
Zoya dengan semangat memakan makanan yang dia pesan. Sedangkan Dharma hanya melihatnya saja, dan juga menelan slivanya sendiri melihat betapa lahapnya Zoya makan.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya Zoya yang melihat Dharma hanya diam saja.
"Ayo makan, aku tidak akan bisa menghabiskan nya sendiri. Jadi bantu aku menghabiskan nya" ucap Zoya pada Dharma.
"Baiklah, dengan senang hati aku bantu. Hehehe" jawab Dharma yang langsung mengambil kepiting yang paling besar.
"Ihhh, kamu curang... Kenapa kamu ambil yang paling besar" ucap Zoya sambil mengerucutkan bibirnya.
Tidak disangka Dharma malah menyuapi Zoya kepiting yang dia ambil tadi dengan tangan nya sendiri. Zoya dengan senang hati menerima suapan dari Dharma.
"Terimakasih" ucap Zoya dengan mulut penuh pada Dharma penuh senyuman.
Dharma hanya tersenyum dan mengangguk, lalu dia menyuapi lagi hingga Zoya juga melakukan hal yang sama pada Dharma.
"Cih! Dasar gadis mura*an. Dengan siapa pun juga didekati" ucap seseorang yang sedang melihat mereka berdua makan dengan saling menyuapi dan tertawa bersama.
Sedangkan yang diperhatikan masih asik menikmati makanan mereka, hingga tandas semua tanpa sisa.
"Alhamdulilah kenyang banget" ucap Zoya dengan tersenyum manis.
"Alhamdulilah. Kita langsung kekantor lagi ya?" tanya Dharma setelah mereka sudah selesai makan semua seafood nya.
"Iya sudah kita balik lagi. Dharma, bisa nggak kita kalo lagi ngomong berdua seperti ini saja. Kecuali ada orang lain, aku merasa nyaman seperti ini dibandingkan harus berbicara formal" ucap Zoya pada Dharma supaya tidak berbicara formal.
"Baiklah, jika itu mau kamu" ucap Dharma menganguk.
'Tapi aku yang merasa canggung sama kamu Zoya, entah kenapa aku juga merasa nyaman bersama kamu dan didekat kamu' ucap Dharma hanya bisa didalam hati saja.
"Kita mampir kesana dulu yuk" ucap Zoya sambil menggandeng tangan Dharma.
Deg...
Deg...
Deg...
'Tung kamu kenapa sih? deg-degan nya biasa aja dong' ucap Dharma dalam hati saat tangan Zoya menggenggam tangan nya.
"Kamu kenapa sih dadi tadi diam terus? Kamu sakit, atau nggak enak badan?" tanya Zoya dengan menatap wajah Dharma yang terlihat merah.
"Wajah kamu juga merah. Kamu pasti demam, ayo kita kedokter sekarang sebelum kamu kenapa-kenapa" ucap Zoya yang akan menarik tangan Dharma.
__ADS_1
Tapi Dharma melepaskan nya. Dan dia langsung pergi lebih dulu sebelum dia semakin salah tingkah dan juga semakin mempermalukan dirinya sendiri.
"Dia kenapa? Aneh" ucap Zoya sambil mengedikkan bahunya. Lalu dia mengejar Dharma yang sudah jauh melangkah didepan nya.
Saat sudah didalam mobil Zoya duduk dengan tenangnya dikursi belakang sambil mengecek email dari sekertarisnya. Dan ternyata sekarang dia harus menghadiri meeting bulanan yang harus segera dia selesaikan.
"Dharma, percepat laju mobilnya. Kita sebentar lagi akan ada meeting dan ini sangat penting" ucap Zoya yang menyuruh Dharma untuk lebih cepat melajukan mobilnya.
Dengan kecepatan diatas rata-rata Dharma mengendarai mobilnya dan tiba-tiba sudah sampai didepan gedung PRATAMA.GROUP.
Zoya langsung masuk tanpa menunggu Dharma terlebih dahulu. Dia harus segera sampai diruang meeting secepatnya. Dharma juga melakukan hal yang sama, yaitu berlari mengejar Nona nya menuju ruangan meeting.
Saat mereka sampai didepan ruangan meeting, ternyata sudah banyak yang menunggu termasuk Zio yang sudah duduk dikursi nya.
"Kakak habis dari mana? Lama banget" tanya Zio saat Zoya sudah duduk disamping nya.
"Maaf, kakak keasikan makan seafood" jawab Zoya sambil berbisik pada Zio.
"Kakak habis makan seafood nggak ngajak-ngajak, Tega banget!" ucap Zio yang tanpa sadar mengeraskan suaranya.
Dan mereka berdua menjadi pusat perhatian. Pasalnya dua CEO mereka malah asik berdebat masalah makanan. Membuat semua yang hadir merasa bingung dengan sikap mereka berdua yang bisa konyol juga.
Sebagian dari mereka menahan tawa nya, dan sebagian lagi hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Kita mulai saja rapatnya sekarang" ucap Zoya sambil memberikan sepatah dua patah kata.
Zoya dan Zio masih berada didalam ruangan kerja nya masing-masing hingga salah satu dari mereka menghampiri.
"Kak, pulang yuk. Mommy pasti akan menunggu kita" ucap Zio yang sudah memasuki ruangan kerja sang kakak dan melihat kakak nya masih menekuri layar monitor didepan nya.
"Kak, apa masih lama?" tanya Zio lagi saat dia sudah lebih dari 10 menit menunggu sang kakak belum juga selesai.
"Kamu pulang duluan saja Zi. Kakak masih lama ini, nanti bilang saja sama Mommy jika kakak pulang telat" ucap Zoya tanpa mengalihkan pandangan nya dari layar monitor didepan nya.
"Tapi kak, aku tidak mungkin pulang lebih dulu dan membiarkan kakak masih disini. Sini aku bantu kakak" ucap Zio yang akhirnya dia membantu pekerjaan Zoya.
Mereka sampai lupa waktu hingga suara telpon diruangan Zoya berdering.
"Halo" jawab Zoya saat sudah mengangkat gagang telpon.
"Kalian tidak akan pulang? Lihat jam berapa sekarang? Dan kenapa ponsel kalian tidak ada yang aktif?" tanya Mommy Vita dengan beruntun.
"Maaf Mom, kami lupa memberi tahu Mommy dulu. Kami akan segera pulang, jika ponsel mungkin ponsel kami kehabisan battery" jawab Zoya.
__ADS_1
"Cepat pulang! Mommy tidak mau tahu mendengar alasan dari kalian. Pulang sekarang atau Mommy akan... " belum selesai Mommy Vita bicara sudah disela oleh Zio.
"Iya Mom, kami segera pulang. Oke Mommy, bye Mom muah" ucap Zio yang langsung menutup telpon nya dan segera membereskan pekerjaan nya bersama dengan Zoya.
"Ayo kak, sebelum Ibunda ratu yang mulia akan marah pada kita berdua. Yang ada kita tidak boleh masuk kedalam dan kita akan mendapatkan hukuman... Ayo kak" ucap Zio yang sudah sangat mendramatisir keadaan.
"Nggak usah berlebihan seperti itu Zi, kakak sudah selesai. Ayo pulang" ajak Zoya dan langsung membuka pintu ruangan nya dan disaat bersamaan Dharma juga sama baru keluar dari ruangan kerja nya.
"Kebetulan kamu juga baru mau pulang kan? Kita bareng saja pulangnya" ajak Zoya yang langsung melangkah lebih dulu dari dua pria dibelakang nya.
"Kamu kenapa Dharma, diam mulu dari tadi?" tanya Zio yang melihat Dharma hanya diam saja saat menyetir.
"Tidak apa-apa, saya hanya merasa kurang fit saja saat ini" jawab nya sambil terus menyetir mobilnya.
"Kamu harus segera memeriksakan diri kamu sebelum kita pulang kita mampir saja diklinik terdekat" ucap Zoya memberi saran.
"Tidak perlu Nona, saya hanya kurang fit saja. Dibawa istilahat saja pasti sudah sembuh, jadi Nona tidak perlu merasa khawatir" jawab Dharma yang merasa canggung.
"Kalian ini kaku sekali sih. Kalian bisa kan berbicara tidak dengan bahasa formal disaat sudah diluar jam kantor?" tanya Zio yang melihat suasana orang kaku dihadapan nya.
"Maaf, itu sangat tidak sopan jika saya melakukan itu Tuan Muda" jawab Dharma dengan melajukan mobilnya hingga sudah masuk kedalam garasi.
"Tidak bisakah kalian berdua tidak flat seperti itu. Sangat membosankan dan menyebalkan" ucap Zio yang langsung pergi dari kedua orang yang baru saja dia ajak bicara.
"Kamu serius nggak apa-apa?" tanya Zoya saat Zio sudah pergi jauh dari mereka berdua.
"Aku baik-baik saja kok. Aku akan segera istirahat, aku kekamar duluan" ucap Dharma pada Zoya.
"Iya" jawab Zoya yang pergi juga menuju kamarnya yang berlainan arah dari arah kamar Dharma.
"Dia kenapa jadi pendiam seperti itu? Seperti ada yang dia sembunyikan dari aku" gumam Zoya yang akan memasuki kamarnya.
"Kak, sejak kapan kakak suka menggerutu?" tanya Zia yang hanya mendengar seperti gerutuan ucapan Zoya.
"Kamu ini Zi, ngagetin kakak saja. Kamu sejak kapan berada disitu?" ucap Zoya balik bertanya pada Zia.
"Yey, ditanya malah balik nanya" gerutu Zia saat melihat sang kakak hanya diam saja menanggapi ucapan adiknya.
"Kakak hanya sedang bingung saja Zi, dan tidak ada apa-apa juga. Ya sudah, kakak masuk ya. Mau madi dulu sudah gerah banget" ucap Zoya yang langsung masuk kedalam kamarnya dan tidak lupa mengunci pintunya.
Zoya tahu jika nanti Zia pasti akan masuk diam-diam kedalam kamarnya untuk mengetahui apa yang dia ingin tahu. Jika dia belum mengetahuinya maka dia akan selalu melakukan apapun yang akan dia lakukan.
"Ish, kakak menyebalkan sekali sih" ucap Zia yang langsung memukul pintu kamar sang kakak.
__ADS_1
"Aduh, aduh, aduh" ucap Zia saat dia memukul-mukul pintu kamar sang kakak malah dia sendiri yang kesakitan.
Sedangkan Zoya hanya tersenyum tipis mendengar adiknya yang malah menggerutu dan akhirnya pergi dari depan kamarnya.