Unforgettable Love five.Z

Unforgettable Love five.Z
Kekecewaan Joyce


__ADS_3

Sedangkan ditempat lain Zico sedang mengurus pekerjaan nya. Tiba-tiba Joyce datang ingin mengajaknya pergi, sebenarnya Zico tidak ingin menerima ajakan dari Joyce. Tapi dia kasihan saat melihat wajah murung Joyce.


"Abang sibuk banget ya? Maaf Joyce jadi mengganggu pekerjaannya abang" ucap Joyce yang memperlihatkan wajah sedihnya.


"Iya, abang memang sedang sibuk banget hari ini. Ada apa?" tanya Zico pada Joyce yang sedang menunduk sedih.


"Tadinya aku mau ngajak abang untuk fitting baju pengantin. Tapi tidak apa-apa jika abang sedang sibuk" ucap Joyce yang menghela nafasnya kasar.


"Oke, nanti dulu. Abang selesaikan dulu pekerjaan abang, setelah selesai kita akan pergi" ucap Zico yang menenangkan Joyce.


"Baiklah. Mau aku bantu? Supaya cepat selesai" tawar Joyce yang langsung duduk dihadapan Zico yang sedang membaca berkas.


"Apa kamu tidak ada pemotretan hari ini?" tanya Zico yang belum tahu jika Joyce mengambil cuti untuk tidak bekerja dulu dalam beberapa bulan kedepan.


"Aku sudah mengambil cuti bang. Karena jika aku masih melakukan pemotretan, aku akan sulit untuk mengatur jadwal untuk pernikahan kita" jawab Joyce dengan senyuman dibibirnya.


"Oh, baiklah" ucap Zico yang hanya mengucapkan itu saja.


Joyce hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Zico yamg terkesan tidak terlalu menanggapinya. Dia hanya tersenyum getir saat melihat sikap Zico yang acuh tak acuh.


'Apa begitu sulitkah abang bisa mencintai aku? Sehingga abang tidak terlalu antusias menyambut pernikahan kita ini. Apa hati kamu masih untuk Ara mu itu bang? Sehingga aku yang ada disini tidak kamu hiraukan sama sekali' ucap Joyce dalam hati menangis perih.


Joyce hanya mengerjakan apa yang dia bisa saja. Selebihnya Zico yang mengerjakan semuanya, walau hatinya sakit diperlakukan dingin oleh Zico. Tapi dia sudah terlanjur melakukan itu dengan nya dan ini akan membuat dirinya malu juga keluarganya.


Tapi bukankah ini keinginan nya? Walau hanya bisa memiliki raganya saja. Dia bilang yang penting asal bisa bersama dengan Zico perasaan akan tumbuh seiring berjalan nya waktu.


"Apa abang masih lama bang? Ini hampir sore, nanti butik tempat fitting nya keburu tutup" tanya Joyce sambil melihat jam tangan nya.


"Sebentar lagi, ini akan segera selesai" jawab Zico tanpa mengalihkan pandangan nya dari layar monitor didepan nya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan tunggu disana saja. Ini alamatnya, abang jangan terlambat. Karena waktunya satu minggu lagu" ucap Joyce yang memberikan kartu nama butik tempatnya memesan gaun.


"Iya, letakan saja disana" ucap Zico yang menunjuk mejanya sendiri.


Joyce hanya diam saja dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dari ruangan kerja Zico. Dia sambil meneteskan air matanya. Rasanya hati dan perasaan nya sangat sedih dan juga seperti dicabik-cabik dan juga diremas tangan tak kasat mata.


"Kenapa bisa sesakit ini" gumamnya sambil mengusap air matanya yang mengalir dipipinya.


"Dia seperti tidak pernah menganggap ku ada. Dia hanya bisa melihat tapi, tidak pernahkah sedikit saja ada perasaan walau hanya setitik saja?" gumamnya sambil menangis didalam lift yang akan menuju kelantai dasar.


Saat sudah keluar dari lift, Joyce Joyce langsung pergi menuju parkiran. Dimana mobilnya diperkirkan disana, semua kariawan yang sudah mengenal Joyce dan siapa Joyce sebenarnya membungkukan kepalanya kepada Joyce.


Joyce hanya diam saja dan juga berlalu pergi dari hadapan semua orang yang masih menatapnya dengan heran. Karena Joyce saat ini menggunakan kacamata hitamnya untuk menutupi matanya yang sembab karena menangis.


Sedangkan didalam ruangan Zico masih saja fokus pada pekerjaan nya hingga dia melupakan janjinya untuk menemani Joyce fitting baju pengantin. Dan sekarang hari sudah mulai gelap dan juga waktu menunjukan pukul 7 malam.


Dia akan bersiap pergi tapi tidak sengaja melihat kartu nama yang Joyce tinggalkan tadi sore.


Lalu Zico segera pergi menuju mobilnya dan juga segera melajukan mobilnya menuju alamat butik tersebut. Tapi ternyata sudah sepi dan juga sudah tutup juga. Zico mengambil ponselnya untuk menghubungi Joyce, tapi ponselnya ternyata sudah mati karena kehabisan daya.


"Dia pasti sedang menangis sekarang" gumam Zico saat mengingat Joyce sekarang.


Zico melajukan mobilnya menuju rumah Joyce. Sedangkan Joyce sedang duduk ditaman sendirian. Dia masih saja mencoba menghubungi Zico, tapi tetap tidak bisa. Hanya suara operator saja yang menjawab.


"Abang kemana sih bang? Apa abang tidak menganggap pernikahan ini penting untuk kamu? Jika tidak, kenapa kamu ingin menikahiku jika kamu sendiri belum siap" gumam Joyce yang menangis sendiri ditaman yang tidak jauh dari rumah nya.


"Apa sebegitu tidak penting nya aku dimata kamu bang? Jika tahu akan seperti ini, aku tidak akan mau menikah dengan kamu. Hiks... Hiks... " ucap Joyce sambil menangis ditaman.


Ternyata dibelakngnya sudah ada Zico yang mendengarkan semua perkataan Joyce yang disertai dengan isak tangis yang begitu memilukan siapa saja yang mendengar.

__ADS_1


"Apa aku sejahat itu padanya? sehingga dia terlihat sangat menyerah dengan semua yang sudah aku lakukan padanya" gumam Zico yang tidak berani untuk mendekati Joyce.


Karena Joyce sedang menangis dan mungkin sedang menginginkan waktunya untuk sendiri. Zico masih menunggu Danu menatapnya dari jarak yang lumayan jauh dari Joyce.


Setelah Joyce mulai tenang Zico menghampirinya dan langsung memeluk Joyce dan Juga diam meminta maaf telah melupakan janjinya yang akan berusaha untuk bisa membuat Joyce bahagia.


"Maafkan abang, sungguh abang lupa telah membuat janji pada kamu. Maafkan abang Joyce" ucap Zico yang sedang memeluk Joyce yang sedangenais terisak didalam pelukan nya.


"Apa abang tidak tahu? Ini adalah hal yang sangat penting dan juga sangat diimpi-impikan oleh semua wanita. Jika saat fitting baju kedua mempelai akan hadir bersama-sama dan mencoba pakaian nya bersama juga. Kenapa abang bisa melupakan hal sepenting itu bang, kenapa?" tanya Joyce yang sedang menangis sesegukan didalam pelukan Zico.


"Maafkan abang Joyce, maafkan abang yang memang sangat bodoh ini" ucap Zico yang semakin mempererat pelukan nya pada Joyce.


"Aku tidak butuh maaf dari abang. Aku hanya butuh abang jangan pernah berbuat seperti ini lagi pada aku. Karena aku tidak bisa jika abang seperti ini. jika memang abang tidak menginginkan pernikahan ini, sebaiknya abang jangan menjanjikan sesuatu sebelum abang yakin dengan keputusan abang sendiri" ucap Joyce dengan panjang lebar dan juga air mata yang sudah berderai begitu derasnya.


"Iya Joyce, sungguh abang benar-benar lupa akan hal ini. Abang benar-benar minta maaf, abang tidak akan pernah mengulanginya lagi. Abang janji itu" ucap Zico yang mencoba menenangkan Joyce yang sedang menangis sesegukan didalam pelukan nya saat ini.


"Jangan berjanji bang. Jika abang tidak bisa memedatinya, lebih baik abang introfeksi diri abang saja dulu sebelum berjanji pada ku" ucap Joyce yang langsung mengurai pelukan nya dengan Zico.


"Joyce tunggu dulu. Abang minta maaf" ucap Zico sambil mengejar Joyce yang sudah pergi memasuki mobilnya dan langsung pergi dari taman tersebut dengan perasaan yang sangat tidak karuan.


"Maafkan abang Joyce. Abang memang salah, tapi berikan abang kesempatan" ucap Zico yang masih menatap mobil Joyce yang sudah pergi jauh darinya.


Joyce masih menangis didalam mobil dan dia segera memarkirkan mobilnya sejenak dibahu jalan. Dia ingin menumpahkan semua kesedihan dan juga kemarahan nya. Entah siapa yang harus Joyce salahkan disini. Karena dia sendiri saja bersalah telah merebut Zico dari Ara.


"Apa ini adalah karma yang aku dapatkan karena telah merebut yang bukan milikku? Kenapa harus seperti ini Tuhan? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucap Joyce yang sedang didalam mobilnya sambil menangis dan juga mengacak-ngacak rambutnya frustasi.


Penampilan Joyce sekarang sudah seperti orang yang sudah tidak waras lagi, bahkan jika ada yang melihatnya sekarang sudah dipastikan tidak akan bisa mengenalinya sebagai Joyce sang model terkenal dinegara ini.


Sedangkan Zico masih berdiri mematung ditempat yang sama seperti semula. Dia tidak tahu harus berbuat apa kepada Joyce dan juga keluarganya yang sudah mempercayainya.

__ADS_1


"Apa aku ini benar-benar sudah mengambil keputusan yang benar dengan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan padanya? Kenapa disaat-saat seperti ini perasaan ku semakin tidak menentu?" ucapnya sambil mengacak-ngacak rambutnya hingga berantakan.


Ternyata baik Zico maupun Joyce. Mereka berdua sama dalam melakukan apapun, contohnya sekarang penampilan mereka berdua tidak jauh berbeda. Dengan penampilan yang seperti orang yang sudah tidak waras lagi.


__ADS_2