
"Apa kamu masih ingin tetap diam saja seperti ini? Setidaknya katakan sesuatu padaku" ucap Zayd yang masih menatap Eleanor dengan tatapan datarnya.
"Maaf" hanya itu yang dikatakan oleh Eleanor dan tidak ada kata lain selain kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.
"Maaf? Dari sekian juta bahkan sekian banyaknya kata-kata. Hanya kata maaf saja yang kamu ucapkan padaku?" tanya Zayd dengan Nada sininya dan dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Sungguh, aku selama ini mencari kamu dan saat aku bisa menemukan kamu dalam keadaan mengenaskan. Dan apa yang aku dapatkan dari kamu sekarang? Hanya kata maaf yang sama sekali tidak penting. Sungguh kau sangat berbakat untuk membuatku menjadi seperti orang gila dan tidak memiliki fikiran. Wah, Ele. Wah... Kau memang sangat bisa dan ahli dalam masalah seperti ini" ucap Zayd yang sudah setengah mengeluarkan kemarahan nya yang sejak tadi dia tahan-tahan.
Eleanor hanya bisa diam dan menangis dengan mendengar semua yang dikatakan oleh Zayd memang sangat menyakiti perasaan nya. Tapi apa yang dikatakan oleh Zayd memang ada benarnya juga, karena yang dia lakukan sungguh sudah menyakiti perasaan Zayd juga. Andai saja dia tidak menemukan nya dengan keadaan yang baik-baik saja, mungkin sekarang dia hanya akan tinggal namanya saja.
"Baiklah, semua ini memang urusan mu dan aku bukanlah siapa-siapa untuk mu. Jadi, selamat menikmati semua yang telah kamu tanam" ucap Zayd sebelum dia benar-benar pergi dari ruangan perawatan Eleanor.
BRAK...
"Hiks... Hiks... Hiks... Maafkan aku... Aku... Aku sudah bersalah, aku tidak tahu harus mengatakan apa pada kamu. Aku memang pantas mendapatkan ini semua dari kamu. Maafkan aku" ucap Eleanor saat setelah Zayd pergi meninggalkan nya.
"Maafkan aku... Hiks... Hiks... Maaf" ucap Eleanor lagi sambil menangis sesegukan dan dia tidak menyadari jika Zayd masih ada disana dan mendengarkan semua ucapan darinya.
"Apa kamu tidak ingin mengatakan apapun padaku Ele? Apa sebegitu tidak pentingnya aku dalam diri dan hati kamu?" gumam Zayd yang masih bersandar pada dinding sebelah pintu ruangan rawat Eleanor.
"Apa yang kamu lakukan disini? Kenapa kamu malah menangis dipojokan seperti ini Zayd?" tanya Zia yang memang sengaja ingin mengajak Zayd untuk makan siang bersama.
"Zayd? Apa yang kamu lakukan? Zayd, lihat kakak" ucap Zia yang mengguncang bahu Zayd lumayan keras untuk bisa menyadarkan Zayd yang sedang kalut.
"Kak, apa salahnya jika aku marah padanya? Apa aku salah jika aku inginkan penjelasan darinya? Aku hanya ingin dia terbuka padaku. Hanya itu, dan aku tidak perduli akan semua yang lainnya" tanya Zayd yang sudah menangis dalam pelukan Zia yang juga memeluknya dan mengusap punggungnya yang bergetar karena menangis itu.
"Kamu tenangkan diri kamu dulu. Jangan biarkan amarah menguasai diri kamu dan membuat kamu menyesal seumur hidup kamu sendiri Zayd. Kamu harus bisa menenangkan diri dan fikiran kamu, jika sudah tenang dan dia juga sudah menyadari kesalahan nya. Kakak yakin, kamu pasti bisa melakukan nya Zayd" ucap Zia yang menguatkan adik bungsunya supaya bisa lebih tenang dan bisa berfikiran jernih untuk saat ini.
Zayd hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki Zia yang sedang menggandengnya. Untung saja sudah banyak yang tahu jika mereka berdua adalah kakak beradik, jadi tidak akan ada yang merasa cemburu dan juga merasa dikhianati oleh satu sama lain.
"Sudahalah Zayd, jangan menampilkan wajah jelek mu seperti itu" ucap Zia yang mencoba untuk menggoda Zayd supaya bisa lebih tenang dan relax.
__ADS_1
"Kak, bisakah kakak sehari saja tidak mengejek dan menggoda ku?" tanya Zayd yang mengerucutkan bibirnya kesal pada Zia yang selalu menggodanya dan mengejeknya.
"Nah gini kan lebih baik dari yang tadi. Jangan jemberut gitu kenapa Zayd, lebih baik kita lampiaskan semua kekesalan dan kemarahan kamu kepada mereka saja" ucap Zia yang menunjuk sebuah kantin rumah sakit yang banyak pengunjungnya dan Zia mengajak Zayd untuk masuk kedalam kantin yang dikhususkan untuk para dokter.
"Kak, kakak yakin dengan makanan sebanyak ini akan habis?" tanya Zayd saat melihat makanan yang dipesan oleh Zia datang dari yang paling pedas hingga manis sudah tersaji diatas meja.
"Yakin Zayd. Kamu juga bisa melampiaskan kemarahan dan juga kekecewaan kamu pada semua makanan ini. Dengan begitu perasaan kau akan lebih tenang setelah kenyang, marah juga butuh tenaga Zayd. Jika perut kenyang maka tenaga juga akan besar, syukur-syukur kamu sudah tidak marah lagi nanti setelah kenyang" ucap Zia yang mulai makan makanan pedas lebih dulu.
Zayd juga ikut memakan nya, dia sudah sama seperti Zia yang seperti orang kesurupan. Ingin menghabiskan semua makanan sebanyak itu, Zia hanya tersenyum melihat Zayd sudah tidak jaim lagi pada semua makanan nya.
'Semoga hubungan kalian membaik nantinya Zayd. Kakak hanya bisa mendo'akan dan bisa mendukung kamu saja. Kakak juga akan membantu kamu untuk bisa membuat Eleanor bisa terbuka dan percaya sepenuhnya padamu' gumam Zia yang menatap wajah Zayd yang sudah merah padam karena kepedasan.
"Kak, kenapa kakak diam saja?" tanya Zayd saat melihat Zia hanya diam dan tidak melanjutkan makan nya.
"Kakak sedang berhenti dulu. Tenang saja, nanti juga pasti akan habis" jawab Zia yang membuat Zayd mengangguk mendengar jawaban dari Zia.
Mereka berdua benar-benar bisa menghabisakan semua makanan sebanyak itu. Bahkan mereka berdua sekarang tidak bisa bergerak dari duduknya karena terlalu banyak makan.
"Kak, rasanya perutku ingin meledak. Kenyang banget" ucap Zayd sambil mengusap-ngusap perutnya yang terasa sangat penuh.
Keduanya saling diam dan tersenyum bersama. Hingga mereka berdua tidak bisa beranjak sedikitpun dari kantin rumah sakit.
.
Berbeda dengan Eleanor yang masih menangis dan menyalahkan dirinya sendiri karena sudah tidak mempercayai Zayd yang sudah sangat baik dan juga menerimanya dengan sepenuh hatinya.
"Aku sungguh wanita bo*oh. Aku malah membiarkan pria sebaik dan sepengertian dia kecewa padaku! Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang, dia sudah marah dan mungkin dia akan meninggalkan ku? Aku memang pantas mendapatkan nya" gumam Eleanor yang masih menangis dan menyalahkan dirinya sendiri akan kemarahan yang Zayn alami sekarang.
"Aku minta maaf, aku benar-benar sangat menyesal telah membuat kamu seperti ini. Kamu memang pantas untuk marah padaku, karena aku sudah membohongi kamu dan selalu menolak bantuan dari kamu Zayd. Maafkan aku" ucapnya sambil terus menangis dan penuh rasa sesal didalam dirinya dan juga sesak karena sudah terlalu lama dia membohongi dan juga tidak pernah bisa jujur.
Hingga dia tidak sadar, karena terlalu banyak menangis dia terlelap dengan sangat nyenyaknya. Tapi dia masih terus mengigau selalu mengucapkan kata maaf dalam tidurnya. Tentu saja Zayd dan Zia melihat semuanya, karena setelah mereka bisa meringankan rasa kenyangnya. Mereka berdua memutuskan untuk menuju ruangan rawat Eleanor kembali.
__ADS_1
"Dia memang gadis malang Zayd. Lihatlah dia, dia tidak berani mengatakan semuanya pada kamu. Dan menganggap jika dirinya adalah wanita kuat dan bisa melakukan nya sendiri dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Tapi disini beban yang dia tanggung sangatlah besar dan dia sendiri sulit untuk bisa menangani semua itu. Dia sebenarnya ada benarnya juga, dia tidak ingin membebani kamu dengan semua masalah yang ada padanya. Sedangkan dua tahun masalah apa yang sedang kamu dan keluarga kita hadapi. Jadi mulai sekarang, kamu harus mengerti dan melihat dari sudut pandangnya yang memang selalu bisa melakukan nya sendiri" jelas Zia yang sedang melihat Eleanor menangis dalam tidurnya.
"Akan aku lakukan kak. Apapun untuknya, akan aku lakukan. Dia adalah wanita yang bisa membuat ku bisa merasakan bagaimana rasanya dicintai dan disayangi oleh seorang wanita sebaik dan juga setangguh dirinya. Aku akan membuatnya bisa mempercayai ku dan bisa terbuka padaku" jawab Zayd sambil duduk disamping Eleanor dan mengusap kepalanya. Lalu Eleanor terlihat lebih tenang tidurnya setelah mendapatkan perlakuan seperti itu dari Zayd.
Zia tersenyum dengan apa yang dikatakan oleh Zayd padanya. Zia yakin jika Eleanor adalah wanita yang pas juga sangat cocok dengan nya. Karena sikap manja dan juga kekanak-kanakan nya akan diimbangi oleh ketegasan dari Eleanor. Wanita kuat dan mandiri.
"Ya sudah, kamu jaga dia atau kamu masih ada praktek lagi?" tanya Zia sambil menatap jam tangan nya yang sudah menunjukan waktunya untuk bekerja kembali.
"Aku sudah ambil izin kak. Jadi aku akan tetap disini menunggunya, kakak tidak apa-apakan jika aku disini dan menunggunya?" jawab Zayd sambil bertanya juga pada Zia yang mengangguk.
"Aku minta tolong juga pada kakak. Tolong bilang pada Mommy, jika aku tidak bisa pulang sekarang atau nanti. Aku akan menginap disini dan menjaganya" lanjutnya lagi sebelum Zia benar-benar keluar dari ruangan rawat Eleanor.
"Oke akan kakak sampaikan. Tapi ingat kamu Zayd, jangan berbuat macam-macam!" jawab Zia sambil memberikan ancaman nya pada Zayd.
"Kakak tenang saja kak. Aku tidak akan melakukan hal yang macam-macam, hanya melakuan satu macam saja" jawab Zayd yang membuat Zia melempar sepatunya tepat mengenai kepala Zayd dan Zayd berteriak kesakitan.
"Kak, sakit tahu! Kakak itu suka sekali melakukan KDRT. Aku laporin pada komnas ham loh" ucap Zayd yang mengusap ubun-ubun nya yang terasa berdenyut nyeri karena lemparan sepatu Zia yang tepat sekali mengenai bagian runcingnya.
"Jika tidak mau seperti itu jangan bicara yang tidak-tidak. Tahu sendiri akibatnya" jawab Zia yang mengambil sepatunya dan mengenakan kembali lalu pergi dari ruangan rawat Eleanor sambil terus menggerutu kesal pada Zayd.
"Dasar kakak durhakim. Main lempar-lempar saja nih kepala, dikiranya ini kepala apakah?!" gerutu Zayd yang masih mengusap-ngusap kepalanya yang ternyata sudah benjol tersebut.
"Awas saja nanti. Akan aku adukan pada bang Juan! Eh, tapi bang Juan takut pada kakak. Yang ada dia malah ketakutan sendiri akan hal itu" gumam Zayd yang malah terlihat lesu kembali karena dia tidak bisa mengalahkan seorang Zia jika dalam hal tindas menindasnya.
Zayd hanya diam dan menatapi Eleanor yang masih terlelap. Zayd juga ikut merebahkan dirinya disamping Eleanor yang semakin nyenyak saat Zayd berada disampingnya. Zayd memejamkan matanya dan ikut terlelap bersama dengan Eleanor sambil memeluk tubuh Eleanor yang terasa semakin kurus dan juga sangat kecil itu.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa subscribe dan tinggalkan jejaknya ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya...
Juga pollow akun Othor juga ya... Terimakasih....