
Zoya langsung membersihkan dirinya sebelum tertidur. Dia juga selalu melakukan kewajibannya sebagai seorang Muslim.
Sedangkan Zia masih saja menggerutu tidak jelas karena dia tidak bisa masuk kedalam kamar yang kakak. Kakak nya itu hari ini terlihat berbeda dari biasanya.
"Apa yang terjadi dengan kakak? Kenapa dia terlihat salting (salah tingkah) gitu ya" gumam Zia yang sedang menuruni anak tangga.
"Kamu kenapa Zi? Kelihatan nya banyak fikiran gitu?" tanya Zio yang baru saja selesai mandi.
Wajahnya terlihat segar dan rambutnya juga dibiarkan setengah basah. Terlihat menggoda bukan, tapi tetap saja. Walau badan keren, wajah tampan dan juga terlihat cool. Tapi tetap saja dia tidak memiliki perasaan.
"Seger banget bang?" bukan nya menjawab pertanyaan dari abang nya malah balik bertanya.
"Kamu ini, jika ditanya itu jawab. Bukan malah ngasih pertanyaan lagi" ucap Zio sambil menoyor kepala adiknya.
"Ish, abang apa-apaan sih! Main toyor-toyor saja kepala aku. Abang kira kepala aku ini apaan coba" gerutu Zia. Dan dia berlalu pergi begitu saja.
"Zia, kamu mau kemana malam-malam?" tanya Zio yang melihat Zia akan keluar.
"Bukan urusan abang" jawabnya lalu pergi dari mainson hanya menggunakan piyama tidur.
"Dasar aneh. Pergi keluar menggunakan pakaian seperti itu" gumam Zio yang langsung mengejar adiknya.
"Kemana itu anak? Awas saja jika dia berani keluar menggunakan pakaian seperti itu" omelette Zio yang terus mengedarkan pandangannya keseluruh halaman mainson.
"Dia sedang apa disana?" gumam nya dan menghampiri adiknya yang sedang berdiri menatap pohon didepan nya.
"Kamu sedang apa malam-malam seperti ini?" tanya Zio sambil menepuk pundak Zia lumayan keras juga.
"Abang kenapa sih ngikutin aku kesini?" ucap Zia yang perotes karena diikuti oleh abang nya.
"Abang takut kamu kenapa-kenapa makanya abang ikuti" ucap Zio yang ikut berdiri disamping Zia.
"Makasih, abang sudah mengkhawatirkan aku" ucap Zia yang langsung memeluk lengan kekar abang nya.
"Kau ini" ucap Zio yang langsung memeluk nya dengan erat.
"Thank you so much my brother" ucap Zia memeluk tubuh abang nya.
"Apa yang sedang kamu fikirkan?" tanya Zio yang tahu sifat adiknya ini jika sedang banyak fikiran pasti mencari tempat yang sejuk dan juga sepi.
"Tidak ada" jawab Zia yang menatap wajah tampan abang nya.
"Kau tidak mau bercerita pada abang?" tanya Zio lagi yang memang ingin mengetahui masalah yang sedang dihadapi oleh adiknya.
__ADS_1
"Aku sungguh tidak apa-apa bang. Hanya saja masih kepikiran soal tadi Zayd yang bertemu dengan Joyce" jawab Zia dengan menatap manik mata Zio abang nya.
"Joyce? Kenapa memangnya jika bertemu?" tanya Zio yang menatap heran pada adiknya ini.
"Nggak, aku merasa ada yang janggal saja sih. Kenapa tiba-tiba dia bisa dekat dengan Zayd walau itu adalah pertemuan pertama mereka berdua. Tapi sikap dan tingkah nya itu sedikit mencurahkan bang. Ya, walau masih dugaan ku saja sih" jawabnya dengan pandangan yang lurus kedepan.
"Lalu, kenapa kamu bisa berfikiran seperti itu?" tanya Zio lagi.
"Begini, Kalau tidak salah dia bilang pada Zayd jika pada saat dia dibandara abang Zi mencegat nya dan mengancam nya juga. Yang membuat aku heran, kapan abang Zi kebandara? Sedangkan dia sedang bersama dengan Arabella kan?" jelas Zia lagi yang memang sedang menghubungkan kejadian tadi saat dicafe.
"Lalu apa yang membuat kamu menjadi curiga?" tanya Zio lagi dengan mencerna semua ucapan yang diberikan oleh Zia.
"Gini ya bang, Zayd kan dia itu penyayang dan juga perasa dalam segala hal. Aku cuman takut jika dia dimanfaatkan oleh dia saja. Aku nggak nuduh jika dia wanita tidak baik. Tapi apa salahnya kan jika kita waspada sebelum itu terjadi bukan?" ucap Zia dengan panjang kali lebar kali tinggi.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Zio pada Zia.
"Aku nggak tahu bang. Tapi yang jelas aku ingin Zayd menjauhi Joyce, jangan sampai dia datang untuk bisa mempengaruhi Zayd kita" ucap Zia.
"Jika memang itu terbaik untuk Zayd abang hanya mendukung nya saja" ucap Zio mendukung apa pun yang akan dilakukan oleh adiknya.
Mereka berdua saling berbincang dan juga saling bertukar cerita. Mereka bercanda berdua, dan hingga waktu sudah menjelang malam dan mereka berdua masuk kedalam kamar nya masing-masing.
Sehingga pagi menjelang. Semua nya seperti biasa melakukan kegiatan nya masing-masing. Seperti saat ini, Zia akan bersiap menuju kampusnya ingin bertemu dengan Zayd dulu sebelum berangkat. Tapi malah sudah tidak ada.
"Ini kak, Zayd sudah pergi ternyata" ucap Zia saat sang kakak bertanya.
"Kenapa? Dia, terlihat tidak bersemangat" tanya Zoya pada Dharma.
"Aku juga nggak tahu" jawab Dharma.
"Aneh sekali. Ya sudah kita segera berangkat saja" ucap Zoya pada Dharma yang berjalan bersisian dengan nya.
Sedangkan Zia sedang menatap aneh pada Zayd. Pasalnya dia tidak pernah seperti ini, kenapa sekarang berubah dan tidak mau bersama dengan nya jika pergi kekampus.
"Loh kak, kenapa tidak berangkat ke kampus?" tanya Mommy Vita yang melihat putri nya masih berada di mainson dijam segini.
"Aku nggak ada kelas Mom" jawab Zia dengan lesu.
"Kenapa, kok kelihatan lesu banget sih masih pagi begini?" tanya Mom Vita.
"Nggak apa-apa kok Mom, lagi nggak mood saja" jawab Zia yang langsung pergi begitu saja dari hadapan Mommy Vita.
"Kenapa anak itu? Tidak seperti biasa nya yang selalu ceria. Aku harus bertanya pada Jack, mungkin saja dia tahu" gumam Mommy Vita saat melihat putri nya tidak bersemangat.
__ADS_1
"Kenapa honey?" tanya Daddy Louis pada istri nya yang terlihat murung.
"Tidak apa-apa Dad" jawab Mom Vita.
"Jika tidak terjadi apa-apa kenapa murung seperti ini? Apa ada yang salah, hmm?" tanya Dad Louis yang penasaran.
"Tadi aku lihat Zia, tapi tidak seperti biasa nya. Seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan. Aku tidak tahu itu apa, yang pasti dia hanya diam saja dan tidak cerewet seperti biasanya. Dan sekarang juga dia tidak kuliah, katanya sih sedang kosong dan tidak ada kelas" jelas Mom Vita pada Dad Louis.
"Honey, biarkan saja. Nama nya juga anak gadis, mungkin sedang ada masalah atau memang sedang tidak mood. Maka nya dia hanya diam dan tidak banyak bicara atau apa lah aku tidak tahu. Yang pasti kita harus selalu mendukung dan juga selalu bersama nya" ucap Dad Louis menjelaskan pada Mom Vita yang malah menghembuskan nafasnya kasar.
"Sudah jangan difikirkan terus, yang ada nanti kamu sakit honey" ucap Dad Louis mengingantkan istrinya supaya tidak terlalu banyak fikiran.
"Iya Dad, aku akan mencoba tidak terlalu memikirkan nya" jawab Mom Vita yang mencoba tersenyum pada Dad Louis.
Pasangan suami istri itu saling berpelukan dan menguatkan. Dan disaat yang bersamaan Zia juga turun untuk pergi kekampus.
"Mom, Dad Zia berangkat dulu ya. Zia udah telat" ucap Zia berpamitan pada kedua orang tua nya.
"Loh, bukan nya tadi bilang tidak ada kelas? Sekarang malah sudah pergi" ucap Mom Vita merasa heran dengan putri nya itu.
"Mungkin baru dapat kabar lagi kali honey" ucap Dad Louis.
"Mungkin saja" jawab Mom Vita menghembuskan nafas nya kasar.
Sedangkan Zia sudah sampai ditempat parkir kampus. Dia harus membawa mobil nya sendiri, karena Zayd sudah pergi lebih dulu. Dan betapa tercengang nya Zia melihat Zayd sedang berduaan dengan Joyce.
"Pantas saja aku dia lupakan, sudah bersama dengan wanita itu rupanya" gumam Zia saat melihat Zayd sedang bersama dengan Joyce sedang mengobrol dan juga tertawa bersama.
"Tapi sejak kapan dia berada dikampus ini? Bukankah dia kuliah ditempat lain?" gumam Zia yang bingung.
Zia langsung berlari dan menarik telinga adiknya itu.
"Bagus ya kamu! Sudah ninggalin kakak sendiri dan malah asik berduaan dengan dia!" ucap Zia yang masih menjewer telinga Zayd, adiknya.
"Aduh, aduh kak. Sakit tahu! Lepas, ini telinga aku lepas kak" ucap Zayd yang mengaduh kesakitan.
"Bodo! Kakak nggak perduli mau lepas atau putus sekalian" ucap Zia nggak mau kalah.
"Kamu apa-apaan sih Zia, kamu nggak malu apa dilihatin semua orang?" ucap Joyce yang mencoba melepaskan Zia dari telinga Zayd.
"Aku nggak ada urusan sama semua orang. Dan dia adik ku, dia sudah berbuat kesalahan yan harus aku buat dia sadar akan kesalahan nya. Dan kamu! Siapa kamu ngatur-ngatur aku mau seperti apa?" ucap Zia yang memang sedang emosi dan tidak suka pada Joyce malah membuatnya semakin marah.
Sedangkan Zayd melongo akan ucapan kakak nya yang membuat nya bingung. Pasalnya Zayd baru melihat kakak nya marah seperti ini, dan ini sudah tidak baik jika diteruskan.
__ADS_1