
Zoya begitu sedihnya, kenapa dia bisa bertemu dengan keluarga Hernandez lagi setelah sekian lama. Dan kedua perusahaan itu akan menjalin kerjasama, bukan tidak mungkin jika mereka tidak akan bertemu.
"Kenapa harus dia lagi? Disekian banyaknya perusahaan dan pengusaha, kenapa harus dia! Kenapa?" ucapnya dengan menangis yang begitu menyayat hati.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, dia semakin memperlihatkan sifat aslinya yang memang terkesan kasar dan juga suka menghina. Apa yang harus aku lakukan Ya Robb" ucap Zoya lagi masih terisak sesegukan.
'Apa kamu belum bisa move on darinya zoya? Sehingga kamu begitu sedihnya memikirkannya' ucap Dharma yang ternyata belum benar-benar pergi dari sana.
Ya, Dharma mendengar semua yang diucapkan oleh Zoya. Walau begitu dia tidak berani untuk ikut campur lebih dalam lagi masalah Zoya. Jika Zoya menginginkan untuk bicara padanya dia akan mendengarkan dan memberi saran. Tapi jika tidak yakin, tidak apa-apa, semoga saja dia selalu bahagia.
Dharma langsung pergi menuju tempat klien selanjutnya, karena dia yang akan menghendle semua pekerjaan diluar untuk menggantikan Zoya.
Zoya sudah lebih tenang dan dia sudah mencuci wajahnya supaya terlihat segar. Dia melanjutkan pekerjaan nya yang tadi ditunda karena menangis. Menangisi hal yang tidak berguna sama sekali.
.
Jika Zoya sedang menata hati dan hidupnya. Berbeda dengan Zio yang sekarang lebih banyak dikantor, sama seperti Zoya. Zoya dan Zio sama-sama menjabat sebagai CEO, karena sekarang Zio juga sedang menghadiri rapat maka Zoya yang akan menghendle sebagian nya.
"Apa sudah selesai Lex?" tanya Zio pada Alex asisten pribadinya.
"Sudah Tuan Muda. Dan anda hari ini jadwal nya hanya menandatangani berkas saja" jawab Alex yang menerangkan semua pekerjaannya hari ini.
"Bagaimana dengan kakak? Jika aku ada disini maka kakak yang ada diluar" tanya Zio pada Alex.
"Iya Tuan Muda, memang seperti itu. Makanya semua dibagi menjadi dua, jika anda ada disini maka Nona Zoya akan berada diluar" jawab Alex menerangkan.
"Kamu boleh keluar" ucap Zio sambil memandangi layar monitor.
Setelah selesai dan sekarang sudah waktunya untuk makan siang. Zio langsung keluar menuju kantin kantor yang sekarang makanannya sudah seperti restaurant bintang 5. Ternyata dia bertemu dengan Zoya yang sedang makan sendirian tanpa didampingi oleh Dharma.
"Kak, aku kira kakak sedang diluar bersama Dharma?" tanya Zio yang melihat Zoya sedang menikmati makanan nya.
__ADS_1
"Dharma yang handle semua kerjaan kakak" jawab Zoya masih memakan makanan nya.
"Kenapa? Tidak biasanya?" tanya Zio.
"Kakak ketemu dengan keluarga Hernandez tadi pagi. Dan ternyata dia adalah salah satu klien kakak, kakak tidak tahu jika dia juga masuk dalam klien yang kakak miliki" jawab Zoya dengan wajah yang kembali sendu.
"Apa mereka melakukan sesuatu pada kakak?" tanya Zio yang sudah terbawa emosi.
"Kakak sempat dibilang tidak tahu apa-apa. Dan kakak dipermalukan didepan umum, jika kakak tidak sopan pada calon mertua dan juga tunangan. Kakak tidak tahu apa yang mereka inginkan dengan cara mempermalukan kakak seperti itu. Dan sejak kapan juga kakak menerima dia sebagai tunangan kakak" ucap Zoya panjang lebar pada Zio. Dia ingin mengungkapkan apa yang ada didalam hatinya mulai saat ini.
Zoya tidak mau jika dia menjadi Zoya yang dulu lagi. Yang selalu menyimpan sendiri masalah yang dia hadapi. Dia hanya ingin menjadi diri sendiri dan bisa melakukan apa yang menurutnya baik dan benar.
"Baiklah kak, mulai sekarang. Klien kakak yang itu aku yang urus, kakak bisa diam saja dikantor dan menghendle yang ada dikantor. Sisanya atau yang harus keluar atau lapangan biar aku dan Alex yang akan menghendle nya. Kakak jangan khawatir ya, serahkan padaku" ucap Zio yang langsung menggenggam tangan sang kakak untuk menguatkan.
"Terimakasih Zi, kakak tidak tahu jika akan seperti ini. Kakak juga tidak mau jika semua orang beranggapan kakak yang tidak-tidak. Kakak tidak mau hanya karena ucapan mereka membuat kakak menjadi down" ucap Zoya yang sudah mengalir tersenyum.
"Jika kakak tersenyum seperti ini kan cantik. Untung saja kakak memiliki Dharma yang serba bisa diandalkan, coba kalau tidak. Mungkin kakak akan pusing sendiri" ucap Zio yang menggoda sang kakak.
"Oh iya, ngomog-ngomong bagaimana dengan hubungan kamu dan Lexa? Katanya dia melanjutkan study nya di London?" tanya Zoya mengalihkan pembicaraan tentang keluarga Samuel.
"Iya kak, aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Lexa. Kami hanya real berteman tidak lebih, awalnya aku memang menyangka jika kepergiannya ad'a hubungan dengan abang Zi, tapi ternyata salah. Dia memang sudah sejak lama ingin melanjutkan study nya disana" jawab Zio dengan senyuman getir yang dipaksakan.
"Kamu harus bisa membuat hati kamu bisa melupakannya. Kakak juga sama, sudah lama kakak mencobanya. Walau sulit, tapi harus bisa melupakan nya" ucap Zoya yang memberi semangat pada adiknya dan juga dirinya sendiri.
"Kakak benar. Semoga saja aku bisa mendapatkan wanita baik dan juga menerimaku ini. Tapi nanti saja lah, aku mau fokus pada pekerjaanku saja untuk saat ini. Lagi pula aku masih sangat muda jika untuk masalah yang seperti itu" jawab Zio dengan penuh senyuman.
Walau dia belum bisa melupakan Alexa, setidaknya dia bisa diandalkan dalam hal pekerjaan. Biarlah jodoh Allah yang mengaturnya, kita semua hanya bisa berdo'a dan berikhtiar.
Mereka makan siang bersama dengan selalu menjadi pusat perhatian bagi seluruh staff kariawan. Mereka berdua adalah CEO muda yang berkompeten dan juga sangat ramah dan juga baik. Apa lagi Zio, dia sudah menjadi idola bagi semua kariawan wanita. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang rela bertengkar hanya demi memperebutkan Zio Pratama Edison.
"Kakak duluan ya Zi, kakak masih banyak banget kerjaan yang harus kakak kerjakan" ucap Zoya yang sudah selesai makan siang bersama dengan Zio.
__ADS_1
"Iya kak, duluan saja" jawab Zio yang melambaikan tangannya pada sang kakak.
Zoya menuju arah lift untuk menuju ruangan kerjanya. Disana dia bertemu dengan seseorang yang tidak dia kenali. Mungkin dia kariawan baru yang tidak tahu siapa dirinya dan tiba-tiba dia juga ikut masuk kedalam lift khusus petinggi perusahaan.
"Maaf, apa kamu kariawan baru?" tanya Zoya yang melihat seorang pria berpakaian sangat rapih dan juga jangan lupakan kacamata tebalnya.
"I... Iya Nona" ucapnya dengan menunduk, dia tidak berani menatap wajah Zoya.
"Apa kamu tahu, ini lift khusus?" tanya Zoya yang diangguki oleh pria tersebut.
"Maaf Nona, saya baru-buru. Karena saya harus keruangan HRD untuk menyerahkan berkas yang diminta oleh manager HRD. Makanya saya ikut masuk lift bersama anda. Sekali lagi maafkan saya Nona" ucapnya sambil membungkukan tubuh nya beberapa kali hingga pintu lift terbuka menuju ruangan HRD.
"Dasar aneh, tapi kenapa dia sangat ketakutan?" gumam Zoya yang malah ikut turun bersama dengan pria berkacama tersebut.
Terdengar dibagian HRD managernya sedang marah kepada seseorang sehingga terdengar suara gaduh dan ada benda yang pecah. Sontak membuat Zoya semakin penasaran dan langsung masuk kedalam ruangan tersebut.
Betapa terkejutnya Zoya melihat pria berkacamata tersebut sudah tersungkur dibawah dengan kening yang sedikit mengeluarkan darah.
"Nona, maaf ada perlu apa anda kemari?" tanya sang manager yang melihat Zoya yang tiba-tiba masuk dan menolong orang yang sudah membuat kesalahan itu.
"Apa begini cara seorang manager HRD memperlakukan seseorang dengan sangat kasar dan juga tidak patut untuk dicontoh!" ucap Zoya dengan wajah datarnya dan tanpa ekspresi.
"Kamu baik-baik saja. Kamu bisa mengobati luka kamu dulu, setelah itu baru keruangan saya" ucap Zoya menyuruh pria berkacamata itu untuk keluar.
Otomatis kedatangan Zoya membuat suasana diseluruh bagian HRD menjadi riuh. Pasalnya mereka sudah sering sekali mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari manager HRD. Bahkan ada yang tidak kuat untuk bekerja dibawah naungan HRD ini. Karena selain kasar dan main tangan, dia juga terlibat pungli pada para calon kariawan baru.
Tidak sedikit dari mereka yang bisa bekerja disana memberikan jumblah uang yang tidak sedikit. Dan itu sangat meresahkan. Apa lagi atasan mereka semua tidak tahu, mungkin jika tahu akan langsung dipecat atau dipindanakan.
"Apa anda bisa menjelaskan semua ini pak Wanto?" tanya Zoya yang sudah duduk dengan tenang nya dimeja kerja manager HRD tersebut dengan tangan yang melipat didada.
"Maaf Nona, dia membuat laporan sangat kacau. Saya sudah memberitahukan nya untuk bisa melakukan pekerjaan ini dengan baik. Tapi tetap saja salah Nona. Maka dari itu saya memberikannya pelajaran supaya dia tidak seperti itu lagi" jelas manager HRD tersebut dengan nada yang sedikit bergetar.
__ADS_1