Unforgettable Love five.Z

Unforgettable Love five.Z
Bicara berdua dengan Zayd


__ADS_3

Zoya dan Zayd saling diam dan juga larut dalam fikiran nya masing-masing hingga keduanya saling tatap dan menghembuskan nafasnya sedikit kasar.


"Kak, apa kakak akan mengatakan ini pada saudara kita yang lain atau hanya kita berdua saja yang tahu? Soalnya aku paling tidak bisa memendam semuanya sendirian saja dan lagi jika abang Z sudah bangun dan mengetahui ini dari orang lain maka akan murka besar" ucap Zayd yang memang sangat tahu sifat dan juga karakter dari abang kembarnya.


"Kakak juga tahu Zayd, tapi kakak tidak mungkin melakukan itu sekarang Zayd. Karena kakak juga sedang memikirkan bagaimana caranya dan itu semua tidak semudah yang dibayangkan Zayd. Dan itu semua butuh waktu" ucap Zoya dengan tatapan yang terkesan kosong.


"Aku juga tahu kak, tapi setidaknya beban didalam fikiran kakak sedikit berkurang setelah bercerita pada orang lain dan itu akan membuat kakak lebih tenang" ucap Zayd yang memberitahukan pada Zoya.


"Makanya kakak cerita sama kamu supaya bisa meringankan beban fikiran kakak. Kamu malah bikin kakak tambah pusing" jawab Zoya dengan tatapan yang meledek Zayd.


"Yee, malah ngeledekin aku lagi. Kak, kakak ini gimana sih, aku kan ngasih saran supaya saudara kita tahu. Mungkin saja bisa membantu kita juga, siapa yang tahu bukan?" ucap Zayd yang malah membuat Zoya semakin pusing dengan semua ucapan-ucapan nya itu.


"Zayd kakak tahu kamu berniat baik pada kakak supaya kakak bisa lebih tenang dan tidak pusing menghadapi pria itu sendiri. Tapi yang jadi masalah utamanya, jika semakin banyak yang tahu, maka akan tidak baik juga kedepan nya. Kakak tidak mau jika saudara-saudara kakak kenapa-kenapa, termasuk kamu. Kakak yakin pada diri kakak sendiri jika kakak bisa dan kakak mampu menghadapi semuanya sendiri. Walau belum tahu kedepan nya seperti apa, yang jelas kakak akan berusaha semampu dan sebisa kakak. Jadi kakak mohon sama kamu, jangan mengatakan apapun pada yang lain. Berjanjilah pada kakak" ucap Zoya dengan panjang lebar menjelaskan semuanya pada Zayd.


"Iya deh aku janji sama kakak, jika aku nggak akan ngasih tahu siapa-siapa. Tapi diluar jika aku keceplosan, hehehe" ucap Zayd yang malah membuat Zoya semakin kesal.


PLAK...


"Itu sama saja dodol, kamu bakalan bicara sama orang lain Zayd" ucap Zoya yang memukul lengan Zayd lumayan keras dan malah membuat keduanya tertawa bersama.


'Dad, walau aku adalah putra bungsu Daddy dan yang paling kecil diantara saudara ku yang lain. Tapi aku akan berusaha untuk bisa membuat mereka bahagia dan tidak dalam masalah besar sebisa dan semampu aku Dad, Daddy do'akan aku supaya bisa melakukan itu semua' gumam Zayd dalam hati dan tersenyum menatap wajah Zoya yang sedang tertawa lepas llu keduanya berjalan keluar dari pemakaman umum tersebut.


"Kakak mau pulang sendiri atau bareng aku? Jika bareng aku janji bakalan kenalin Ele aku ke kakak" tanya Zayd yang mengedipkan sebelah matanya pada Zoya.


"Kamu duluan saja Zayd, kakak bisa pulang sendiri. Good luck brother's" ucap Zoya yang melambaikan tangan nya saat Zayd sudah masuk kedalam mobilnya.


Zoya tidak langsung masuk kedalam mobilnya, dia malah masih berdiri saja dan tidak bergerak sama sekali. Zoya tidak tahu harus berbuat apa nantinya, yang jelas dia ingin semuanya baik-baik saja dan tidak ada masalah besar yang akan terjadi nanti dalam hidupnya.


"Kita akan kemana sekarang Nona?" tanya Pak Kariman yang melihat Zoya sudah memasuki mobilnya dan sudah duduk dengan sangat tegang dan seperti tidak ada masalah apapun.


"Kita langsung pulang saja Pak, saya mau segera istirahat" ucap Zoya pada Pak Kariman.


Setelah mengatakan itu Zoya langsung memejamkan matanya, dia tidak ingin mengatakan apa-apa lagi dan rasanya seluruh tubuh dan juga fikiran nya sangat lelah dan tidak bisa melakukan apapun.


"Nona, kita sudah sampai" ucap Pak Kariman yang memberitahukan jika sudah sampai dan itu sudah lebih dari lima menit.


"Terimakasih Pak. Maaf ya Pak saya jadi merepotkan Bapak" ucap Zoya yang akan keluar dari mobil.


"Sama-sama Nona, ini sudah tugas dan juga kewajiban saya sebagai supir pribadi anda" jawab Pak Kariman.


Zoya hanya mengangguk dan pergi. Dia berjalan dengan gontai memasuki mainson dan dia disana melihat ada Dharma yang mungkin sudah menunggunya bersama dengan Zico dan Joyce berada diruang tamu.


"Kak, kakak dari mana saja? Sejak tadi Dharma menunggu kakak" tanya Zico yang langsung beranjak dari duduknya untuk pergi kedalam dengan menggandeng tangan Joyce untuk ikut dengan nya.

__ADS_1


"Maaf aku sayang kesini karena aku khawatir, sejak tadi ponselmu tidak bisa dihubungi. Makanya aku datang kemari dan memastikan jika kamu baik-baik saja" ucap Dharma menghampiri Zoya yang masih berdiri menatapnya.


"Aku tadi mampir kemakam Dad Surya dulu" jawab Zoya dengan tatapan datarnya dan seakan tidak ingin jika Dharma tahu masalahnya.


"Ya sudah jika kamu kesana dan juga baik-baik saja. Aku hanya ingin memastikan keadaan kamu saja, kamu pasti lelah. Lebih baik segera istirahat saja" ucap Dharma yang tidak ingin memaksa untuk tahu apa yang terjadi dengan Zoya.


"Hmm" jawab Zoya dengan deheman saja lalu dia pergi dari ruangan tamu meninggalkan Dharma yang masih berdiri menatapnya yang mulai menjauh dan sudah menaiki anak tangga.


"Apa yang kamu sembunyikan dari ku Zoya? Apa kamu sangat tidak mempercayaiku, sehingga kamu tidak mau terbuka pada ku?" gumam Dharma yang merasa dirinya tidak dipercayai oleh Zoya.


Dharma langsung pergi dari mainson Edison, dia tidak mungkin untuk menunggu Zoya lagi. Karena Zoya pasti tidak akan keluar lagi dan Dharma tidak ingin mengganggu Zoya yang terlihat banyak fikiran.


.


Sedangkan didalam kamar Zoya langsung menuju balkon kamarnya saat mendengar deru suara mobil Dharma yang akan keluar dari halaman mainson. Zoya menatap dengan nanar mobil Dharma yang sudah meninggalkan mainson.


"Maafkan aku Dharma, aku bukan bermaksud untuk tidak mempercayai kamu untuk aku berbagi keluh kesah dengan mu. Tapi aku tidak ingin jika kamu malah menjauhi aku setelah kamu tahu siapa aku sebenarnya" gumam Zoya saat sudah tidak melihat mobil Dharma lagi.


Zoya kembali masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu balkon. Dia segera membersihkan tubuhnya lalu dia benar-benar langsung tertidur setelah melewati hari yang sangat melelahkan jiwa dan raganya.


.


Berbeda dengan Zoya yang sedang merasa lelah dengan keadaan. Disini Zico dibuat pusing oleh Joyce yang sama sekali tidak ingin didekati olehnya. Padahal dia hanya ingin berbicara berdua dan tidak ingin melakukan apa-apa.


"Kamu kenapa? Kenapa aku tidak boleh mendekat?" tanya Zico yang merasa heran dan dia sedang duduk diatas sofa. Sedangkan Joyce duduk diatas ranjang sambil menatap Zico dengan tatapan yang sulit diartikan.


Pasalnya dia juga ingin sekali berduaan dan juga berdekatan dengan Zico, tapi setelah dekat malah benci dan juga tidak ingin didekati lagi olehnya. Aneh bukan, perasaan nya sungguh tersiksa karena selalu berjauhan dengan nya. Begitu juga dengan Zico yang bingung dan juga aneh pada sikap Joyce.


"Ya sudah jika begitu. Abang akan tidur disofa saja, kamu yang akan tidur diranjang" ucap Zico yang beranjak menuju arah lemari dan mengambil selimut untuk dia pakai.


"Abang tidak perlu melakukan itu. Abang bisa tidur diranjang juga, tapi jangan dekat-dekat saja dengan ku" ucap Joyce yang menundukan kepalanya tidak ingin menatap wajah Zico yang membuatnya selalu kesal.


"Apa kamu yakin? Jika kamu tidak yakin jangan lakukan itu" ucap Zico yang menatap Joyce masih menunduk dan selalu menghindari Zico.


"Hmm" jawab Joyce dengan deheman saja lalu dia merebahkan dirinya diatas ranjang dan memunggungi Zico yang baru ingin merebahkan dirinya juga.


'Aku harus sabar dan tidak boleh marah padanya. Dia mungkin sangat lelah makanya mood nya tidak baik, aku akan menunggu kamu Joyce' ucap Zico dalam hati sambil menatapi punggung Joyce yang sudah teratur nafasnya mungkin dia sudah tertidur.


"Good night my wife" ucap Zico yang memejamkan matanya juga yang terasa berat dan tidak bisa diajak untuk membukanya lagi.


.


Sedangkan ditempat lain lagi sekarang Zio sedang galau, karena Alexa masih belum pulang dan dia mendapatkan penambahan waktu dinasnya menjadi tiga bulan. Membuat Zio pusing dan juga sangat merindukan wanita kesayangan nya.

__ADS_1


"Menyebalkan, kenapa harus menerimanya sih! Bukan nya ditolak saja dan tidak ingin memperpanjang dinasnya" gerutu Zio setelah menutup panggilan telpon nya dengan Alexa.


Zio tidak bisa tidur karena terus saja memikirkan Alexa dan Alexa. Bahkan dia terus menggerutu tidak jelas dengan keputusan yang Alexa ambil sekarang.


"Jika begini aku bisa gila" ucap Zio lagi yang beranjak ingin pergi dari mainson untuk bisa menenangkan fikiran nya yang sedang kusut.


Zio ingin menyibukan diri dengan pekerjaan, dengan begitu dia bisa sedikit melupakan kerinduan nya pada Alexa. Hingga dia bertemu dengan Zia yang baru saja masuk mainson dengan penampilan yang sangat segar dan juga penuh senyuman mengembang dibibirnya.


"Kamu kenapa bang? Kucel banget tuh muka, seperti baju belum disetrika saja" tanya Zia yang melihat Zio dengan penampilan acak-acakan dan terlihat sangat kusut wajahnya.


"Kamu ngeledek Zi? Tidak tahu apa jika abang sedang kesal dan tidak ingin diganggu" ucap Zio yang malah memarahi Zia yang mengerutkan keningnya bingung dengan saudaranya yang satu ini.


"Ye, aku kan hanya bertanya. Seharusnya dijawab dengan baik-baik dan tidak seperti itu, dasar aneh" ucap Zia yang tidak mau mengalah jika bersama dengan Zio.


"Sudahlah Zi, jangan ngajakin abang untuk berdebat dengan kamu. Abang sedang kesal, jadi jangan membuat abang semakin kesal lagi" ucap Zio yang ingin masuk kedalam ruang kerjanya tapi ditahan oleh Zia.


"Abang sedang kesal pada Alexa yang menambah masa dinasnya? Seharusnya abang mendukungnya, bukan malah marah-marah nggak jelas kayak gini. Nanti jika dia sudah selesai dinas langsung saja abang lamar dan nikahi dia. Beres kan" ucap Zia dengan mudahnya mengatakan itu pada Zio yang malah membuat Zio semakin kesal pada adik perempuan nya ini.


PLETAK...


"Kalo ngomong nggak pake Bismilah dulu nih anak. Kamu kira mudah, dengan menikahinya semuanya beres. Tidak semudah itu Marimar" ucap Zio yang menyentil kening Zia dengan lumayan keras.


"Sakit bang! Abang kira keningku ini apa main sentil saja. Selagi ada yang susah kenapa mencari yang mudah Ferguson!" ucap Zia yang tidak terima malah membalas kata-kata dari Zio.


"Whatever. Sana kamu masuk kamar kamu dan berhenti mengganggu ku!" ucap Zio yang sudah kesal bertambah kesal karena bertemu dengan Zia yang selalu rese.


"Yakin tidak mau aku temani? Nggak akan menyesal?" tanya Zia yang malah menggoda Zio dengan tatapan mengejeknya.


"Hmm. Pergi sana" ucap Zio yang ingin langsung masuk kedalam ruangan kerjanya tidak jadi karena Zia mengatakan yang membuatnya terlihat bersemangat lagi.


"Abang yakin jika aku mengatakan dimana Alexa dinas abang tidak ingin mendengarnya? Jika iya, ya sudah aku akan pergi saja" ucap Zia yang malah tersenyum smirks setelah mengatakan itu pada Zio.


"Kamu tahu dimana Alexa dinas? katakan padaku dimana dia dinas saat ini?" tanya Zio sangat antusias mengatakan itu pada Zia.


"Tadi ngusir-ngusir, sekarang malah nanya-nanya dimana dia sekarang. Abang kan kekasihnya, kenapa malah bertanya padaku" ucap Zia dengan judesnya pada Zio yang sudah sangat antusias mendengarkan apa yang akan Zia katakan padanya.


Zia malah tidak mengindahkan ucapan dari Zio, dia malah ingin pergi menuju kamarnya dan itu membuat Zio kesal dan menahan tangan Zia untuk tetap disini sebelum dia mengatakan apa yang dia inginkan sekarang.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiah seiklasnya untuk Othor receh ini....


Subscribe dan pollow akun Othor juga ya....


__ADS_2