Unforgettable Love five.Z

Unforgettable Love five.Z
Kesedihan seorang Zico


__ADS_3

"Ya bisa kak, apa yang tidak bisa?" jawab Zia dengan tatapan datarnya.


"Ya maksud kakak. Kenapa bisa seperti itu? Bukankah mereka berencana untuk segera menikah?" tanya Zoya lagi yang tidak tahu masalah sebenarnya.


"Semuanya itu karena uler kadut kak, jika tidak ada dia mungkin semuanya baik-baik saja" jawab Zia yang memang selalu tertuju pada Joyce.


"Maksud kamu ada orang ketiga gitu?" tanya Zoya memastikan.


"Iya, siapa lagi jika bukan itu masalah nya. Memang ya, jika hubungan ada orang ketiga akan membuat semua yang baik-baik saja menjadi berantakan" ucap Zia yang sengaja meninggikan suaranya saat Zico masuk dengan gontai.


"Kamu bicara apa Zi? Dia bukan orang ketiga, dia sendiri yang menjelaskan bagaimana kejadian sebenarnya" ucap Zico yang merasa tidak terima jika Joyce disebut orang ketiga dalam hubungan nya dengan Ara.


"Lah memang iya kan! Coba abang lihat semua buktinya" ucap Zia ngotot dan menunjuk layar yang terpasang dengan sempurna dihadapan mereka semua.


"Tidak ada yang aneh dengan rekaman CCTV itu, dan semuanya wajar tidak ada yang mencurigakan bukan dengan rekaman tersebut" jawab Zico yang memang sudah melihatnya lebih dulu.


"Abang belum bisa menemukan nya?" tanya Zia yang sudah tidak bersemangat untuk bertengkar dengan abang nya.


"Seperti yang kamu lihat Zi, abang pulang sendiri bukan?" Zico balik bertanya dan langsung meninggalkan ruangan keluarga tersebut menuju kamarnya.


"Kasihan juga Zico Dad. Daddy sudah mencoba untuk mengerahkan orang-orang Daddy?" tanya Mom Vita yang merasa sangat kasihan melihat putranya seperti ini.


"Daddy sudah mengerahkan semuanya untuk mencari Ara. Seperti yang dikatakan Zia tadi, Ara bagai ditelan bumi" jawab Dad Louis dengan pandangan yang bingung juga.


"Apa mungkin jika Ara sengaja bersembunyi dan ada yang membantunya? Mungkin saja yang membantunya adalah orang yang berpengaruh" ucap Zayd yang langsung mendapatkan tatapan dari semua orang.


"Maksud kamu apa Zayd? Ara memang kenal dengan orang yang kamu sebutkan tadi?" tanya Zio yang langsung menoyor kepala Zayd dengan sangat keras.


"Bisa saja kan? Kita tidak tahu. Orang-orang Daddy saja yang handal dalam mencari sesuatu bisa tidak menemukan" jawab Zayd dengan pemikiran nya itu.


"Bisa jadi seperti itu boy" ucap Dad Louis membenarkan ucapan putra bungsunya itu.


"Nah, bener kan Dad. Jika tidak kita pasti sudah bisa menemukan nya. Bahkan sekelas abang Z saja tidak tahu" jawab Zayd yang memang seperti itulah pemikiran nya selalu spontan.


"Maksud kamu, abang Z tidak tahu keberadaan Ara juga begitu?" tanya Mom Vita ikut menimpali.

__ADS_1


"Iya, abang Z bilang ini bukanlah negara kekuasaan nya. Jadi dia tidak bisa melakukan banyak" jawab Zia yang ikut berbicara akan hal yang membuatnya harus main tebak-tebakan.


"Jika kita tidak bisa menemukan Ara lagi bagaimana dengan nasib bang Zi? Dia pasti sekarang sedang menangis dipojikan" ucap Zio sok tahu.


"Kamu ini bang, kalo ngomong itu kok suka. Bener, hehehe" ucap Zia yang ikut membuat suasana menjadi cair kembali.


"Lebih baik kita istirahat saja. Besok kita fikirkan kembali" ucap Mom Vita menengahi mereka semua supaya bisa berfikir dengan jernih.


"Oke Mom" jawab mereka semua.


"Kak, bagaimana dengan kakak sendiri?" tanya Zia saat mereka sudah ujung anak tangga.


"Bagaimana apa nya?" tanya Zoya yang belum faham arah pembicaraan Zia.


"Ish, soal Dharma dan perasaan nya. Apa kakak sudah menerimanya?" tanya Zia lagi memberi penjelasan pada sang kakak.


"Masalah itu. Kakak sendiri tidak tahu Zi, kakak memang merasa nyaman dengan dia. Tapi tidak untuk menjalin hubungan yang lebih dari pertemanan atau dekat saja. Tidak lebih" jawab Zoya dengan pandangan kedepan.


Zoya memang belum merasakan apa-apa pada Dharma. Belum saja atau mungkin memang tidak bisa. Mungkin saja memang akan timbul seiring berjalan nya waktu. Kita tidak tahu kedepan nya seperti apa.


"Jadi memang kakak tidak memiliki perasaan apa-apa?" tanya Zia lagi memastikan, Zia tahu jika ada seseorang yang sedang mencuri dengar pembicaraan mereka berdua.


Bagaimana tidak kesal. Jika dia bertanya pertanyaan yang sama berulang-ulang. Zoya ingin segera masuk kedalam kamarnya tapi dicegah oleh Zia.


"Kak, jika seandainya ada dua laki-laki sedang memperebutkan kakak menjadi miliknya salah satunya adalah Dharma, kakak akan memilih siapa? Ini seandainya ya kak, seandainya" tanya Zia lagi yang memang sengaja menggoda sang kakak.


"Kamu ini aneh-aneh saja sih kalo ngomong. Ya, jelas kakak lebih memilih Dharma karena kakak sudah mengenalnya dan juga dekat dengan nya. Jika pria asing kan kakak nggak tahu Zi bagaimana dia dan seperti apa watak nya" jawab Zoya dengan tatapan lurus kedepan.


"Nah itu kakak bisa jawab. Jadi kakak itu sudah punya perasaan pada Dharma kak, kenapa musti nunggu orang lain untuk membuat kakak menjadi mengerti dengan perasaan kakak sendiri?" ucap Zia yang menggelengkan kepalanya dan pergi dari hadapan Zoya menuju kamar nya sendiri.


Zoya merasa bingung dengan ucapan Zia barusan yang mengatakan jika dia memiliki perasaan pada Dharma. Dan dia dibuat pusing lagi oleh ucapan Zia.


"Dasar Zia, tidak bisa apa membuat pertanyaan yang tidak membuat kakak pusing Zi?!" gerutu Zoya yang langsung masuk juga kedalam kamar nya.


.

__ADS_1


Sedangkan orang yang tidak jauh darinya sedang merasa sangat bahagia. Karena mendengar ucapan yang keluar dari mulut Zoya sendiri. Jika dia sebenarnya memiliki perasaan padanya dan akan memilih nya karena sudah mengenal nya.


"Ternyata kamu memiliki perasaan yang sama juga dengan ku. Tapi kamu masih bingung dengan perasaan yang ada didalam diri kamu. Kamu selalu bilang hanya merasa nyaman dengan semua ini. Ternyata...." gumam Dharma yang sedang senyum-senyum sendiri seperti orang waras.


"Aku akan membuat kamu sadar dengan perasaan kamu sendiri. Dan bisa menerima aku apa adanya" gumam nya lagi sambil melangkahkan kaki nya menuju kamar nya sendiri yang ada didalam mainson Edison.


.


Jika Dharma sedang merasa bahagia, berbeda dengan Zico yang sedang menatapi seluruh kamar yang biasanya ditempati oleh Ara nya. Aroma nya juga masih tertinggal didalam kamar ini. Dia terlihat memeluki bantal yang selalu Ara gunakan.


"Kamu kemana sayang? Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu sudah makan sekarang? Abang sangat merindukan kamu" ucap nya sambil memeluki bantal dan foto Ara yang sengaja dia simpan didalam kamar nya.


"Apa yang membuat kamu pergi? Kenapa? Abang tidak pernah menaruh hati pada siapapun selain pada kamu, kamu adalah satu-satunya wanita yang bisa membuat abang merasa tenang dan juga nyaman dengan kamu" gumam Zico yang menatapi foto Ara yang tersenyum sangat tulus.


Zico tidak bisa memejamkan matanya sedikit pun. Hingga pagi menjelang. Bahkan Penampilan nya sekarang sangat terlihat memprihatinkan. Wajahnya yang terlihat biasanya selalu tampan dan juga selalu segar. Pagi ini terlihat sangat seram dan juga sangat kucel dan jangan lupakan jambang dan kumisnya tidak dibersihkan dan terlihat sangat berantakan.


"Abang Zi. Kenapa penampilan abang seperti ini?" tanya Zia yang terlihat ketakutan akan aura dari Zico.


Zico tidak bergeming. Dia hanya diam dan memakan sarapan nya dengan lahap dan tanpa bicara. Dia terlihat seperti mayat hidup. Hidup tapi tidak memiliki semangat hidup itu sendiri. Hingga dia berpapasan dengan Zayn yang baru saja masuk kedalam Mainson.


"Jangan bertanya abang Z" ucap Zia yang melihat Zayn yang baru datang.


Zayn tidak menggubris ucapan Zia kakak nya. Dia langsung menghampiri Mommy dan Daddy nya untuk berpamitan akan pulang sekarang juga. Sedangkan yang lain nya merasa bingung.


Karena tidak seperti biasanya. Zayn tidak pernah berpamitan saat pulang kembali, dia hanya akan bilang menggunakan pesan saat dia sudah sampai di Amerika sana.


"Tumben banget abang Z pamitan mau pulang?" tanya Zayd yang langsung menghampiri abang nya yang sedang berdiri didekat nya.


"Bukan urusan mu" jawabnya dengan datar dan tanpa ekspresi apapun.


"Hati-hati bang. Sering-sering lah datang kemari, Mommy selalu merindukan abang" ucap Mom Vita yang langsung memeluk tubuh putra nya yang selalu ingin berjauhan ini.


"Pasti Mom" jawab Zayn dengan membalas pelukan dari Mom Vita.


"Jaga diri kamu baik-baik boy. Tidak bisakah kamu lebih lama disini?" tanya Dad Louis dengan tatapan yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


"No Dad" jawab Zayn dengan tatapan yang sulit diartikan.


Mereka saling berpamitan dan juga saling berpelukan. Walau Zayn tidak menginginkan nya keempat saudaranya langsung memeluk nya secara bersamaan, dan mau tidak mau Zayn hanya diam saja menerima perlakuan dari para saudara nya.


__ADS_2