Unforgettable Love five.Z

Unforgettable Love five.Z
Jalan berdua


__ADS_3

Zoya lalu mendongak menatap langit yang terlihat sangat cerah, banyak bintang-bintang yang bertebaran dilangit malam. Begitu indah nya pemandangan nya.


"Apa begitu indah nya langit malam ini?" tanya seseorang yang sudah duduk disamping nya.


"Sangat, terlihat sangat cantik pemandangan seperti ini. Di kota tidak ada yang seperti ini" jawab Zoya masih menatap langit dengan senyuman mengembang dibibir nya.


"Cantik" jawab seorang pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah Dharma.


"Hmm" gumam Zoya tidak mengalihkan pandangan nya.


"Apa anda sudah menghubungi keluarga anda?" tanya Dharma setelah melihat ponsel nya berada dilantai bersebelahan dengan ponsel milik Zoya.


"Sudah, baru saja selesai. Terimakasih ya, sudah mau meminjamkan ponsel nya pada saya" ucap Zoya sambil menoleh menatap Dharma yang sedang menatap nya juga.


"Sama-sama Nona Zoya" jawab Dharma menganguk dan tersenyum.


"Jangan memanggil ku Nona, panggil Zoya saja" ucap Zoya memberi tahu pada Dharma.


"Apa tidak masalah? Saya merasa tidak sopan pada anda jika hanya memanggil nama saja" ucap Dharma dengan pandangan menuju keatas.


"Kenapa tidak. Saya malah senang jika seperti itu, karena saya lebih menyukai seperti itu" jawab Zoya menatap keatas juga seperti Dharma.


Setelah cukup lama berbincang-bincang berdua mereka berdua masuk kedalam kamar nya masing-masing.


Zoya sudah terlelap dalam kamar yang lebih kecil dari kamar mandi yang ada didalam kamar nya. Tapi ternyata lebih nyaman dan tentram berada disini, Zoya seperti tidak memiliki masalah sedikit pun.


Hingga pagi menjelang dirumah sederhana ini sudah sangat ramai dipagi hari ini. Zoya yang sudah sangat rapih dengan pakaian yang berikan oleh Ibu Sri, memang pakain bekas. Tapi masih layak untuk dipakai.


Apa lagi yang memakai nya yang adalah Zoya, walau pakaian biasa tapi yang mengenakan nya adalah Zoya terlihat sangat bagus dan juga terlihat elegant.


"Wah neng, cantik banget. Maaf ya neng, neng memakai pakaian bekas seperti ini" ucap Ibu Sri melihat penampilan Zoya yang sangat cantik.


"Ibu ini, saya ini biasa saja. Malah saya senang sudah diberikan pakaian oleh Ibu, karena saya tidak membawa pakaian saat datang kemari" jawab Zoya dengan memeluk Ibu Sri yang sedang berdiri dihadapan Zoya.


"Tidak apa-apa neng, Ibu juga senang neng. Karena anak-anak perempuan Ibu sudah dibawa oleh para suami nya masing-masing. Jadi Ibu merasa masih ada anak perempuan Ibu ada dirumah" ucap Ibu Sri dengan penuh senyuman.

__ADS_1


"Mari neng, kita sarapan dulu. Jangan dengarkan Ibu yang banyak bicara ini" ucap Pak Kimin dengan bercanda.


Mereka lalu makan bersama dengan lesehan, karena dirumah mereka tidak ada meja makan. Bukan lantaran tidak mampu membeli, tapi mereka lebih suka makan seperti ini lebih dekat dan intim.


Mereka berempat menikmati sarapan nya dengan penuh suka cita. Setelah sarapan bersama Zoya diajak jalan-jalan menyusuri jalanan yang kemarin dia lewati bersama dengan Pak Kimin.


Zoya sekarang bersama dengan Dharma dan diikuti oleh beberapa warga yang memang masih penasaran akan kedatangan Zoya. Apa lagi Zoya malah sudah dekat dengan anak nya Pak Kimin yang memang sangat tampan dari pasangan pemuda desa lain nya.


"Ini mobil kamu?" tanya Dharma saat melihat kedua mobil yang sangat bagus dan juga sangat mengkilat.


"Iya, hadiah dari dari Daddy saat aku bisa mendapatkan SIM pertama ku" jawab Zoya.


"Hebat sekali, ini adalah mobil yang langka dan hanya beberapa saja yang dikeluarkan oleh pabrik nya. Kamu pasti bukan dari keluarga yang biasa-biasa" ucap Dharma dengan menatap Zoya.


"Seperti nya kamu mengerti tentang otomotif, dan juga mengetahui barang-barang branded. Apa kamu selalu memantau dunia bisnis?" tanya Zoya dengan santai dan membuka mobil nya untuk mengambil sesuatu didalam sana.


"Sedikit, aku hanya sedang belajar dalam dunia bisnis. Karena aku sangat menyukai nya" jawab Dharma dengan penuh senyuman mengembang dibibir nya.


"Apa kamu juga bisa mengendarai mobil juga?" tanya Zoya.


"Bisa, tapi mobil pickup. Hehehe" jawab Dharma dengan menertawakan ucapan nya sendiri.


"Kita jalan-jalan pake mobil yuk, tapi kamu yang nyetir. Aku ingin melihat-lihat kampung ini" ucap Zoya lagi yang sekarang lebih terlihat sangat bahagia dan lebih terbuka pada orang lain selain keluarga nya sendiri.


Selama ini Zoya lebih tertutup akan diri nya sendiri dan juga selama ini tidak pernah menjadi dirinya sendiri. Dia lebih memilih menjadi Zoya yang sempurna dan lebih mengayomi adik-adiknya karena dia yang paling besar.


"Baiklah jika kamu memaksa. Tapi bukankah mobilnya tidak ada bensin nya ya?" tanya Dharma yang sudah masuk kedalam mobil dan duduk dibalik kemudi.


"Kemarin iya, sekarang sudah nggak" jawab Zoya yang sudah duduk dengan santainya dan dia langsung membuka atap mobilnya supaya bisa menikmati segarnya udara pedesaan yang masih asri.


"Wah, ini sih oke lah. Ayo kita jalan-jalan" jawab Dharma dengan penuh senyuman menanggapi ucapan Zoya.


"Let's go" teriak Zoya dengan sangat gembira.


"Kamu seneng banget diajak muter-muter kampung kayak gini aja" ucap Dharma sambil nyetir mobil dengan sangat pelan.

__ADS_1


"Pasti, kenapa aku harus tidak senang? Ini adalah pemandangan dan udara yang masih sangat sejuk dan juga segar" jawab Zoya langsung berdiri dan merentangkan kedua tangan nya.


"Kan biasa nya wanita-wanita akan senang jika diajak ngemall, atau nonton boiskop atau makan direstaurant atau lain sebagai nya. Ini malah seneng diajak jalan dikampung, dan liat sawah sama kerbau" ucap Dharma yang melihat sikap Zoya sekarang.


"Aku sudah sering mengalami yang kamu sebutkan tadi, tapi jika seperti ini ya baru sekarang mengalami nya" jawab Zoya masih dengan senyuman dibibir nya.


"Kamu jago juga bawa mobil nya" ucap Zoya lagi sambil tersenyum dan berdiri menikmati udara nya.


"Lumayan lah, kan memang jalan nya sepi. Jika ramai mungkin tidak akan bisa" jawab Dharma masih fokus mengemudi.


Mereka berdua benar-benar hanya berjalan-jalan saja, lalu berhenti dikedai bakso yang lumayan sepi dari pembeli. Berbeda dengan penjual bakso sebelah nya yang sangat ramai.


Dharma mengajak Zoya untuk masuk dikedai yang sepi tersebut, lalu memesan berbagai jenis bakso tanpa mi.


"Kenapa memilih yang disini dibandingkan dengan yang sebelah. Itu lebih ramai dan mungkin juga lebih enak" ucap Zoya yang melihat banyak pengunjung kedai bakso yang berada disebelah nya.


"Karena disini langganan aku. Aku sejak kecil selalu diajak Bapak untuk makan disini, maka nya aku lebih suka disini" jawaban simpel dari Dharma.


"Oh" jawab Zoya dengan membulatkan mulut nya.


"Oh doang? Tidak ada komentar lain nya?" tanya Dharma langsung menatap Zoya.


"Emm, apa ya. Aku kan memang tidak tahu, aku baru kali ini makan ditempat yang seperti ini sebelum nya. Jadi wajar saja kan jika aku tidak tahu" jawab Zoya dengan wajah polos nya.


"Jadi, ini baru pertama kali kamu makan ditempat yang seperti ini? Kamu serius?" tanya Dharma tidak yakin dengan jawaban Zoya.


"Iya, aku serius. Mungkin hanya kamu yang berani mengajak ku datang ketempat seperti ini dan makan disini juga" jawab Zoya menatap wajah Dharma yang sedang menatap nya juga.


"Jadi... Maaf ya, aku tidak bisa mengajak kamu makan direstaurant atau cafe. Aku tidak punya uang sebanyak itu, tapi jika aku sudah mempunyai uang lebih Insya Allah aku akan mengajak kamu makan dicafe dulu ya? Jika direstaurant rasanya tidak akan bisa" ucap Dharma sambil tersenyum kecut dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Jadi kamu sudah punya rencana buat ngajak aku ngedate gitu?" tanya Zoya dengan tatapan menggoda Dharma.


"Ng...Nggak gitu. Maksud aku... " ucap Dharma dengan gugup dan juga gemetaran. Karena dia sudah salah ngomong pada Zoya.


"Santai aja kali Dharma nggak usah gugup gitu. Aku hanya bercanda. Lanjutkan makan nya, ternyata ini benar-benar sangat enak. Tidak kalah dengan restaurant bintang 5" ucap Zoya mengalihkan pembicaraan mereka yang mungkin menjurus pada perasaan.

__ADS_1


Mereka berdua sangat menikmati makanan yang mereka pesan. Berbagai jenis bakso, dari bakso urat, bakso telur, bakso lava, bakso ceker mereka berdua pesan semuanya.


Hingga mereka berdua kekenyangan menghabiskan suapan terakhir mereka berdua.


__ADS_2