
Louis mengajak anak-anaknya untuk bermain kartu bersama. Dan ternyata Zayn menyetujui nya, karena mereka memang sudah sangat lama tidak bertemu seperti ini. Mereka berlima bermain sambil mengobrol ringan dan membahas masalah pekerjaan juga.
"Bagaimana kondisi disana Zayn?" tanya Daddy Louis pada Zayn.
"Baik-baik saja, dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan" jawab Zayn dengan sangat santai.
"Apa yang sedang kamu lakukan dengan orang yang sudah membuat Zia seperti itu?" tanya Daddy Louis lagi.
"Sesuai dengan kejahatan nya" jawab Zayn singkat jelas dan padat.
"Apa kamu menggadaikan nyawa nya pada malaikat Izrail?" tanya Daddy Louis dengan nada candaan nya.
Dan disambut gelak tawa oleh yang lain nya. Sehingga Zico bersuara.
"Apa dia benar-benar sudah tiada Z?" tanya Zico.
"Bisa dibilang seperti itu" jawaban ambigu dari Zayn yang membuat semua orang mengerutkan kening nya heran.
"Apa maksud nya bang Z?" tanya Zio yang sudah sangat penasaran.
"Tidak ad'a maksud apa-apa" jawab nya dan Zayn memang dalam permainan pertama nya.
Dia langsung beranjak pergi menuju kamar nya waktu kecil. Saat memasuki kamar itu Zayn merasa tidak ada yang berubah sedikit pun didalam kamar ini.
Wangi nya masih sama dengan wangi tubuh nya sewaktu kecil. Dia memindai semua kenangan-kenangan nya waktu masih berada didalam kamar ini.
Ternyata semua saudara nya dan juga Daddy Louis mengikuti nya dari belakang dan Daddy Louis menepuk bahunya.
"Semuanya masih sama boy. Tidak akan pernah berubah" ucap Dad Louis sambil merebahkan tubuh nya diatas ranjang king size milik Zayn.
Dan tingkah nya itu diikuti oleh keempat putra nya yang lain. Sedangkan Zayn hanya menggelengkan kepala nya melihat tingkah Daddy dan saudara nya.
Mereka semua membaringkan tubuhnya bersama-sama dan malah terlelap. Hinngga Zayn pergi lagi. Dia hanya meninggalkan pesan singkat pada seluruh keluarga nya.
Zayn sudah kembali ke Amerika. Dia memang tidak bisa lama-lama berada disini, dia tidak mau jika ada yang mengetahui jika dirinya sedang berada didalam negri.
Keesokan hari nya mereka semua di gemparkan oleh berita heboh yang muncul ditelevisi. Bukan hanya mereka saja, tapi semua orang yang menyaksikan berita nya.
Dimana polisi menemukan jasad tidak dikenal sudah tidak bernyawa lagi dan lebih parah nya burung kutilang nya sudah putus dan tidak tersisa sedikit pun. Dan wajah nya juga tidak dapat dikenali lagi.
Zayd merinding dan menelan slivanya dengan susah payah. Karena dia sudah tahu siapa pelaku sebenar nya. Mereka semua saling pandang dan semua nya berlari menuju para wanita kesayangan nya.
Dan ternyata mereka bertiga sedang menonton drakor bersama dengan saling tertawa bersama dan juga menangis jika ada adegan sedih nya.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel mereka berdering secara bersamaan dan dari orang yang sama. Siapa lagi jika bukan Zayn yang mengirimi pesan, dengan isi pesan nya adalah.
"Aku sudah kembali lagi ke Amerika"
Kira-kira begitu isi pesan nya. Dan benar saja semua orang berlari menuju kamar yang biasa ditempati oleh Zayn. Ternyata memang sudah tidak ada didalam dan dimana pun.
"Abang Z..... Dasar jelangkung!" teriak Zayd dengan penuh umpatan dari nya.
"Sedangkan yang lain nya malah terlihat tersenyum akan tingkah Zayd yang selalu marah jika sudah seperti ini. Zayd akan seperti seorang wanita yang sedang PMS.
"Tenaganglah Zayd. Nanti giliran kita yang membuat nya terkejut dengan kedatangan kita kesana" ucap Zia dengan seringai liciknya.
Zayd yang mendengar nya langsung tersenyum licik akan penuturan kakak nya itu. Sedangkan yang lain nya tertawa melihat kedua saudara nya itu merencanakan ingin membuat Zayn terkejut.
"Apa kalian bisa membuat nya terkejut?" sebuah pertanyaan yang membuat tawa mereka berdua berhenti dalam sekejap.
"Mommy benar, kami berdua tidak akan bisa membalas nya" jawab Zayd dengan tertunduk lesu.
Sedangkan Zia tidak menyerah. Dia akan membuat Zayn merasakan akibat nya. Karena dia sudah pergi tanpa memberi tahu lebih dulu pada nya.
.
Ditempat yang berbeda Lexa sedang berjalan-jalan menyusuri mall terbesar dikota dan paling mahal juga, yang bisa memasuki nya adalah kalangan atas semua. Jadi tidak heran jika disini banyak sosiallita yang berjalan didalam mall ini.
Dia bertemu dengan seseorang yang sangat dia kenal. Tapi dia sedang berjalan berdua dengan seorang pria muda juga. Lexa tidak mau ikut campur, toh mereka juga tidak dekat.
Saat Lexa sedang berada didekat rak buku yang menyimpan berbagai novel berada disana. Lexa ingin mengambil salah satu dari novel tersebut, tapi sudah dikagetkan oleh kedatangan seseorang yang tidak dia inginkan.
"Hay, Alexa kan?" tanya seorang gadis yang pernah bertemu dengan nya sebelum nya.
"Iya" jawab Lexa singkat.
"Sendiri saja atau bersama dengan orang lain?" tanya nya sangat ramah.
'Pantas saja abang Zi menyukai nya. Dia ramah dan juga baik' ucap Lexa hanya dalam hati saja.
"Aku sendiri" jawab Lexa masih saja datar.
"Oh, bisa kita berteman? Aku tidak mempunyai teman disini. Karena aku baru pulang dari Swiss" ucap seorang gadis yang bernama Joyce itu.
"Boleh, tapi aku tidak bisa ada disini terus. Karena aku akan kuliah diluar negri. Jadi kita bisa berteman nanti setelah aku kembali. Maaf" jawab Lexa dengan senyuman tipis yang membuat hatinya kembali berdenyut nyeri.
"Emm, baiklah. Tapi tidak masalah, kita tetap berteman dengan saling bertukar nomor ponsel" ucap nya dengan sangat ceria.
__ADS_1
Joyce meminta nomor ponsel Lexa dan dia menyimpan nya. Lexa hanya bisa diam dan menertlima nya. Dia tidak boleh egois, karena cinta tidak mungkin dipaksakan bukan? Dia ingin berdamai dengan hatinya.
Lexa tidak mau jika dia selalu mengingat cinta nya yang sangat mengenaskan ini. Dia akan mencoba membuka hatinya untuk orang lain, nanti.
Tiba-tiba saat mereka berdua sedang berbincang ada seorang pemuda yang menghampiri Merwka berdua. Wajah nya mirip dengan Joyce hanya dia fersi pria.
"Lexa kenalkan, ini kakak kembar ku nama nya Joyed" ucap Joyce memperkenalkan sang kakak pada Lexa.
"Alexa"
"Joyed"
Ucap mereka berdua memperkenalkan dirinya masing-masing. Dan disinilah mereka bertiga, berada disebuah cafe yang masih didalam mall juga.
"Apa kamu juga memiliki kakak juga seperti ku?" tanya Joyce.
"Iya, dia juga laki-laki" jawab Lexa dengan pandangan yang entah menuju kemana.
Sikap Alexa tidak luput dari pandangan seorang Joyed yang sejak tadi mencuri-curi pandang pada nya.
Joyed melihat ada kesedihan dan juga luka yang sangat besar terlihat didalam mata sayu dan teduh itu. Dia seperti melihat sosok ini, tapi entah dimana dia melihat nya.
Hingga dering ponsel mengagetkan mereka. Ternyata ponsel Lexa yang berdering. Dan yang menelpon adalah sang Mami yang juga berada didalam Mall yang sama dengan putri nya.
"Iya Mi, aku sedang dicafe" jawab Lexa saat sudah mengangkat panggilan dari Mami Nindi.
"Pantas saja Mami cari ditoko buku tidak ada. Mami cuman mau bilang, jika Mami harus bertemu dengan teman-teman Mami. Kamu nggak apa-apa kan jika Mami tinggal?" tanya Mami Nindi pada Lexa yang sedang ditelpon nya.
"Iya Mi, aku tidak apa-apa. Aku juga sedang bersama dengan teman Lexa. Jadi Mami tidak perlu khawatir" jawab Lexa dengan menghembuskan nafasnya sedikit kasar.
"Baiklah, Mami akan pergi. Kamu harus berhati-hati, jangan keluyuran tidak jelas" ucap Mami Nindi sebelum menutup panggilan nya.
"Iya Mi" jawab Lexa lalu menyimpan kembali ponselnya didalam tas slempang yang dia gunakan.
Sejenak mereka saling diam hingga suasana kembali seperti semula saat Joyce mengajak bicara Lexa lagi. Dan Lexa sudah merasa nyaman dengan semua ini.
Dia tidak secanggung pertama bertemu lagi dengan Joyce, itu semua terlihat jelas dimata Joyed yang sejak tadi menatap nya. San tingkah Joyed tidak luput dari Joyce juga. Joyce tahu, jika Joyed memiliki perasaan pada Lexa saat pertama bertemu dengan nya.
"Lexa, apa kamu sudah memiliki kekasih? Maaf jika pertanyaan ku terlalu jauh" ucap Joyce merasa tidak enak. Dan benar saja dia mendapatkan tatapan tajam dari Joyed.
"Tidak apa, lagi pula memang aku masih sendiri. Aku hanya ingin fokus pada cita-cita ku saja, tidak mau memikirkan yang seperti itu dulu" jawab Lexa dengan senyuman tipis dibibir nya.
Dan itu semua membuat Joyed semakin terpesona pada Lexa, dia bisa melihat senyuman yang tulus didalam nya. Tidak seperti sebelum nya, penuh dengan kegetiran dan juga banyak sekali keterpaksaan didalam nya.
__ADS_1