
Zayd dan Zia sudah sampai didepan cafe Z&Z dan mereka berdua langsung masuk dan disambut oleh kariawan yang sudah sejak pertama cafe buka dia sudah bekerja disini.
"Nona dan Tuan Muda mau saya ambilkan apa?" tanya nya dengan berjalan disamping keduanya.
"Seperti biasa saja Ri" jawab Zia pada gadis cantik yang bernama Riri.
"Siap Nona" jawabnya langsung pergi menuju dapur.
"Siapa mereka Ri?" tanya pegawai baru yang bernama Eleanor.
"Itu pemilik cafe ini Lea, mereka adalah pemiliknya" jawab Riri.
"Jadi bukan pak Bima yang punya?" tanya Lea lagi.
"Bukan Lea, Pak Bima hanya manager disini. Dan juga orang kepercayaan Tuan Muda dan Nona muda" jawab Riri.
"Kenapa kita harus memanggil mereka dengan sebutan seperti itu? Apa memang diwajibkan seperti itu pada semua pegawai disini?" tanya Lea lagi.
"Nggak sih, cuman kitanya aja yang sudah nyaman memanggilnya dengan sebutan Tuan Muda dan Nona Muda. Kenapa memangnya?" tanya Riri yang bingung dengan pertanyaan dari Lea.
"Nggak, aku cuman nanya aja. Kamu kan sudah lama kerja disini, jadi aku banyak nanya sama kamu" jawab Lea dengan senyuman dibibirnya.
"Kalian sedang apa disini! Bukan nya kerja malah ngobrol" ucap seseorang yang tidak lain adalah pak Bima yang sedang menegur mereka berdua yang sedang mengobrol.
"Saya sedang menunggu pesanan untuk Nona dan Tuan Pak" jawab Riri dengan sangat jelas.
"Apa kamu bilang! Nona dan Tuan datang kemari? Kapan, dan dimana sekarang?" tanya Pak Bima dengan tatapan yang berubah lembut. Tidak seperti tadi yang seperti akan keluar tuh bola matanya.
"Ya diruangan nya lah Pak, masa dimana" jawab Riri yanh sedang membawa nampan berisi dua minuman dan satu camilan.
"Lea, kamu bantu aku bawakan makanan nya ya" ucap Riri yang sudah berjalan lebih dulu.
"Oke" jawab Lea yang langsung membawa nampan yang sudah penuh dengan makanan.
Tok...
Tok...
Tok...
"Maaf Nona Tuan, mengganggu. Ini minuman dan makanan nya" ucap Riri saat meletakkan nampan yang berisi makanan dan minuman.
"Kami permisi dulu Nona Tuan" ucap Riri dan Lea yang berjalan beriringan menuju pintu keluar.
"Kenapa kamu?" tanya Zia saat melihat Zayd diam saja.
"Itu tadi pegawai baru ya kak?" Zayd balik bertanya.
"Iya kali. Kakak kan juga baru kesini Zayd" jawab Zia dengan sambil memakan makanan yang dibawakan oleh Riri.
"Iya juga. Tapi rasanya aku pernah lihat dia dimana gitu kak" ucap Zayd yang sedang mengingat-ngingat siapa gadis yang bersama dengan Riri.
__ADS_1
"Ya, mana kakak tahu Zayd. Kamu ini ada-ada saja sih kalo ngomong" ucap Zia yang masih asik dengan makanan nya.
"Jangan bengong, makan dulu. Ini enak loh, mungkin ini adalah resep baru" ucap Zia yang menyodorkan sepiring makanan untuk Zayd.
"Iya, iya dasar cerewet" gerutu Zayd sambil mengulurkan tangannya mengambil piring yang kakak nya sodorkan.
"Whatever" jawab Zia yang terus mengunyah.
"Iya, ini enak. Wah... Nih koki makin jago aja ya kak?" ucap Zayd yang memuji masakan yang kokinya buat.
"Iya, kita harus bilang makasih langsung" jawab Zia yang sudah menghabiskan satu piring makanan yang dibawakan Riri.
"Kakak, doyan apa laper sih? Sampe habis satu piring gitu" tanya Zayd yang melihat piring sang kakak sudah habis tak bersisa.
"Dua-duanya" jawab Zia cuek.
"Dih, kasihan banget aku sama calon kekasihnya kakak. Jika tahu ternyata kakak itu rakus" ucap Zayd yang pura-pura bergidik ngeri.
"Whatever" jawab Zia dengan senyuman tipis nya.
Mereka berdua sedang mengerjakan tugas nya hingga ada seorang pelayan masuk untuk membawa piring dan gelas kotor bekas makan Zia dan Zayd.
"Maaf Nona Tuan. Saya akan membereskan ini dulu" ucap seorang pelayan tersebut yang tidak lain dan tidak bukan adalah Lea.
"Silahkan, eh. Kamu kariawan baru ya?" tanya Zayd yang sejak tadi memperhatikan nya.
"Iya Tuan Muda, baru satu minggu" jawab Lea dengan menunduk.
"Oh, pantas saja saya baru lihat kamu" ucap Zayd pada gadis itu.
"Zayd, nggak usah modus" ucap Zia menyela pembicaraan Zayd dan pelayan baru itu.
"Aku nggak modus kak. Emang nya adalah larangan ya jika aku tahu namanya sebagai atasan?" tanya Zayd dengan pandangan yang tajam.
Zia hanya mengedikkan bahunya acuh. Dia tidak mau mendengarkan ucapan Zayd yang sudah seperti itu.
"Kamu kenapa diam sejak tadi?" tanya Zayd pada gadis yang masih berdiri mematung dihadapan Zia dan Zayd.
"Saya harus bicara apa Tuan Muda?" Lea balik bertanya pada Zayd.
"Saya tadi kan bertanya, siapa nama kamu?" ucap Zayd yang sudah setengah kesal. Setengah loh ya kesal nya 😅.
"Nama saya Eleanor Tuan Muda. Tapi yang lain memanggil saya denga sebutan Lea" jawab Lea dengan menunduk.
"Eleanor, oke. Kamu boleh pergi" ucap Zayd dengan mengalihkan pandangan nya pada buku yang sedang dia baca.
"Apa Nona dan Tuan Muda menginginkan sesuatu?" tanya Lea pada Zayd dan Zia.
"Bawakan camilan saja Lea" ucap Zia tanpa mengalihkan pandangan nya dari layar laptop nya.
Zia sedang memeriksa keuangan yang masuk dan juga keluar. Dia memang selalu menerima email dari Pak Bima.
__ADS_1
"Baik Nona, ada lagi yang Nona inginkan?" tanya Lea lagi sebelum pergi.
"Itu saja. Jangan lupa ice cream juga bawa kemari" jawab Zia sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Baik Nona. Mohon tunggu sebentar" ucap Lea sebelum undur diri.
"Kak, perutmu terbuat dari karet ya? Makan mu banyak sekali" ucap Zayd setelah Lea pergi dari ruangan mereka.
"Diamlah, kakak sedang mengembalikan mood kakak yang sudah hilang" jawab Zia tanpa beban.
"Ih, menyebalkan" gerutu Zayd yang melihat kakak nya tidak menanggapi nya lagi.
Zayd memilih keluar ruangan untuk menyegarkan fikiran dan juga ingin melihat langsung bagaimana kokinya memasak dan juga para pengunjung yang datang.
Saat sedang berjalan dia melihat Lea sedang meringis kesakitan. Zayd langsung menghampiri dan melihat, Lea sedang kesakitan karena terjatuh dan tidak ada yang melihatnya.
"Ele, kamu kenapa?" tanya Zayd yang sudah mendekat.
"Eh, Tuan Muda. Saya tidak apa-apa Tuan" jawabnya dengan memaksakan berdiri dan menahan sakit dikakinya.
"Kamu jangan bohong! Jelas-jelas kaki kamu sakit kan? Kamu habis jatuh kan? Kenapa kamu bisa terjatuh?" tanya Zayd dengan beruntun dan langsung melihat kaki Lea yang terluka.
"Maaf Tuan Muda, saya tidak apa-apa. Anda jangan seperti ini, bisa salah faham bagi yang melihat nantinya" ucap Lea yang merasa tidak enak jika Zayd malah berjongkok dibawah nya.
"Biarkan saja. Kenapa kamu mementingkan mereka, lihat kaki kamu membiru seperti ini" ucap Zayd yang memang tahu tentang seperti itu.
"Diam dan jangan membantah! Lihat kaki kamu terluka. Kamu duduk dan luruskan kaki kamu, supaya aliran darahnya lancar. Kamu diam disini dan jangan digerakan dulu. Saya akan mengambil salep" ucap Zayd memberi perintah pada Lea.
"Jika kamu membantah maka kamu tidak akan bisa berjalan lagi!" ucapnya lagi lalu melesat pergi sangat cepat.
"Kamu kenapa Zayd? Seperti dikejar hantu saja" tanya Zia saat melihat Zayd masuk dengan tergesa-gesa.
"Lebih dari itu" jawab Zayd dan langsung mengambil kotak obat yang selalu ada didalam tasnya.
"Kenapa dia? Aneh banget" gumam Zia melihat tingkah adik bungsu nya yang sangat terlihat aneh.
Sedangkan Zayd sudah berada ditempat yang tadi Lea jatuh dan dia suruh menunggu.
"Anak baik. Kamu penurut juga Ele" ucap Zayd saat melihat Lea yang hanya diam dan menatapi Zayd yang sedang mengobati luka dan membalut kaki Lea supaya tidak langsung digunakan.
"Tuan Muda ini apa yang dipasangkan dikaki saya?" tanya Lea yang kakinya terasa sangat berat.
"Itu adalah alat bantu, supaya kaki kamu yang cidera tidak langsung kamu gunakan untuk berjalan karena ada alat bantu ini" jawab Zayd dengan santainya dan memberikan sebuah tongkat untuk digunakan oleh Lea.
"Terimakasih Tuan Muda. Saya tidak bisa membayar anda" ucapnya sambil menunduk.
"Eh, kenapa harus membayar? Kamu kecelakaan dalam bekerja, jadi Itu adalah tanggung jawab saya sebagai pemilik cafe ini. Jadi jangan difikirkan, tapi ngomong-ngomong kamu tinggal dimana?" tanya Zayd pada Lea.
"Saya tinggal dimes Tuan Muda. Saya tidak punya tempat tinggal lain" jawab Lea dengan senyum meringis.
"Ada berapa orang yang tinggal didalam Mes?" tanya Zayd lagi dia sepertinya sedang mengintrogasi Lea.
__ADS_1
"Hanya saya Tuan Muda. Yang lain nya sudah memiliki tempat tinggal masing-masing" jawab Lea apa adanya.
Zayd hanya diam dan mendengarkan semua ucapan dari Lea. Dan memikirkan apa yang dilakukan oleh Lea saat sudah selesai bekerja dicafe ini? Dan lain sebagainya yang berseliweran didalam otaknya.