katakan sama kakak kita selesaikan bersama" Amar mengelus perut Chessy yang masih rata


" Meskipun kehadirannya tidak kamu inginkan dan kamu belum siap menjalani kehamilan diusia remaja yang terenggut dengan paksa oleh kebodohan yang kakak lakukan, kakak berharap kamu perlahan mau belajar menerimanya dengan ikhlas, belajar menerima kehadiran kakak dan calon anak kita menjadi bagian dari hidup kamu, meskipun terpaksa tapi setidaknya kita tetap harus bersyukur karena belum tentu apa yang kita dapatkan saat ini bisa di dapatkan oleh orang lain yang bahkan mereka rela menunggu berpuluh-puluh tahun lamanya untuk memiliki seorang anak"


Chessy terenyuh mendengar semua kata-kata yang Amar ucapkan, anak yang berada di dalam kandungannya memang tidak tau apa-apa, ia tidak bersalah, kehadirannya atas kehendak yang maha kuasa, jika tuhan tidak mentakdirkan kehadirannya meskipun mereka melakukan berulang-ulang kali sekalipun belum tentu dia akan hamil tapi inilah takdir yang mungkin dengan cara itu mereka dipertemukan dan itupun terjadi bukan salah mereka sepenuhnya, karena ulah orang-orang yang sudah berbuat zholim kepada keduanya hingga terjadilah peristiwa yang membawa mereka pada ikatan sebuah pernikahan


Tanpa disadari tiba-tiba air mata Chessy menetes begitu saja


Amar yang melihat Chessy menitikkan air mata nampak sedikit panik


" Loh kok nangis dek, maafin kakak ya dek kalau kata-kata kakak udah menyinggung perasaan kamu" Amar menyeka air mata Chessy dengan ibu jarinya


" Tidak kak, justru aku yang merasa bersalah karena sebagai seorang isteri seharusnya aku bisa menerima ini semua dengan ikhlas, menerima kehadiran kakak sebagai suamiku dan juga kehadiran dia dalam rahimku" Chessy mengelus perutnya sendiri " Karena bagaimanapun, mungkin inilah takdir tuhan menyatukan kita dalam ikatan sebuah pernikahan" Chessy menundukkan wajahnya merasa tidak kuasa menatap manik mata suaminya yang mampu menggoda kaum hawa yang menatapnya


" Yaudah kalau gitu mari kita sama-sama belajar menerimanya dan jalani ini semua sebagai mana mestinya, tidak perlu terburu-buru pelan-pelan aja, kita beradaptasi dulu dengan kebiasaan masing-masing dan memahami karakter satu sama lain" imbuh Amar dan Chessy mengangguk pelan


" Dan tentang Amilia, kamu enggak usah khawatir nanti pelan-pelan kakak akan berbicara dengannya, kakak akan cari waktu yang tepat dulu, tapi nanti kamu harus siap ya jika saat kakak pulang menemui kamu wajah tampan suami mu ini berkurang kadar ketampanannya" selorohnya seraya tergelak


" Apa sih kak, aku yakin Amilia tidak akan sejahat itu pada kakaknya sendiri" ucap Chessy


Amar tertawa kecil " Iya, semoga saja ya!" ucapnya


" Iya tapi aku yakin itu, kakak aja yang berlebihan sebelum mencobanya!"


" Iya...iya .. nanti akan kakak coba, dan sekarang sudah waktunya kamu Istirahat, besok kakak jemput dan kakak pastikan Amilia tidak akan tahu kalau pun dia tahu mungkin itu memang sudah waktunya untuk dia tahu !" Seru Amar


Lalu berjongkok di hadapan Chessy


" Baik-baik ya sayang, jangan rewel dan jangan nyusahin mamah ya, kasihan mama besok sudah masuk sekolah, buat mama merasa nyaman ya sayang"


Blushh


Pipi Chessy seketika memerah, perlakukan Amar dan kata-katanya yang manis sungguh membuat gadis remaja yang akan segera menjadi calon ibu muda itu pun menjadi salah tingkah


Chessy tidak bisa menolak saat Amar menyentuh perutnya bahkan sampai memberinya kecupan lembut, ia sadar akan statusnya dan tidak bisa menolak


Malam semakin larut dan Amar pamit pulang. Chessy memberitahu kedua orang tua kalau Amar pamit mau pulang namun diluar ternyata hujan sudah menyapu cukup deras, Amar yang hendak beranjak pulang pun di cegah oleh ayah dan bunda


" Nak Amar sebaiknya malam ini menginap saja, diluar hujannya cukup deras" usul bunda yang diangguki oleh ayah Chandra


" Iya nak Amar, menginap saja malam ini hujannya cukup deras bahaya malam-malam bawa mobil di cuaca yang tidak baik seperti ini!" Ayah menimpali ucapan bunda


Amar menoleh ke arah Chessy yang terlihat terkejut dengan ucapan ayah dan bundanya yang menyuruhnya untuk menginap


Karena tidak ingin membuat Chessy merasa tidak nyaman dengan kehadirannya, pria itupun memilih untuk pulang saja


" Tidak apa-apa bun, aku pulang aja nanti bawa mobilnya pelan-pelan" ucap Amar


" Menginaplah!" Ucap Chessy tiba-tiba, membuat Amar terbelalak dan langsung menatap ke arah sang isteri


" Apa kamu yakin?" Chessy mengangguk pelan


" Jika kamu merasa tidak nyaman dengan keberadaan kakak , enggak apa-apa kakak pulang aja, kamu jangan memaksakan diri ya, karena kakak enggak mau kamu merasa tertekan nantinya" tutur Amar


Chessy menggeleng " Tidak apa-apa kak, ini sudah larut malam dan diluar pun hujan deras" ucap Chessy


" Tapi_!"


" Sudahlah nak Amar, sebaiknya kamu menginap saja. Chessy ajak suami kamu ke kamar!" ucap Ayah Chandra


" Iya ayah!" ucap Chessy lalu menoleh ke arah Amar

__ADS_1


" Ayo kak!" Ajak Chessy dan Amar pun pamit pada kedua mertuanya untuk beristirahat


Amar merasa bersyukur karena malam ini bisa bermalam di rumah Chessy diapun berharap Chessy bisa menerima kehadirannya dan kedepannya mau tinggal bersama dengannya


__ADS_2