
"Ayolah Zi, abang ingin tahu dimana Alexa dinas sekarang" ucap Zio yang mencoba membujuk Zia untuk mengatakan dimana Alexa berada.
"Aku tidak mau ngasih tahu abang, cari tahu saja sendiri. Ngapain nanya-nanya aku coba" ucap Zia yang malah semakin membuat Zio kesal dan tidak bisa membuat Zio berkutik.
"Oke, oke. Aku akan membuat penawaran dengan mu, apa yang kamu inginkan dan aku akan mengabulkan nya untuk mu. Tapi tolong, beritahu abang dimana Alexa dinas sekarang. Please" ucap Zio yang sekarang memohon.
Zia sangat senang jika bernegosiasi dengan Zio. Karena Zio begitu bucin pada Alexa, dengan mengatakan memberitahu Alexa dimana dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Oke, jika abang ingin barter dengan ku" ucap Zia dengan senyum smirks.
"Oke, apa yang kamu inginkan?" tanya Zio dengan pasrah saat mengatakan itu pada Zia.
"Nggak akan sulit kok. Aku hanya menginginkan abang membelikan aku belut yang berukuran besar dan harus abang sendiri yang beli. Aku nggak mau jika bukan abang yang membeli dan memegang belut itu. Anggap saja ini tantangan sebelum bertemu dengan kekasih abang" jawab Zia dengan cueknya dan malah mengatakan nya tanpa dosa sama sekali pada Zio.
"Zi, minta yang lain saja ya. Seperti tas branded atau sepatu, pasti akan abang kabulkan. Jangan binatang menggelikan itu Zi" ucap Zio yang memang sangat takut dengan belut apa lagi harus memegangnya, melihatnya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
"Atau begini saja, abang kasih black card milik abang untuk kamu. Abang akan dengan senang hati memberikan nya untuk kamu. Please jangan yang satu itu" ucap Zio lagi yang memberikan penawaran untuk Zia supaya Zia mau merubah keinginan nya.
Tapi bukan Zia namanya jika tidak membuat salah seorang saudaranya pusing dan juga kesal dengan keinginan-keinginan nya yang terkadang aneh bin ajaib itu.
"Jika back card aku sudah memilikinya. Untuk apa aku meminta yang aku sudah punya" jawab Zia dengan santainya dan malah melenggang pergi menuju kamarnya.
"Oh God. Zia.... Kau pasti sengaja kan untuk mengerjaiku" gumam Zio yang langsung menghempaskan tubuhnya disofa ruangan keluarga dengan sangat kasar.
Sedangkan Zia sedang tertawa senang telah mengerjai Zio yang memang sangat ketakutan dan juga sangat membenci binatang yang stu itu. Dari pada memegang belut Zio malah lebih berani memegang ular berbicaranya sekalipun dari pada seekor belut.
"Maaf bang, aku memang sengaja ingin mengerjai abang saja tentang hal itu. Supaya abang sedikit melupakan ketakutan mu terhadap binatang yang satu itu" gumam Zia yang menginginkan supaya Zio bisa melupakan ketakutan dan juga traumanya.
Zia langsung masuk kedalam kamar mandi, dan setelah itu dia turun kebawah untuk melihat Zio yang masih duduk dengan lemas diatas sofa dan memejamkan matanya.
"Bang, jadi tidak membelikan ku itu? Jika kami aku akan memberitahunya pada abang sekarang juga dimana Alexa sekarang" ucap Zia yang sudah duduk disamping Zio.
__ADS_1
"Abang sudah tidak berminat lagi Zi. Lebih baik abang menunggunya hingga waktunya pulang saja, tidak perlu negosiasi dengan kamu yang sangat menyusahkan itu" jawab Zio yang langsung beranjak dari duduknya menuju kamar.
"Dasar aneh, dia ini benar kekasihnya atau bukan sih? Masa, nggak tahu jika dia sudah pulang kemarin dan sekarang sedang berada dirumah untuk istirahat. Dasar abang ku yang satu ini bo*ohnya tidak berkurang juga" gumam Zia yang menatap punggung Zia yang sudah menjauh darinya dan akan berbalik menuju kamarnya.
"Kamu sedang apa Zi? Kenapa malah bicara sendiri seperti ini?" tanya Zico yang melihat Zia mengatakan sesuatu tapi tidak bisa dia dengar karena Zia mengatakan nya lirih.
"Tidak apa-apa, hanya melihat bang Zio saja yang masuk kedalam kamarnya. Abang sendiri kenapa malah keluar lagi? Apa ada yang abang inginkan lagi?" jawab Zia dan sambil bertanya juga pada Zico.
"Iya, abang sedang mencari pecel lele. Dan abang sudah mencarinya tapi tidak ketemu juga" jawab Zico yang ikut duduk dan sedikit menghela nafasnya.
"Tumben banget abang mencari makanan tidak sehat seperti itu?" tanya Zia yang menatap heran dengan apa yang dikatakan oleh Zico.
"Joyce yang menginginkan itu semua. Katanya dia tiba-tiba menginginkan itu tanpa dia sadari" jawab Zico yang mengatakan yang sebenarnya karena dia sudah bingung harus mencarinya dimana.
"Oh, pantas saja. Dia rupanya yang menginginkan itu, cih" ucap Zia yang memang sangat tidak menyukai Joyce.
"Apa kamu tahu Zi dimana yang menjual pecel lele itu?" tanya Zico yang sudah sangat frustasi dengan keinginan pertama dari Joyce padanya.
"Kenapa abang tidak kepikiran kesana" gumam Zico yang baru menyadari jika disini kokinya bisa memasakan apa yang mereka inginkan.
"Makanya jangan kebanyakan berfikir yang tidak-tidak" ucap Zia yang langsung beranjak dari duduknya karena dia melihat Joyce ingin menghampiri mereka.
"Zi, kenapa kamu pergi? Zia" tanya Zico yang melihat Zia pergi dan tidak mengatakan apa-apa. Hanya melambaikan tangan nya pada Zico.
"Aneh sekali dengan nya" gumam Zico yang belum menyadari jika Joyce sudah berada didekatnya sekarang.
"Dia melihat ku datang kesini bang" ucap Joyce yang sudah berdiri dibelakang Zico yang sedang menatap Zia yang sudah tidak ada lagi didepan nya lagi.
"Eh, kamu Joyce. Sejak kapan kamu adalah disana?" tanya Zico yang menatap Joyce dengan membalikan tubuhnya menghadap kebelakang.
"Sejak abang sedang bersama dengan Zia tadi" jawab Joyce dengan tatapan datarnya menatap kearah tangga dan juga kearah Zico sekilas.
__ADS_1
"Oh, jadi kamu mendengar apa yang kamu bicarakan tadi?" tanya Zico yang menatap Joyce dengan tatapan teduhnya.
Joyce hanya mengangguk dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia merasa tidak dianggap dan juga tidak dihargai disini, tapi dia tidak boleh menyerah begitu saja dengan apa yang akan dilakukan oleh Zia padanya. Yang penting saudara yang lain tidak seperti Zia, itu sudah lebih dari cukup untuknya.
"Ya sudah, abang mau bilang dulu pada koki untuk membuatkan apa yang kamu inginkan. Kamu tunggu disini" ucap Zico yang langsung bangkit dari duduknya setelah mengatakan itu pada Joyce.
"Iya" hanya itu yang dikatakan oleh Joyce. Itupun setelah Zico jauh dari tempatnya semula.
Joyce meneteskan air matanya karena dia sangat sedih berada ditempat ini. Dia memang bisa berdekatan terus dengan Zico, tapi dia juga berdekatan dengan orang yang sangat tidak menyukainya sejak dulu. Talk dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kamu kuat Joyce, kamu bukan wanita cengeng dan juga wanita yang lemah. Jangan pernah memperlihatkan kerapuhan kamu" gumamnya menyemangati dirinya sendiri dengan mengusap matanya yang sedikit basah karena tadi menangis menahan sakit dihatinya.
Joyce benar-benar merasakan tekanan yang luar biasa dari adik suaminya sendiri. Tapi dia tidak ingin jika semua orang mengetahuinya, apa lagi jika Zico yang mengetahuinya. Pasti akan sangat sulit hati akan semua yang dia lakukan.
Tak berapa lama kemudian Zico datang dengan beberapa pelayan yang mengikutinya dengan nampan yang sudah dipenuhi oleh makanan yang diinginkan Joyce.
"Ini yng kamu inginkan. Maaf aku sudah mencarinya tapi tidak ketemu, makanya aku meminta koki untuk membuatkan nya untuk kamu" jelas Zico saat melihat Joyce yang hanya diam saja melihat makanan yang dia inginkan.
Joyce hanya mengangguk dan mengambil semua makanan yang diberikan oleh para pelayan untuknya. Joyce dengan sangat lahap memakan apa yang dia inginkan sejak tadi. Bahkan Zico sampai melongo, melihat cara makan Joyce yang tidak seperti biasanya.
.
.
.
Maaf ya Othor baru bisa up sekarang... Karena HP nya selalu dipegang bocil nya Othor...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya...
Juga subscribe dan pollow akun Othor juga ya...
__ADS_1