Unforgettable Love five.Z

Unforgettable Love five.Z
Alvin Harrison


__ADS_3

Sedangkan ditempat lain ada Zia yang sedang bertemu dengan seorang pria muda yang terlihat biasa saja dan juga sepertinya dari kalangan bawah menurut Zia.


"Hai, maaf ya. Aku telat" ucap Zia saat sudah duduk dihadapan pria tinggi tegap dan juga sangat berkarisma.


"Tidak masalah. Perkenalkan nama saya Alvin" ucap pria yang mengaku dirinya sebagai Alvin.


"Saya Zia" jawab Zia dengan senyuman dibibirnya.


"Silahkan pesan makanan nya. Karena saya sudah memesan nya lebih dulu" ucap pria yang bernama Alvin itu.


"Dasar tidak sopan. Seenak jidatnya saja menyuruhku memesan makanan sendiri. Tahu gini aku nggak mau datang kemari" gumam Zia yang hanya diam sendiri yang mendengarnya.


"Anda mengucapkan sesuatu Nona?" tanya Alvin pada Zia dengan tatapan datarnya.


"Ah, tidak-tidak. Saya tidak mengucapkan apapun" ucap Zia tersenyum tipis dan terkesan dipaksakan.


"Silahkan Tuan, Nona" ucap seorang pelayan memberikan pesanan mereka berdua.


"Terimakasih" ucap Zia dengan senyuman tak kalah ramah dengan pelayan tersebut.


"Apa yang anda harapkan dengan pertemuan ini Nona?" tanya Alvin dengan datar nya dan juga tanpa ekspresi.


'Ya Tuhan... Kenapa aku selalu dikelilingi oleh pria datar dan juga kaku? Aku juga menginginkan pria yang humble dan juga baik. Bukan seperti ini' gerutu Zia didalam hatinya.


"Memangnya kenapa anda bertanya seperti itu pada saya? Saya sih ini hanya pertemuan biasa saja, dan tidak berkesan sedikit pun. Apa anda keberatan dengan jawaban saya?" ucap Zia yang memang seperti itu dirinya.


Zia tidak mau jika dia pura-pura untuk bisa dekat dengan seorang pria. Jika pria itu suka ya syukur jika tidak ya tidak masalah bukan? Karena inilah Zia yang selalu apa adanya Da tidak pernah dibuat-buat.


"Kenapa anda terkesan lebih cuek dan tidak berharap hubungan yang lebih. Apa itu benar?" tanya Alvin lagi dengan senyuman sinis nya.


"Jika iya kenapa, jika tidak kenapa? Saya paling tidak suka dengan orang terlalu banyak basa-basi dan banyak bicara. Jika memang saya tidak suka ya saya bilang. Kenapa musti dibikin susah sendiri, selagi ada yang mudah" jawaban telak dari Zia dan dia langsung berdiri untuk pergi.


Karena menurut Zia ini pertemuan yang tidak bagus dan juga sangat tidak etis.


"Terimakasih Tuan Alvin atas jamuan makan nya dan, ini adalah pertemuan pertama dan terakhir untuk saya dan anda. Tidak ada kata K I T A" ucap Zia dengan mengeja kata kita nya.


Zia melenggang pergi dari restaurant mewah yang ternyata sudah direferensi sebelumnya oleh Alvin. Zia tidak perduli, mau itu apa terserah. Yang penting dia bisa keluar cepat dari pria sok kecakepan.

__ADS_1


"Menarik. Baru kali ini ada wanita yang berbicara ketus padaku. Biasanya banyak yang suka pura-pura jaim dan juga banyak kebohongan nya. Dia berbeda, aku harus tahu siapa dia sebenarnya" gumam Alvin yang sudah mengagumi Zia sejak awal bertemu.


Sedangkan Zia sudah datang kekampus untuk belajar kembali. Dia bertemu dengan Zayd yang sedang berjalan dengan tumpukan buku yang barusaja dia ambil dari perpustakaan.


"Kucel amat tuh muka. Kayak cucian belum disetrika?" tanya Zayd yang sedang berjalan mendekati nya.


"Kakak lagi sesel Zayd, masa tadi kakak ketemu sama cowok yang modelan seperti Zayn" gerutu Zia yang langsung mendudukan dirinya ditaman kampus.


"Cakep donk kalo mirip abang Z? Genius lagi, apa memakai kacamata juga?" tanya Zayd dengan sangat antusias dan sebenarnya ingin mengejek sang kakak.


"Dia mamang tidak memakai kacamata. Tapi wajah dan sikapnya itu... Udah seperti plat, datar dan menumbalkan" ucap Zia menggebu-gebu.


"Hati-hati kak, nanti bisa-bisa dari benci jadi cinta lagi" goda Zayd yang langsung tergelak keras menertawakan ucapan kakak nya itu.


"Idih... Amit-amit deh, cinta? Sama dia? Dih, ogah!" ucap Zia dengan bergidik ngeri sendiri.


"Hati-hati saja kak. Takutnya memang malaikat sedang mengabulkan nya" ucap Zayd yang masih saja tertawa, malah terpingkal-pingkal tertawanya.


"Jika kamu masih menertawakan kakak, kakak nggak akan segan-segan buat menghajar kamu yang Zayd!" ucap Zia yang sudah menunjuk wajah Zayd dengan telunjuk nya dan matanya sudah sangat merah.


"Sorry kak, jangan dong. Nanti wajah tampan ku kenjadi jelek gimana, kakak mau tanggung jawab memangnya?" ucap Zayd yang langsung meminta maaf pada sang kakak.


"Ngomog-ngomong, kenapa kamu bawa buku sebanyak ini?" tanya Zia yang melihat tumpukan buku-buku.


"Ini, aku ada tugas kak. Dan aku harus mengerjakan semuanya ini sampai besok pagi" ucap Zayd dengan menunduk lesu.


"Kenapa bisa sebanyak itu?" tanya Zia lagi.


"Ya, bagaimana tidak banyak. Jika ini juga materi buat kakak juga, ini nggk semuanya punya ku" jawab Zayd dengan senyuman dibibirnya dan juga menaik turunkan alisnya.


"Kau ini, tidak bisakah membuat kakak mu ini senang barang sebentar saja?" tanya Zia yang tidak habis fikir, karena dia juga mendapatkannya.


"Semangat kak, kita akan belajar bersama dengan kompak. Hahaha" ucap Zayd yang langsung berlari menghindari amukan dari kakak nya.


"Ish, menyebalkan sekali sih" gerutu Zia yang mengikuti adiknya menuju kelasnya.


Ternyata pria yang tadi penasaran dengan Zia mengikutinya hingga kekampusnya. Dan disaat yang sama Jack menghampiri dan memberinya peringatkan.

__ADS_1


"Untuk apa anda menatapi Nona saya?" tanya Jack dengan tatapan datarnya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia langsung pergi dari kampus Zia. Dia tidak mau berurusan dangan orang yang tidak penting.


"Siapa sebenarnya dia? Kenapa dia memiliki seorang bodyguard. Aku harus mencaritahu nya" gumam Alvin yang sudah berada didalam mobilnya.


"Bim, kamu cari tahu siapa sebenarnya wanita ini. Saya mau secara detail" ucap Alvin pada orang kepercayaan nya.


Sedangkan Jack memberi laporan pada Tuan Muda nya. Jika ada seseorang yang mencurigakan sedang mengawasi Nona Zia. Dia harus selalu waspada akan hal ini, bisa jadi kejadian waktu itu terulang kembali.


Jack tidak pernah jauh-jauh dari Tuan dan Nona nya, dia tidak mau sampai terkecoh dan bisa dikelabui. Sedangkan Zayn sedang menutup informasi apapun tentang Zia dan yang lainnya.


Sedangkan Zia sendiri sedang mendengarkan penjelasan materi dari dosen nya. Dia terlihat sangat fokus dan juga sangat cantik, tidak sedikit dari para pria muda yang mengagumi Zia.


Begitu juga dengan Zayd, dia begitu banyak dikagumi dan juga digandrungi oleh para wanita yang terang-terangan memberikan perhatian bahkan sampai memberikan makanan dan yang lainnya.


Tapi diantara Zia maupun Zayd mereka berdua tidak pernah mau mengambil kesempatan untuk memanfaatkan mereka-mereka yang mengagumi nya. Mereka hanya bisa berteman saja, dan tidak lebih.


Apa lagi sikap ketus dan cuek Zia semakin menjadi nilai plus untuknya. Sedangkan Zayd yang paling humble dan juga gampang bergaul lebih banyak teman.


Apa lagi dia juga sangat menyukai olahraga basket, semakin menambah kepopuleran nya. Sudah tampan, baik, tinggi dan juga gagah. Siapa yang tidak akan klepek-klepek.


"Kak, setelah ini jalan yuk. Bosen nih harus ngadepin buku terus" ucap Zayd mengajak sang kakak.


"Kamu mau ngajak kemana? Kita sudah lama nggak lihat cafe kita, kamu gimana sih" ucap Zia yang memang rencananya ingin melihat kondisi cafe nya sekarang. Karena sudah lama mereka berdua tidak kesana, apa lagi jadwal mereka dikampus sangat padat. Makanya cafe mereka percayakan pada orang yang tepat.


"Oke deh kita kesana. Itung-itung cuci mata lihat yang bening-bening" ucap Zayd yang memang paling suka jika lihat wanita-wanita cantik.


"Dasar, nggak bosen apa dikrubungi wanita terus? Kakak sih bosen" tanya Zia pada Zayd.


"Kenapa musti bosen kak? Jika memang kitanya mempesona, Hahaha" ucap Zayd menertawakan ucapan nya sendiri.


Zia hanya menggelengkan kepala nya melihat tingkah adik bungsu nya itu. Tapi memang ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Zayd. Jika mereka berdua harus bersyukur karena diberikan wajah yang cantik dan juga tampan.


Mau bertingkah seperti apa pun tetap saja ketutup sama ketampanan dan juga kecantikan mereka berdua.


"Iya juga sih. Tapi disana kita sambil ngerjain tugas juga, supaya kita kerja sambil belajar gitu. Ya sambil menyelam kelelep hahah" sekarang giliran Zia yang tertawa.

__ADS_1


Mereka berdua menertawakan ucapan mereka sendiri, yang mana mereka selalu dikagumi oleh semua orang. Semua orang seperti terhipnotis oleh pesona seorang Zia Pratama Edison dan Zayd Pratama Edison.


Mereka berdua berjalan menuju parkiran kampus. Karena sudah tidak ada kelas lagi mereka berdua langsung memasuki mobilnya dan Zayd yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju cafe Z&Z milik mereka berdua yang dibangun dali nol.


__ADS_2