
Zayd mengerjakan tugasnya dengan baik dan benar pada seluruh pasien nya yang sedang menunggu giliran untuk diperiksa.
Setelah berjam-jam lamanya menangani pasien nya Zayd selesai juga. Dia berjalan menuju kantin rumah sakit yang ternyata sangat ramai oleh semua orang.
Zayd sengaja melepas jad kebesaran nya sebagai dokter. Dia mengenakan kemeja biasa dan langsung duduk dimeja yang masih kosong. Ternyata dia juga baru selesai menangani pasien nya yang kemarin datang menemuinya.
"Zayd, sudah pesan makanan atau belum?" tanya Zia saat melihat Zayd malah mainkan ponselnya.
"Kak, ini sejak kapan berita ini tersebar dimedia?" bukan nya menjawab pertanyaan dari Zia, Zayd malah bertanya padanya sambil memperlihatkan berita yang sedang viral saat ini.
"Maksud kamu apa sih Zayd. Kakak mana ngerti dengan semua itu. Lagi pula kan mang benarkan jika dia sedang dekat dan bahkan akan segera menikah bukan" jawab Zia dengan santainya sambil memakan gorengan yang tersaji diatas meja.
"Ya memang benar adanya. Tapi yang aku tanyakan, ini sejak kapan terjadi kak, ini sepertinya belum lama ini. Dan lihat ini kak, ini kan pakaian yang abang Zi kenakan kemarin kan?" tanya Zayd yang mengenali pakaian Zico yang kemarin dia kenakan.
"Iya juga. Tapi biarkan saja Zayd, toh mereka memang ingin menikah dan juga menata masa depan mereka sendiri bukan? Kita hanya bisa berdo'a supaya mereka baik-baik saja dan juga rencananya berjalan dengan lancar" jawab Zia yang mencoba mengerti perasaan Zico.
Mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk keduanya. Dan Ara, semoga saja Ara bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik dari abang nya yang plinpan mengambil keputusan.
"Kenapa kakak diam saja?" tanya Zayd yang melihat Zia hanya diam saja.
"Tidak apa-apa, hanya ingin dia saja" jawab Zia dengan cueknya dan sudah menghabiskan satu piring gorengan.
"Kak, kakak seharusnya jaga pola makan kakak. Jangan seperti ini terus. Apa kakak nggak takut kolesterol atau kegemukan gitu?" tanya Zayd yang melihat cara makan kakak nya yang sangat berbeda dari wanita-wanita lain.
"Kenapa memangnya, ada kamu yang akan selalu mengingatkan ku jika seperti ini bukan" jawab Zia dengan santainya dan dia mengambil makanan lain lagi yang tidak sedikit.
Zayd yang melihatnya merasa kenyang sebelum makan. Karena sudah melihat makanan yang diambil oleh kakak nya dan melihat kakak nya akan.
.
Tidak jauh berbeda dengan Zio dan Zayd yang sedang menikmati makan siang berdua. Zio dan juga Alexa juga sedang makan siang berdua disebuah restaurant yang tidak jauh dari tempat mereka berdua kerja.
__ADS_1
"Tumben banget sayang ngajak aku makan disini?" tanya Alexa pada Zio yang sedang menikmati makanannya.
"Hanya ingin saja. Memangnya tidak boleh membawa pacar aku yang cantik ini kemari?" tanya Zio sambil mencolek hidung mancung Alexa.
"Ya nggak gitu juga. Cuman ini baru pertama kali saja merasakan makanan direstaurant ini. Biasanya kan kamu selalu menyuruhku untuk datang ke PRATAMA.GROUP untuk makan siang. Jadi ini aneh saja" jawab Alexa yang membuat Zio berhenti mengunyah.
"Kenapa, apa pertanyaan ku salah ya?" tanya Alexa pada Zio yang sepertinya membuat Zio tidak berselera makan lagi.
"Tidak salah dengan pertanyaan kamu. Cuman kami sedang merasa gelisah saja, ada rasa sedih dan juga kecewa menjadi satu. Tapi semuanya sudah terjadi, mau bagaimana lagi" jawab Zio tidak langsung bicara pada intinya.
"Maksud kamu apa sayang? Aku tidak mengerti dengan ucapan kamu?" tanya Alexa dengan tatapan bingung dan juga penuh tanya.
"Abang Zi akan menikah" jawab Zio dengan lesu.
"Ya bagus dong, akhirnya mereka bisa menikah juga kan. Lalu apa yang membuat kamu sedih seperti ini, hmm? Katakan lah, mungkin aku bisa bantu dengan mencarikan solusi" tanya Alexa dengan menggenggam tangan Zio memberinya kekuatan untuk berbicara padanya.
"Abang Zi memang akan menikah. Tapi dengan Joyce bukan Ara, mereka sudah melakukan nya dan itu membuat Mommy kecewa dan juga marah pada abang Zi. Kami juga tidak tahu harus berbuat apa untuk abang Zi dan juga Joyce" ucap Zio yang membuat Alexa melotot sempurna mendengar ucapan dari Zio barusan.
"Makanya sayang, aku juga tidak tahu harus berbuat apa. Karena dia adalah saudara kembar ku sendiri, dan juga sangat aku sayangi itu" ucap Zio dengan menghembuskan nafasnya kasar.
"Kamu hanya bisa mendo'akan an juga mendukung nya. Mau bagaimana pun juga itu adalah urusan mereka berdua. Kita sebagai orang terdekatnya hanya bisa mendukung mereka berdua" ucap Alexa bijak dalam memutuskan sesuatu.
"Terimakasih sayang. Tidak salah aku bercerita pada kamu sekarang. Kamu paling bisa membuat aku tenang" ucap Zio yang langsung mengusap pipi Alexa dengan penuh kasih sayang.
"Sama-sama, inilah gunanya kita dekat dan menjalin hubungan. Kita berdua bisa saling melengkapi satu saling mengisi kekurangan masing-masing" ucap Alexa dengan senyuman yang selalu membuat Zio meleleh.
Mereka berdua makan siang dengan sangat romantis dan juga saling bercanda dan bertukar cerita satu sama lain.
.
Tidak jauh berbeda juga dari pasangan Zio dan Alexa. Zoya dan Dharma juga melakukan hal yang sama. Mekerka berdua juga sedang makan bersama didalam ruangan kerja Zoya.
__ADS_1
Dimana Zoya sedang memikirkan Zico yang melakukan kesalahan yang fatal. Bahkan itu dilakukan dengan sadar 100% diantara keduanya.
"Sudah sayang, jangan difikirkan terus. Semuanya sudah terjadi, kita hanya berdo'a untuk kebaikan keduanya. Jadi berhentilah memikirkan yang tidak-tidak" ucap Dharma yang sudah tahu watak dan juga sifat Zoya yang selalu memikirkan sesuatu dengan berlebihan.
"Bagaimana tidak difikirkan, dia adalah adik ku. Dan dia sudah melakukan nya dengan orang yang dia bilang hanya sebagai adik. Dan itu sangat aneh bukan?" jawab Zoya dengan pandangan yang sudah sangat lelah dan juga tidak bisa diartikan.
"Lalu apa kamu menjamin jika tidak saling suka dan mencintai tidak akan melakukan hubungan terlarang seperti itu? Itu hak yang wajar jika keduanya sama-sama mau dan sama-sama menginginkan. Jadi jangan beranggapan bisa melakukan itu karena atas dasar suka dan cinta saja. Bahkan itu bisa dilakukan hanya berdasarkan hawa na*sunya yang begitu besar antara keduanya. Itu adalah pemicu semuanya terjadi sayang. Jadi stop memikirkan itu semua" jelas Dharma dengan panjang lebar pada Zoya supaya dia bisa mengerti dan tidak memikirkan itu dan itu saja.
"Baiklah, aku tidak akan memikirkan nya lagi" jawab Zoya dengan memaksakan senyuman nya.
"Ini baru benar. Kamu beloeh merasa kasihan dan juga boleh memikirkan nya juga. Tapi jangan berlebihan seperti ini, karena Sesuatu yang berlebihan akan tidak baik untuk diri kamu juga sayang. Jadi, stop berfikiran yang bukan-bukan" ucap Dharma sambil mengusap kepala Zoya dengan sangat lembut.
Zoya hanya mengangguk dan melanjutkan makan nya dengan santai dan juga penuh semangat. Karena setiap makan siang pasti ditemani oleh orang tersayang nya.
.
Zico sekarang sedang berhadapan langsung dengan John. Ayah dari Joyce yang sengaja pulang untuk mengetahui benar atau tidaknya jika anak perempuan nya telah melakukan hal yang sangat memalukan.
"Apa yang ingin anda jelaskan Tuan Muda?" tanya John dengan tatapan tajamnya.
Walau dia adalah anak dari orang yang sudah membesarkan namanya hingga saat ini. Tetap saja Zico telah merusak putrinya.
"Saya tidak bisa menjelaskan apa-apa. Saya akan bertanggung jawab dengan semua yang telah saya lakukan. Dan akan membahagiakan Joyce sesuai dengan yang saya bisa" ucap Zico dengan tegas dan juga jelasnya.
"Anda sangat yakin jika saya memberikan putri saya untuk anda Tuan Muda?" tanya John pada Zico dengan pandangan sinis nya.
"Jika anda tidak mengijinkan nya malah saya akan membawa nya walau tanpa restu dan izin dari anda sekalipun" jawab Zico semakin menantang John.
"Nyali anda besar juga Tuan Muda. Saya merasa terkesan dengan semua kegigihan anda ingin bertanggung jawab pada putri saya" ucap John semakin membuat Zico tersulut emosi.
"Saya memang tidak meragukan anda bisa memberikan kebahagiaan materi. Tapi apa anda bisa membahagiakan nya dengan sepenuh hati anda? Saya tahu jika anda masih memiliki hubungan dengan seorang wanita dan anda juga masih mencintai nya bukan?" tanya John dengan sangat telak.
__ADS_1
Membuat Zico tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya diam mendengarkan apa yang diucapkan oleh Ayah nya Joyce memang benar adanya.