
"Jika abang diam berarti iya" ucap Zia yang berbicara sendiri. Karena dia tidak ditanggapi oleh Zio.
"Bang, aku tahu, jika abang marah dan juga kecewa pada abang Zi. Tali yang abang lakukan juga salah, dengan memukul dan juga membuat bang Zi seperti itu tidaklah benar, juga tidak salah sih sebenarnya. Tapi alangkah baiknya kan dibicarakan, dirundingkan. Jangan asal main tinju saja, maaf-maaf ya bang. Abang keren" ucap Zia yang membuat Zico menautkan kedua alisnya bingung.
"Kamu ini sedang memuji abang atau mengolok sih sebenarnya?" tanya Zio pada akhirnya.
"Nah kan, bicara juga dia" ucap Zia yang malah cuek saja dengan pertanyaan dari Zio.
"Zi, abang bertanya pada mu!" ucap Zio yang mulai kesal dengan adiknya yang satu ini.
Dia lebih baik diam dari pada meladeni Zia yang membuatnya semakin pusing. Dan rasanya dia ingin sekali membuat Zia pergi darinya saat ini juga. Tapi Zio tidak seberani itu pada adiknya ini. Bisa saja dia yang dibuat babak belur oleh Zia.
Saat diam saja bang Zio masih tamvan 😍😍
"Abang itu tidak cocok hanya diam. Karena itu tidak sesuai dengan karakter yang abang miliki, tapi bagus juga sih. Jadi berkurang yang selalu mengajak ku untuk berdebat" ucap Zia lagi saat Zio kembali diam.
"Abang ingin mendengar sebuah pepatah? Jika kita selalu diam jika diajak berbicara, itu tandanya jika seseorang itu sedang menahan kentut. Hahaha" ucap Zia yang menertawakan ucapan nya sendiri.
"Bercanda mu itu sama sekali tidak lucu! Malah terkesan garing tahu!" ucap Zio yang langsung menarik hidung Zia hingga Zia mengaduh kesakitan karena ulang abang nya.
"Ish. Sakit tahu!" ucap Zia yang sedang mengusap hidungnya you memerah akibat ulah abang nya.
"Makanya jangan asal bicara jika tidak mau sakit" ucap Zio yang malah sedikit tersenyum akan hiburan yang Zia lakukan untuknya.
"Aku suka jika abang sudah tersenyum kembali. Aku takut jika abang akan semakin seperti ayam tetangga teman ku yang tiba-tiba mati karena diam terus" ucap Zia yang asal bicara saja.
"Sejak kapan kamu memiliki teman yang mempunyai ayam?" tanya Zio yang semakin heran dengan adiknya ini.
"Dan, apa kamu bilang! Abang dinamakan dengan ayam? Zia..... " teriak Zio yang melihat Zia sudah tidak ada lagi ditempatnya semula.
Yang ada hanya Zayd yang masih asik mengunyah makanan yang dia bawa. Bahkan Zio merasa heran dengan Zayd yang selalu mengunyah apapun yang berada didekatnya.
"Abang jangan marah-marah terus. Karena itu akan membuat abang akan lebih terlibat tua dari usia abang" ucap Zayd yang berbicara dengan mulutnya yang penuh makanan.
"Jika sedang makan lebih baik diam jangan banyak bocara" ucap Zio yang membuat Zayd mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan dari abang nya.
"Aku kan hanya memberitahukan nya pada abang. Kenapa malah aku yang dimarahi oleh abang" ucap Zayd yang sudah ingin menangis.
__ADS_1
"Maaf, bukan nya abang memarahi kamu. Tapi abang mengingatkan kamu, supaya jika sedang makan itu diam dan jangan berbicara. Kamu akan tersedak" ucap Zio yang menenangkan adik bungsunya yang akan menangis hanya karena dia menegurnya.
"Oke" jawab Zayd dengan senyuman yang dipaksakan olehnya.
Walaupun seperti itu tetap saja tamvan Zayd😍😍
"Jangan tersenyum seperti itu Zayd. Sangat menyeramkan" ucap Zio yang membuat Zayd semakin menggoda abang nya.
"Tapi abang suka kan? Aku suka jika abang seperti ini lagi. Bisa tersenyum dan juga banyak bicara dan juga memperlihatkan ekspresi abang, tidak seperti tadi. Hampir mirip dengan abang Z" ucap Zayd yang bergidik mengingat saudara kembarnya yang wajahnya sama tapi terlihat dingin dan menyeramkan menurut Zayd.
"Benarkah? Abang kira itu lebih baik?" tanya Zio pada Zayd yang meminta pendapat dari adik bungsunya.
"Sebaiknya abang menjadi diri abang sendiri saja. Jangan menirukan orang lain yang watak dan karakternya tentu saja sangat berbeda dengan kita. Dan aku lebih suka dan nyaman dengan abang yang seperti ini" jawab Zayd yang menjelaskan pada Zio tentang keinginan nya juga pendapatnya.
"Thanks my little brother" ucap Zio yang merangkul Zayd dengan menepuk punggungnya.
"You're welcome bro" jawab Zayd yang juga menepuk punggung abang nya.
"Apa kalian masih akan terus seperti itu? Ini sudah jam berapa?" tanya Zia yang menghampiri kedua saudaranya.
"Kamu juga, kenapa kembali lagi?" tanya Zio yang menatap Zia dengan tatapan tajamnya.
"Aku mengambil ini" jawab Zia yang mengacungkan ponselnya yang tertinggal.
"Oh, kita masuk kedalam yuk. Ini sudah sangat larut malam" ucap Zio yang langsung merangkul pundak Zia menuju lantai atas kekamarnya masing-masing.
"Abang harus bisa mengendalikan emosi abang sendiri. Aku tahu jika abang kesal dan juga marah pada abang Zi. Aku juga sama, bahkan aku ingin sekali membuat dia tidak bisa bergerak. Bahkan membuatnya hilang ingatan sekaligus. Tapi ini bukanlah kesalahan abang Zi semuanya, dia masih tidak bisa membedakan cinta dan kagum saja. Juga rasa nyaman sebagai sahabat, teman atau orang yang sepesial. Kita sebagai keluarga dan juga saudaranya hanya bisa mengingatkan juga memberinya arahan" ucap Zia yang panjang kali lebar kali tinggi juga pada Zio yang sedang merangkulnya sambil menaiki anak tangga.
"Kamu memang benar Zi, abang juga merasa bersalah karena telah memukulnya. Abang hanya emosi melihat Mommy menangis karena dia saja. Jadi itu tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang sedang dia alami" jawab Zio yang memang tidak ingin ikut campur dalam masalah Zico atau urusan pribadi abang nya.
"Aku tahu itu. Sebaiknya besok abang harus berbicara berdua dengan bang Zi, karena masalah akan semakin besar dan juga rumit jika keduanya tidak ada yang mau memperbaiki dan mengajak berbicara berdua" ucap Zia yang sudah sampai didepan kamarnya.
"Aku masuk dulu. Abang juga sama, jangan begadang" ucap Zia yang akan memasuki kamarnya.
"Iya, abang akan melakukan yang kamu katakan. Abang juga sudah mengantuk. Good night" ucap Zio sambil mengusap kepala Zia dan mengacak rambutnya.
"Good night, too" jawab Zia yang tersenyum pada Zio.
__ADS_1
Zia langsung menutup pintu kamarnya dan menguncinya juga. Mereka semua malam ini berisatirahat dengan tenang. Mereka tidak memikirkan hari esok akan seperti apa, yang jelas itu membuat mereka bisa terlelap.
.
Keesokan harinya seperti yang Zia katakan padanya. Zio menghampiri Zico didalam kamarnya yang sudah terbuka sedikit. Tandanya pemilik kamar sudah bangun dan sudah bersiap akan pergi kekantor.
"Boleh aku masuk bang?" tanya Zio setelah mengetuk pintu.
"Masuk saja" jawab Zico dari dalam yang sedang mengenakan dasinya.
Zio masuk dengan ragu dan menatap abang nya yang juga menatapnya. Dia dengan ragu mendekat dan berdiri disamping Zico yang baru selesai mengikat dasinya.
"Ada apa Zi?" tanya Zico yang langsung menanyakan langsung apa tujuan Zio datang kekamarnya.
"Aku mau minta maaf. Karena aku sudah memukul abang" ucap Zio yang merasa canggung dengan semua ini.
"Tidak masalah Zi, abang memang pantas mendapatkan itu semua" jawab Zico yang menatap lurus kedepan sana.
"Sungguh aku tidak ada maksud apa-apa pada abang. Aku hanya emosi melihat Mommy menangis karena abang. Karena aku paling tidak bisa melihat Mommy menangis, apa lagi terluka. Sangat tidak ingin" ucap Zio yang menatap Zico yang menatap lurus kedepan.
"Kau tidak salah Zi. Abang sangat mengerti itu, karena abang sendiri juga sama. Tapi tetap ada sesuatu yang tidak harus Mommy tahu masalah yang abang rasakan. Karena abang tidak ingin melihat kariawan lebih besar lagi dimata Mommy hanya untuk abang. Sudah cukup abang membuatnya kecewa" jawab Zico dengan menjelaskan semua yang dia sembunyikan dari Mommy nya.
"Jika seperti itu. Tolong abang jangan membuat Mommy semakin sedih melihat abang yang seperti ini. Karena ini adalah keputusan abang dan juga keinginan abang sendiri untuk itu bukan?" tanya Zio yang merasa sangat sedih juga setelah melihat kebenaran dari Zico yang terlihat sangat rapuh jika dilihat dari sekat.
"Abang akan berusaha melakukan yang terbaik. Karena inilah yang abang tuai dari semua yang abang tanam. Terimakasih sudah mau mengerti abang saat ini" jawab Zico dengan mengucapkan terimakasih pada Zio.
"You're welcome brother" jawab Zio sambil menepuk pundak Zico yang ada disampingnya saat ini.
"Kita turun kebawah bang. Pasti Mommy dan Daddy juga yang lainnya sedang menunggu kita berdua" ucap Zio yang mengajak Zico untuk keluar dari kamar Zico.
Mereka berjalan beriringan menuruni anak tangga. Hingga semua mata tertuju pada keduanya yang ternyata sudah akur lagi. Zia sangat senang, karena Zio mendengarkan semua ucapan nya yang meminta untuk Zio minta maaf.
.
.
Othor minta dukungan nya dari kalian semua....
Like, komen, vote dan hadiahnya...
__ADS_1
juga subscribe ya 😙😙😉😉