Unforgettable Love five.Z

Unforgettable Love five.Z
Bertemu dengan calon ipar


__ADS_3

Zayd hanya diam saja dan mengikuti brangkar yang membawa Eleanor untuk menuju ruang perawatan. Zayd tidak menghiraukan pertanyaan nya. Zayd terus menatapi Eleanor yang belum sadarkan diri dan dengan kondisi yang benar-benar tidak baik-baik saja.


"Kenapa kamu nekad melakukan ini sendiri? Apa yang kamu inginkan dengan melakukan nya sendiri? Ingin membuktikan apa sebenarnya?" tanya Zayd sambil terus menggenggam tangan Eleanor yang banyak luka cambukan.


"Bangunlah, jangan membuat ku semakin khawatir padamu. Cepat bangun, setelah kamu bangun dan pulih aku akan langsung mengikat kamu menjadi istriku dan kamu harus mau" ucap Zayd yang mengatakan nya dengan sedikit memaksa.


"Kenapa kamu ingin memaksanya Zayd? Apa kamu benar-benar sudah tidak sabar untuk segera menikah?" tanya Zia yang selalu datang tak diundang pulang juga tak diantar. Selalu ada dimana-mana, dan selalu menghantui.


"Kak, bisakah kakak diam saja dulu? Aku sedang pusing dan juga tidak bisa berfikir jernih. Apa lagi kondisinya sedang tidak baik-baik saja" ucap Zayd yang sudah frustasi akan keadaan ini, apa lagi Eleanor tidak kunjung bangun juga.


"Titanya baik-baik malah nyolot. Kakak tidak bermaksud membuat kamu seperti itu Zayd, kakak hanya ingin tahu saja siapa dia dan kenapa bisa seperti itu? Apa kakak salah Zayd?" tanya Zia yang menatap Zayd dengan tatapan heran nya pada Zayd.


"Maaf kak, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Dia ini terlalu nekad melakukan sesuatu, dan tidak pernah memikirkan perasaan aku yang sangat khawatir padanya" ucap Zayd yang malah meneteskan air matanya sambil memeluk tubuh kakaknya yang juga sedang memeluknya dan mengusap punggungnya yang bergetar.


"Kakak tahu, kamu pasti sedang merasa terpukul dengan keadaan ini. Tapi setidaknya kamu jangan seperti ini, kamu harus kuat dan jangan cengeng seperti ini. Kamu adalah seorang pria dan juga seorang dokter, masa kamu sedikit-sedikit menangis seperti ini. Apa tidak malu dengan gelar dokter dan juga wibawamu ini?" ucap Zia yang menggoda adiknya itu supaya bisa lebih tenang dan tidak memikirkan yang tidak-tidak.


"Kakak ini, bukan nya menghibur ku malah mengejek ku" ucap Zayd yang sudah kembali sedikit tenang dari sebelumnya.


"Nah, gini kan cakep. Kamu itu jelek tahu jika seperti ini, cemberut dan menangis. Sudah seperti Quinzy saja jika tidak diberikan coklat atau premen kapas" ledek Zia yang malah semakin menjadi menggoda Zayd.


Zayd malah mengerucutkan bibirnya kesal. Karena Zia jika sudah mengejek tidak akan pernah bisa berhenti dengan cepat. Dia akan terus mengejek Zayd hingga Zayd tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Hingga keduanya melihat ada pergerakan dari Eleanor yang sudah mengerjapkan matanya.


"Kamu sudah sadar sayang? Sebentar, aku panggilkan dokter dulu" ucap Zayd yang langsung melesat pergi keluar dan dia risk menyadari jika dia sebenarnya tidak perlu untuk keluar memanggil dokter. Karena diatas ranjang Eleanor ada tombol darurat memanggil dokter atau lerawat.


"Dasar aneh, disini saja ada alat untuk memanggil dokter" gerutu Zia yang langsung menekan tomol tersebut.


Zia menatap Eleanor yang sedang bingung karena dia tidak tahu ada dimana sekarang. Dia menatap Zia dengan tatapan yang bingung juga dia masih sedikit linglung karena dia sudah beberapa hari tidak makan dan juga minum.


"Anda siapa? Dan, dan saya dimana?" tanya Eleanor yang menatap Zia dan menatap sekelilingnya.

__ADS_1


"Saya dokter Zia. Anda sedang dirumah sakit, sebentar lagi akan ada dokter lain yang akan memeriksa anda" ucap Zia yang masih menatap Eleanor dan mengingat-ingat wanita yang ada didepan nya saat ini.


'Aku ingat sekarang. Dia kan Lea, kariawan cafe ku dulu. Sejak kapan Zayd dekat dengan nya? Dan apa yang Zayd maksud dengan menyembunyikan sesuatu? Ah, sudahlah. Yang pasti dia adalah wanita yang aku kenal dulu' gumam Zia dalam hati yang mengingat Eleanor yang sering dipanggil Lea.


"Apa kamu lupa pada saya Lea?" tanya Zia akhirnya, karena dia paling tidak suka jika berlama-lama menanyakan itu pada orang yang dia kenal.


"Maaf saya lupa dan apakah kita saling mengenal?" tanya Eleanor yang mencoba untuk mengingat-ingat siapa dokter cantik didepan nya. Dan dia mengenalnya juga memangginya Lea.


"Oh, sudahlah jangan difikirkan. Tidak penting juga" ucap Zia yang tidak lama beberapa perawat dan juga dokter datang menemuinya dan tidak lupa Zayd mengekori mereka hingga Eleanor menatapnya dengan penuh tanda tanya besar.


"Bagaimana keadaan nya?" tanya Zayd saat dokter Andi selesai memeriksa semuanya.


"Semuanya baik-baik saja dan hanya seperti yang saya ucapan tadi. Dan juga kebetulan dokter Zia nya ada disini, ini adalah calon pasien anda dokter. Jika anda saling mengenal akan lebih baik dan bisa lebih santai untuk konsultasi" jawab dokter Andi yang mana langsung berbicara dengan Zia yang ada dihadapan nya saat ini.


"Syukurlah jika semuanya baik-baik saja" ucap Zayd yang lalu menghampiri Eleanor yang sedang menatapnya.


"Kalau begitu saya permisi dulu dokter Zayd dan dokter Zia" ucap dokter Andi yang langsung pergi dari ruangan rawat Eleanor dengan diikuti oleh beberapa perawat.


Zayd menatap datar Eleanor yang menatap Zayd datar juga. Hingga keduanya saling diam dan saling menatap dengan datar. Zia yang tidak bisa saling diam malah berbuat konyol.


"Hello, jika pasangan pengantin baru saling diam dan marahan yang ada nanti akan ada pihak ketiga yang mengganggu, biasanya lebih ganas dan juga lebih tidak tahu diri dibandingkan setan itu sendiri" ucap Zia yang membuat Zayd menatap horor padanya.


"Ya inilah setan yang tidak tahu diri itu" ucap Zayd yang mempiting leher Zia hingga keduanya berhasil membuat Eleanor sedikit tersenyum.


"Kau mau membunuhku?!" ucap Zia yang mencubit perut sispack milik Zayd.


"Kalo iya memang kenapa? Biar berkurang satu orang seperti kakak" jawab Zayd dengan mempiting leher Zia yang sedang mencoba melepasakan potongan Zayd dari lehernya.


"Kamu nantangin kakak Zayd? Oke, kamu jual aku beli" ucap Zia yang mengeluarkan keahlian bela dirinya yang memang tidak bisa diragukan lagi.

__ADS_1


"Kak, ampun kak. Kenapa kakak sungguhan memelintir tangan ku? Au, kak. Lepas kak, sakit" ucap Zayd yang sudah mengaduh kesakitan karena tangan nya dipelintir oleh Zia lumayan keras atau memang sekuat tenaga Zia melakukan nya.


"Makanya jangn macam-macam!" ucap Zia yang melepaskan tangan nya lalu mendorong Zayd hingga tersungkur dilantai.


"Dasar kakak durhakim. Adik sendiri saja disiksa, apa lagi jika pada anak tirinya nanti? Iihhh, kenapa aku yang ngeri sendiri ya" ucap Zayd yang bergidik ngeri akan sikap Zia yang sangat bar-bar.


"Ya bedalah. Kenapa harus aku melakukan nya pada anak ku nanti? Jika padamu aku tidak akan segan" ucap Zia yang tersenyum mengejek pada Zayd yang menggelengkan kepalanya dan juga takut akan sikap bar-bar dan juga nekad seorang Zia.


"Sungguh, the real crazy woman!" ucap Zayd yang langsung menjauh dari Zia yang akan menyerangnya lagi saat mendengar ucapan nya tadi.


Zayd langsung bersembunyi dibalik Eleanor yang sedang menahan tawanya melihat kedua kakak beradik yang sedang tidak akur itu. Zayd malah semakin meledek Zia dan semakin membuatnya semakin marah. Eleanor yang merasa kasihan pada Zayd mencoba melerai dan melindungi Zayd dari amukan Zia.


"Maaf Nona, anda bisa menghukumnya jika saya tidak melihatnya. Karena jika saya melihatnya, saya akan sangat tidak tega melihat pria yang selalu ada untuk saya tersakiti" ucap Eleanor yang akhirnya bersuara juga setelah melihat Zayd yang mungkin sudah babak belur oleh kakaknya sendiri.


"Kau membela pria kurang micin ini? Sungguh diluar dugaan" ucap Zia yang ingin pergi dari ruangan rawat Eleanor. Tapi sebelumnya dia mengatakan sesuatu pada Eleanor terlebih dahulu.


"Saya tunggu diruangan praktek saya. Karena saya ingin tahu apa yang sedang kamu sembunyikan dan juga didalam fikiran kecil mu itu" ucapnya yang langsung pergi dari ruangan rawat Eleanor dan meninggalkan Eleanor dan Zayd yang hanya diam saja menatap Eleanor yang juga hanya diam mendengarkan ucapan dari Zia.


Kedunya masih saling diam walau Zia sudah lama meninggalkan ruangan rawat Eleanor yang ingin berdua dengan Zayd. Tapi tidak ada yang ingin mengatakan apapun satu sama lain, hingga Zayd kesal sendiri. Karena kebisuan Eleanor yang tidak ingin mengatakan apapun, jangankan menceritakan. Menanyakan kabarnya saja tidak, dan itu membuat Zayd semakin ingin marah-marah.


.


.


.


Maaf ya Othor baru bisa up sekarang....


Jangan lupa subscribe dan tinggalkan jejak kalian semua untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya...

__ADS_1


Juga pollow akun Othor juga ya...


__ADS_2