Unforgettable Love five.Z

Unforgettable Love five.Z
Dilema nya Dharma


__ADS_3

Zoya dan Ibu Sri sedang memasak bersama, mereka berdua seperti Ibu dan anak kandung saja. Mereka berdua bahkan sangat kompak melakukan apapun.


"Ibu, aku juga jika sedang dimainson bersama Mommy suka melakukan seperti ini dengan Mommy. Bahkan Mommy sudah sering mengajari memasak. Kata Mommy, sebagaimana pun jabatan seorang istri diluar rumah. Jika dididalam rumah tetap menjadi Ibu rumah tangga pada umumnya" ucap Zoya saat sedang menumis sayur dengan sangat lincah nya.


"Wah, neng Zoya memang sudah pandai memasak. Jadi sudah siap ini mah untuk menjadi seorang istri?" goda Ibu Sri pada Zoya.


"Ah, Ibu bisa saja. Aku ini belum ada apa-apa nya sama Ibu. Malah aku harus banyak belajar dari Ibu" ucap Zoya pada Ibu Sri saat mengangkat wajan diatas kompor.


"Sudah siap bu. Ada lagi yang perlu dimasak?" tanya Zoya saat Ibu Sri sedang menyiapkan cabai untuk membuat sambal.


"Sudah neng tidak perlu. Ini tinggal membuat sambal saja, jadi menggunakan Zoya tidak perlu menyambal juga. Biar Ibu saja yang membuat" ucap Ibu Sri pada Zoya saat Zoya sudah mengambil ulekan dan juga cobek.


Sementara diluar dapur Dharma sedang melihat interaksi antara keduanya. Dharma sangat senang karena Ibunya sudah ada teman untuk mengobrol dan juga memasak bersama. Sejak kakak-kakak nya pergi jauh dari mereka. Ibunya terlihat sedih, dan seperti tidak bersemangat. Tapi semenjak kedatangan Zoya membuat suasana rumah juga semakin ramai dan terlihat hiadup.


Dharma perfikir lagi. Bagaimana jika dia sudah ke kota untuk bekerja? Pasti Ibu dan Bapak nya akan semakin kesepian dirumah, karena mereka hanya tinggal berdua saja.


"Apa yang harus aku lakukan. Jika aku pergi, pasti Ibu dan Bapak akan sedih, tapi aku juga ingin bekerja juga. Tidak ingin selalu menyusahkan Ibu dan Bapak" gumam Dharma yang dilema akan keputusan apa yang akan dia ambil.


"Kenapa nak" ujar Pak Kimin pada putra nya yang hanya diam saja melihat kedua orang yang sedang memasak.


"Tidak Pak, aku hanya bingung saja. Jika aku harus kerja dikota, Ibu sama Bapak akan sendirian dirumah. Tapi jika ikut aku kekota mau nggak Pak?" tanya Dharma pada Bapak nya.


"Kalau Bapak lebih suka disini nak. Bapak tidak mau berada dikota, dikota tidak akan ada pekerjaan. Pasti Bapak akan bosan nantinya. Tapi jika Bapak dan Ibu ingin bertemu, pasti Bapak dan Ibu akan kekota untuk bertemu dengan mu" ucap Bapak tidak mau pergi darikampung nya.


Mereka berdua berbincang-bincang hingga kedua wanita beda usia itu menghampiri dengan membawa beberapa masakan yang baru saja mereka masak bersama.


"Makan dulu Pak, Dharma" ucap Zoya saat sudah meletak kan makanan juga piring yang akan mereka gunakan.


.


Berbeda dengan Zoya yang merasa sangat bahagia berada ditengah-tengah keluarga Pak Kimin ini. Zayd sedang bersama dengan teman satu jurusan nya sedang melakukan praktek langsung.


"Loe kenapa Zayd? Pucat banget wajahnya" tanya seorang pria teman praktek Zayd.


"Aku, aku nggak apa-apa" jawab Zayd dengan sangat gugup.


Sebenarnya dia sedang menetralkan perasaan takutnya terhadap darah. Walau itu bukan darah sungguhan, tapi tetap saja itu membuat nya menjadi gelisah dan matanya sudah berkunang-kunang.

__ADS_1


"Kamu sedang apa!" teriak Zia pada Zayd yang sudah sangat ketakutan akan darah.


"Aku akan praktek kak. Kakak kenapa kesini?" jawab Zayd dan juga bertanya pada Zia.


"Aku tahu jika kamu tidak bisa melakukan ini. Ayo kita pergi sekarang, atau kamu akan pingsan disini!" ancam Zia pada Zayd.


Dan mau tidak mau Zayd mengikuti langkah kaki Zia yang sudah menarik tangan nya untuk menjauh dari ruangan peraktek.


"Kenapa kamu memaksakan diri untuk bisa melakukan peraktek yang bersangkutan dengan darah?" tanya Zia pada Zayd yang sedang duduk dan meminum ari yang dia beri.


"Aku harus bisa melawan rasa takut ku kak. Jika aku seprti ini terus, bagaimana aku akan bisa menjadi seorang dokter? Aku ingin menjadi dokter yang professional" ucap Zayd yang sudah menetralkan perasaan nya juga nafasnya yang sedikit tersendat.


"Iya kakak tahu itu. Tapi lihat wajah kamu, kamu sangat ketakutan dan juga sulit bernafas buka? Jika kamu memaksakan nya, bukan hanya pingsan saja. Mungkin juga. Wus" ucap Zia sambil mengibaskan tangan nya seolah bilang Zayd akan lewat.


"Ih, amit-amit kak. Serem banget ngomong nya" ucap Zayd yang melihat kakak nya yang dengan santainya menertawakan dirinya yang sudah ketakutan.


Mereka berdua malah tertawa bersama saat jam pelajaran praktek sedang berlangsung. Mereka malah tidak mengerjakan nya.


"Kak, gimana kalo aku dateng kerumah sakit untuk perrika supaya aku bisa menghilangkan rasa takut aku. Aku ingin sembuh kak" ucap Zayd dengan serius.


"Ya sudah ayo" jawab Zia yang menarik tangan adiknya lagi.


"Jadi apa yang anda inginkan Tuan Muda?" tanya dokter paruh baya pada Zayd.


"Aku ingin melupakan rasa takut ku pada darah dok. Aku tidak mau terus-terusan merasa takut jika melihat darah" jawab Zayd pada dokter tersebut.


"Baiklah Tuan Muda, saya akan melakukan apa yang anda inginkan. Tapi sebelum nya saya mau mengingatkan jika nanti setelah melakukan hipnoterapy anda akan menjadi diri anda sendiri, tapi akan ada yang berubah pada dirinya anda nantinya. Apa anda setuju Tuan Muda?" tanya dokter tersebut.


"Saya setuju, asalkan saya bisa sembuh dok. Tapi apa aden hanya satu kali hipnoterapy atau beberapa kali?" tanya Zayd pada dokter.


"Akan beberapa kali Tuan Muda, ini adalah tahap pertama dan akan melakukan adaptasi dulu sebelum melakukan pengobatan selanjutnya. Mungkin akan memakan waktu lama" jawab dokter itu.


"Kira-kira berapa lama dok?" tanya Zayd lagi dengan antusias.


"Mungkin akan memakan waktu 2 hingga 3 bulan Tuan Muda. Karena yang anda derita ini sudah bawaan dari lahir, dan ini mungkin karena factor tertentu yang menyebabkan anda bisa takut pada darah" jawab dokter tersebut menjelaskan.


"Apa sesi terapinya akan setiap hari juga? Atau hanya sesekali atau mungkin seminggu sekali?" tanya Zayd ingin tahu lebih banyak lagi tentang penyakit nya ini.

__ADS_1


"Bisa dilakukan setiap hari Tuan Muda. Karena jika melakukan nya setiap hari, akan lebih cepat pemulihan nya. Apa lagi semangat Tuan Muda yang ingin segera sembuh. Pasti akan lebih cepat lagi, yang penting adalah optimis" jelas dokter nya lagi.


"Baiklah. Aku menerimanya, dan aku setiap hari akan datang kemari untuk melakukan perawatan" jawab Zayd dengan semangat nya.


"Apa Tuan dan Nyonya sudah mengetahui nya Tuan Muda? Saya tidak mau jika nanti terjadi masalah saat sedang masa pemulihan Tuan Muda, dan juga dukungan dari keluarga akan semakin mempercepat penyembuhan juga nantinya" tanya dokter yang sedang memeriksa kondisi Zayd secara meseluruhan.


"Pulang dari sini aku akan bilang pada Mommy dan Daddy, karena mereka pasti akan senang jika aku bisa sembuh" jawab Zayd dengan semangat nya


"Baiklah Tuan Muda, semuanya sudah selesai. Besok anda bisa kesini lagi untuk menjalani tahap selanjutnya" ucap dokter yang sudah memberikan pemeriksaan untuk Zayd.


"Terimakasih dolater. Besok aku akan datang kemari seperti ini, bersama dengan kakak ku. Tapi, jika aku bersama dengan Mommy dan Daddy apa boleh?" tanya Zayd pada dokter nya.


"Boleh Tuan Muda, kenapa tidak. Jika mereka adalah disini mereka akan tahu prosesnya seperti apa" jawab dokter nya.


"Terimakasih dokter, kami permisi" ucap Zia sambil menarik tangan adiknya lagi.


"Ih, kakak kenapa sih seneng banget narik-narik aku kayak gini? Sakit tahu" gerutu Zayd yang sedang mengusap-ngusap pergelangan tangan nya yang terasa perih.


"Kamu nih yang nyebelin. Banyak nanya pula, kamu fikir dokter nya nggak pusing apa dengerin celotehan kamu yang nggak bermutu itu. Dasar menyebalkan!" ucap Zia memarahi adik bungsunya yang memang suka sekali berbicara.


"Ih, kakak yang nyebelin. Lihat tangan aku ini, sakit tahu!" ucap Zayd dengan memanyunkan bibirnya kesal.


"Whatever" ucap Zia meninggalkan Zayd yang masih menggerutu dan mengejar langkah Zia yang semakin cepat.


"Kenapa kakak marah?" tanya Zayd pada Zia yang hanya diam saja.


"Kakak nggak marah, cuman kesal" jawab Zia dengan ketus.


"Sama saja kak" ucap Zayd yang memang sudah berada disamping Zia yang berjalan cepat.


"Whatever" ucap Zia lagi lalu memasuki mobilnya dan langsung tancap gas.


Zia melupakan Zayd yang sedang mengejarnya sambil berlari mengejar mobil kakak nya yang sudah semakin menjauh. Walau dia jago dalam berlari, jika lawan nya adalah mobil. Maka dia akan kalah juga.


Zayd sudah ngos-ngosan karena berlari mengejar mobil, dia berhenti ditepi jalan dan duduk ditrotoar yang tidak jauh dari jalan.


Tiba-tiba ada sebuah kaleng minuman bekas melayang tepat dikepala nya dan...

__ADS_1


Tuk...


__ADS_2