
Juan semakin mengeratkan pelukan nya saat mendengar isak tangis Zia yang berada dalam pelukan nya saat ini.
"Kenapa kamu malah menangis?" tanya Juan yang mengusap kedua pipi Zia yang ada tetesan air matanya.
"Kamu yang membuat ku jadi seperti ini. Apa kamu tidak sadar?!" jawab Zia dengan membentak Juan tapi tetap menangis.
"Why?" tanya Juan yang tidak mengerti dengan yang diucapkan oleh Zia.
"Kamu sudah membuat aku tidak bisa berfikir dengan jernih dan juga selalu membuat ku menjadi dilema" jawabnya dengan terisak lumayan keras.
"Oh, apa kamu merasakan sesuatu didalam sini?" tanya Juan yang menunjuk dada sebelah kiri Zia.
"Merasakan apa? Aku tidak merasakan apa-apa" jawab Zia berbohong jika dia tidak memiliki perasaan apa-apa.
"Aku kira kamu merasakan sesuatu pada ku?" tanya Juan dengan perasaan yang sedihnya.
"Sudahlah aku harus pulang sekarang. Ini sudah larut malam, Mommy pasti semakin khawatir padaku" ucap Zia yang ingin segera pergi tapi ditahan oleh Juan.
"Aku akan mengantarkan kamu" ucap Juan yang menggandeng tangan Zia menuju keluar rumah.
"Aku bisa pulang sendiri" ucap Zia yang akan masuk kedalam mobil Juan.
"Ini sudah larut. Dan kamu perempuan, mana tega aku membiarkan kamu pulang sendiri selarut ini" jawab Juan yang membukakan pintu mobil untuk Zia.
Zia mau tidak mau menuruti permintaan Juan. Karena memang benar. Ini sudah sangat larut, tidak baik jika dia pulang sendiri. Zia masuk dan duduk dengan tenang didalam mobil Juan.
"Alamat rumah kamu dimana?" tanya Juan tanpa mengalihkan pandangan nya dari jalanan.
Zia menyebutkan alamat nya pada Juan. Juan mengemudikan mobilnya menuju alamat yang Zia sebutkan tadi. Lumayan jauh melangkah dari rumah Juan, karena mainson Edison berada didaerah yang masih jauh dari pemukiman warga.
"Kamu masuklah" ucap Juan yang sudah berhenti didepan pagar yang menjulang tinggi disampingnya. Karena saya ini mobil yang Juan kendarai sudah sampai didepan mainson Edison yang sangat besar dan megah.
"Terimakasih, tidak singgah dulu sebentar?" tanya Zia yang melihat Juan tidak beranjak untuk turun.
"Ini sudah larut, dan juga akan mengganggu mereka yang sudah beristirahat didalam" ucap Juan yang menolak dengan halus permintaan dari Zia.
Memang ada benarnya juga. Jika mampir dijam seperti ini apa yang akan dikatakan oleh orang tua Zia nantinya. Selarut ini dia bertamu dirumah seorang wanita.
"Masuklah, aku akan menunggu mu hingga kamu masuk kedalam" ucap Juan lagi yang menatap pada Zia.
"Baiklah, aku masuk dulu. Kamu hati-hati saat pulang nanti" jawab Zia yang langsung masuk saat gerbang besar itu dibuka oleh bodyguard yang berjaga didepan.
Juan masih menatapi Zia hingga Zia masuk kedalam mainson dan dia baru melajukan mobilnya menjauh dari mainson Edison.
__ADS_1
Sedangkan Zia sudah memasuki mainson dan melewati ruang tamu. Ternyata Mom Vita belum tidur, beliau masih menunggu Zia pulang.
"Kakak sudah pulang? Dengan siapa kak? Kenapa Mommy tidak mendengar suara mobil kakak?" tanya Mom Vita dengan berbagai pertanyaan yang keluar dari mulutnya.
"Aku diantarkan teman Mom, kebetulan juga arah pulangnya sama. Jadi sekalian saja. Zia tidak menggunakan mobil Zia, mobil Zia tinggalkan disana" jawab Zia yang tidak sepenuhnya berbohong.
"Ya sudah, sekarang masuklah dan bersihkan diri lalu segera istirahat. Supaya besok bisa kembali segar lagi saat bangun tidur" ucap Mom Vita pada putrinya.
"Iya Mom, Zia masuk kamar dulu ya. Mommy juga harus istirahat" ucap Zia yang memeluk Mommy nya sebelum pergi.
"Ih, bau asem" ucap Mom Vita menggoda putrinya.
"Hehehe, iya Mom" jawab Zia yang tersenyum meringis.
"Sana masuk" ucap Mom Vita pada Zia.
Zia langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada dilantai dua.
"Kamu belum mau jujur sama Mommy nak?" ucap Mom Vita saat melihat putrinya belum bicara soal kedekatan nya dengan seorang pria yang bersetatus duda.
"Mommy percaya sama kamu nak. Jika kamu akan bicara nanti pada Mommy setelah kamu menginginkan nya" gumam Mom Vita lagi pada dirinya sendiri lalu beranjak dari sana menuju kamarnya.
Keesokan harinya seperti biasa dikediaman Edison akan selalu ramai oleh anak-anak. Ada yang berbeda disini, hanya Zio dan juga Zayd yang terlihat bersemangat dan juga bahagia. Tidak seperti ketiga saudaranya yang lain.
"Tidak ada Mom, semuanya baik-baik saja" jawab Zoya dengan senyuman yang dipaksakan.
"Abang Zi, bagaimana rencana kalian berdua? Apa sudah selesai semuanya?" Mom Vita beralih pada Zico yang juga terlihat lebih dingin dari sebelumnya.
"Semuanya sudah selesai Mom, tinggal vinising" jawab Zico yang sedang menghabiskan sarapan nya.
"Kak Zia? Apa ada masalah juga? Tidak seperti biasanya?" tanya Mom Vita pada Zia yang terlihat tidak bersemangat pagi ini.
Semua orang menatap kearahnya. Zia semakin menghela nafasnya dengan sangat kasar, apa lagi tatapan semua orang sudah sangat membuatnya tidak nyaman.
"Zia baik-baik saja Mom, hanya sedikit lelah dan juga mengantuk saja. Mommy kan tahu Zia pulang jam berapa dan bagaimana" jawab Zia dengan mengambil alasan yang sangat pas untuk dia bisa lepas dari berbagai pertanyaan dari keluarganya.
"Baiklah Mommy percaya. Lain kali jangan pulang larut lagi, tidak baik untuk kesehatan juga" ucap Mom Vita mengiyakan ucapan dari Zia.
"Sudah, sekarang sarapan dulu dengan tenang. Baru dilanjutkan lagi bicaranya" pada akhirnya Dad Louis membuka suara juga.
Semuanya langsung tenang dan tidak bersuara lagi. Hingga semuanya langsung berhenti sarapan saat ada seorang anak perempuan masuk dengan berlari sambil menangis.
"Mommy.... " panggil Quinzy pada Zia yang sedang meminum jus nya.
__ADS_1
UHUK...
UHUK...
UHUK...
Zia langsung tersedak saat melihat siapa yang datang dan memanggilnya dengan sebutan Mommy. Semua orang juga memandanginya dengan penuh tanya didalam benak mereka semua.
"Mommy... Mommy apa pelgi? Ici tanen" ucap Quinzy yang masih berdiri ditempatnya dan sambil menatapi semua orang yang ada didalam ruangan itu dan sedang menatapnya juga.
"Izy kemari dengan siapa cantik?" bukan Zia yang bertanya, melainkan Zayd yang menghampiri gadis kecil itu.
"Daddy, Daddy malah-malah. Ici angis, Mommy" jawab Quinzy dengan bicaea cadelnya.
"Dimana sekarang Daddy?" tanya Zayd pada anak kecil yang sekarang sedang menangis sambil memeluk boneka kesayangan nya.
"Lual" tunjuk Quinzy kearah luar mainson.
"Kak, kakak yang sudah memberitahukan alamat ini pada pria itu?" tanya Zayd dengan tatapan penuh tanya nya.
"Mom, Dad. Zia bisa menjelaskan semuanya pada kalian semua, tapi izinkan Zia untuk menenangkan dia dulu" ucap Zia yang sudah bangkit dari duduknya menuju Quinzy yang masih terisak.
"Lakukanlah nak. Daddy akan menunggu penjelasan dari kamu" ucap Dad Louis yang mengangguk pada Mom Vita supaya percaya padanya.
"Thank you Dad" jawab Zia yang menghampiri Quinzy yang masih terisak dihadapan Zayd.
"Mommy" ucap Quinzy saat sudah ada Zia dihadapan nya saat ini.
"Kenapa? Apa Daddy memarahi Izy lagi?" tanya Zia saat sudah memeluk tubuh mungil Quinzy dengan penuh kasih sayang.
"Ici angis cali-cali Mommy. Daddy malah-malah Ici angis enceng" jawab Quinzy dengan terisak dipelukan Zia.
"Maafkan Mommy, Mommy harus pulang semalam. Karena Mommy juga harus bertemu dengan grandma and grandpa" ucap Zia yang menatap kedua orang tuanya yang mengangguk kearahnya.
Sedangkan Juan sedang menunggu Quinzy dihalaman mainson. Dia tidak berani untuk masuk kedalam sebelum mendapatkan izin dari pemilik mainson.
Quinzy sudah lebih tenang karena sudah bertemu dengan Zia, yang dia anggap sebagai Mommy nya. Zia dan juga yang lainnya sudah berkumpul diruang keluarga untuk mendengarkan penjelasan dari Zia.
"Apa yang ingin kakak jelaskan pada kami semua?" tanya Mom Vita langsung to the point.
"Ini adalah Quinzy Mom, Dad. Dia adalah anak dari seorang pria yang menjadi pasien ku selama beberapa bulan ini. Saat baru bertemu dengan nya, dia malah memanggil Zia dengan panggilan Mommy. Seperti yang Mommy dan yang lain dengar tadi" jelas Zia yang masih akan melanjutkan lagi ucapan nya.
"Awalnya Zia juga merasa tidak nyaman dan juga merasa risih dengan panggilan tersebut. Tapi semakin kesini Zia juga merasa nyaman dan juga semakin dekat juga dengan nya. Hingga saat ini, Mommy juga semalam bertanya kenapa Zia pulang tidak membawa mobil dan juga pulang terlambat. Karena Zia menemaninya ulang tahun dan sampai dia tertidur. Baru Zia bisa pulang, dan yang mengantarkan Zia adalah Ayah Quinzy" lanjut Zia yang menceritakan semuanya pada seluruh keluarganya.
__ADS_1
Tidak ada yang berbicara dan menyela ucapan dari Zia. Mereka saling pandang dan tidak tahu harus bilang apa pada Zia saat ini. Sedangkan Mom Vita dan Dad Louis yang sebenarnya sudah tahu hanya tersenyum dan mengangguk saja mendengar penjelasan dari Zia saat ini.