Unforgettable Love five.Z

Unforgettable Love five.Z
Berbicara dengan Juan


__ADS_3

Zia membeli makan siang untuknya dan juga untuk Juan dan Quinzy. Zia sudah membawa makanan yang sangat enak dan juga sehat untuk kedua orang yang sedang sakit.


"Dok, anda tidak akan praktek lagi?" tanya suster yang selalu menemaninya.


"Saya sudah izin untuk setengah hari saja. Dan itu berlaku dalam beberapa hari kedepan. Jadi nanti akan ada dokter pengganti saya" jawab Zia yang sudah beranjak dari kantin dengan membawa berbagai makanan ditangan nya.


"Baiklah dokter. Saya akan mendampingi dokter pengganti anda" ucap suster tersebut dengan senyuman ramahnya.


Zia juga tersenyum dan langsung pergi dari kantin tersebut menuju ruangan VIP tampat perawatan Juan dan Quinzy.


"Assalamualaikum" ucap Zia saat masuk kedalam kamar rawat tersebut dengan penuh senyuman dibibirnya.


Zia juga melihat Juan sudah sadar dan melihat Quinzy sudah mulai ceria kembali.


"Wa'allaikumsalam, Mommy" jawab Quinzy dengan sangat semangat menyambut kedatangan Zia didalam kamar rawat nya.


"Hai princess, bagaimana hari ini? Sudah lebih baik?" tanya Zia sambil menyerahkan bungkusan pada pengasuhnya Quinzy.


"Cudah, kan ada Mommy" jawabnya dengan senyuman yang tidak pernah pudar.


"Alhamdulilah, Mommy senang mendengarnya. Sudah makan siang belum?" tanya Zia lagi saat Quinzy menatap penuh minat pada makanan yang Zia bawa.


"Beyum, Ici inin cama Mommy" jawab Quinzy dengan memanyunkan bibirnya.


"Oke kita makan, setelah itu minum obat" ucap Zia pada Quinzy yang mengangguk antusias.


"Mbak, berikan makanan juga padanya" ucap Zia pada pengasuh Quinzy untuk memberikan makanan untuk Juan.


"Tidak perlu! Saya tidak lapar" ucap Juan yang mendengarkan percakapan Zia dan juga anaknya.


"Biarkan saja mbak, mbak makan saja baru setelah itu gantian. Nanti Quinzy ajak keluar dulu, saya mau bicara dengan nya" ucap Zia pada pengasuhnya Quinzy.


"Baik Nona" jawabnya yang langsung mengambil makanan untuknya.


"Princess harus makan yang banyak ya, setelah itu princess jalan-jalan dulu keluar dengan mbak. Mommy mau bicara dengan Daddy dulu oke" ucap Zia yang diangguki oleh Quinzy.


"God girl" ucap Zia sambil mengusap kepala Quinzy dengan penuh kasih sayang nya.


Zia dengan sangat tlaten menyuapi Quinzy hingga habis tak bersisa. Lalu memberanikan nya obat dan dia diajak keluar oleh pengasuhnya untuk bisa menghirup udara segar diluar.


Zia menghampiri Juan dengan makanan dan minuman ditangan nya. Zia baru akan mendekat tapi makanan yang Zia bawa ditepis begitu saja oleh Juan.


PRANG....

__ADS_1


PYAR...


KLONTANG...


"Saya sudah bilang jangan pernah ikut campur dengan semua urusan saya, juga dengan Quinzy!" bentak Juan yang tidak menatap pada Zia.


Zia hanya diam dan memunguti pecahan piring dan juga gelas yang sudah berhamburan dimana-mana. Dia juga membersihkan makanan nya juga dengan perlahan sambil menahan emosinya juga.


"Apa sudah lebih baik dengan melempar makanan?" tanya Zia dengan berani menatap Juan yang sedang memalingkan wajahnya.


"Apa kau tidak berfikir dengan kondisi mu seperti ini sudah membuat putrimu sendiri takut. Apa kau tidak berfikir kearah sana" tanya Zia dengan menahan kemarahan nya yang sudah memuncak.


Menghadapi orang seperti Juan memang harus bisa sabar dan extra hati-hati. Jika saja salah dalam memberikan penjelasan atau bicara tidak dia mengerti, maka dia akan semakin tidak bisa dikendalikan.


"Kenapa kau melewatkan konsultasi dan juga pemeriksaan? Apa kau tahu dampaknya seperti apa? Lihatlah dirimu, seperti mayat hidup dan tidak memiliki keinginan untuk hidup dan juga keinginan untuk bisa membuat putrimu bahagia. Apa kau tidak berfikir kearah sana?" tanya Zia lagi yang melihat Juan hanya diam dan menatap kosong kedepan.


"Oke, kau memang mengidap bipolar disorder. Tapi apa kamu tidak berfikir jika itu akan berdampak juga pada pitrimu juga. Apa kau ingin putrimu juga memiliki penyakit yang sama dengan mu. Begitu?" tanya Zia yang terus mengatakan yang ingin dia katakan.


Zia juga tidak kuasa menahan tangisnya. Zia merasa sedih dan juga kasihan pada Juan, pria yang selama ini bisa terlihat tenang dan juga bisa menceritakan semuanya pada saat konsultasi bisa seperti ini.


"Kenapa anda begitu perduli pada saya dan juga putri saya?" satu pertanyaan keluar dari mulut Juan.


"Karena saya perduli, apa saya salah?" jawab Zia dengan memberikan pertanyaan juga padanya.


"Apa anda masih meminum obat yang saya berikan?" tanya Zia yang mengalihkan pembicaraan menjadi pada tentang obat.


"Sudah" jawabnya singkat.


"Kenapa, jika masih meminumnya anda mengalami seperi ini?" tanya Zia lagi dengan tatapan menyelidik.


"Tidak apa-apa" jawabnya lagi dengan tatapan masih lurus kedepan.


"Baiklah, sekarang ada makan setelah itu minum obatnya. Jika anda menolaknya maka saya akan membawa Quinzy pergi jauh dari anda untuk selamanya" ucap Zia memberikan ancaman nya. Karena Zia tahu, ini adalah ancaman yang paling tepat untuk Juan.


Dengan tanpa banyak bicara lagi Juan mau menerima makanan yang Zia berikan. Zia dengan telaten nya menyuapinya seperti dari menyuapi Quinzy. Zia juga selalu mengelap sisa makanan yang ada dibibir Juan dengan penuh kelembutan nya.


"Sudah, sekarang minum obatnya" ucap Zia yang melihat Juan hanya diam dan tidak monolak atau membantah semua ucapan dari Zia.


Juan menerima obat yang Zia berikan padanya dan segera meminumnya. Zia hanya menatap datar pada pira didepan nya yang sudah seperti robot yang selalu menurut pada ucapan nya.


"Anda bisa istirahat sekarang" ucap Zia yang ingin beranjak pergi namun tangan nya ditahan oleh Juan.


"Jangan pernah pergi lagi" ucap Juan yang tiba-tiba berbicara seperti itu pada Zia.

__ADS_1


Zia yang tidak mengerti hanya mengerutkan keningnya bingung dengan yang diucapkan oleh Juan.


"Maksud anda?" tanya Zia yang masih bingung.


Tanpa diduga Juan langsung bangun dan memeluk Zia dengan sangat erat dan juga disertai isak tangis dari juan yang sedang memeluk nya.



"Jangan pernah pergi meninggalkan ku lagi. Jangan pernah" ucap Juan yang membuat Zia semakin tidak mengerti dengan semua yang diucapkan oleh Juan.


Zia membalikkan tubuhnya dan sekarang menatap Juan yang sedang menunduk dan juga menangis. Zia semakin heran dengan semua yang Juan lakukan sekarang berbanding terbalik dari yang tadi.


"Apa yang anda katakan? Apa maksud anda saya jangan pergi dan meninggalkan anda?" tanya Zia dengan berbagai pertanyaan nya.


"Anda, anda jangan pernah pergi saat saya menyuruhnya pergi. Saya tidak bisa jika harus menjauh dari anda lagi, saya tidak bisa" ucap Juan yang masih terisak dengan tangisan nya.


"Anda ini aneh sekali. Tadi menyuruh saya untuk pergi dan jangan pernah kembali. Dan sekarang anda dengan mudahnya bilang jika saya tidak boleh pergi. Jadi yang benar yang mana?" Zia sengaja menggoda Juan supaya dia bisa jujur dengan perasaan nya.


Zia ingin Juan tidak selalu merasa jika dia tidak diinginkan atau tidak diperdulikan. Jadi ini adalah cara Zia bisa mengetahui apa yang ada didalam hati dan fikiran Juan saat ini.


"Saya tidak bisa jauh-jauh dari anda. Saya sudah lama sekali ingin dekat dengan anda dan juga bosa memiliki anda seutuhnya itu saja. Jangan pernah pergi dan menjauh lagi" jelas Juan yang sudah seperti anak kecil yang takut jika Ibu nya akan pergi.


"Apa saya tidak salah mendengarnya?" tanya Zia lagi dengan tatapan menyelidik dan juga memicingkan matanya.


"Iya, saya serius" jawab Juan dengan menganggukan kepalanya berulang kali.


"Baiklah, akan saya fikirkan" jawab Zia dengan santainya dan akan pergi tapi tangan Zia masih ditahan oleh Juan.


"Kenapa lagi? Saya mau makan siang, yang sudah terlambat ini" tanya Zia dengan senyuman tipis dibibirnya.


"Oh, baiklah" jawab Juan dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Dia merasa canggung dengan kondisi seperti ini. Diamana Zia yang akan makan hanya senyum-senyum melihat tingkah Juan yang sedang malu-malu meong.


Zia makan siang yang sudah sangat kesiangan itu dengan sangat lahap seperti biasanya. Dia bahkan memakan makanan yang dia bawa hingga tandas semua tanpa sisa sedikit pun juga.


Juan masih memperhatikan Zia yang sedang makan dengan sangat lahap nya. Tanpa menghiraukan ada sepasang mata yang menatapnya sejak tadi.


"Kenapa anda menatapi saya seperti ini?" tanya Zia dengan mulut dipenuhi oleh salad buah yang sedang dia makan.


"Tidak, anda jika sedang makan seperti Izy" ucap Juan yang mengelap sisa mayonnaise yang berada disudut bibir Zia dengan ibu jarinya.


"Terimakasih atas pujian anda" jawab Zia yang malah menatap sinis pada Juan.

__ADS_1


Sedangkan Juan hanya tersenyum melihat sikap Zia yang seperti itu. Terlihat sangat cantik dan juga sangat menggemaskan dimatanya, Juan benar-benar sudah sangat terpesona akan kecantikan dan juga ketegasan dari seorang dokter yang bernama Zia Pratama Edison.


__ADS_2