
Mereka saling diam hingga Zia bersuara akan pergi lebih dulu. Jelas saja dia sangat kecewa dengan ini semua, dia mencoba untuk menenangkan diri dulu.
"Kak, aku duluan" ucap Zia pada Zoya yang masih berdiri mematung.
"Kak, aku ikut" ucap Zayd yang mengikuti Zia dari belakang.
Dan tinggal lah Zio dan Zoya diruangan makan bersama dengan Zico dan Joyce yang masih dalam posisi yang sama seperti tadi.
"Abang harus bisa meyakinkan Mommy supaya Mommy tidak marah lagi dan lebih kecewa pada abang" ucap Zio yang mendekat pada Zico dan menepuk pundaknya.
"Duduk Zi. Kakak ingin mendengarkan penjelasan dari kamu" ucap Zoya pada Zico dan menuntun nya untuk duduk bersama.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi kak, semuanya sudah jelas. Aku akan segera menikahi Joyce dalam waktu dekat ini" jawab Zico dengan tatapan kosong nya.
"Itu semua adalah keputusan kamu Zi, kakak hanya bisa mendo'akan saja. Tapi bagaimana dengan Ara? Bukankah kamu sudah menjanjikan nya untuk menikahinya juga? Maaf kakak tidak bermaksud untuk ikut campur dalam masalah pribadi kamu. Ada baiknya jika semuanya dibicarakan lagi sebelum masalahnya semakin runyam" ucap Zoya yang langsung pergi setelah mengucapkan itu kepada adiknya.
Tinggal lah Zico dan Joyce diruangan tersebut. Zico mencoba untuk bisa tenang dan juga berfikir jernih. Supaya apa yang akan dia lakukan tidak menimbulkan masalah baru lagi. Dia ingin semuanya berjalan baik dan tidak ada masalah saat dia menjelaskan pada Ara.
"Joyce, kita akan menemui Ara. Apa kamu mau menemuinya juga bersama ku?" tanya Zico pada Joyce.
"Iya bang. Aku juga ingin meminta maaf padanya. Karena Ibu juga kesalahan aku" jawab Joyce dengan matanya yang sudah membengkak karena banyak menangis.
"Baiklah, kita kesana sekarang. Setelah menjelaskan pada Ara baru kita akan merencanakan pernikahan" ucap Zico dengan berjalan menggandeng tangan Joyce.
"Apa masih terasa sakit?" tanya Zico saat melihat cara berjalan Joyce yang seperti penguin.
"Sedikit" jawab Joyce merasa malu karena ditanya seperti itu.
"Maafkan abang Joyce. Karena abang sudah melakukan nya dengan kasar, abang berjanji tidak akan berbuat kasar lagi pada kamu" ucap Zico pada Joyce yang sedang berdiri dihadapan nya saat ini.
"Iya bang, aku ngerti kok. Kita juga saling menikmati bukan? Jadi jangan selalu menyalahkan diri abang sendiri" jawab Joyce dengan tersenyum pada Zico dan mengusap pipinya dengan sangat lembut.
Zico mengemudikan mobilnya menuju kediaman Harrison yang terletak cukup jauh dari mainson Edison. Tapi dia harus berbicara pada Ara dan menjelaskan semuanya.
__ADS_1
Dia tidak ingin jika Ara semakin salah faham dan malah membenci mereka. Tapi bukankah mereka jugabpasti akan membencinya juga? karena Zico terkesan mempermainkan perasaan Ara dan juga menjanjikan yang tidak pasti.
Saat mereka berdua sampai. Ternyata langsung disambut oleh tatapan permusuhan dari Alvin, ya ternyata Alvin baru akan berangkat kerja dan Ara ada disamping Alvin.
"Ara, abang mau berbicara dengan Ara sebentar" ucap Zico pada Ara yang hanya menatapi keduanya dengan bingung.
"Serahkan abang mau bicara apa. Tapi Ada tidak punya banyak waktu, Ara harus segera pergi sekarang juga" ucap Ara dengan bahasa isyarat nya pada Zico.
"Tapi ini sangat penting Ara. Apa kamu tidak bisa meluangkan nya hanya sebentar?" tanya Zico lagi pada Ara yang diam mematung menatap Zico yang rasanya sungguh berbeda.
Ara hanya mengangguk setuju. dan mereka berbicara ditaman belakang dengan diikuti oleh Joyce dibelakngnya.
"Apa yang ingin abang tanyakan" ucap Ara memulai pembicaraan nya dengan Zico.
"Ara, maafkan abang. Abang tidak bisa menikahi Ara, karena abang sudah melakukan nya dengan Joyce. Abang harus bertanggung jawab atas perbuatan abang padanya" ucap Zico to the point pada Ara.
"Baiklah. Ara tidak akan memaksa abang untuk menikahi Ara. Ara tahu, jika Ara bukanlah wanita yang tepat untuk mendampingi abang dikemudian hari. Ara akan berdo'a supaya pernikahan abang dan Joyce langgeng dan hingga kejannah nya" ucap Ara dengan pandangan yang biasa saja pada Zico.
Dan itu sangat menyakitkan untuk Zico sendiri. Zico berfikir jika Ara akan menangis dan akan menyalahkan dirinya yang tidak bisa menahan tawa na*sunya sendiri. Memang semuanya diluar ekspetasi yang Zico bayangkan.
Ara benar-benar pergi dari hadapan Zico dan juga Joyce yang sedang menatap heran padanya. Ara melangkah dengan pasti dan memasuki mobil sang kakak.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Alvin saat Ara sudah masuk kedalam mobilnya.
"Iya, Ara baik-baik saja. Ara merasa jika ini lebih baik dari pada harus diam dan tidak tahu apa-apa. justru Ara merasa ini sangat lega didalam hati Ara" jawab Ara yang masih saja tersenyum kearah Alvin sang kakak.
"Kau ini. Kakak senang jika kamu bahagia, karena kakak akan melakukan apa saja asal bisa membuat kamu selalu bahagia dan juga tersenyum seperti ini" ucap Alvin sambil mengusap kepala adiknya dengan penuh sayang.
"Terimakasih untuk segalanya kak. Ara sangat bersyukur bisa memiliki kakak dan keluarga" ucap Ara dengan sangat tulus dan juga kebahagiaan.
Walau dibagian hatinya yang lain sedang merasakan sakit karena cintanya telah dikhianati. Tapi bukankah semuanya sudah berakhir sejak lama? Jadi tidak ada lagi yang perlu disesali dan juga ditangisi.
.
__ADS_1
Sedangkan Zia sedang dipenuhi dengan amarah karena mendengar abang nya sudah melakukan hal diluar dari dugaan mereka semua. dia dengan gamblang dan tidak merasa menyesal sedikit pun juga dengan kesalahan sebesar itu.
"Kak, kakak jangan marah-marah terus. Apa kakak tidak lelah marah terus sejak tadi pagi?" tanya Zayd yang sudah pusing melihat kemarahan kakak nya yang satu ini.
"Bagaimana kakak tidak marah Zayd. Kakak merasa sangat kecewa dengan sikap yang Zi yang terkesan seenaknya sendiri. Dia melakukan nya dengan Joyce dan dia masih menjalin hubungan dengan Ara! Kakak benar-benar tidak habis fikir dengan jalan fikiran nya itu" ucap Zia yang mulai mereda amarahnya.
"Iya kak, aku juga tahu. Tapikan semuanya sudah terjadi, dan abang Zi sebagai lelaki yang gentleman memang harus bertanggung jawab bukan? jadi apa yang jadi permasalahan diantara kakak dan abang Zi? bukankah kita sebagai keluarga hanya bisa berdo'a dan juga mendukungnya ya?" ucap Zayd dengan panjang lebar dan juga bertanya pada Zia.
"Iya juga. Kenapa jadi aku yang marah-marah tidak jelas seperti ini? Jika kecewa pasti saja semuanya juga kecewa akan sikap bang Zi yang sudah terlewat batasnya" ucap Zia yang mendengarkan apa yang Zayd katakan tadi padanya.
"Thank you Zayd, sudah membuat kakak mengerti. Dan terimakasih juga sudah menemani kakak disini dan juga mendengarkan ocehan dari kakak" ucap Zia yang langsung memeluk tubuh adiknya bungsunya ini.
"Sama-sama kak. Itulah tugasnya seorang saudara, jika ada saudaranya yang lain sedang kesusahan maka harus membantunya juga bukan. Jadi ini tidak sangat biasa kan kak?" jawab Zayd dengan penuh senyuman dibibirnya.
"Ish dasar kamu ini. Yuk kita pergi sekarang, ini sudah hampir siang dan kakak ada pasien pagi ini" ucap Zia yang mengajak Zayd untuk segera pergi dari tempatnya berhenti tadi.
"Oke kak" jawab Zayd yang selalu tersenyum pada siapa saja dan juga selalu ceria.
Zayd mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit tempat praktek dirinya dan juga Zia. Sang kakak, mereka berdua tidur secara bersama-sama dan banyak yang menganggap jika mereka adalah pasangan kekasih.
"Zayd, kakak duluan ya" teriak Zia pada Zayd yang masih mengambil barangnya yang ada didalam mobil.
"Iya kak" jawab Zayd yang mengangkat ibujari nya.
Mereka berdua tak luput dari pandangan semua kariawan rumah sakit dan juga para pasien yang ada didalam rumah sakit itu. Karena ketampanan dan juga kecantikan keduanya sangat tidak biasa.
"Pagi dokter Zayd. Hari ini anda akan banyak menangani pasien dok" ucap asisten nya yang bernama Fauzana.
"Iya Ana saya sudah tahu. Karena saya sudah melihat didepan sana tadi" jawab Zayd dengan senyuman dibibirnya.
"Dok bisa tidak jika dokter jangan terlalu tampan dan juga manis? Saya jadi lupa sama suami" goda suster Ana pada Zayd.
"Sus, anda waras kan? Kenapa sayang jadi takut pada anda ya" tanya Zayd dengan bergidik ngeri melihat suster Ana uang mereog tidak jelas.
__ADS_1
Sedangkan suster Ana hanya tertawa mendengar ucapan dari dokter muda dan juga tampan seperti dokter Zayd.