Unforgettable Love five.Z

Unforgettable Love five.Z
Daffy Zi Pratama


__ADS_3

Eleanor seperti sedang bermimpi jika saat ini dia berada didalam pelukan hangat kekasihnya yang sangat dia rindukan. Dia semakin mempererat pelukan nya dan menelusupkan wajahnya kedalam dada bidang Zayd.


Zayd yang menyadari jika Eleanor sedang memeluknya semakin erat hanya diam dan menarik sudut bibirnya membentuk senyuman dibibirnya. Dia sangat senang sekaligus sedih karena sekarang Eleanor seperti menjaga jarak padanya.


"Tolong Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membuat kamu kecewa, aku hanya tidak ingin membuat kamu dipermalukan oleh orang-orang karena dekat denganku. Aku sungguh minta maaf, karena aku juga terpaksa melakukan itu semua demi kebaikan kamu dan keluarga kamu. Maafkan aku dan i love you" ucap Eleanor tanpa dia sadari ucapan nya jika ternyata Zayd mendengar semuanya.


"Kamu boleh marah dan bahkan membenciku. Tapi jangan pernah meninggalkan aku sendiri, aku sangat takut dengan kesendirian dan aku takut jika kamu akan melupakan aku. Jangan melakukan itu padaku, jangan pernah melakukan itu padaku" ucap Eleanor yang masih memeluk Zayd dan belum sadar jika yang dia peluk adalah orang yang sedang dia ajak bicara adalah nyata dan orang yang sama.


'Bahkan kamu belum menyadari jika aku yang kamu ajak bicara ada dihadapan kamu sekarang. Semoga saja kamu memang tidak melakukan kesalahan yang akan membuat kamu menyesal dikemudian hari sayang. Aku tidak akan pernah bisa jauh apa lagi harus membenci kamu, yang ada aku akan tersiksa dan terluka' ucap Zayd dalam hati sambil terus memeluk Eleanor yang sudah tidak mengigau lagi dalam tidurnya.


Akhirnya Zayd dan Eleanor terlelap bersama hingga mereka tidak sadarkan jika ada seseorang yang masuk dan melihat keduanya sedang tertidur sambil berpelukan.


"Dasar bucin. Tadi saja nangis-nangis karena nggak dikasih tahu alasan nya, sekarang tidur saja sambil senyum-senyum nggak jelas" gumam Zia yang akan pulang tapi singgah dulu dibangsal Eleanor.


Setelah mengatakan itu Zia langsung keluar lagi. Dia juga sudah dijemput oleh kekasihnya yang memang selalu mengantar jemput pujaan hatinya.


"Sorry telat, sudah lama nunggu?" tanya Zia saat sudah masuk kedalam mobil Juan.


"Nggak, baru saja sampe" jawab Juan sambil tersenyum dan mengusap pipi Zia. Dibalas senyuman paling manis dari Zia yang membuat Juan semakin klepek-klepek. Mirip ikan kurang air.


"Kita langsung pulang atau kemana dulu?" tanya Juan setelah mengemudikan mobilnya.


"Pulang saja, hari ini aku ingin langsing istilahat saja. Sungguh hari ini sangat sibuk dan juga melelahkan" jawab Zia yang menyandarkan punggungnya pada sandaran jok mobil dan memejamkan matanya.


"Oke sayang. Aku akan mengantarkan kamu pulang sekarang" ucap Juan yang mengusap kepala dan Pipi Zia.


"Makasih sayang" jawab Zia yang menoleh kearah Juan yang sedang meyetir dan menatapnya sekilas.


Keduanya saling tersenyum dan juga merasakan kebahagiaan yang mendalam. Juan menggenggam tangan Zia dan sesekali menciumnya. Membuat Zia semakin bahagia dan juga sangat dicintai oleh duda beranak satu ini.


Hingga mobil yang dikendarai oleh Juan sudah sampai dihalaman mainson Edison. Dimana sudah ada Mom Vita dan Dad Louis yang sudah menunggu Zia pupang.


"Assalamualaikum" ucap Zia dan Juan saat sudah keluar dari dalam mobil.


"Wa'allaikumsalam" jawab Mom Vita saat Zia dan Juan mencium tangan mereka berdua bergantian.


"Kok berdua saja? Zayd mana kak?" tanya Mom Vita saat celingukan mencari keberadaan Zayd yang tidak ada dan tidak ikut pulang.


"Zayd nginep dirumah sakit Mom. Dia sedang menjaga ceweknya yang sedang sakit" jawab Zia yang langsung masuk kedalam mainson setelah mengatakan itu dan melihat Juan juga sudah pergi dari halaman mainson dengan mobilnya.


"Kenapa? Apa sakitnya parah?" tanya Mom Vita lagi sambil mengikuti langkah kaki Zia.


"Lumayan memprihatinkan Mom, dia sepertinya sangat stres dan juga tertekan dengan semua keadaan. Makanya nanti dia harus bisa konsultasi dengan ku dan bisa meringankan beban dalam fikiran dan juga hatinya. Semoga saja dia mau melakukan itu semua demi kebaikan nya, jika tidak yang mau bagaimana lagi. Zayd juga tidak bisa melakukan apa-apa, meski dia menginginkan supaya dia bisa sembuh jika dia sendiri tidak menginginkan nya" jawab Zia panjang lebar pada Mom Vita dan Dad Louis yang mendengarkan apa yang diucapkan oleh Zia pada mereka berdua.

__ADS_1


"Kasihan juga jika seperti itu. Somoga saja semuanya lebih baik dan dia mau melakukan semua pengobatan yang harus dia lakukan" ucap Mom Vita yang merasa sangat kasihan dan juga priatin mendengarnya.


"Semoga Mom, aku kekamar dulu ya Mom, Dad. Aku sangat lelah sekali" ucap Zia yang pamit pada Mommy dan Daddy nya.


"Iya sayang. Istirahatlah" jawab Mom Vita yang mengusap kepala Zia dengan sayang.


"Good night my princess" ucap Dad Louis yang selalu memperlakukan Zia seperti putri kecilnya terus.


"Good night, Mom Dad" jawab Zia yang langsung melangkah menaiki anak tangga.


Zia segera membersihkan dirinya lalu langsung merebahkan dirinya diatas ranjang miliknya. Dia tidak mengecek ponselnya lagi, karena dia sudah sangat lelah juga mengantuk. Makanya Juan menghubunginya tidak Zia angkat.


.


Berbeda dengan pasangan muda Zico dan Joyce yang sedang didalam kamarnya. Joyce semakin tidak mengenali Zico sekarang, jangankan mendapatkan hati dan cintanya. Perhatian nya saja tidak Joyce dapatkan.


'Apa ini sikap asli kamu bang? Kamu menjanjikan akan berusaha untuk bisa menumbuhkan cinta dihati kamu. Jangankan cinta yang kamu berikan, sekarang aku sedang tidak enak badan saja kamu tidak mengatakan apa-apa padaku. Kamu selalu sibuk dengan pekerjaan kamu, janji kamu semuanya bulsit' ucap Joyce dalam hati yang menatap punggung Zico yang terlelap dengan memunggunginya.


'Ini semua memang salahku, andai... Andai saja aku tidak melakukan perbuatan itu untuk bisa memiliki kamu. Aku tidak akan berada dipisisi seperti sekarang. Sekarang yang tersisa hanya kata andai' gumamnya lagi sambil meneteskan air matanya.


Hatinya terasa sangat sakit dan juga bagai diremas tangan tak kasat mata. Dia menangis dalam diam, dan dia hanya mengusap perutnya yang sudah sangat membesar dan sudah menunggu waktunya saja untuk segera lahir.


'Maafkan Mommy sayang. Mommy tidak bisa membuat Daddy kamu menyayangi kamu, karena memang ini kesalahan Mommy. Mommy akan bertahan demi kamu, demi kamu yang bisa memiliki orang tua seutuhnya. Tapi jika Daddy kamu memutuskan untuk melepasakan Mommy dan juga kamu, Mommy akan berusaha untuk bisa menjadi Mommy dan Daddy untuk kamu. Mommy akan berusaha untuk itu' ucapnya sambil meringis menahan sakit diperutnya.


"Bang, perutku sakit" Joyce terpaksa membangunkan Zico untuk membantunya bangun dan membawanya kerumah sakit.


"Apa! Apa kamu akan segera melahirkan?" tanya Zico yang langsung terbangun dan menatap Joyce yang sedang meringis lalu mengangguk.


"Ya sudah, sekarang abang bantu kamu bangun. Apa kamu sudah menyiapkan semua perlengkapan nya?" tanya Zico lagi saat membantu Joyce bangun dan memapahnya untuk duduk dikursi.


"Ada disana bang" jawab Joyce yang benar-benar sudah tidak kuat lagi menahan sesuatu yang akan keluar dari dalam perutnya.


"Bang cepat. Aku sudah tidak kuat lagi, ini sangat sakit" ucap Joyce yang memberanikan diri untuk mengatakan itu pada Zico.


"Iya iya. Ini abang sudah mengambilnya. Ayo sekarang kita kerumah sakit" ucap Zico yang memapah Joyce untuk segera pergi setelah dia mengambil perlengkapan dan juga mengambil dompet dan kunci mobilnya.


"Joyce, kamu pipis?" tanya Zico saat melihat air yang keluar dari sela paha Joyce.


"Nggak bang, mungkin ketubanku sudah pecah. Tolong lebih cepat bang, aku tidak ingin anak ku kenapa-kenapa" ucap Joyce yang mulai sedikit khawatir akan kondisi baby nya yang ada didalam.


"I... Iya" jawab Zico yang segera menggendong Joyce menuju kemobilnya yang sudah dia siapkan.


Zico tidak mengabari keluarganya dan juga siapa-siapa. Zico juga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh dan utung saja ini sudah Tengah malam, jadi jalanan tidak Macet dan dia langsung sampai didepan rumah sakit dan dibantu oleh para perawat yang akan membantu Joyce.

__ADS_1


"Apa anda suaminya Pak?" tanya perawat yang melihat Zico hanya berdiri diluar ruangan UGD tidak ikut masuk untuk menemani Joyce.


"Iya sus, ada apa? Saya sudah menandatangani administrasinya. Apa ada lagi?" jawab Zico sambil bertanya balik pada suster yang menanyakan nya.


"Apa anda tidak ingin menemani istrinya saat berjuang untuk melahirkan buah hati anda? Karena kata dokter pembuka*n nya sudah lengkap dan akan segera dipindanakan menuju ruangan persalinan. Jika anda tetap disini anda tidak akan bisa melihatnya dan menemaninya. Maaf jika saya lancang Pak" jelas suster yang sudah ketakutan duluan melihat sorot mata Zico yang tajam.


Zico tidak mengatakan apa-apa saat suster menjelaskan semuanya padanya. Dia hanya diam dan duduk diruangan tunggu, dia benar-benar tidak menemani Joyce yang sedang berjuang antara hidup dan matinya melahirkan benih yang dia tanam.


'Kamu benar-benar sangat tega padaku bang. Disaat aku akan berjuang untuk melahirkan putramu, kau bahkan tidak sudi untuk menemaniku dan menyemangatiku' ucap Joyce dalam hati yang sudah sangat teramat sakit atas apa yang Zico lakukan sekarang.


"Bu, apa Ibu sudah siap? Jika sudah ikutin intruksi dari saya ya" tanya dokter yang menanganinya dan dia hanya bisa mengangguk dan menangis dalam diam.


'Mommy, Daddy. Maafkan Joyce' ucap Joyce dalam hati lalu menge*an dengan kencang dan langsung keluar baby boy yang sangat tampan juga sehat.


"Selamat Ibu, baby boy yang sangat sehat dan tidak kekurangan satu apapun" ucap dokter yang meletakan baby boy diatas dadanya untuk bisa mencari sumber nutrisinya sendiri.


"Hai sayang. Assalamualaikum baby Daffy, Mommy memberikan nama Daffy ya. Nama yang sangat pas dan cocok untuk kamu sayang" gumam Joyce sambil menangis dan juga tersenyum menatap baby boy yang juga ikut tersenyum mendengar ucapan dari Mommy nya.


"Kami bersihkan dulu baby nya ya bu. Ibu juga akan saya benarkan kembali jalan lahirnya yang hanya ada sedikit robeknya. Permisi ya bu" ucap dokter yang membantunya melahirkan.


Joyce hanya mengangguk, karena dia masih merasakan lemas dan juga sangat lelah hati dan juga fisiknya. Dia tidak ingin terlihat lemah dan juga sangat membutuhkan Zico lagi, karena dia tidak ingin membebani Zico yang tidak ingin menerimanya dengan sepenuh hatinya.


.


Sedangkan diluar Zico sudah mondar mandir dihadapan pintu ruangan persalinan Joyce. Dia tidak berani untuk masuk kedalam, walau dia mendengar suara tangis baby yang sangat kencang juga sangat nyaring.


"Dia sudah lahir. Apa aku pantas untuk dipanggil Daddy olehnya? Dia pasti akan sangat kecewa padaku. Karena selama ini aku tidak pernah menemaninya kontrol dan juga mengajaknya bicara. Maafkan aku boy" gumam Zico yang menatap pintu ruangan persalinan yang masih tertutup rapat.


"Kamu boleh membenciku Joyce. Karena aku bukanlah suami yang baik untuk kamu dan juga anak... Kamu, seperti yang kamu katakan padaku tadi" gumam Zico lagi yang meneteskan air matanya.


Setelah beberapa lama baby boy keluar untuk ditempatkan didalam ruangan baby. Zico mengikuti langkah suster yang membawa putranya. Lalu dia mengadzaninya dan dia menangis setelah mengadzaninya dan mencium pipinya yang tembem dan juga sangat mirip dengan nya baik wajah maupun semuanya. Sangat mirip dengan dirinya.


"Assalamualaikum baby Daffy Zi Pratama. Sesuai keinginan Mommy kamu sayang, Maafkan Daddy" ucap Zico yang masih menggendongnya dan menatapnya dengan tatapan teduh dan sedihnya.


Karena dia hanya menyematkan nama keluarganya saja. Dia tidak berhak memberikan hanya sebuah nama saja.


.


.


.


Minal aidzin wal faidzin... Mohon maaf lahir batin dari Othor... Jika ada salah kata atau ketikan nya banyak typo, mohon dimaafkan dan dimaklumi ya...

__ADS_1


__ADS_2