
Joyce sudah sampai dan langsung masuk kedalam kamarnya untuk mengurung diri. Dia tidak ingin keluar dari kamarnya sebelum perasaan nya jauh lebih tenang.
Sedangkan Zico langsung pulang dengan langkah yang gontai memasuki mainson. Dan itu tidak luput dari pandangan Mom Vita yang sejak tadi menunggunya pulang.
"Abang Zi, apa Mommy bisa bicara sebentar?" tanya Mom Vita saat Zico ingin menaiki anak tangga.
"Zi mandi dulu Mom, setelah mandi baru kita bisa bicara. Maaf Mom" ucap Zico yang langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri.
Mom Vita hanya memandanginya dengan tatapan sedihnya melihat putra pertamanya sedang seperti itu. Mom Vita hanya bisa menghela nafasnya saja lalu duduk disofa yang ada didekat anak tangga.
"Mommy sedang apa duduk sendiri disini?" tanya Zayd yang baru keluar dari dapur membawa camilan yang dia sukai.
"Mommy sedang menunggu abang Zi untuk turun" jawab Mom Vita yang menatap putranya bungsunya ini.
"Kenapa lagi dengan bang Zi?" tanya Zayd yang masih terus mengunyah.
"Tidak tahu. Makanya Mommy mau bertanya padanya" jawab Mom Vita yang masih menatapi Zayd dengan senyuman tipis dibibirnya.
"Apa Mommy mau ini? Enak loh Mom" tanya Zayd sambil menyodorkan makanan yang sedang dia pegang.
"Buat kamu saja. Mommy masih kenyang" jawab Mom Vita yang menggeleng.
"Ya sudah ini untuk ku saja" ucap Zayd yang masih terus mengunyah hingga Zia datang.
"Kalian berdua sedang apa? Mommy sepertinya sedang sedih? Apa yang sedang Mommy fikirkan?" tanya Zia yang sudah duduk disamping Mom Vita dan meluk Mom Vita.
"Mommy sedang memikirkan abang Zi" jawab Zayd dengan mulut penuhnya.
"Kenapa lagi dia? Apa dia membuat ulah dan juga masalah lagi?" tanya Zia yang sudah ingin meledakan amarahnya.
"Entahlah" jawab Zayn dengan mengedikkan bahunya.
"Dasar. Menyingkir kau" ucap Zia yang mendorong Zayd hingga....
BRUK..
"Kakak! Kakak apa-apaan sih. Sakit tahu!" protes Zayd dengan mengusap pan*atnya yang mencium lantai.
"Kenapa?!" ucap Zia yang malah melototkan matanya menatap Zayd.
__ADS_1
"Kalian ini. Kenapa selalu saja berantem jika sudah bertemu dan berdekatan?" tanya Mom Vita yang merasa heran dengan kedua anak-anaknya ini.
"Tidak apa-apa Mom" jawab keduanya kompak lalu memeluk Mom Vita.
Saat sedang saling berpelukan dan juga sedang membahas Zico. Yang dibicarakan sudah turun, kedua kakak beradik itu langsung pergi dari tempatnya tadi bersama dengan Mommy nya.
"Ada masalah apa lagi bang?" tanya Mom Vita saat Zico sudah duduk disamping nya saat ini.
"Tidak ada Mom. Hanya sedang banyak fikiran dan juga pekerjaannya saja" jawab Zico yang tidak berani menatap Mom Vita.
"Tatap Mommy Zico" ucap Mom Vita.
Jika Mommy nya sudah memanggilnya dengan namanya makan Mom Vita meminta Zico untuk jujur berbicara padanya.
"Sungguh Mom. Tidak ada masalah apapun" jawab Zico yang belum mau berbicara jujur pada Mom Vita.
"Jika tidak mau jujur juga, Mommy tidak akan mau ikut campur lagi urusanmu. Karena dengan begini saja Mommy sudah sangat kecewa dan juga gagal dalam mendidik dan juga membesarkan kamu. Sekarang semuanya terserah padamu saja. Jangan pernah mendatangi Mommy jika sedang ada masalah atau menginginkan sesuatu. Karena itu adalah keputusan yang sudah kamu ambil. Mommy tidak akan lagi ikut campur dalam urusan mu lagi" ucap Mom Vita yang langsung pergi dari duduknya dan pergi meninggalkan Zico yang sedang menatapnya sedih.
"Sudah puas membuat Mommy sedih Zico!" ucap Zio yang ternyata mendengar semua yang diucapkan oleh Mommy dan juga kedua saudaranya yang lain.
"Bukan urusan mu!" jawab Zico melangkahkan kakinya menjauh dari Zio.
BUK...
BUK...
BUK...
"Kau sudah membuat malu keluarga dan juga sudah membuat Mommy ku sedih. Dan kau tidak ada rasa bersalah nya sedikit pun juga. Hah!" ucap Zio yang sudah sangat emosi melihat sikap Zico yang sangat keterlaluan.
Zico hanya diam dan mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah. Zico tidak ingin menanggapi dan juga membalas apa yang Zio lakukan padanya. Karena Zio sedang emosi padanya, jika dia meladeninya maka akan ada perkelahian.
"Apa yang ingin kau lakukan. Hah! Tidak bisakah kau tidak melibatkan keluargamu saat kau sendiri tidak menganggap mereka semua keluarga" ucap Zio yang benar-benar sangat emosi sekali.
Zico langsung pergi menghidar dari Zio. Karena dia juga tidak mau terpancing emosi karena kemarahan Zio padanya. Tanpa disadarinya oleh keduanya Mom Vita masih menyaksikan kedua putranya sedang berkelahi, lebih tepatnya Zio yang sedang memukuli Zico dengan emosinya.
"Apa yang sedang Mommy lakukan disini?" tanya Zoya yang baru saja pulang dan melihat Mommy nya sedang menangis menatap kearah Zio.
"Mommy tidak apa-apa. Hanya lelah saja" jawab Mom Vita pada Zoya yang sedang berdiri menatapnya.
__ADS_1
"Apa Mommy yakin?" tanya Zoya lagi saat menatap mata Mommy nya sembab.
"Mommy benar-benar tidak apa-apa. Hanya tadi menonton film sedih, jadi Mommy kenangis. Sungguh, Mommy tidak apa-apa" jawab Mom Vita yang mengusap lengan Zoya dengan lembut.
"Baiklah Mom. Aku kekamar dulu mau membersihkan diri" ucap Zoya yang pergi menuju kamarnya.
Sedangkan Zico sedang membersihkan lukanya dan juga mengobatinya sendiri. Dia semakin sekali tidak merasa keberatan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Zio padanya. Karena menurutnya dia memang pantas mendapatkan semua ini.
Tiba-tiba dia teringat Ara yang sudah sangat lama tidak dia temui. Dia bahkan sekarang sedang kalut dengan perasaan nya sendiri.
"Kenapa aku malah mengingat Ara jika sedang seperti ini?" gumamnya sambil menatap dirinya dicermin.
"Apa yang sudah aku lakukan ini apa sudah benar? Apa ini tidak salah?" berbagai pertanyaan yang berkecamuk dalam dirinya sendiri.
"Semua yang abang lakukan dari awal sudah salah bang" jawab seseorang yang ternyata sudah masuk dan juga duduk disamping nya saat ini.
"Apa yang kamu katakan Zi?" tanya Zico pada Zia.
Ya, yang masuk kedalam kamar Zico adalah Zia. Dia memang suka sekali jika masuk tanpa izin dari pemilik kamar. Karena Zia sudah sangat gemas juga greget banget dengan sikap Zico yang plin plan.
"Sejak abang dekat dengan Ara saja sudah salah. Dan disaat kesalahan itu ada kakak juga dekat dengan Joyce. Tunggu, terbalik. Seharusnya saat sedang dekat dengan Joyce jangan abang dekati Ara juga. Sekarang siapa yang perlu disalahkan dalam hal seperti ini? Abang kah? Atau Joyce? Apa mungkin Ara? Abang tidak bisa menjawab nya bukan?" ucap Zia yang berbagai pertanyaan yang dia lontarkan pada Zico yang semakin prustasi dengan yang diucapkan oleh Zia.
"Abang nikmati saja prosesnya. Karena jika abang bertanggung jawab atas apa yang sudah abang lakukan adalah sebuah keberanian dan juga mengakui kesalahan itu sendiri. Tapi jika abang pergi dan mencari Ara atau wanita lain lagi hanya untuk bisa abang jadikan sebagai tempat menenangkan diri saja. Itu akan lebih salah lagi dan juga abang tidak lebih dari seorang pria yang pengecut!" ucap Zia dengan penuh penekanan disetiap kata yang dia ucapkan.
Zico hanya diam saja, seolah Zia tahu jika dia ingin menemui Ara untuk bisa menenangkan fikiran nya yang sedang berkecamuk. Dengan begitu dia bisa merasa lebih tenang dan juga menghilangkan rasa rindunya pada Ara.
"Jangan difikirkan yang belum pasti bang. Abang harus menghadapi semuanya dan juga selesaikan sendiri. Mungkin saja jika Joyce sedang mengandung benihmu saat ini" ucap Zia dengan entengnya.
"Apa maksud kamu Zi?" tanya Zico yang tidak tahu apa yang sedang dikatakan oleh Zia.
"Apa aku harus menjelaskan semuanya padamu bang? Tidak bukan" ucap Zia dengan tatapan dingin nya menatap Zico.
"Aku keluar, aku sudah memberikan konseling yang bagus bukan? Jadi renungkan dan resapi semuanya kedalam hati abang. Supaya abang bisa mengerti jika semuanya yang abang lakukan itu sudah salah semua" ucap Zia yang menepuk pundak Zico sambil berlalu dari dalam kamar Zico.
Sedangkan Zico hanya diam dan menatap Zia yang sudah menghilang dibalik pintu kamarnya. Dia memikirkan apa yang dikatakan oleh Zia dan juga meresapi semuanya. Hingga dia lelah sendiri dan memutusakan untuk tidur tanpa makan malam.
Zico benar-benar merasa berada disebuah jurang juga ada laut disebrangnya. Jika dia salah melangkah saja sudah dipastikan dia tidak akan bisa melangkah. Karena dikedua sisi ada bahaya yang mengancam nyawanya sendiri.
Zia juga mendatangi Zio yang sedang menetralkan perasaan nya yang sedang sangat emosi karena ulah abang nya.
__ADS_1
"Apa abang masih emosi juga?" tanya Zia saat sudah berada disamping Zio saat ini dan juga disusul oleh Zayd yang seperti ekor bagi Zia.
Zio hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan dari adik perempuan nya ini.