
Mereka berdua lupa waktu karena keasikan mengobrol. Zoya masuk kedalam kamarnya dan beristirahat langsung. Begitu juga dengan Dharma.
Pagi menjelang mereka semua sudah berkumpul bersama dimeja makan dan sarapan bersama lalu pergi dengan tujuan masing-masing.
"Kak hari ini jadwal kakak tidak padat kan?" tanya Zio yang sudah berada dalam situasi mobil dengan Zoya.
"Kenapa memang nya Zi?" tanya Zoya.
"Aku ada kelas pagi ini, dan hari ini aku ada meeting dengan klien diluar. Apa kakak bisa menghentikan ku dulu?" ucap Zio yang memang tidak bisa untuk pagini.
"Baiklah kakak akan menemui nya. Siapa nama klien kamu?" tanya Zoya sebelum dia masuk kedalam lobby PRATAMA.GROUP.
"Alvin Harrison kak. Nanti kakak akan bertemu dengan asisten pribadi nya yang bernama Bram" jelas Zio dan memberikan materi yang harus kakak nya pelajari.
"Oke, thank you kak" ucap Zio yang langsung pergi setelah mengucapkan kata terimakasih pada Zoya.
"Dasar anak itu" gumam Zoya yang sedang memasuki lift dan ternyata diikuti oleh Dharma.
"Maaf Nona saya terlambat" ucap Dharma saat memasuki lift bersama dengan Zoya.
"Dharma, saya pagi ini mewakili Zio untuk meeting dengan Alvin Harrison. Kamu tolong temani saya" ucap Zoya yang selalu meminta didampingi oleh Dharma.
"Baik Nona. Jam berapa meeting nya dimulai?" tanya Dharma yang sudah menetralkan nafasnya.
"Jam sembilan nanti. Kamu siapkan saja dulu pekerjaan kamu, masih ada waktu" ucap Zoya yang langsung diangguki oleh Dharma.
Mereka berdua memasuki ruangan masing-masing, dan mereka mengerjakan pekerjaan nya terlebih dahulu. Zoya juga mempelajari materi yang akan dibahas dengan Alvin Harrison.
Sebelum jam sembilan Dharma sudah datang keruangan Zoya untuk mengajak nya segera bersiap. Karena Dharma tidak pernah terlambat. Dharma berprinsip jika dia lebih baik menunggu dari pada ditunggu.
"Mari Nona, sebentar lagi kan sembilan" ucap Dharma yang sudah membukakan pintu mobil untuk Zoya.
"Terimakasih Dharma" ucap Zoya yang sudah masuk dan duduk dijok belakang.
"Nanti kita akan masuk kedalam ruang PIV nomer 2 dan menemui Bram, asisten pribadi Alvin Harrison" jelas Zoya memberi tahu pada Dharma.
"Baik Nona" jawab Dharma mengangguk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Jalanan pagi ini terlihat ramai lancar, jadi mereka sudah sampai ditempat tujuan. Zoya dan Dharma memasuki restaurant dan langsung diarahkan menuju ruangan VIP oleh seorang pelayan yang ternyata sudah menunggu mereka berdua.
__ADS_1
"Terimakasih" ucap Zoya dan langsung menyapa kedua klien nya.
"Selamat pagi, saya Zoya mewakili adik saya untuk bertemu dengan anda" ucap Zoya memperkenalkan dirinya pada pria yang sejak tadi memandangi wajah nya tanpa berkedip.
Bahkan dia tidak menyambut uluran tangan dari Zoya. Dan itu membuat Zoya bingung juga heran dengan apa yang dilakukan oleh klien nya satu ini.
'Zoya? Bukankah dia itu Zia? Kenapa berubah, dan dia tidak mengenali ku? Oh, atau memang dia tidak pernah menganggap serius pertemuan waktu itu. Oke, kita lihat saja sampai dimana keahlian kamu dalam meyakinkan klien' ucap dalam hati Alvin, dia merasa bingung dengan wanita yang ada dihadapan nya saat ini.
Dia terlihat biasa saja saat bertemu dan tidak canggung atau pandangan nya berbeda dari pertama bertemu. Saat pertama bertemu pandangan yang terkesan tidak suka dan terlihat tajam. Tapi ini, ini sangat teduh dan juga terlihat seperti berbeda.
"Tuan, apa anda masih mendengarkan saya? Jika iya, tolong dengarkan baik-baik. Saya sudah menjelaskan berulang kali" tanya Zoya yang sudah merasa jengah dengan klien nya satu ini.
"Silahkan lanjutkan, saya mendengarnya" jawab Alvin dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya.
Yang awalnya menatap penuh tanya, sekarang seperti meremehkan. Zoya terus menerangkan semua yang sudah tertera diberkas tersebut.
"Apa anda setuju dengan pembagian hasil tersebut Tuan? Karena kami juga melakukan transaksi ini secara transparan dan juga jelas tertera didalam surat kontrak tersebut" jelas Zoya menyerahkan berkas yang harus ditandatangani oleh Alvin dan baru diri nya sendiri.
"Saya tidak setuju dengan pembagian hasil yang tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan saya, jadi saya mau ini dirumah. Dan itu harus selesai sekarang juga" ucap Alvin tanpa beban sama sekali.
Dia memerintahkan Zoya seperti pada bawahan nya. Bukan pada klien atau rekan kerjasama nya. Dan itu membuat Zoya tidak suka akan. Sikap yang terbilang sangat keterlaluan.
"Maaf Tuan, jika anda tidak setuju juga tidak masalah. Saya tidak akan memaksa anda untuk menjalin kerjasama ini. Kalau begitu saya permisi. Terimakasih" ucap Zoya mengambil berkas nya dan membungkukan tubuh nya memberi hormat sebelum pergi.
"Saya tidak sombong Tuan. Saya hanya menerangkan sesuai dengan kesepakatan saja. Jika anda tidak suka dan tidak ingin seperti yang pihak kami ajukan jangan berbelit-belit dan membuat orang menjadi beranggapan jika anda hanya ingin memempermainkan saja" jawab Zoya tanpa membalikkan badan nya.
Setelah mengucapkan itu, Zoya dan Dharma sudah pergi dari ruangan VIP tampat mereka bertemu dan akhirnya gagal.
"Bram, kamu tahu siapa wanita itu?" tanya Alvin pada asisten pribadinya.
"Dia adalah putri tertua dari pasangan Vita Ayla dan Louis Edison Tuan. Dia juga terkenal dengan bisa memenangkan tender-tender besar yang dia ikuti Tuan" jawab Bram pada Alvin.
"Oke, kita kembali sekarang. Dan jangan permasalahan ini lagi. Karena kerjasama ini telah gagal" ucap Alvin yang langsung pergi begitu saja dari ruangan VIP.
Sedangkan Zoya merasa bingung dengan klien nya satu ini. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu dan tidak terlalu mendengarkan penjelasan nya tadi.
"Dharma, kamu tahu siapa pria yang berhadapan dengan kita tadi?" tanya Zoya yang masih penasaran akan semua ini.
"Dia adalah putra tunggal dari pasangan Alvid dan Yuma. Dia adalah CEO baru yang diangkat menggantikan posisi ayah nya satu tahun yang lalu. Dan dia juga terkenal sebagai pria yang tak berperasaan saat sedang bernegosiasi tentang kerjasama antar perusahaan" jelas Dharma yang sudah mencari tahu semuanya tentang klien ini.
__ADS_1
"Oh, baiklah. Pantas saja dia dengan mudah nya malah malah menyuruh untuk mengganti isi didalam berkas kerjasama sesuai dengan yang dia inginkan" ucap Zoya yang baru tahu jika ada klien modelan seperti dia.
"Apa Nona akan menolaknya? Padahal ini adalah kerjasama yang bagus Nona?" tanya Dharma meyakinkan jika Nona nya tidak akan menyesal dengan keputusan nya saat ini.
"Sudah sangat jelas jawaban saya Dharma. Dia ingin perusahaan nya saja yang untung. Sedangkan perusahaan kita sendiri bagaimana? Apa akan membiarkan perusahaan kita menjadi rugi? Tidak mungkin bukan. Biarkan saja ini gagal, toh mungkin nanti akan ada pengganti nya yang lebih baik dan lebih segalanya" jelas Zoya yang bertanya pada Dharma.
"Anda benar Nona, jika anda tadi menerima atau mempertimbangkan dulu. Anda akan menyesal kemudian hari. Karena yang perusahaan nya inginkan tidak masuk akal" jawab Dharma yang membenarkan ucapan Zoya.
"Iya, dia memang pemimpin yang sangat aneh. Bagaimana jika dia sendiri yang mendapatkan penawaran seperti itu. Pasti dia akan lebih parah bukan?" tanya Zoya yang menyandarkan punggung nya dijok mobilnya sambil memejamkan matanya.
Sepertinya dia sangat lelah saat ini. Sepertinya tenaga nya sudah terkuras habis karena menghadapi manusia modelan seperti Alvin Harrison.
"Apa anda ingin pergi kesuatu tempat dulu Nona?" tanya Dharma yang melihat Zoya seperti sangat kelelahan.
"Boleh, aku ingin pergi ketempat yang tenang dan juga sepi Dharma. Aku ingin memakan yang segar-segar" jawab Zoya yang sudah tidak menggunakan bahasa formal lagi dengan Dharma.
"Baiklah, kita akan kemana? Pantai atau cafe?" tanya Dharma yang juga sama, dia tidak sekaku saat sedang dalam urusan pekerjaan.
"Pantai lebih baik. Aku ingin makan aneka seafood dan kamu wajib memakan nya juga" ucap Zoya yang sudah membuat Dharma menganguk pasrah.
"Oke, kita kesana sekarang. Aku sudah tidak sabar untuk memakan makanan itu semua. Rasanya sudah sangat lama tidak memakan seafood" ucap Zoya yang sudah sangat antusias ingin segera menyantap makanan yang dia inginkan.
Dharma mengendarai mobilnya menuju pantai terdekat dan juga ada restaurant seafood juga didalam nya. Dharma memarkirkan mobilnya tidak jauh dari pantai dan juga restaurant seafood nya.
Zoya yang sudah tidak sabar sudah pergi lebih dulu untuk segera memesan aneka seafood yang dia inginkan. Bahkan Zoya sudah memesan dengan porsi besar.
"Apa anda tidak salah Nona? Anda memesan sebanyak ini?" tanya Dharma yang melihat dimeja sudah dipenuhi dengan berbagai macam seafood yang masih mengepulkan asap nya.
Zoya hanya tersenyum dan langsung mengambil udang lobster yang ukuran jumbo, tanpa ragu dia langsung menyantap nya.
Sedangkan dari arah lain ada seseorang yang memperhatikan mereka berdua yang sedang menikmati makanan nya.
.
.
.
Siapa ya yang memperhatikan Zoya???
__ADS_1
Othor minta dukungan nya dari para reader kesayangan Othor untuk memberikan like, komen, vote dan hadiahnya ya....
Jangan lupa subscribe juga, supaya tahu jika ada notifikasi nya....