
Mereka berdua duduk berdampingan. Zia sebenarnya merasa kurang nyaman berada didekat Juan seperti ini, tapi jika dia beranjak lagi pasti akan ada drama lagi yang tidakbdia inginkan.
"Apa kamu tidak mau istirahat dulu gitu? Aku risih didekeketin kamu terus" ucap Zia yang memang merasa tidak nyaman dengan adanya Juan disampingnya.
"Kenapa?" tanya Juan dengan tatapan yang tajam nya.
"Oh God. Ayolah Juan, kau itu harus istilahat setelah minum obat" ucap Zia yang sudah merasa prustasi dengan Juan yang tidak mau jauh darinya.
Tanpa menjawab ucapan dari Zia, Juan langsung menuju brangkar nya untuk istirahat seprti yang Zia katakan padanya. Zia merasa lebih lega dan juga tenang saat melihat Juan mau menjauh darinya.
.
Sedangkan ditempat yang lain Zoya sedang bersiap akan menjemput calon mertuanya. Dia sangat Dharama akan menuju kampung halaman nya didesa yang sangat jauh dan juga masih sangat terpencil.
"Sayang, kita singgah dulu untuk membeli oleh-oleh ublntuk Bapak dan Ibu" ucap Zoya pada Dharma saat sudah dipertengahan jalan menuju kampung halaman Dharma.
"Terserah kamu saja sayang" ucap Dharma dengan menggenggam tangan Zoya dengan penuh kemesraan.
"Jika begitu singgah didepan sana" ucap Zoya yang menunjuk pusat oleh-oleh terbesar didepan sana.
"Sesuai keinginan kamu sayang" jawab Dharma lalu membelok kan mobilnya menuju pusat oleh-oleh.
Zoya dengan semangat membelikan berbagai jenis oleh-oleh untuk orang tua nya Dharama. Dia sudah sangat dekat dengan keduanya, berawal dari pertemuan nya yang tidak sengaja. Jadi lebih dekat dan juga malah akan menjadi keluarga.
"Sudah semuanya?" tanya Dharma pada Zoya yang masih asik memilih-milih makanan atau yang lain nya juga.
Zoya akan seperti biasa jika berbelanja untuk kebutuhan kedua orang tua Dharama dia akan kalap, membuat Dharama menjadi pusing sendiri. Sedangkan untuk dirinya tidak pernah melakukan seperti itu.
"Sudah, hampir saja aku kalap lagi jika sudah seperti ini" jawab Zoya dengan senyuman dibibirnya.
"Ya sudah" ucap Dharma yang sedang mendorong troli yang sudah penuh dengan belanjaan Zoya.
Zoya membayar semua belanjaan nya dan mereka berdua langsung bergegas untuk melanjutkan perjalanan nya kembali. Jika terlalu lama malah semakin larut malam sampai tujuan.
__ADS_1
Benar saja keduanya sampai didesa nya Dharama sudah tengah malam, Dan itu terlihat sangat menyeramkan jika dilihat. Apa lagi masih banyak tempat-tempat kosong yang belum ada rumah-rumah warga.
"Sayang, kita sudah sampai" ucap Dharma pada Zoya yang sudah terlelap. Mungkin karena perjalanan yang jauh dan juga melelahkan.
"Oh, kita sudah sampai sayang?" tanya Zoya yang masih mengumpulkan nyawanya.
"Seperti yang kamu lihat, yuk turun. Ini sudah sangat larut, tidak baik-baik berlama-lama diluar rumah" jawab Dharma yang langsung menggandeng tangan Zoya untuk masuk kedalam rumah Ibu dan Bapak.
"Assalamualaikum Pak, bu" ucap Dharma yang mengetuk pintu sekali sudah dibukakan pintu.
"Wa'allaikumsalam, ya Allah nak. Kalian barusamapai" ucap Pak Kimin saat membuka pintu dan melihat putra nya juga Zoya berdiri didepan pintu rumahnya.
"Ayo masuk, tidak baik diluar lama-lama" ucap Pak Kimin yang mempersilahkan Dharama dan Zoya masuk kedalam rumah.
"Terimakasih Pak, kebetulan Zoya juga sudah sangat kelelahan karena melewati perjalanan yang sangat panjang dan juga melelahkan" jawab Dharma yang langsung masuk bersama dengan Zoya.
"Kalian berdua langsung istilahat saja. Bapak juga akan melanjutkan tidurnya" ucap Pak Kimin pada putranya dan juga calon menantunya.
Dharama dan Zoya masuk kedalam kamarnya masing-masing. Mereka berdua benar-benar langsung terlelap. Mungkin memang terlalu cape dan juga sangat melelahkan, makanya mereka berdua sudah terlelap dalam waktu beberapa saat saja.
"Ibu sama Bapak sehat-sehat saja kan disini?" tanya Zoya pada kedua orang tua Dharama.
"Alhamdulilah neng, seperti yang neng Zoya lihat. Kami berdua sehat-sehat saja" jawab Ibu Sri dengan penuh senyuman dibibirnya.
"Syukurlah jika Ibu dan Bapak selalu sehat. Aku senang mendengarnya, aku sudah sangat merindukan Ibu dan Bapak disini" ucap Zoya yang langsung memeluk Ibu Sri dengan sangat lembut juga penuh haru.
"Iya neng. Ibu dan Bapak juga sama, kami merindukan neng Zoya juga. Tumben ini pada datang kemari? Sepertinya ada yang penting?" tanya Bapak yang sejak tadi hanya menyimak.
Mereka semua sedang berkumpul bersama diruang tamu setelah sarapan bersama. Dharama dan Zoya ingin menyampaikan niatnya untuk memboyong Ibu dan Bapak nya Dharama.
"Iya Pak, Dharma dan Zoya kemari ingin menyampaikan jika kami berdua ingin menjemput Bapak dan Ibu untuk tinggal bersamaku dikota, Ibu dan Bapak tidak perlu berjahuan lagi dengan Dharma. Dharama juga ingin selalu berada didekat Bapak dan Ibu" jelas Dharma sambil menundukkan kepalanya yang sedang menahan air matanya.
"Kenapa kamu malah menangis jang? Bapak sama Ibu teh senang jika ujang mengajak Bapak sama Ibu tinggal dikota" tanya Bapak juga dengan mata yang berkaca-kaca menatap putra bungsu nya yang sudah menangis dalam diam.
__ADS_1
"Iya atuh jang, Ibu teh juga sudah menunggu ujang buat datang kemari dan menjemput Ibu. Ibu teh sudah sangat merindukan kamu jang, Ibu teh tidak mau jauh-jauh lagi atuh dengan ujang lagi" ucap Ibu Sri yang langsung memeluk tubuh putranya.
"Terimakasih Pak Bu" ucap Dharma yang sudah menangis didalam pelukan sang Ibu yang selalu dia rindukan selama ini.
"Sudah atuh, kenapa jadi acara nangis-nangis seperti ini? Lihat, malu atuh dilihat sama dengan Zoya" ucap Bapak yang sejak tadi melihat Zoya juga ikutan meneteskan air matanya.
"Iya Pak" ucap Ibu dan anak tersebut sambil tersenyum kepada kedua orang yang sedang memandangi nya.
Mereka hanya menghabiskan waktu dengan berbagai cerita dan juga tentang apa saja yang dialami oleh Ibu dan Bapak selama tinggal disini. Juga Dharama dan Zoya yang menceritakan keseharian nya yang selalu sibuk dengan pekerjaan yang semaikn banyak.
"Neng, ngomog-ngomong. Apa keluarga neng Zoya teh setuju dengan hubungan neng dengan putra Ibu yang tidak punya apa-apa ini atuh neng?" tanya Ibu Sri yang sudah ketakutan jika nanti mereka berdua melamar Zoya untuk putranya akan ditolak mentah-mentah dan mungkin akan mendapatkan hinaan jika mereka melakukan itu.
"Ibu dan Bapak tenang saja. Mommy dan Daddy bukan orang yang memandang sesuatu dari kastanya Bu. Mommy dan Daddy, mereka berdua malah sudah menunggu Ibu dan Bapak untuk datang dan membicarakan masalah ini malah" ucap Zoya dengan penuh senyuman.
"Aduh beneran atuh neng? Aduh Pak, kita harus berbuat apa untuk semua ini?" tanya Ibu Sri pada Pak Kimin yang berada disamping nya.
"Ya tidak bagaimana-bagaimana atuh bu, Bapak teh juga tidak tahu jika melamar orang kota seperti apa" jawab Pak Kimin juga merasa bingung.
Sedangkan Dharma dan Zoya hanya tersenyum saja melihat kedua orang tua nya sedang kebingungan. Dan lebih lucunya lagi mereka berencana akan membawa ternak mereka untuk melamar Zoya.
"Bapak dan Ibu jangan berbuat seperti itu. Karena dengan kedatangan Bapak dan Ibu saja itu sudah cukup. Tidak perlu membawa-bawa sesuatu yang akan menyulitkan kalian berdua. Kami semua tidak akan seperti itu, lagi pula adik Zoya juga akan segera menikah. Jadi Zoya sedang menunggu Ibu dan Bapak untuk datang dan juga meresmikan hubungan kami berdua" jelas Zoya pada kedua orang tua nya Dharama dengan sangat perlahan.
"Jadi mengganggu Zoya akan dilangkahi begitu neng?" tanya Ibu pada Zoya.
"Iya Bu, tapi jika Ibu dan Bapak sudah datang kesana dan membicarakan semua ini. Mungkin kami akan melangsungkan nya bersama, yaitu kami berdua menikah dihari yang sama" jawab Zoya, Mom Vita dan juga Dad Louis yang memang memiliki rencana seperti itu.
"Jika Ibu dan Bapak teh tidak keberatan atuh neng jika seperti itu. Memangnya kapan itu dilangsungkan?" tanya Ibu Sri yang penasaran pada rencana itu.
"Secepatnya Pak Bu. Karena ada kecelakaan yang membuat semua itu harus segera terjadi" jawab Zoya yang tidak memberitahu semua details nya.
"Oh, ya sudah kita harus segera bersiap atuh Pak. Jangan menunda-nunda lagi rencana baik ini" ucap Ibu Sri yang sudah sangat antusias akan melamar Zoya menjadi menantunya.
"Iya buk, kita harus segera bersiap untuk pergi kekota sekarang juga atuh buk" ucap Pak Kimin yang juga sangat antusias.
__ADS_1
Sedangkan Zoya dan Dharma saling pandang dengan apa yang sedang kedua orang tua itu lakukan.