
Saat sedang membicarakan tentang Zayd yang sudah tidak takut dan pingsan saat melihat darah. Zico datang membawa bungkusan kecil yang sudah ditutupi oleh kain.
"Abang Zi, apa yang terjadi?" tanya Mom Vita saat melihat putra nya yang berjalan dengan tatapan yang kosong.
"Zi, apa yang terjadi?" tanya Zoya yang bertanya sekarang.
"Dia sudah tiada Mom, princess kecil sudah tidak ada lagi. Dia sudah tiada" ucap Zico yang menangis dihadapan jasad malaikat kecil yang belum sempat melihat terangnya dunia ini.
"Maksud abang apa?" Zia yang juga mendekati abang nya.
"Putriku sudah meninggal Zi, dia sudah tiada. Dia belum merasakan kasih sayang nya dari abang tapi..." Zico tidak sanggup untuk melanjutkan ucapan nya lagi.
Dia menangis sesegukan dengan masih memeluk jasad putrinya. Anak yang sejak awal sudah dia sayangi dan dia anggap sebagai putrinya sendiri telah dipanggil oleh yang maha Pencipta.
"Jadi, ini..." ucap Zia yang tidak bisa melanjutkan ucapan nya juga.
Karena dia juga ikut menjaganya dan mengajak nya berbicara dan dia adalah anak yang sangat aktif dalam kandungan Ibunya.
"Kita harus segera memakamkan nya Zi, kita tidak boleh menunda-nunda nya" ucap Mommy Vita.
"Bagaimana keadaan Arabella Zi?" tanya Zoya yang mewakili yang lain nya.
"Dia masih kritis dan belum bisa dilihat. Dia terlalu banyak kehilangan darah, dan masih untung stok darah dirumah sakit ini masih memadai jadi bisa tertolong" jawab Zico dengan tatapan kosong dan masih memeluk jasad putrinya.
"Kita harus segera mengurusnya, dan kita harus menyiapkan seseorang yang akan menjaga nya dan juga mengawasi setiap orang yang masuk. Termasuk dokter dan juga perawat. Jika ada yang mencurigakan, akan langsung ditangkap" ucap Daddy Louis yang sudah menyuruh orang-orang kepercayaan nya untuk berjaga.
"Ayo bang Zi, kita harus segera melakukan nya sebelum hari menjelang malam" ucap Mommy Vita yang sudah menangis juga melihat rapuhnya seorang Zico yang selalu tegar dan terlihat kuat. Ternyata rapuh juga.
Mereka semua pulang untuk segera mengurus pemakaman putri angkat dari Zico Pratama Edison. Zico memberinya nama Zara Pratama Edison yang akan dimakamkan bersisian dengan Daddy Surya dan Oma Sila.
Setelah pemakaman selesai, semua orang langsung pergi menuju rumah sakit kembali untuk melihat keadaan Arabella yang habis pendarahan hebat dan juga keguguran, saat usianya sudah 17minggu dan sekarang mungkin sudah tenang disisinya.
Arabella sudah dipindahkan kedalam ruang rawat yanh sebelumnya. Dan ternyata saat sudah disana Arabella sudah sadar dari obat bius yang dia alami.
"Kamu sudah lebih baik?" tanya Zico menggunakan bahasa isyarat. Dan diangguki oleh Arabella.
'Terimakasih Tuan Muda, karena berkat anda saya bisa selamat. Tapi calon anak ku tidak selamat, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa semuanya menimpa diriku dan calon anakku' ucap Arabella yang hanya didalam hati.
Mereka semua juga merasa senang melihat kondisi Arabella yang sudah membaik. Tinggal masa pemulihan saja, dan mereka semua akan membawa Arabella kemainson Edison.
__ADS_1
Semua orang kembali untuk pulang, karena hari sudah malam dan waktunya untuk istirahat. Besok pagi mereka akan menjenguk lagi setelah pekerjaan mereka selesai.
Sedangkan didalam ruang rawat Zico dengan sangat tlaten mengurus Arabella hingga dia pulih dan boleh untuk pulang.
"Apa kamu bisa menceritakan malasalu kamu? Aku ingin mengetahuinya. Jika boleh, jika tidak juga tidak masalah" ucap Zico dengan menggunakan bahasa isyarat yang sudah dia hafal.
"Terimakasih Tuan Muda sudah membantu saya dan merawat saya. Saya akan membalas semua kebaikan anda pada saya dan anak saya. Jika soal masalalu ku, itu tidak penting Tuan Muda. Karena tidak ada yang sepesial dari kehidupan lama saya" jawab nya dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari bibirnya.
"Sudah ku bilang, jangan memanggilku dengan sebutan itu. Aku Zico Z I C O, jangan memanggilku dengan sebutan Tuan Muda lagi. Kamu mengerti?" ucap Zico lagi dengan menatap wajah teduh Arabella.
"Tapi saya tidak sopan jika hanya memanggilnya dengan sebutan nama saja" ucapnya lagi.
"Kamu bisa memanggilku abang Zi atau sayang mungkin" ucap Zico dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda Arabella.
"Baiklah, abang Zi" jawab Arabella dengan senyuman tipis nya.
"Kau ini, aku Kira akan memanggilku dengan sebutan sayang. Ternyata dugaanku salah" ucap Zico dengan menampilkan wajah sendunya.
"Abang lucu jika seperti itu" ucap Arabella yang selalu tersenyum manis.
"Ara, apa kamu mau menemaniku saat ini dan nanti?" tanya Zico dengan sangat serius menatap mata teduh Arabella.
"Seperti pasangan pada umumnya. Kamu mau menikah dengan ku?" tanya Zico dengan serius dan tatapan yang penuh harap pada Arabella.
"Abang nanti akan menyesalinya jika menikah dengan wanita yang tidak bisa bicara dan tuli" ucap Arabella masih selalu dengan senyuman dibibirnya.
"Abang serius Ara, abang ingin menjadi bagian dari hidup kamu dan begitu juga sebaliknya. Apa kamu setuju?" tanya Zico lagi yang memang masih menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Arabella.
"Ara, tidak yakin bisa menjadi miliknya abang. Ara merasa tidak pantas mendapatkannya, abang bisa mendapatkan wanita yang lebih sempurna dan lebih dari segalanya dibandingkan dengan Ara" ucap Arabella.
"Buat apa cari yang sempurna, jika ada yang terbaik dihadapanku. Untuk apa mencari yang segalanya jika semuanya sudah ada dihadapan ku saat ini. Arabella will you marry me, please marry me Ara" ucap Zico lalu menyematkan cincin berlian mungil dan sangat cocok dijari manis Ara yang mungil juga.
"Apa Ara sudah dilamar?" tanya Arabella dengan polosnya.
"Iya, sebentar lagi kita akan menikah dan tinggal bersama dimainson Edison" ucap Zico dengan tersenyum dan langsung memeluk tubuh mungil calon istrinya.
"Apa kamu bahagia?" tanya Zico saat Arabella masih menatapi cincin yang ada dijarinya.
"Emm, sangat-sangat bahagia" jawab Arabella yang juga menerima nya dengan baik.
__ADS_1
"Thank you for accepting me as your future husband (Terimakasih karena kamu sudah menerimaku sebagai calon suamimu)" ucap Zico dengan penuh senyuman dibibirnya.
"Sekarang istilahat lah. Abang akan menjagamu disini" ucap Zico pada Arabella yang tidak mau memejamkan matanya.
Mereka terlelap bersama. Hingga pagi menjelang dan juga visit pasien sudah waktunya dan ternyata Arabella sudah diperbolehkan untuk pulang.
Dan disinilah mereka berdua berada. Didalam mainson Edison yang mesra dan juga mewah ini. Arabella merasa tersanjung karena sambutan dari keluarga yang sudah sangat baik kepadanya dan juga menerimanya dengan baik.
"Selamat datang dirumah kami Ara" ucap Mommy Vita sambil memeluk tubuh wanita pilihan Zico.
"Terimakasih" ucap Arabella yang menggunakan bahasa isyarat.
"Sama-sama, kamu sudah mengenal mereka semua kan?" tanya Mommy Vita yang menunjuk anggota keluarganya.
Arabella mengangguk, dia masih mengingat nama-nama dari para saudaranya Zico. Mereka memang sengaja untuk menyambut kedatangan Arabella yang barusaja pulang dari rumah sakit.
Dan mereka mengantarkan Arabella untuk istirahat dikamar tamu yang ada dilantai bawah. Sedangkan Zico masih dilantai atas, dikamarnya sendiri.
Sebelum dia kekamarnya, Zico menyempatkan untuk masuk kedalam kamar calon istrinya dan menemaninya sebelum tidur.
"Apa tidak merindukanku?" tanya Zico yang melihat Arabella sudah merebahkan dirinya dikasur empuk didalam kamarnya.
"Ara, biasa saja. Memangnya kenapa? Apa abang tidak bisa tidur?" tanya Arabella yang melihat Zico juga merebahkan dirinya disamping Arabella.
"Iya, abang tidak bisa tidur" ucap Zico yang langsung memeluk tubuh mungil calon istrinya dan menelusupkan wajahnya diceruk leher Arabella.
"Sangat nyaman. Biarkan seperti ini dulu sayang, abang ingin merasa tenang dan nyaman" ucap Zico yang memeluk dan menciumi seluruh wajah Arabella dengan gemas.
"Maaf abang tidak meminta izin lebih dulu. Abang hanya merasa sangat bahagia, maka dari itu abang melakukannya. Kamu tidak marah kan?" ucap Zico yang menatapnya dengan penuh cinta dimatanya.
"Apa abang juga melakukan hal seperti ini padanya semua wanita yang dekat dengan abang?" tanya Arabella dengan tatapan biasa saja.
Dia tidak terlihat merasa terganggu atau apapun itu. Yang jelas dimata Arabella adalah kasih sayang yang begitu tulusnya. Tidak seperti wanita pada umumnya yang selalu menginginkan balasan atau segala macam perbuatan yang pernah dilakukannya.
"Kamu yang pertama dan akan menjadi yang terakhir. Insya Allah itu semua terkabulkan, sekarang tidurlah. Abang juga akan kembali kekamar" ucap Zico yang langsung beranjak pergi sebelum dia khilaf nantinya.
Sedangkan Arabella setelah kepergian Zico dia menangis dalam diam. Dia mengingat bayinya yang harus pergi sebelum dia bisa mengurusnya dan memberikan kasih sayangnya untuk bayinya.
Arabella menangis sangat perih dan juga sangat menyayat hati. Dia tidak berhenti untuk menyalahkan dirinya sendiri akan musibah yang dia alami. Zico tidak tahu, jika Ara nya sedang menangis dan juga menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1