
Ara masih menangis didalam pelukan sang kakak. Dia juga merasakan sakit yang teramat sangat dalam. Bahkan dia merasa seperti sedang berada didalam permainan cintanya sendiri.
Disaat Zico sudah menemukan nya dan ingin kembali seperti dulu. Ara malah membuat dirinya menjauh lagi darinya. Entah takdir yang seperti apa nantinya mereka jalani. Yang pasti keduanya hanya saling menyakiti satu sama lain.
"Sudah, lebih baik sekarang kamu tenangkan diri kamu dulu. Apa kamu ingin pergi kesuatu tempat?" tanya Alvin memberikan penawaran supaya Ara bisa melupakan kesedihan nya walau sejenak.
Alvin sudah tahu sebenarnya. Kenapa adiknya ini lebih memilih mundur dari pada mempertahankan semuanya. Dia hanya ingin melihat Zico bahagia, walau hanya dari jarak jauh.
"Ara ingin kemakam Papa dan Mama kak. Juga kemakam putriku" jawab Ara yang menggerakkan tangan nya.
"Baiklah kita akan kaesana" jawab Alvin yang langsung mengemudikan mobilnya lagi menuju tempat yang diinginkan oleh adiknya.
.
Sedangkan ditempat lain Zico juga sedang berada ditempat yang sama dengan Ara. Walau Ara dan Alvin belum sampai. Zico sudah sampai lebih dulu dibandingkan Ara.
"Assalamualaikum my princess nya Daddy. Maaf Daddy baru bisa berkunjung sekarang. Maaf ya, Daddy belum bisa untuk bersatu dengan Mommy kamu princess. Entah kenapa, Daddy merasa Mommy sudah tidak memiliki perasaan lagi pada Daddy. Daddy tadi habis bertemu dengan nya, apa kamu tahu princess? Mommy sangat terlihat cantik dan juga sangat manis. Walau senyuman nya yang dulu sudah tidak terlihat lagi, my princess Daddy jangan khawatir walau nanti Mommy dan Daddy tidak bisa bersatu. Daddy akan selalu menyayangi dan selalu sering berkunjung kemari menemui my princess nya Daddy. Daddy pulang dulu ya my princess, see you.." ucap Zico yang langsung bangkit setelah membaca do'a untuk Dad Surya dan Oma Sila juga Zara, putrinya.
Saat akan melangkahkan kakinya Zico berpapasan lagi dengan Ara dan Alvin yang akan menuju makam Zara yang ternyata ada Zico juga.
Seperti keinginan Ara, Zico melewati Ara dan Alvin begitu saja seperti orang yang tidak saling kenal. Dia berjalan dengan sangat pelan dan saat akan melewati Ara tidak sengaja Ara tersandung kakinya sendiri. Dengan reflek yang tinggi Zico menangkap tubuh mungil Ara kedalam dekapan nya, sesaat mereka berdua saling pandang dan akhirnya Zico melepaskan Ara perlahan dan pergi begitu saja.
Sedangkan Ara malah menangis sesegukan. Disaat dia ingin benar-benar melupakan nya kenapa seolah-olah takdir mempermainkan mereka berdua. Sedangkan Zico berdiri mematung mendengar tangisan Ara yang menyayat hatinya.
Zico akhirnya berbalik dan memeluk Ara kembali dia sungguh tidak sanggup harus berjauhan lagi dengan nya. Dia akan memaksa Ara untuk selalu bersama dengan nya. Biarlah dia egois saat ini demi dirinya dan juga Ara nya.
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi. Aku berjanji itu Ara" ucap Zico yang memeluk Ara dengan sangat erat.
Mereka berdua menangis dan saling berpelukan didalam suasana pemakaman umum yang sepi dan mungkin terkesan seram. Sedangkan Alvin menjauh dari keduanya, dia memilih pergi dari pada harus menjadi figuran diantara kisah cinta mereka berdua.
"Walaupun kamu menyuruh abang untuk pergi dan menjauh dari kamu. Abang tidak akan pernah melakukan nya, karena abang tidak sanggup jika melihat Ara menangis, abang tidak sanggup melihat air mata ini" ucap Zico sambil mengusap air mata dipipi Ara dengan ibujari nya sendiri dan mengecup kedua pelupuk mata Ara yang masih mengeluarkan air matanya.
__ADS_1
"Jangan pernah meminta abang untuk menjauh dan tidak melihat Ara saat bertemu. Jangan pernah, abang tidak sanggup" ucap Zico kembali sambil memeluk tubuh Ara lagi semakin dalam dan meresapi kerinduan nya masing-masing.
Ara membalas pelukan Zico yang selama ini dia rindukan dan dia dambakan setiap hari. Dia akan selalu merindukan pelukan hangat ini. Bahkan disetiap malam nya dia tidak bisa tidur dalam beberapa tahun ini karena tidak mendapatkan pelukan dari Zico.
"Abang sangat merindukan saat-saat seperti ini. Jangan pernah pergi lagi dari abang, jika masih nekad. Abang akan menanamkan benih abang pada Ara supaya Ara tidak bisa pergi lagi dari abang" ucap Zico yang spontan membuat Ara melotot dan memukul lengan Zico dengan kencang karena ucapan nya barusan.
"Abang kira Ara apa? Ara tidak mau jika abang seperti itu. Ara akan benar-benar meninggalkan abang untuk selamanya!" Ara menggerakkan jarinya memberitahu Zico.
"Makanya jangan pernah menjauh lagi dari abang, jika tidak mau abang apa-apakan" ucap Zico lagi sambil menaik turunkan alisnya.
"Abang iihh, nyebelin!" ucap Ara dengan memukul-mukul Zico dengan tangan mungilnya.
"Berjanjilah tidak akan meninggalkan abang lagi sayang. Abang benar-benar sangat tidak sanggup selama beberapa tahun ini berada jauh dengan kamu sayang" ucap Zico lagi menangkap tangan Ara yang sedang memukulnya.
Ara mengangguk dan tersenyum. Dia mendapatkan senyuman nya lagi setelah sekian lama hilang entah kemana senyuman seperti ini. Ara selalu saja menampilkan senyum kepalsuan dihadapan semua orang yang menemuinya.
"Kita pulang sekarang atau kita akan kesuatu tempat dulu?" tanya Zico saat mereka sudah berdiri kembali.
"Jika tanya abang. Abang ingin mengajak kamu menuju kesuatu tempat yang tidak pernah akan kamu sesali sayang" ucapnya sambil tersenyum mesum.
"Ihh, abang mesum" Ara langsung berjalan lebih dulu keluar dari area pemakaman umum dengan Zico dibelakangnya.
"Terimakasih Tuhan, KAU telah mengabulkan keinginan hamba supaya bisa dekat kembali dengan wanita ku ini. Hamba akan selalu menjaganya terus hingga maut yang memisahkan kami" gumam Zico yang memandang keatas langit yang cerah ini.
Zico membawa Ara meuju restaurant seafood yang dulu pernah mereka datangi dulu saat Ara nya masih dekat dengan nya.
"Ara senang abang bawa kemari?" tanya Zico saat sudah duduk bersama didepan meja yang hanya cukup untuk berdua saja.
"Ara sangat senang, abang tidak pernah berubah. Hanya penampilan saja yang berubah" Ara memberikan note nya pada Zico yang sudah dia tulis.
"Inilah abang yang sekarang. Nanti Ara yang mencukur semuanya ya" ucap Zico dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda Ara.
__ADS_1
"Iya, akan Ara lakukan untuk abang" Ara menuliskan lagi note nya.
Mereka berdua tidak berbicara lagi saat pesanan makanan mereka berdua datang. Ara dan Zico sangat menikmati makanan nya dengan sangat lahap. Mungkin bagi keduanya ini makan yang paling berselera dibandingkan dengan sebelum-sebelum nya. Karena makan mereka selama beberapa tahun yang lalu membuat mereka tidak berselera sama sekali.
.
Sedangkan Zia yang sedang kesal akan ulah seorang Alvin yanh sudah sering sekali membuatnya marah dan juga kesal secara bersamaan. Dia sudah membuat kepalanya hampir pecah akan ulah pria didepan nya saat ini.
"Kamu bisa tidak sih jangan mengganggu waktu ketenangan ku!" ucap Zia saat dia diganggu oleh mahluk jadi-jadian seperti Alvin ini.
"Saya tidak mengganggu anda Nona. Justru anda sendirilah yang membuat hidup saya terganggu dengan semua ocehan-ocehan tidak bermutu anda" jawab Alvin tidak mau kalah.
"Apa kalian ini selalu seperti ini jika sedang berdua atau dipertemukan? Kalian tidak takut jika kalian berdua ini akan berjodoh jika selalu bertengkar seperti pasangan suami istri?" tanya Zayd yang sudah sangat jengah dengan pertengkaran kedua nya yang tidak pernah akur.
"Dih... Amit-amit jika harus berjodoh dengan nya. Lebih baik aku tidak akan menikah seumur hidup ku" ucap Alvin dengan bergidik ngeri melihat Zia yang sudah melotot tajam.
"Apa kamu bilang! Siapa juga yang mau sama kamu dih amit-amit. Ogah banget" ucap Zia tidak mau kalah.
"Oke fix. Kalian berdua berjodoh!" ucap Zayd yang langsung pergi dari dua orang yang membuat kepalanya sakit dan mungkin tensi darah nya juga naik.
"Zayd, mau kemana? Kakak ikut" teriak Zia yang melihat adiknya sudah pergi dari tempatnya duduk tadi.
"Sial banget nasib gue sudah bertemu dengan keluarga yang sudah membuat hidup gue jungkir balik" gumam Alvin menatap nanar pada pasangan kakak beradik itu yang sudah pergi menjauh darinya.
Sedangkan Zayd yang sedang dikejar oleh Zia menutup kedua telinganya supaya tidak mendengar teriakan dari kakak nya yang selalu saja seperti ini.
"Zayd, kenapa kamu ninggalin kakak sih?" tanya Zia yang sudah berada disamping Zayd berjalan.
"Kakak yang membuatku pusing kak. Apa kakak tahu? Kakak itu sudah membuat selera makan aku hilang tahu nggak sih. Ihh, kesel tahu nggak sih" ucap Zayd dengan menghentak-hentak kan kakinya dijalan.
"Ya sudah, kakak teraktir makan dulu gimana? Kita makan disana?" tanya Zia menunjuk pedagang sate dipinggir jalan yang lumayan sepi.
__ADS_1
Zayd hanya mengangguk dan mengikuti keinginan Zia. Karena dia tidak ingin berdebat lagi dengan kakak nya ini. Zayd sudah tidak bertenaga untuk meladeni ocehan Zia karena sudah sangat lapar.