
Setelah selesai dengan pasien nya, Zia langsung pergi lagi dari rumah sakit tersebut. Dia sudah lumayan lelah dengan hari ini, apa lagi dia selalu Alaska diganggu oleh orang yang membuatnya selalu kesal dan juga merasa terganggu.
"Sekarang kita kemana dulu Nona?" tanya Jack pada Zia yang sudah duduk didalam mobil.
"Ketempat yang bisa membuatku tenang dan nyaman" jawab Zia yang sudah memejamkan matanya.
"Baik Nona" jawab Jack dengan mengendarai mobilnya menuju tempat yang diinginkan oleh Nona Muda nya.
Zia merasa dirinya sangat lelah dengan semua ini. Dan juga lelah memiliki wajah yang selalu saja ada yang selalu terobsesi akan kecantikan wajahnya juga ketegasan yang dia miliki.
"Kita sudah sampai Nona" ucap Jack saat sudah ada ditempat yang selalu dia sukai.
"Thanks. Kau boleh pergi sekarang" ucap Zia yang langsung turun dari mobil.
Zia sudah ada disebuah tempat yang sejak dulu dia selalu menjadi tempat paforit nya jika dia sedang kesal dan juga penat melanda dirinya. Supaya dia bisa tetap waras dan juga bisa berfikir dengan jernih.
"Ini adalah tempat yang membuat aku bisa mempertahankan kewarasan aku jika sedang seperti ini. Huh, kenapa hidup ku selalu seperti ini jika dekat dengan seorang pria?" gumam Zia menatap kebawah sana yang, pemandangan yang sangat indah walau ditempat yang kurang epic sebenarnya.
"Eh, ngomog-ngomong kenapa ya? Aku mengingat anak kecil itu yang baru bertemu tapi sudah memanggilnya dengan sebutan Mommy. Tapi lucu juga dengan semua celotehan nya" gumam nya lagi sambil tersenyum saat sudah mengingat pertemuan nya dengan Quinzy.
Zia sedang memikirkan Quinzy yang menggemaskan lalu dia pergi dari tempat nya duduk tadi. Dia berjalan menyusuri jalanan yang cukup ramai, Zia sengaja meninggalkan Jack yang sedang menunggunya.
Saat sedang berjalan dia mendengar jika ada suara anak-anak kecil menangis. Entah kenapa Zia yang dulunya tidak menyukai anak-anak setelah bertemu dengan Quinzy dia jadi menyukai anak-anak.
Suara tangisan nya semakin terdengar jelas ditelinganya. Zia semakin mendekat kearah suara tangisan tersebut. Dan dia melihat seorang anak perempuan sedang menangis, mungkin saja dia tersesat. Zia semakin mendekati nya dan betapa terkejutnya melihat Quinzy yang sedang menangis.
"Loh my princess kenapa menangis disini?" tanya Zia yang sudah ada dihadapan Quinzy saat ini.
"Mommy" ucap Quinzy langsung memeluk Zia yang sudah berjongkok dihadapan nya.
"Kenapa menangis disini? Dimana mbak nya?" tanya Zia saat Quinzy sedang memeluknya.
"Ici, nda tau. Ici cedang belmain tapi nda tau. Hiks... Hiks... Hiks" jawab Quinzy dengan menangis sesegukan.
"Sudah, kan sudah bersama Mommy sekarang. Mau ikut Mommy?" ucap Zia yang malah disambut oleh senyuman mengembang dari Quinzy.
"Oke kita langsung menuju kemobil, Mommy sudah cape jika harus berjalan-jalan lagi" ucap Zia kembali yang langsung disambut oleh senyuman manis dari gadis kecil yang cantik ini.
"Apa Daddy tidak akan mencarI mu? Pasti dia khawatir mencari Izy" ucap Zia yang sedang berjalan menggandeng tangan mungil Quinzy.
"Daddy, cedang memcali" jawabnya dengan memandang wajah Zia.
__ADS_1
"Apa Izy tahu dimana rumah Izy?" tanya Zia yang malah berjongkok kembali menatap wajah Quinzy yang sangat menggemaskan.
Tapi Quinzy malah menggeleng. Ya mana mungkin anak berusia dua tahun tahu dimana arah rumah nya, mungkin benar jika Juan pasti sedang panik mencari Quinzy saat ini. Supaya tidak menambah permasalahan, Zia menghubungi suster yang selalu menemaninya saat praktek.
Zia membawa Quinzy yang sudah lebih tenang kesebuah cafe yang tidak jauh dari tempatnya berjalan. Zia langsung mengajak Quinzy untuk masuk kedalam cafe tersebut. Karena Zia ingin menghubungi Juan.
"Izy suka es krim?" tanya Zia yang melihat ada berbagai macam es krim dicafe tersebut.
"Cuka, Ici cuka ekim" jawab Quinzy dengan mata yang berbinar.
"Oke, kita pesan es krim yang Izy inginkan" ucap Zia yang langsung mengajak Quinzy untuk duduk dan memesan berbagai jenis es krim.
Zia juga tidak lupa memesan untuk dirinya juga, karena dia juga sangat menyukai es krim. Zia langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang yang dia mintai nomor ponsel nya dari suster.
Setelah Zia meminta nomor ponsel milik Juan, karena dia ingin menghubunginya supaya Juan tidak terlalu panik dan malah berbuat sesuatu diluar kesadaran nya sendiri. Setelah Zia mendapatkan nomor ponsel Juan Zia langsung menghubunginya. Tak menunggu waktu lama panggilan nya diangkat.
"Halo, bisa bicara dengan Tuan Juan?" tanya Zia saat panggilan telpon nya diangkat.
"Saya sendiri, ini siapa?" jawab Juan dengan suara yang sepertinya sedang marah besar.
"Saya Zia, dokter Zia. Saya hanya memberitahu anda jika saya bersama dengan Izy. Dia baik-baik saja, tadi saya menemukan nya sedang menangis dipinggir jalan" ucap Zia dengan panjang lebar dan juga dengan ramah.
"Ada dicafe dijalan Y nomor 5" jawab Zia yang melihat-lihat arah jalan yang dia lewati tadi.
"Tunggu disana saya akan kesana sekarang" ucap Juan yang langsung memutuskan sambungan ponselnya sepihak.
"Dasar aneh, bukan nya mengucapkan terimakasih karena aku sudah menemukan putrinya. Ini malah langsung memutuskan nya begitu saja. Dasar tidak crazy" umpat Zia yang melihat layar ponselnya meredup.
"Mommy, cedang epon capa?" tanya Quinzy dengan mulut yang sudah belepotan karena es krim.
"Oh, Mommy sedang menghubungi Daddy kamu princess. Karena Daddy pasti sedang panik mencari kamu" jawab Zia dengan membersihkan mulut Quinzy yang sangat kotor oleh es krim.
"Iya, Ici ati cali Daddy" jawab Quinzy yang membuat Zia tertawa mendengar jawaban dari mulut mungilnya yang belum terlalu jelas berbicara.
"Daddy memang sedang mencari Izy. Kenapa Izy berada disini?" tanya Zia yang melihat Quinzy sudah selesai makan es krim nya.
"Ici ain tak upet, Ici lali telus cini temu Mommy" jawab Quinzy dengan mata yang berbinar.
Zia melongo, dia tidak tahu apa yang Quinzy katakan. Zia hanya tersenyum saja memikirkan apa yang diucapkan oleh Quinzy kecil ini. Zia baru sadar jika dia mengerti kata "tak upet" berarti petak umpet.
"Izy bermain petak umpet dengan siapa sampai sejauh ini?" tanya Zia pada Quinzy.
__ADS_1
"Ici ain baleng encus dan Daddy ain tak upet. Ici lali lumah cini" jawab Quinzy yang menjelaskan pada Zia.
Sedangkan Zia melongo karena tidak tahu apa yang dijelaskan oleh Quinzy. Dia hanya faham kata Daddy dan juga petak umpet. Sisanya dia tidak tahu apa yang diucapkan oleh Quinzy.
Saat Zia sedang memperhatikan Quinzy dan juga memikirkan apa yang diucapkan oleh gadis kecil itu tiba-tiba Juan datang dengan berlari kearah mereka berdua.
"Apa kamu baik-baik saja baby? Ada yang terluka? Atau sakit?" tanya Juan saat sudah berlutut dihadapan Quinzy saat ini.
"Ici aik, ama Mommy" jawab Quinzy sambil tersenyum dan memeluk Juan.
"Kalo main jangan jauh-jauh, Daddy sudah panik mencari kamu. Jangan diulangi lagi, oke" ucap Juan yang diangguki oleh Quinzy.
Juan langsung bangkit dari berlututnya, dia duduk disamping Zia dan Quinzy. Lebih tepatnya berada ditengah-tengah dua perempuan beda usia ini.
"Terimakasih anda sudah menemukan putri saya" ucap Juan pad Zia yang sedang diam menatap keduanya.
"Hmm, sama-sama" jawab Zia dengan pandangan datarnya.
"Kenapa bisa Izy ada disekitar jalan ini? Bagaimana jika dia bertemu dengan penjahat atau penculik yang ingin menculiknya?" tanya Zia yang seperti sedang memarahi suaminya karena tidak bisa menjaga anaknya.
Sedangkan Juan malah diam tanpa ekspresi menatap Zia yang sedang marah karena mengkhawatirkan Quinzy yang akan diculik.
"Mommy, angan alah-alah anti elek tua" ucap Quinzy yang membuat Zia tidak bisa marah lagi pada Juan.
"Mommy tidak marah princess, Mommy hanya kesal" jawab Zia mengelak.
"Oh" jawab Quinzy membulatkan mulutnya.
"Kami sedang bermain, dan Izy mungkin lari keluar rumah tanpa diketahui oleh kami semua. Dan kebetulan memang rumah kamu dekat dari sini jadi Izy dengan mudah bisa sampai disini" jawab Juan yang masih menatap datar pada Zia.
Zia tidak menjawab atau membalas ucapan dari Juan. Tiba-tiba ponsel Zia berdering menampilkan nama Jack didalamnya. Zia langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Kenapa?" tanya Zia yang sudah mengangkat panggilan tersebut.
"Nona berada dimana?" tanya Jack balik pada Zia.
"Cafe Rio dijalan Y nomor 5" jawab Zia yang langsung memutusakan panggilan telpon nya sepihak.
"Capa Mom?" tanya Quinzy yang melihat wajah Zia terlihat murung.
"Bukan siapa-siapa. Apa Izy mau es krim lagi? Mommy sedang ingin makan yang manis-manis" tanya Zia pada Quinzy dan Quinzy dengan semangat nya mengangguk setuju untuk memesan es krim kembali.
__ADS_1