
Keesokan harinya Dharma sudah sampai dikediaman nya sendiri yang memang lumayan jauh dari mainson Edison. Ini adalah hari pertama lagi bagi Dharma untuk bekerja kembali menjadi asisten pribadi dari Zoya.
"Jang, tidak sarapan dulu atuh" ucap Ibu Sri pada putranya.
"Nanti saja Bu, Dharma sudah hampir terlambat" jawab Dharma sambil berlalu pergi setelah mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Dalam perjalanan hati Dharma tidak tenang dan juga merasa sangat tegang akan menghadapi kemarahan atau malah sebaliknya. Dia mengendarai mobilnya menuju PRATAMA.GROUP dengan kecepatan penuh.
Saat sudah sampai dilobby ternyata bersamaan dengan Zoya yang baru saja turun dari mobilnya dengan penampilan yang seperti biasa.
Zoya mengenakan bazaar dan celana berwarna pink fanta yang sangat pas dibadan nya juga tidak lupa dia selalu tersenyum saat disapa oleh orang lain.
Kira-kira seperti itu ya penampilan Zoya...
Dharma langsung mengejar Zoya dengan kaki panjang nya hingga bisa mensejajarkan langkahnya dengan Zoya. Zoya hanya diam saja melihat yang dilakukan oleh Dharma, dia tidak ingin membahas masalah pribadi didalam kantor dan juga dijam kerja seperti ini.
"Selamat pagi Nona" sapa seluruh kariawan yang sedang berbaris didepan lobby PRATAMA.GROUP.
"Pagi" jawab Zoya dengan senyuman dibibirnya.
Zoya melangkahkan kakinya menuju pintu lift dan diikuti oleh Dharma yang hanya diam menatap Zoya dan tidak dengan Zoya yang hanya diam dan menatap lurus kedepan.
"Nona, anda sudah ada yang menunggu didalam ruangan anda" ucap sekertaris Zoya.
"Terimakasih" jawab Zoya yang langsung masuk tanpa didampingi oleh Dharma.
"Siapa yang bertamu selagi ini?" tanya Dharma pada sekertaris Zoya.
"Tuan Alvin Harrison, memangnya kenapa?" jawab sekertaris tersebut dan bertanya juga pada Dharma.
"Tidak apa-apa hanya bertanya saja" jawab Dharma yang langsung masuk kedalam ruangan nya.
Sedangkan didalam ruangan Zoya saat ini keduanya sedang membahas masalah kerjasama yang akan mereka berdua jalin.
"Maaf membuat anda menunggu terlalu lama" ucap Zoya saat memasuki ruangan kerjanya yang ternyata Alvin sudah ada didalam.
"Tidak masalah Nona Zoya, saya juga belum lama berada disini" ucap Alvin yang langsung bangkit dari duduknya menghampiri Zoya yang baru memasuki ruangan nya.
"Silahakan duduk kembali Tuan Alvin" ucap Zoya saat Alvin masih berdiri saja ditempatnya.
"Ah, terimakasih Nona" jawab Alvin yang langsung duduk kembali.
"Apa ada yang bisa saya bantu Tuan Alvin? Sehingga pagi hari ini sudah ada disini untuk menemui saya?" tanya Zoya yang juga duduk bersebrangan dengan Alvin.
__ADS_1
"Saya ingin mengajukan kerjasama dengan perusahaan anda ini. Yang mungkin anda tertarik dengan proposal yang saya bawa ini" ucap Alvin yang menyerahkan proposal kerjasama tersebut pada Zoya.
Zoya langsung membaca semua proposal yang diberikan oleh Alvin dan membacanya dengan seksama hingga dia menyetujuinya.
"Ini memang sangat menguntungkan kedua belah pihak. Saya menyetujui semua persyaratan nya" ucap Zoya yang langsung menandatangani kontrak kerjasama tersebut.
"Syukurlah jika anda setuju. Ini memang sangat menguntungkan bagi perusaan anda dan juga perusahaan saya sendiri. Walau ini sangat beresiko tentunya. Tapi anda berani untuk mengambilnya" ucap Alvin dengan menandatangani nya juga sama dengan yang Zoya lakukan.
Keduanya langsung berjabat tangan dan mereka berdua sudah sepakat.
"Apa anda hari ini sibuk Nona Zoya?" tanya Alvin pada Zoya yang terlihat sangat cantik dengan senyuman dibibirnya yang tidak pernah pudar.
"Maaf, saya selalu sibuk. Jika anda bermakud ingin mengajak saya untuk berkencan maka anda salah besar. Karena saya sudah bertunangan" jawab Zoya sambil menunjukan cincin yang tersemat dijari manisnya.
"Bukan seperti itu Nona Zoya. Saya mengajak anda untuk meninjau langsung sokasi yang akan digunakan untuk pembangunan resorts yang akan kita lakukan nanti" ucap Alvin yang merasa tidak enak. Karena dia tiba-tiba mengajak Zoya yang notaben nya baru menjalin hubungan kerjasama tersebut.
"Itu tidak masalah. Tapi tidak untuk sekarang Tuan Alvin, karena saya masih sangat banyak pekerjaan saat ini. Mungkin lain waktu kita akan mereschedule ulang jadwal untuk meninjau temat proyeknya" ucap Zoya dengan senyuman mengembang dibibirnya.
Alvin dibuat terpesona oleh Zoya. Dia memang sangat cantik dan juga sangat ramah dibandingkan dengan Zia yang selalu bersikap arrogant dan juga sangat judes.
Walau mereka berdua bersaudara. Tetap saja sifat dan juga karakter keduanya sangat bertolak belakang sekali. Mungkin jika disandingkan maka akan ada bawang merah dan bawang putih.
"Baiklah jika seperti itu. Saya langsung pamit saja, seperti yang anda katakan tadi. Kita harus atur ulang jadwal yang akan kita sepakati" ucap Alvin yang langsung beranjak dari duduknya diikuti oleh Zoya yang juga ikut beranjak dari duduknya.
Alvin langsung pergi dari ruangan Zoya dan langsung masuk kedalam lift yang akan mengantarkan nya menuju lantai dasar. Dia masih teringat dengan senyuman yang sangat manis dan juga sangat menawan dimata Alvin.
.
Zoya langsung mengerjakan pekerjaan nya kembali dan saat sedang fokus dengan berbagai berkas yang sedang dia baca tiba-tiba pintu ruangan nya diketuk dari luar dan muncul lah Dharma dari balik pintu tersebut.
Dharma membawa berkas yang memang butuh persetujuan dari Zoya saat ini juga. Soal penerimaan kariawan baru yang harus menerima persetujuan dari Zoya langsung.
"Maaf Nona, ini ada beberapa berkas yang membutuhkan tandatangan anda" ucap Dharma yang menyerahkan berkas-berkas pada Zoya.
"Terimakasih, letakkan saja disitu. Nanti saya cek" ucap Zoya yang memerintahkan pada Dharma untuk menaruh berkas tersebut diatas meja kerjanya.
"Saya pamit undur diri Nona" ucap Dharma pada Zoya yang sedang duduk dikursi kebesaran nya saat ini.
"Silahkan" jawab Zoya yang tidak mengalihkan pandangan nya dari berkas yang sedang dia baca.
Dharma sudah keluar dari ruangan kerja Zoya dengan perasaan yang berkecamuk didalam dirinya. Begitu juga dengan Zoya yang merasa sesak didadanya, dan dia langsung meneteskan air matanya lagi saat mengingat hal itu.
"Kenapa masih teringat akan hal itu terus jika melihatnya" gumam Zoya yang sedang menatap pada foto yang terpajang diatas meja kerjanya.
"Kenapa perasaan ku semakin tidak menentu jika berhadapan dengan nya? Apa mungkin keputusan aku untuk menikah dengan Dharma?" gumam Zoya lagi yang merasa gamang dengan perasaan nya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa perasaan aku jadi seperti ini? Kenapa aku merasa hambar dengan hubungan ini? Apa mungkin aku sudah tidak memiliki perasaan lagi sama dia?" gumamnya lagi dengan berbagai pertanyaan yang tidak bisa dia katakan pada siapapun juga.
Zoya hanya memendam semuanya sendiri. Sebenarnya apa yang akan terjadi diantara keduanya, walau saat ini sedang ada masalah diantara keduanya. Tapi apa memang hubungan mereka berdua akan sampai pada jenjang pernikahan? Mungkin iya, mungkin juga tidak.
Setelah perasaan nya lebih tenang, dia membaca berkas yang dibawa oleh Dharma. Dan Zoya melihat salah satu berkas kariawan baru yang akan menjadi sekertarisnya Dharma nanti.
"Lunara?" gumam Zoya yang menatap pada berkas lamaran dan juga melihat foto yang ada didalam berkas tersebut.
"Luna, jadi dia kandidat yang paling pas diantara para calon sekertaris yang melamar kemari?" gumam Zoya yang merasa sesak didadanya karena secara tidak langsung jika dia menerimanya menjadi sekertaris untuk Dharma mereka sering bertemu dan dekat setiap saat.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menolaknya? Atau aku harus menerima karena ini tidak ada sangkut pautnya dengan masalah pribadi ku? Apa yang harus aku lakukan sekarang" gumam Zoya dengan dilema yang sangat besar didalam hati dan fikiran nya saat ini.
Tapi bukan Zoya namanya jika tidak professional. Dia selalu mengesampingkan perasaan dan selalu mengedepankan logika dan juga fikiran. Zoya menerima Luna bekerja disini dan menjadi sekertarisnya Dharma.
"Tolong kamu keruangan saya segera" ucap Zoya pada sekertarisnya melalui intercom.
"Baik Nona" jawab sekertarisnya terebut dan langsung menemui Zoya.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya sekertarisnya dengan sedikit membungkukan badan nya.
"Tolong kamu berikan ini pada Dharma. Bilang padanya secepatnya orang baru itu menerima training" ucap Zoya yang menyerahkan berkas tersebut pada sekertarisnya.
"Baik Nona. Ada lagi yang harus saya sampaikan?" tanya sekertarisnya tersebut pada Zoya.
"Sudah cukup, itu saja" jawab Zoya dengan mengangguk dan memerintahkan sekertarisnya untuk keluar.
"Saya permisi Nona" ucapnya sambil berlalu.
Zoya mengerjakan tugasnya lagi hingga waktu makan siang tiba. Dharma datang seperti biasa, dengan membawa berbagai makanan untuknya dan juga Zoya.
"Sayang, ini makan siang untuk kamu" ucap Dharma yang mencoba untuk biasa saja pada Zoya.
"Terimakasih" jawab Zoya yang menerima makanan tersebut dari tangan Dharma.
"Sayang, aku minta maaf soal kejadian waktu itu. Sungguh aku tidak bermaksud untuk membuat kamu cemburu atau terluka karena aku, aku hanya mengajaknya berkeliling desa saja dan itu tidak lebih dari yang kamu bayangkan" ucap Dharma yang masih bingung bagaimana caranya menjelaskan pada Zoya.
.
.
.
Othor mengiba pada kalian semua para reader kesayangan Othor...
Othor minta dukungan nya... like, komen, vote dan juga hadiahnya.... 😊😊😊
__ADS_1